Coaching Menulis #008: Pancing!

Struktur penulisan sebuah buku umumnya terdiri dari bab-bab, subbab, dan juga seksi dari setiap buku. Bagi buku fiksi, umumnya pembagian struktur tersebut cukup sampai dengan bab yang direpresentasikan dengan penomoran atau juga disertai dengan judul bab. Tapi, berbeda dengan buku non-fiksi, struktur bisa terdiri menjadi sub-sub yang lebih kecil daripada subbab dan seksi.

Coaching Menulis #008: Pancing!

Tema coaching menulis kali ini cukup persuasif. Bagi beberapa orang yang tak menyimak ataupun tidak teliti dalam membaca isi yang akan diungkapkan berikut ini, mungkin akan menganggap coaching menulis kali ini mengandung makna yang tak berkaitan sama sekali dengan penulisan. Padahal, pada praktiknya tentulah berkaitan. Yuk, disimak.

Sebelum melangkah lebih jauh, coba jawab pertanyaan berikut,

“Apa kunci utama sebuah buku yang bisa membuat pembaca tetap mau membacanya hingga halaman terakhir?”

Jawaban yang muncul tentu bervariatif, dan beberapa di antaranya akan saya tuliskan di bawah ini.

–         Faktor penulis yang sudah terkenal.

–         Topik yang menarik dan berbeda dengan kebanyakan tipikal, termasuk yang fantastis atau mengungkap hal tabu.

–         Topik yang “gue banget” dan bisa dijumpai sehari-hari.

–         Topik yang sedang hangat dibahas dan sedang hype.

–         Mengenai tokoh terkenal atau persoalan sosial.

Kelima jawaban itu adalah yang seringkali saya temukan untuk alasan seseorang tetap bertahan hingga halaman terakhir ketika membaca sebuah buku, ataupun hingga kata terakhir dalam sebuah tulisan. Dan, kelima jawaban itu merupakan hal yang masuk akal karena penerbit pun tentunya mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.

Seorang penulis yang sudah punya nama, entah itu sering mengirim cerpen hingga dimuat di surat kabar, ataupun surat pembaca maupun artikelnya sempat dimuat tentu akan memiliki sebuah kelebihan. Begitu pula penulis yang memiliki akses terhadap milis-milis penerbit buku.

Topik yang berbeda jauh dengan kehidupan sehari-hari, entah itu kehidupan fantasi maupun juga khayalan dapat membuat pembaca buku menjadi betah untuk mengikuti alur tulisan. Dongeng, fiksi ilmiah, hingga pembahasan ilmiah secara sederhana tentu termasuk dalam kategori ini.

Berlaku juga sebaliknya. Topik yang menyangkut kehidupan sehari-hari, atau dengan kata lain “gue banget” juga ternyata bisa membuat setiap pembacanya betah hingga halaman atau tulisan terakhir. Kenapa? Karena tentunya akan lebih masuk akal, dan biasanya lebih mudah dicerna.

Apalagi jika topik yang diangkat adalah mengenai tokoh-tokoh terkenal ataupun masalah sosial yang sedang dihadapi bersama-sama. Contoh, buku mengenai biografi Michael Jackson, Presiden Soeharto, Presiden John F. Kennedy, dan masih banyak lagi. Setiap buku-buku tersebut selain dapat disajikan secara non-fiksi dengan segala fakta, juga dapat disajikan dalam bentuk novel sejarah yang ditambahi bumbu-bumbu fiksi.

Membuat Pancingan

Kelima alasan di atas adalah sebuah hal yang tak dapat dipungkiri adalah kenyataan yang ditemui pada judul-judul buku di toko buku. Hal serupa juga pernah saya ungkit pada coaching menulis #005, yakni mengenai pasar dan topik yang sedang hangat. Nah, jikalau lima alasan tersebut tidak berlaku pada Anda ataupun tulisan yang sedang dikerjakan saat ini, masih ada cara lain yang efektif supaya pembaca tetap setia hingga halaman terakhir.

Memancing pembaca adalah cara tersebut. Ya, memancing. Kenapa? Karena kita ibarat seorang pemancing, dan pembaca kita adalah ibarat ikan yang harus kita berikan umpan agar dia tetap bertahan dan penasaran. Dan memancing, diperlukan kesabaran dan juga ketekunan.

Setiap tulisan tentu bisa dibuatkan pancingannya agar pembaca tetap memperhatikan isi tulisan penulisnya. Pancingan tersebut tentunya akan lebih efektif jika umpan yang diberikan benar-benar berkualitas, menarik, ataupun memiliki diferensiasi yang tidak umum. Kesemua hal tersebut dimaksudkan agar sekali pancing langsung mengena kepada pembaca. Karena pembaca tentu sudah semakin cerdas.

Variatif

Layaknya pancingan yang benar-benar ada untuk memancing ikan, pancingan pada sebuah tulisan pun bervariasi. Baik itu bentuk, ukuran panjang-pendek, maupun isi yang terkandung di dalamnya. Namun, apapun pancingannya yang paling tepat adalah mengefektifkan dan mengoptimalkan pancingan tersebut.

Pancingan tersebut dapat hadir dalam bentuk kalimat, penggunaan kata-kata, bentuk atau struktur bahasa, hingga pemilihan kata terakhir dalam sebuah bab. Yang terpenting adalah, sasaran pancingan tersebut jangan sampai salah!

Ingin tahu lebih lengkap mengenai pancingan? Silakan kirim email ke saya. (naga_tasik@yahoo.com)

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Jum’at kemarin adalah hari libur. Dan, karena hari libur itulah sebuah kebetulan terjadi. Yakni, saya tak dapat terhubung dengan koneksi internet sehingga tidak bisa memberikan materi coaching. Bagi para pembaca sekalian, saya meminta maaf atas kesalahan tersebut, dan berikut ini adalah materi coaching lanjutan yang saya muat di blogs ini. Selamat membaca!

