Nama

Nama adalah doa dan pengharapan orangtua terhadap anaknya.

Katanya gitu. Iya, begitu. Sebagai lelaki yang sudah menjadi orangtua, saya mengamini perkataan tersebut. Tapi, sehubungan sejak sebelum jadi orangtua saya suka nulis, muncullah pemikiran lain, sbb:

Nama yang diberikan pada tokoh atau karakter di cerita fiksi itu termasuk doa dan pengharapan juga kah? Kalo iya, yang jadi orangtua-nya siapa? Penulis, atau karakter lain yang diciptakan (jika ada) sebagai orangtua di dalam ceritanya itu?

Kusut? Jelas. Udah pasti. Beberapa kenalan dekat saya — atau yang (pernah) sering interaksi dengan saya bilang saya sering overthinking, yang pada akhirnya tentu bisa memunculkan pemikiran itu. Tapi secara logika, bener kan? — terlepas dari penting/ga penting :mrgreen:

Pemikiran itu timbul karena saya — yang memang gemar menulis cerita fiksi, seringkali kesulitan untuk menentukan nama dari tokoh atau karakter yang berada dalam cerita fiksi saya. Idealnya, saya menentukan nama berdasar karakternya, misal Elang untuk lelaki yang berkarakter gagah, siap untuk melanglangbuana. Contoh lain misal Siti untuk perempuan yang memiliki prinsip tersendiri dan dipegang teguh.

Tapi seringkali memang penentuan nama tidaklah ideal, sih. Alhasil saya seringkali membuat karakter dengan sebutan warna, misal Biru, Merah, Kuning, Hitam, dan lain-lain. Setelah berjalan beberapa halaman dan cerita mulai dikembangkan, barulah dipilih nama yang kira-kira sesuai. Masih dengan landasan idealisme itu. Sayangnya, sehubungan saya belakangan (atau malah udah selalu? 😛 ) lebih sering nulis cerita pendek, alhasil ga begitu lagi. Seringkali malah comot nama aja yang keingetan duluan untuk sebuah karakter atau tokoh di dalam cerita.

Buyar sudah prinsip doa dan pengharapan. 😆

 

Cerbung

Membuat (baca: menulis) novel atau buku cerita adalah salah satu impian saya sejak kecil. Alhamdulillah, terlepas dari tiras dan angka penjualannya, saya sudah pernah menerbitkan satu judul novel dari salah satu penerbit bergengsi di tanah air. Dan, sebenarnya keinginan hati adalah kembali menerbitkan novel. Akan tetapi, pada kenyataannya semuanya tidaklah mudah.

Mungkin sudah banyak yang tahu, menembus penerbit dan kemudian menerbitkan naskah buku itu bisa dibilang amat sangat sulit. Mulai dari tahapan penyaringan secara kilat, penyeleksian, penyuntingan, penulisan ulang/penambahan (jika perlu), hingga penjadwalan terbit, dan juga pemasaran plus penjualan. Semua itu tidaklah mudah — walau juga tidak mutlak disebut sulit. Mengantisipasi itulah, maka kemudian banyak penerbit “indie”, penerbit buku dengan pemasaran yang “menumpang” penerbit besar, hingga penerbit on demand/by request.

Anyway, bukan soal penerbit dan proses menerbitkan buku yang mau saya bahas. Melainkan cerita bersambung (cerbung) yang semula saya siapkan untuk menjadi novel. Iya, semula naskah cerbung ini adalah naskah novel. Namun karena tak kunjung juga diterbitkan oleh penerbit (baca: ditolak oleh penerbit), jadilah saya publikasikan cerita novel tersebut per bab secara bersambung.

Mau tahu apa cerita bersambung tersebut? Simak aja di sini. Judulnya adalah Burung Kertas, dengan 21 bab yang saya bagi menjadi 21 post.

Selamat menikmati ya..

Cara Jitu Mengatasi “Kuis Hunter”

Pernah ikutan kuis atau lomba-lomba yang diselenggarakan di internet? Atau, pernah sebaliknya, membuat lomba-lomba atau kuis yang diselenggarakan di internet? Kalau jawabnya pernah, pasti tahu dengan yang namanya “kuis hunter”. Iya, para pemburu kuis yang memiliki akun dengan tujuan utama untuk mengikuti kuis – di segala macam platform (facebook, twitter, dll), dan acapkali membuat “banjir” timeline dengan aktivitas mereka.