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Dunia adalah tempat yang sangat besar dan benar-benar besar. Besar di sini, tak hanya persoalan ukuran, tapi juga tentang apa pun yang terkandung di dalamnya. Dunia mencakup milyaran orang dengan berkali-kali lipat permasalahannya, serta berkali-kali pula kemungkinan terjadinya. Jadi, dunia adalah sebuah hal yang sangat kompleks, rumit.

Itulah sebabnya banyak orang tak dapat mengerti dunia. Sebuah lagu bahkan menyebutkan bahwa dunia itu adalah panggung sandiwara, tempat manusia melakukan sebuah drama atau lakon yang telah ditetapkan Sang Sutradara Kehidupan, Tuhan YME. Dan berangkat dari konsep itulah, sebagian orang pun cerdas menangkap situasi, kejadian, momen dan peristiwa untuk kemudian disarikan ke dalam bentuk bacaan untuk dibagikan kepada khalayak ramai.

Tulisan, yang juga sering hadir dalam bentuk artikel, cerita, novel, hingga roman adalah bentuk bacaan dari rumitnya kehidupan di dunia yang ditangkap secara cerdas oleh penulisnya untuk dibagikan. Dengan kelihaian yang cukup mumpuni, penulis memiliki kemampuan untuk mencermati setiap jengkal kejadian untuk kemudian disarikan ke dalam tulisan. Tapi, bagaimanakah bentuk yang tepat?

The Right Shape

Beberapa orang menganggap bentuk yang tepat adalah tulisan yang sesuai dengan keinginan mereka. Bagi orang-orang demikian, menulis adalah hak prerogatif yang tak dapat diganggu gugat dan dilindungi oleh lisensia puitika. Sehingga produk akhir dari proses menulis adalah tulisan yang benar-benar mencerminkan apa yang diinginkan oleh sang penulis. Sebuah mahakarya yang dipenuhi oleh ego sang pencipta.

Biasanya produk tulisan yang dibuat dengan ego penulis, akan mengabaikan hal-hal yang berada di luar lingkungan penulis. Ia akan mengabaikan pendapat, masukan, dan bahkan cek silang. Ia akan memasukkan setiap sumber daya yang dimilikinya ke dalam tulisan tersebut. Mengagumkan memang akan kesungguhan penulis untuk membuat produk yang benar-benar mencerminkan dirinya, tapi pada praktiknya hal demikian belum tentu produk yang tepat.

Lalu seperti apa?

Sebuah produk tulisan yang tepat, adalah sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembacanya. Lagi-lagi saya mengatakan, layaknya sebuah produk usaha, tulisan yang tepat adalah tulisan yang dapat dicerna dan “dikonsumsi” oleh pembacanya. Intinya, sebuah tulisan yang mengerti akan pembacanya.

Simplify

Seperti sudah dimuat di awal tulisan, dunia adalah sesuatu yang sangat besar. Kompleks dan rumit. Sehingga penduduk dunia pastinya ingin sesuatu yang tak juga ikut-ikutan kompleks atau rumit untuk dikonsumsi. Sebuah pandangan kebalikan yang merupakan solusi dari kehidupan sehari-hari. Dan, sudah tentu jawabnya adalah kebalikan kerumitan, yakni kesederhanaan.

Hal-hal yang sederhana tanpa disadari telah menjadi sebuah primadona yang begitu menggelegar dalam dunia penulisan serta penerbitan. Buku-buku ‘how to’ serta ‘cara praktis’ untuk buku-buku kategori non-fiksi adalah buktinya. Kategori fiksi pun tak mau kalah, buku-buku teenlit maupun chiclit adalah contoh buktinya. Dengan memandang secara menyeluruh, setiap buku tersebut adalah buku-buku yang disajikan secara sederhana untuk para pembacanya.

Kesederhanaan dalam tulisan di buku dapat tercermin dalam beberapa hal. Mulai dari pemilihan kata, penulisan kalimat, hingga struktur paragraf, bab, dan alur tulisan itu sendiri. Dengan kesederhanaan itu, tak hanya pembaca saja yang diberikan kepuasan karena lebih mudah mengerti akan tulisan, kita sebagai penulis pun juga akan menjalani proses penulisan yang lebih mudah.

Intinya, dengan menyajikan kesederhanaan, tulisan pun akan lebih mudah dikerjakan sesuai dengan outline atau kerangka yang dibangun dari ide dasar. Dan, kesederhanaan umumnya dipilih oleh pembaca yang merupakan konsumen kita.

Jadi, bagaimana tulisan kamu?

Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Apa yang membedakan sebuah tulisan dengan tulisan lainnya? Apa yang membedakan sebuah novel dengan novel lainnya? Apa yang menjadi diferensiasi dari seorang penulis dengan penulis lainnya? Apa yang membuat sebuah media tetap bertahan dengan tulisan-tulisan di dalamnya? Jawabnya mudah, yaitu gaya bahasa/tutur.

Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Tahu perbedaan Kompas dan Tempo? Kedua media nasional yang masing-masing menjadi pemimpin di jenisnya (surat kabar dan majalah), memiliki ciri khas tersendiri yang terus menjadi pakem yang menjadikannya berbeda dengan media lain yang sejenis dan bergerak di jenis yang serupa.

Kompas memiliki pembeda berupa gaya bahasa/tutur yang cergas, aktual, dan melingkupi hampir segala aspek. Ia memiliki beragam sudut pandang yang dapat digunakan sebagai latar tulisan-tulisannya. Sehingga, Kompas pun didaulat sebagai media yang dapat menjangkau segala pihak dan golongan.

Lalu bagaimana dengan Tempo? Media majalah mingguan yang merupakan perpanjangan dari Goenawan Mohammad ini, memiliki karakter yang bernada satir, terkadang berironi, namun tepat pada sasaran. Sudut pandang yang menjadi latar belakang tulisannya secara ajaib memiliki keseragaman, meskipun setiap penulisnya berbeda-beda, baik itu pendidikan, suku, hingga jenis kelamin dan agama. Kekuatan itulah yang membuat Tempo tetap bertahan dan melaju meskipun berkali-kali dilanda gugatan hukum.