Blogpost kali ini tidak akan memberi penilaian berupa positif atau negatif terhadap “kuis hunter” tersebut, melainkan cara jitu untuk mengatasi mereka. Mengatasi di sini bukan tentang mengesampingkan para “kuis hunter”, akan tetapi mengatasi untuk menjaga agar aktivitas (lomba dan kuis) yang dibuat menjadi lebih tertata dan juga memiliki kualitas yang baik.

Cara-cara mengatasinya antara lain sebagai berikut,

1. Photo/design contest.

Membuat kontes foto dan atau desain, menjadi salah satu cara untuk mengatasi “kuis hunter”. Kenapa? Karena foto dan atau desain membutuhkan usaha (effort) yang cukup berlebih bagi para pesertanya. Kenapa? Karena setidaknya peserta “harus” membuat hasil foto yang menarik, konsep desain yang unik, hingga akhirnya setelah selesai diunggah (upload) dan kemudian dinilai oleh juri.

Menurut saya pribadi, cara ini tentunya akan membuat kuis/lomba menjadi lebih tertata dan memudahkan juri untuk menilai dan menentukan pemenang.

2. Product buying related promo.

Dengan begitu mudahnya internet diakses, “kuis hunter” akan menjamur dengan mudah pula. Berbekal dengan koneksi internet “gratis” (atau lebih tepat dibilang murah), para “kuis hunter” akan dengan mudahnya pula untuk mengikuti kuis di berbagai platform. Tapi, apabila para “kuis hunter” diminta untuk mengikuti lomba/kuis dengan syarat harus memiliki/membeli produk tertentu, maka kecenderungannya akan lebih kecil untuk ikut di kuis/lomba tersebut.

Menurut saya pribadi, cara ini akan menghasilkan para peserta kuis/lomba yang benar-benar loyal dengan produk/brand yang menjadi dasar kuis/lomba tersebut. Serta tentunya, akan memudahkan penilaian apabila ada produk output yang ditentukan.

3. Blog contest.

Beberapa kali saya mengikuti blog contest (dan sempat mengurus blog contest juga :mrgreen: ), cara blog contest ini cukup bisa mengatasi para “kuis hunter”. Aspek-aspek penilaian blog contest yang cukup banyak seperti isi blog, cara tutur, pemilihan kata, cara penyampaian topik, hingga jumlah komentar, dan usia dari blog itulah yang mampu mengatasi “kuis hunter”. Sehingga, input dari blog contest akan didapatkan yang sesuai target.

Menurut saya pribadi, cara blog contest ini juga membutuhkan effort (usaha) yang cukup tinggi dan menuntut kreativitas dari para pesertanya. Sehingga, para peserta tentu akan mengerahkan segenap kemampuannya agar dapat memenangkan hadiah.

Akan tetapi, ketiga cara tersebut tetap takkan bisa mengatasi para “kuis hunter” apabila,

  1. Penentuan pemenang (juga) didasari oleh jumlah like.
  2. Penentuan pemenang (juga) ditentukan oleh jumlah share.
  3. Produk yang disyaratkan untuk mengikuti kuis/lomba tidak memiliki keunikan di masing-masing unit, sehingga sekali beli produk, dapat digunakan oleh banyak orang/berkali-kali.

Itu menurut saya. Kalau menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Memulai Dengan Kutipan

Seperti diketahui oleh banyak orang, ada 2 jenis tulisan. Yakni fiksi dan non-fiksi. Keduanya sama-sama punya kelebihan-kekurangan, serta ciri-ciri tersendiri. Yang ingin saya bahas di blogpost kali ini adalah mengenai permulaan dari tulisan.

Awalan sebuah tulisan perlu memiliki ciri berupa jangkar yang demikian kuat agar bisa “menahan” pembacanya agar mau membaca, lalu menuntaskan membaca tulisan itu. Dan, salah satu caranya adalah dengan memulai tulisan dengan kutipan. Iya, kutipan atau kata langsung.

Contoh kutipan antara lain,

“Saya kan sudah bilang, taktik yang dipakai di pertandingan kemarin itu salah semuanya..” ujar pelatih.
“Just play. Have fun. Enjoy the game.” – Michael Jordan.

Kedua contoh kutipan tersebut bisa digunakan baik di tulisan fiksi maupun nonfiksi. Kenapa saya bisa sebutkan demikian? Karena kalimatnya diawali dengan tanda kutip – iya ini ilmu dasar menulis, dan berupa kalimat langsung yang diucapkan oleh seseorang, yang seseorang pengucap tersebut disebutkan di akhir kalimat – setelah tanda kutip ditutup.