Gaya bahasa/tutur dalam sebuah tulisan adalah sebuah karakter dari tulisan itu sendiri, dan juga merupakan penjelmaan dari sang penulisnya. Hal ini dimungkinkan karena setiap penulis memiliki karakter yang tidaklah sama, tidak identik, namun terkadang jika bidang yang digeluti sudah sama, maka keseragaman dan kekompakan pun tercipta. Akan tetapi, pada sebuah naskah novel fiksi, hal ini tidaklah berlaku, karena fiksi berangkat dari imajinasi.

Dasar Berbeda

Perbedaan mendasar dari menulis fiksi dan non-fiksi adalah, jika menulis fiksi berarti menciptakan kenyataan, sementara menulis non-fiksi berarti memperindah kenyataan. Dengan konsep dasar itulah mengapa fiksi dan non-fiksi terkadang berbeda pada penerapannya, yang contohnya merupakan gaya bahasa/tutur.

Dengan tujuan menciptakan kenyataan, tulisan fiksi umumnya merupakan aktualisasi dan tumpahan dari sekian juta pemikiran penciptanya/penulisnya. Siapa pun orangnya, sesukses apa pun orangnya, seorang penulis fiksi memiliki tanggung jawab yang cukup besar, yakni membuat karyanya berbeda dengan orang lain. Dan, cara tersebut yang paling mendasar untuk membuatnya berbeda, adalah dengan membuat gaya tutur yang tak ada sebelumnya, atau mengelaborasi gaya bahasa/tutur yang sudah ada yang kemudian dikembangkan menjadi gaya tersendiri.

Pada sebuah tulisan fiksi yang kemudian berkembang menjadi novel, gaya bahasa/tutur inilah yang kemudian menjadi kekuatan terbesar. Dengan gaya bahasa/tutur yang berbeda, secara tidak langsung akan membuat tulisan fiksi yang dibuat akan memiliki diferensiasi dan ciri tersendiri. Jika kemudian sulit untuk mengawalinya, maka membaca banyak tulisan fiksi itu baik, akan tetapi jangan sampai kemudian membuat gaya bahasa/tutur yang dimiliki pun tercampuri oleh gaya bahasa/tutur orang lain tersebut.

Seperti pepatah Jepang, “Mencontoh produk itu tidak apa, tapi tambahkanlah nilai lebih tersendiri agar tidak meniru melainkan membuat sebuah produk menjadi berbeda.”

Kutipan

Kutipan atau kata langsung dari sebuah tokoh/karakter yang berdiri di luar narasi, merupakan salah satu unsur penambah kenikmatan pembaca dalam memahami sebuah tulisan. Hal ini terutama berlaku pada tulisan fiksi. Kenapa? Karena kutipan akan membuat sebuah tulisan fiksi menjadi lebih kaya akan dinamika serta penulis pun tak perlu membuat narasi.

Layaknya sebuah naskah drama, kutipan adalah bentuk percakapan langsung antar tokoh. Kutipan akan menjadi kekuatan cerita itu sendiri, karena ia bisa menerangkan sekaligus menjelaskan jalannya cerita yang disertai dengan emosi dari setiap karakternya. Sebuah kutipan yang sempurna, akan bisa menghanyutkan emosi para pembacanya agar lebih memahami karakter yang mengucapkan kutipan tersebut.

Penggunaan perspektif sudut pandang orang ketiga atau di luar cerita, akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan sebuah kutipan. Karena dengan membuat kutipan yang sempurna itulah, maka tulisan fiksi tersebut akan memiliki alur cerita yang menarik. Aturan ini dimaksudkan agar meskipun penulis dapat berpindah-pindah di setiap adegan, namun setiap tokohnya memiliki karakter yang cukup kuat serta perbedaan!

Berbeda halnya dengan perspektif sudut pandang orang pertama atau di dalam cerita, karena kutipan yang dihadirkan tak perlu memiliki kekuatan yang sangat kuat, karena tanpa dikutip pun sang tokoh akan menceritakan (hampir) segalanya. Dan, dalam sudut pandang orang pertama, tanpa perlu dibuatkan kutipan pun, emosi dari tokoh utama akan tercerminkan dengan sendirinya.

Lalu bagaimana jika ada kata hati?

Teknisnya, kata hati bukanlah sebuah kutipan. Ia hanyalah opini yang terlontar dari dalam nurani dan belum tentu ditujukan pada sosok lawan bicara. Oleh karena itulah kata hati tidak memerlukan penulisan yang menyerupai kutipan ~ memakai tanda kutip. Akan tetapi, sebuah kata hati yang baik akan memiliki kekuatan diferensiasi karakter yang merupakan cerminan jiwa dari setiap tokoh di dalam cerita.

Penggunaan kata hati, tidak dibatasi oleh perspektif orang ketiga ataupun orang pertama. Memang diakui, pada perspektif orang pertama kata hati akan lebih mudah ditemui dan dihadirkan, akan tetapi bukan berarti perspektif orang ketiga tidak bisa dilakukan. Teknisnya adalah dengan membuat paragraf baru yang berisikan kata hati tersebut, dan jika memungkinkan dituliskan dengan kata-kata miring.

Coaching Menulis #005: Look Around

Mari kita rehat sejenak dari hal-hal teknis yang berkaitan dengan tulis-menulis. Saya mengajak untuk rehat tak lain agar pikiran dan juga kepala kita tak terus-menerus dikungkungi oleh “pekerjaan” dan diganti oleh hal-hal yang menghibur. Nah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Tapi, tempatnya biar saya yang menentukan karena akan berkaitan dengan coaching kali ini.

Coaching Menulis #005: Look Around

Ke mana Anda melangkahkan kaki untuk menyegarkan pikiran? Mall? Resto? Atau tempat rekreasi alam seperti pantai dan pegunungan? Bagaimana jika kita ke toko buku. Ya, toko buku. Sebuah tempat di mana banyak sekali buku diperjualbelikan dan juga sekaligus gudang ilmu dan informasi yang terintegrasi ~ meski tak bisa dipinjam selayak perpustakaan.

Di toko buku, tersedia beragam jenis, judul, tampilan dan juga penerbit. Setiap buku-buku tersebut memiliki daya tarik dan juga kelebihan tersendiri yang dianggap sangat baik dan dapat mendukung daya jual sehingga dibeli oleh konsumen. Tentunya konsumen akan lebih tertarik oleh buku yang menawan sehingga ia pun rela merogoh koceknya. Setiap transaksi tersebutlah yang menjadikan toko buku sebagai “pasar”.

Pasar
Iya, pasar. Menulis buku itu juga ibarat membuat sebuah produk, yang nantinya akan dilempar kepada pembaca melalui penerbit. Dan, penerbit-penerbit itulah yang lebih tahu pasar seperti apa. Mereka pastinya punya tim analisis dan juga marketing yang lebih mengerti akan persoalan penetrasi, strategi, dan juga banyak lagi hal-hal dan hil-hil yang harus dikerjakan agar produknya laku. Dan, kita sebagai konseptor plus pembuat produk, seharusnya lebih jago dibanding mereka, karena kita lebih tentu lebih tahu produk dan juga sasaran pembaca.

Produk yang baik, yaitu buku/tulisan yang kita buat pastinya diawali dengan sebuah tujuan. Jika hanya untuk menyalurkan hobi nulis, tak perlu bersusahpayah membuat buku. Cukup kirimkan artikel ke koran, cerpen, atau publish di blog. Dan yah, buku memang sebuah produk. Sebuah hal yang harus punya nilai daya jual.

Pergi ke pameran buku, ataupun bertemu penerbit adalah salah satu cara ampuh untuk mengetahui karakteristik penerbit yang ada di jagat raya perbukuan indonesia ini. Ada yang berdasar agama, ada yang ‘ngepop, ada yang eksperimental, dan masih banyak lagi. Dan, dengan lebih tau penerbit tentunya tulisan kita pun bisa jadi lebih kaya. kenapa? Karena kita bisa membidik penerbit mana yang bakal cocok untuk kita serahkan karya kita, dengan potensi terbit pun pastinya lebih besar dibandingkan penerbit yang tidak tepat.

Melihat Sekeliling
Konsep sederhananya adalah dengan cara look around. Melihat sekeliling. Lebih pekalah terhadap apa yang sedang terjadi, apa yang memang terjadi, dan apa yang kira-kira akan terjadi. Dan, penerbit beserta buku-buku yang mereka terbitkan adalah hal yang paling tepat untuk mempelajari hal itu.

Salah satu contoh yang paling mudah dilihat adalah, betapa sekarang banyak sekali buku-buku yang bertemakan Facebook, Twitter, hingga Plurk! Kenapa? Karena ketiga hal itulah yang kini sedang menggelora di jagad maya serta banyak sekali orang Indonesia yang menggunakannya. Peluang itulah yang kemudian banyak dibidik serta dilirik oleh kebanyakan penerbit.

Jadi, menulis itu tak hanya membuat tulisan, tapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Sudah tahu nilai jual tulisan Anda?

Coaching Menulis #004: Mulai & Lakukan

Segala persiapan sudah dilakukan untuk menulis, mulai dari mendapatkan ide, mengembangkan ide, hingga menyusun plot tulisan. Beberapa riset pun sudah dimulai untuk lebih memperkaya tulisan yang akan dibuat. Lalu apalagi? Nah, inilah saatnya untuk memulai dan melakukan penulisan.

Coaching Menulis #004: Mulai & Lakukan

Segala sesuatu dimulai dari nol. Bilangan, gedung, bahkan lukisan pun dimulai dari nol yang berupa kanvas kosong. Dan, begitu pula sebuah tulisan. Dia pun dimulai dari nol, kosong, hampa. Oleh karena itulah penulisan yang paling baik adalah tulisan yang dimulai dari nol.

Bagi kebanyakan orang, memulai sesuatu dari nol adalah sebuah hal yang sangat sulit. Karena untuk memecahkan telur berupa angka nol tersebut diperlukan usaha yang sangatlah besar. Karena untuk membuat sebuah angka berubah menjadi nyata yang lebih dari nol, diperlukan segenap konsentrasi dan fokus pada ide dasar yang menjadi fondasi sebuah maksud. Dan, tulisan pun seperti itu halnya.

Ketika akan memulai untuk membuat sebuah tulisan, kita dihadapkan pada sebuah kertas kosong ataupun layar kosong yang memiliki tampilan serupa kertas kosong di depan komputer. Huruf pertama, ataupun kata pertama menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena umumnya terlalu banyak yang dipertimbangkan! Entah itu mengenai apakah akan berhubungan dengan tulisan seluruhnya, ketakutan akan gagal, dan masih banyak lagi. Padahal, ada satu kata kunci yang sangat efektif untuk mulai menulis.

Bagaikan Belajar Sepeda

Menulis itu bisa diibaratkan dengan anak kecil yang belajar menaiki sepeda. Segala teori, dan juga contoh telah berhasil didapatkan sebelum belajar menaiki sepeda. Tapi kemudian, ketika pertama kali menaiki sepeda – belum menjalankannya, rasa ragu dan takut pun muncul. Tak berani, takut jatuh, takut salah, dan masih banyak lagi rasa takut lainnya.

Biasanya, seorang ayah ataupun ibu atau kakak dan teman yang cerdas akan terus berusaha menenangkan agar si anak tetap berani untuk belajar menaiki dan menjalankan sepeda. Tak lain, hal itu dimaksudkan agar rasa takut, ragu, dan macam-macam lainnya bisa hilang dengan seketika dan digantikan dengan rasa berani. Dan kemudian, perlahan-lahan rasa berani untuk menaiki dan menjalankan sepeda pun timbul serta diiringi dengan rasa penasaran pula.

Sambil masih dipapah dan dibantu untuk terus menjalankan sepedanya, anak kecil itu pun lambat laun makin berani untuk menjalankannya sendiri. Dan, setelah hatinya diliputi oleh tekad yang penuh, maka ia pun akan bisa menjalankan sepedanya sendiri tanpa harus dipapah ataupun dibantu.

LAKUKAN SAJA!

Sengaja subjudul ini saya pilihkan huruf besar semua sebagai penyusunnya dan disertai dengan tanda seru. Tak lain, subjudul ini juga merupakan sebuah seruan dan juga ajakan untuk lebih serius dan langsung saja melakukan menulis. Karena begitu kita bisa memulai sebuah tulisan, umumnya selanjutnya tinggal sebuah cerita lalu, alias akan lancar.

Dan, kata tersebut pun saya harapkan bisa menjadi sebuah sugesti positif yang akan bisa memotivasi kita untuk memulai menulis. Mulai saja penulisan berdasarkan ide yang sudah terbentuk, dan tak perlu takut akan apa pun! Bahasa yang digunakan, bisa saja dengan bahasa sehari-hari. Entah itu prokem, gaul, dan banyak lagi. Struktur kalimat pun tak perlu dirisaukan! Karena pada prinsipnya menulis adalah sebuah kegiatan kreatif yang harus bisa mendobrak aturan-aturan baku.

Pertahankan

Banyak orang bilang, mempertahankan itu lebih sulit dibanding meraih. Perkataan tersebut seringkali dikaitkan dengan sebuah piala, kejuaraan, prestise dan prestasi. Tapi, itu pun juga dikaitkan dengan semangat dan motivasi. Apalagi dengan semangat dan motivasi untuk menulis.

Memulai dari nol memang susah, tapi tetap meneruskan hal yang dimulai dari nol itulah yang susah. Kenapa? Karena kegiatan menulis bagi kebanyakan orang juga dipengaruhi oleh mood. Dan, ketika mood sudah tak bagus, tentu tulisan pun takkan bisa dilanjutkan dan diselesaikan. Lalu, apa solusinya?

Satu kata. DISIPLIN.

Sebuah kata yang juga menjadi unsur salah satu kampanye nasional itulah yang menyebabkan hanya beberapa nama besar saja dalam ranah kepenulisan. Karena penulis-penulis yang terkenal itu mengenali dan mampu mendisiplinkan diri mereka untuk terus menulis. Keep learning, keep practice, because it makes perfect.

Sudahkah Anda memulai sebuah tulisan?

Coaching Menulis #003: Plot

Pada lanjutan seri Coaching Menulis ketiga ini, saya akan membahas satu topik cukup panjang. Hal ini dikarenakan karena topik ini merupakan salah satu unsur penting dalam menulis. Yah, memang setiap langkah yang saya sajikan di seri Coaching Menulis pasti penting bukan? Ingin tahu lebih lanjut? Silakan cermati.

Coaching Menulis #003: Plot

Seringkali ide yang menarik untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan muncul seketika begitu saja. Kemudian, setelah didapatkan pun ide tersebut perlu dikembangkan menjadi beberapa pokok pikiran, dan tulisan pun dapat segera dimulai. Tapi, apakah bisa semudah itu? Apalagi bagi yang tak terbiasa untuk menulis.

Ada satu langkah yang baiknya dilakukan sebelum langsung menulis, yakni membuat rangkaian ide yang akan ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Bahasa resminya adalah plot, atau alur. Keberadaannya cukup penting karena ia akan menjadi benang merah dari tulisan. Sehingga jika di kemudian hari proses penulisan dilanda kemacetan atau stuck, maka ketika kemudian ditinggalkan untuk sementara kita masih akan memiliki panduan untuk menyelesaikan tulisan.

Setiap jenis tulisan tentu memerlukan alur ataupun plot. Fiksi atau nonfiksi, cerita ataupun panduan, hingga biografi ataupun buku laporan peristiwa. Tiap-tiap tulisan tersebut pasti memerlukan sekaligus menggunakan alur atau plot. Tapi setiap jenis tersebut pasti menggunakan plot yang berbeda-beda bergantung kepada bagaimana penulis ingin membangun impresi para pembaca melalui tulisannya.

Susunan Plot

Sebelum melangkah lebih jauh dan menentukan plot tulisan, ada baiknya mengenali susunan plot. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan ketika nanti harus membuat plot yang diterjemahkan ke dalam runutan ide topik, ataupun ketika memilih urutan plot. Ya, memang saya akui ternyata proses menulis itu cukup rumit. Tapi pada praktiknya nanti tidak sulit kok! 😉

Umumnya, plot memiliki 6 unsur utama yang menjadi penyusun plot. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian atau kesimpulan. Keenam unsur itulah yang kemudian menjadi susunan utama plot. Tanpa ada salah satunya, tulisan akan terasa janggal karena ada salah satu unsurnya yang hilang.

Tapi kemudian, jika tulisan memang disengaja untuk dibuat menggantung, maka tak perlulah mengkhawatirkan unsur yang hilang tersebut. Walau begitu, mari kita fokus tulisan yang lebih lengkap ketimbang membuat tulisan yang tak sempurna tersebut.

Kembali kepada 6 unsur penyusun plot. Mari kita beda satu persatu dan dimulai secara urut. Perkenalan, biasanya merupakan awalan dari tulisan. Sesuai dengan namanya, perkenalan berisikan pembukaan dari tulisan yang memuat topik apa yang akan dibahas. Dalam tulisan fiksi, perkenalan akan berupa kemunculan tokoh, sementara dalam tulisan nonfiksi akan berupa pembukaan dari topik tulisan.

Pemunculan masalah adalah tahapan selanjutnya setelah Perkenalan. Dalam tulisan seringkali ia merupakan saat di mana keberadaan topik tulisan mulai dipertajam sehingga pembaca akan mengenali maksud dan tujuan dari tulisan tersebut. Pada tulisan fiksi, maka pemunculan masalah biasanya merupakan kejadian yang dialami oleh tokohnya, sementara dalam tulisan nonfiksi berupa unsur-unsur pendukung topik yang dibahas dan bisa berupa contoh-contoh yang dikaitkan.

Ketika topik dikenali dan lebih mengerucut sehingga pembaca mengenalinya, maka kejadian selanjutnya dalam sebuah tulisan adalah terjadinya konflik. Ia merupakan lontaran masalah yang pertama kali timbul sejak pertama kali tulisan dimulai. Seringkali, konflik pun dihadirkan agar tulisan menjadi lebih menarik dan menantang pembacanya untuk melanjutkan dan menyelesaikan bacaannya.

Setiap tulisan pasti memiliki puncak yang paling menjadi daya tarik dari tulisan tersebut. Entah itu situasi yang makin menegang seperti dalam tulisan fiksi, ataupun perbandingan pendapat para ahli yang hadir dalam tulisan nonfiksi. Apapun bentuknya, klimaks haruslah memiliki unsur paling menarik dan paling “WAH” dibanding bagian-bagian lainnya. Klimaks adalah momen-momen penting dalam tulisan, di mana pembaca mengalami pengalaman puncak emosi ataupun rasa ingin tahu yang paling tinggi.

Everything comes up, would comes down. Itulah yang juga berlaku di dalam sebuah tulisan. Tensi yang terus dibangun melalui fase perkenalan hingga klimaks pun “harus” turun dengan membuat antiklimaks. Hal ini dimaksudkan agar tulisan menjadi lebih “menyenangkan” bagi pembaca karena tak harus terus dirundung oleh hype dari tulisan. Antiklimaks juga dimaksudkan agar pembaca tulisan memiliki kesempatan untuk menarik napas sekaligus menunggu akan seperti apa akhir dari tulisan kita.

Ketika semua unsur dari plot tulisan sudah muncul, maka penyelesaian adalah jalan yang paling baik. Dengan membuat fase penyelesaian, maka tulisan akan menjadi lengkap karena dapat berisikan kesimpulan pada tulisan nonfiksi maupun juga bagian akhir dari cerita fiksi yang bisa dipilih apakah berakhir bahagia, sedih, ataupun menggantung.

Memilih Jenis Plot

Terdapat 3 macam alur yang paling utama dan dikenal serta sering digunakan oleh kebanyakan penulis. Maju, mundur, serta campuran. Ketiga jenis plot tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang dapat membangun setiap tulisan sehingga terlihat lebih menarik bagi para pembacanya. Ingin tahu lebih jauh? Lanjutkan membaca tulisan ini.

Plot maju adalah plot yang paling umum dan sering digunakan di setiap tulisan. Ia memiliki ciri tulisan yang bergerak urut dari awal hingga akhir tulisan. Setiap bagian dari tulisan tertata dengan baik, sehingga pembaca tulisan pun takkan kehilangan setiap momen. Runutan peristiwanya membuat impresi yang dibangun oleh penulis seperti mendaki gunung kemudian menuruninya kembali. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, penyelesaian adalah fase plot yang disusun secara urut dan tidak berloncatan.

Kebalikan dari plot maju, tentu adalah plot mundur yang susunannya sudah tentu merupakan kebalikan dari plot maju. Penyelesaian, antiklimaks, klimaks, konflik, pemunculan masalah, dan perkenalan sebagai urutan fase terbalik yang sudah barang tentu akan membuat tulisan menjadi “berbeda” karena tuturan cerita akan terbalik dengan ditampilkannya amanat ataupun kesimpulan cerita terlebih dahulu, baru kemudian mengetahui masalah yang diakhiri dengan keterangan pelaku masalah tersebut.

Jika plot mundur cukup membuat bingung untuk diterapkan, namun plot maju pun tak terlalu menarik karena terlalu runut, maka ada pilihan lainnya. Gunakanlah plot campuran yang merupakan hasil paduan antara plot maju dan mundur. Ini dimungkinkan karena plot bersifat fleksibel sehingga dapat membuat tulisan menjadi lebih menarik.

Plot campuran yang merupakan hasil paduan dari maju dan mundur ini, tentunya masih menggunakan 6 unsur penyusun plot. Meski demikian, susunannya dapat diganti dan disusun ulang tanpa berurutan. Namun, apapun awalnya penyelesaian akan tetap hadir di bagian belakang. Contohnya plot campuran antara lain konflik – pemunculan masalah – perkenalan – klimaks – antiklimaks – penyelesaian.

Namun kembali lagi, apa pun plot yang akan dipilih sebagai panduan benang merah tulisan, pastikanlah bagian-bagian tulisan terus menempel dengan plot sehingga ketika urutannya akan diputarbalik akan mudah dikerjakan. Selamat menulis!

Sudah tahu plot seperti apa untuk tulisan Anda?

Coaching Menulis #002: Mengembangkan Ide

Seri kedua postingan Coaching Menulis, kali ini adalah mengenai Mengembangkan Ide. Setelah mendapatkan ide di postingan pertama minggu kemarin, tentunya sebuah tulisan akan menjadi lebih baik ketika ide tersebut diejawantahkan menjadi sebuah susunan yang tertib, yang nantinya akan menjadi sebuah landasan pakem yang akan ditulis, serta menjadi tolak ukur pengembangan tulisan. Karena dengan sebuah pakem tentunya tulisan akan menjadi lebih mudah dikerjakan dan diselesaikan.

Coaching Menulis #002: Mengembangkan Ide

Mengembangkan ide pada dasarnya serupa dengan membuat kerangka tulisan. Hal ini merupakan kegiatan yang susah-susah gampang. Kenapa? Karena untuk sebagian orang membuat kerangka tulisan sangatlah mudah, semudah mendapatkan ide itu sendiri. Biasanya, kemudahan membuat kerangka tulisan tersebut dikarenakan ide dasar tulisan yang akan dikerjakan mudah untuk dikembangkan karena memiliki banyak sekali sumber daya.

Lalu, bagaimana jika pengembangan ide untuk membuat kerangka tulisan itu ternyata susah? Langkah mudahnya adalah dengan mencicil satu persatu ide-ide tambahan yang relevan terkait dengan ide dasar tersebut. Dengan menambahkan sebanyak mungkin ‘kata kunci’ berupa ide-ide tambahan relevan, membuat kerangka tulisan tentunya akan menjadi lebih mudah. Oleh karena itulah, kesusahan dalam membuat kerangka tulisan adalah hal biasa yang harus dihadapi agar tulisan yang akan dibangun dari ide dasar menjadi lebih mudah dikerjakan. Lebih baik bersusah di awal dibanding bersusah di akhir bukan?

Contoh Membuat Kerangka Tulisan

Baiklah, mari kita mencoba membuat kerangka tulisan sebagai contoh, yang sekaligus dikerjakan dengan cara mudah yang telah disebutkan sebelumnya. Yakni dengan mencari ide-ide tambahan relevan yang terkait dengan ide dasar tersebut.

Sebagai contoh, mari kita ambil ide dasar,

TARIAN

Apa yang langsung terlintas di kepala ketika membaca atau mendengar kata-kata tarian? Jikalau belum ada satu pun, coba renungkan selama 5 menit, dengan menggali setiap ingatan yang pernah dimiliki dan berada dalam memori kepala Anda.

Sudah 5 menit? Sudah ada ingatan yang muncul dalam kepala? Oke, sediakan secarik kertas dan juga sebuah pena atau pensil untuk kegiatan selanjutnya.

Sudah sediakan kertas dan juga pensil atau pena? Sekarang, langsung saja Anda tuliskan kata-kata atau ide-ide yang muncul dalam kepala Anda di kertas tersebut. Tumpahkan segalanya, termasuk juga ide-ide atau kata-kata yang tak biasa, aneh, dengan bahasa yang tidak baku – bahasa Anda sendiri, dan lain-lain. Intinya, apa pun yang Anda pikir berkaitan dengan TARIAN dan muncul di kepala Anda, tuliskanlah di sana.Tak perlu ditulis berurutan, tak perlu juga ditulis secara rapi. Yang penting, keluarkan segalanya.

Berikut, contoh apa isi kepala saya yang muncul dan berkaitan dengan TARIAN,

saman, kecak, bali, daerah, asli, penari, stripper, striptease, porno, baju adat, wanita, cewek, leak, aceh, jawa, sunda, indonesia, salsa, classic, waltz, tap dance, michael jackson, pop, dance, pom pom, lenso, cheerleader, bung karno, kerajaan, roman, dongeng, puteri raja, pangeran,….

Oke. Sepertinya 3 baris yang saya tuliskan itu cukup banyak. Apakah milik Anda juga sebegitu banyak? Atau, lebih banyak lagi? Dan sekarang, mari kita coba buat kerangka tulisan yang tepat berdasar ‘kata kunci’ yang terlontar dari ide-ide relevan yang terlintas dalam kepala setelah mendengar apa ide dasar yang ditetapkan. Tak perlu menggunakan seluruh ‘kata kunci’ tersebut, tapi cukup ambil beberapa yang saling mengait agar lebih mudah dikerjakan.

Berikut, contoh pengembangan ide untuk membuat kerangka tulisan yang saya ambil berdasar ‘kata kunci’ milik saya.

Tarian,

  1. Tarian memiliki berbagai jenis, yakni tradisional dan modern.
  2. Contoh tarian tradisional antara lain saman, lenso, kecak.
  3. Contoh tarian modern antara lain waltz, classic, pop, dance.
  4. Beberapa contoh aplikasi tarian adalah pada cheerleader yang menggunakan pom-pom.
  5. Dan, salah satu dancer/penari sukses adalah Michael Jackson yang menciptakan tarian energik di setiap lagunya.

Kurang lebih dari sebuah ide dasar berupa Tarian, kemudian dapat berkembang menjadi sebuah ide yang memiliki 5 kalimat utama, yang masing-masing dapat menjadi topik menarik untuk menjadi tulisan, ataupun kelimanya disatukan dalam sebuah tulisan yang masing-masing saling mendukung. Bahkan, 5 sub ide yang telah dikembangkan tersebut bahkan dapat dikembangkan menjadi judul bab dalam tulisan yang akan dikerjakan.

Sudahkah ide tulisan Anda siap dikembangkan agar menjadi tulisan yang lebih menarik?

Coaching Menulis #001: Mendapatkan Ide

Baiklah. Ini saatnya saya untuk memulai sebuah posting berseri di blog ini, setelah sekian lama vakum dan hanya memindah beberapa postingan lama dari blog yang lain. Serta, di postingan berseri pertama ini, saya ingin mengucapkan semoga postingan saya ini berguna, dan mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan. Ini semua berdasar apa yang saya alami, saya dapatkan, dan saya pahami mengenai menulis. Jika ada komentar dan feedback, silakan disampaikan agar apa yang saya bagikan menjadi lebih baik.

Baiklah, mari kita mulai di postingan pertama pada seri ini.

Coaching Menulis #001: Mendapatkan Ide

Bagi kebanyakan orang, mendapatkan ide untuk menulis tidaklah mudah. Mereka berpendapat bahwa untuk mendapatkan ide untuk menulis, diperlukan waktu khusus, sebuah kontemplasi yang benar-benar terkonsentrasi. Tak lain itu dimaksudkan agar menulis pun menjadi lebih menyenangkan.

Mau tahu apa kata saya mengenai pendapat tersebut? Saya bilang,

“MENDAPATKAN IDE ITU MUDAH! TAK PERLU WAKTU KHUSUS!”

STOP dulu aktivitas baca Anda di postingan ini, dan renungkan baik-baik selama kurang lebih 5 menit kalimat yang telah saya tandai dengan tebal sebelumnya.

Sudah? Perlu tambahan waktu? Apakah Anda setuju dengan kalimat saya tersebut? Ada pertanyaan yang muncul?

Baiklah.. silakan simak lebih lanjut postingan saya ini.

Yang mendasari kenapa saya bisa mengucapkan kalimat berhuruf tebal tersebut, adalah karena ide bisa didapatkan kapan saja, di mana saja, dari mana saja. Kejadian mendapatkan ide tidaklah sesulit seperti yang dibayangkan, karena ide bisa berawal dari hal-hal kecil yang kemudian dimatangkan menjadi lebih besar dan bermakna.

Oke, contohnya seperti berikut ini…

Contoh Fiksi

Andaikan suatu ketika kita ingin menulis mengenai sebuah novel fiksi, perjalanan hidup seorang tokoh selayak roman, namun ingin berbeda dengan yang sudah-sudah ada macam Laskar Pelangi, dan sebagainya. Tentu, biasanya kita akan menciptakan seorang tokoh nyata ataupun mencari sebuah tempat yang berada nun jauh di sana untuk kemudian kita tuliskan. Betapa sulitnya bukan untuk mendapatkannya? Padahal, kalau kita lebih membuka mata, telinga dan hati, ide untuk menulis cerita tersebut tak perlu sulit.

Pernahkah kita di saat akan berangkat beraktivitas memperhatikan keadaan sekitar kita? Entah itu pelajar sekolah yang akan berangkat, karyawan, tukang ojek, tukang pos, sopir bus, kernet, hingga pengamen dan pengemis di pinggir jalan? Pernahkah Anda memperhatikan dengan seksama setiap orang tersebut hingga mengetahui detil dari mereka?

Setiap tokoh ataupun karakter yang kita lihat dan temui sehari-hari tersebut, adalah sumber inspirasi dan juga ide yang bisa dikembangkan. Karena dengan mengamati hal yang lebih dekat, tentu akan memudahkan untuk mengembangkan ide tersebut, dibandingkan kita mengawali semua dari sesuatu yang benar-benar fiktif.

Non-fiksi

Hampir sama halnya dengan menulis secara non-fiksi, ide pun bisa didapatkan dari keseharian kita. Karena dengan dengan mengambil latar non-fiksi, tentu kita akan lebih mudah dalam mengembangkan ide dan juga menuliskannya karena dia sudah nyata, dan kita tinggal menyajikan fakta-fakta tersebut.

Perlu bukti (lagi)? Baiklah.. simak yang berikut ini.

Apakah Anda menyimak berita belakangan ini? Pasti tentu tahu mengenai kisruh KPK dan juga pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, mulai dari Kejaksaan, Kep0lisian, Pengusaha kelas kakap, dan masih banyak lagi. Dengan mengambil momen ini, tentu ide yang bisa diambil antara lain (misalnya) “Cara-cara Mengurus Kasus Pidana”, “Cara-cara Menghindari Korupsi” dan masih banyak lagi.

Dari sekian ide yang muncul tersebut, akan menjadi lebih menarik lagi jika disajikan menjadi sebuah tulisan mendalam yang dibarengi investigasi secara menyeluruh. Investigasi yang dilakukan pun tak perlu mendalam seperti seorang jurnalis, tapi cukup melalui pandangan seorang warga masyarakat yang peduli akan persoalan tersebut.

Tuliskan

Setelah mendapatkan sekian ide yang menarik dan bisa dijadikan sebagai landasan tulisan Anda, maka segeralah tuliskan ide tersebut sebelum menguap pergi. Itulah pentingnya sebagai seorang penulis (wannabe mungkin), untuk selalu membawa alat pencatat. Minimal milikilah notes kecil beserta pulpen. Atau gunakan kecanggihan seperti menyimpan notes di ponsel Anda. Karena tanpa menuliskan ide tersebut, maka proses kreatif yang telah dilakukan oleh kepala kita akan menjadi sia-sia belaka.

Sudahkah Anda mendapatkan ide untuk menulis hari ini?

CINTA: Motivasi Terbaik Ketika Menulis

Pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta. Tak cinta, maka??? Saya penasaran dengan Anda semua ketika membaca pepatah tersebut. Apa kira-kira jawaban Anda, untuk kalimat terakhir dari pepatah tersebut. Tapi, jika Anda menanya balik pada saya, maka saya akan mengatakan: Tak cinta, maka TAK BERHASIL!

Lho? Apa hubungannya cinta dengan keberhasilan?
JELAS-JELAS ADA!

Banyak hal yang bisa berhasil ketika CINTA menjadi salah satu landasan untuk berbuat. Sebut saja para pejuang yang rela mengorbankan nyawa mereka di perang perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, hanya KARENA CINTA tanah air. Kemudian, ada lagi para atlet negara yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional, karena mereka pun CINTA tanah air, sekaligus CINTA terhadap olahraga yang mereka tekuni tentunya. Dan, yang paling ekstrem adalah, CINTA Romeo-Juliet yang membuat mereka melakukan segala cara agar bisa bersama, hingga akhirnya mati bersama. – jangan fokus pada matinya, tapi pada melakukan segala cara.

Maksudnya?

Read More

MOTIVASI! Hal Terpenting Ketika Menulis

Yah, benar sekali. Motivasi adalah hal terpenting yang harus kita miliki ketika kita menulis. Karena, jika tidak memiliki motivasi, tak jarang tulisan kita berakhir dengan tidak akan pernah selesai. Bahkan parahnya, sudah berakhir meski belum dimulai.

Maksudnya gimana sih?
Oke, baca terus tulisan ini.

Tak jarang, ketika kita mulai menulis, ada dorongan menggebu-gebu dalam diri kita untuk menulis sesuatu tersebut. Dan kemudian, dorongan tersebut mulai menurun, dan akhirnya hilang sama sekali ketika kita menulis. Banyak hal yang bisa menjadi penyebab mengapa dorongan tersebut menghilang. Namun, hal tersebut akan dibahas di lain kesempatan.

Nah, dorongan tersebut punya nama lain. Yaitu, motivasi. Motivasi adalah dorongan yang membuat kita ingin menulis. Motivasi adalah dorongan yang membuat kita ingin menuntaskan tulisan – mengakhirinya dengan baik-baik, dan bukannya tidak selesai. Motivasi, adalah dorongan untuk menghasilkan karya tulis yang baik.

Trus? Oke, kita emang perlu motivasi. Emangnya, bisa didapetin gitu aja? Gue ‘kan orangnya moody.

Read More