Bingung? Coba nanti di kolom komentar, beritahu saya apa yang bikin bingung. Sementara itu, lanjut dulu ya.. 🙂

Kekuatan sebuah kutipan di awal tulisan setidaknya harus memiliki salah satu atau sekaligus semua faktor di bawah ini,
1. Mengundang pertanyaan akan isi dari tulisan,
2. Merupakan hal yang dibicarakan oleh banyak orang – pada saat tulisan itu dipublikasikan,
3. Diucapkan oleh seseorang yang berpengaruh, dan atau,
4. Terdiri dari sebuah kalimat sederhana – tidak menimbulkan kebingungan.

Apabila kutipan di awal tulisan sudah kuat, maka bisa dijamin setidaknya pembaca akan meneruskan membaca hingga setidaknya 2-3 paragraf lagi. Dan diharapkan di paragraf-paragraf tersebut terdapat hubungan yang kuat, sehingga pembaca akan terus bertahan hingga mendapatkan intisari dari tulisan dan atau sesuai persepsi yang ia butuhkan saat proses membaca itu tuntas.

Jadi, sudah siap memulai tulisan dengan kutipan? Cobalah dengan memuat kutipan berupa kata-kata bijak atau bagus. Tujuannya, selain berlatih dengan kutipan, kata-kata tersebut juga bisa memotivasi penulis secara terselubung untuk menuntaskan tulisan. 🙂

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia

Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,

“Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”

Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.

Bingung? Oke, lanjut ke bawah.

Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.

Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.

Lalu apa masalahnya?

Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”

Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.

Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.

Menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Sketsa #2: Hidangan

“Kamu tahu apa yang paling kusuka?” tanya sang wanita.

“Wanginya?” jawab sang pria.

“Bukan.”

“Rasanya?”

“Bukan juga.”

“Warnanya?”

Sang wanita diam sejenak sambil tersenyum kecil. “Mungkin ya, tapi bukan itu yang paling kusuka.”

“Hmm… Jumlahnya?”

“Kalo jumlahnya, satu porsi aja cukup buat jangka waktu tertentu. Malah kadang, 1 porsi ga abis aku udah kekenyangan.” jawab sang wanita.

“Terus apa?” tanya sang pria.

Sang wanita berjalan mendekati meja. Ia menatap sajian yang dipersembahkan oleh sang lelaki, khusus untuknya.

“Aku suka denger teriakan mereka saat gigiku nempel ke leher mereka.” kata sang wanita sambil menampakkan taringnya diikuti teriakan kesakitan dari atas meja.

Mengatasi Masalah Ketika Menulis

Beberapa kali saya sempat mendapat pertanyaan dari beragam orang,

Gimana sih caranya bisa tetep nulis? Emang ga pernah keabisan ide gitu? Ga pernah berasa bosen? Ga pernah pengen berenti? dsb.. dsb.. dsb..

Dan, jawaban yang saya berikan singkat saja.

Pernah.

Tapi nyatanya, jawaban saya itu tidak cukup bagi mereka yang bertanya pada saya. Karena kemudian, saya diberondong lagi dengan berbagai pertanyaan. Tapi secara umum, intinya hanya satu. Yakni, sebagai berikut,

Trus, gimana cara mengatasinya?

Dan, biasanya bukannya menjawab dengan sesuatu yang konkrit, saya justru balik bertanya.

Mengatasi apa?

Tak jarang, beberapa orang langsung melengos pergi, diam, atau bahkan memutus percakapan (jika dilakukan via online). Saya geli sendiri jika mendapatkan perlakuan seperti itu. Bohong jika saya bilang saya tidak sebal atau kesal, tapi ya.. saya geli sendiri. Kenapa? Karena menurut saya, yang bisa menjawab pertanyaan “cara mengatasi” adalah mereka sendiri. Iya, masing-masing pribadi yang melontarkan pertanyaan tersebut.

Sebuah kata mutiara pernah saya baca, isinya sebagai berikut,

No one know you exact nor completely, besides yourself.

Iya, hanya diri kita sendiri yang tahu apa dan bagaimana diri kita sebenarnya. Jadi, jika kita berhadapan dengan sebuah problematika yang ingin diselesaikan, ya kita harus mengenali diri kita sendiri. Mengapa? Gunanya, untuk mengetahui potensi diri yang belum dan sudah dimanfaatkan dalam mengatasi masalah tersebut. Dan, dalam hal ini adalah menulis.

Saya buka kartu nih, saya memiliki beberapa permasalahan ketika saya harus menulis. Iya, beberapa. Tak hanya satu, atau dua. Tapi beberapa. Berikut ini, saya tulis sesuai yang teringat oleh saya,

Menunda-nunda, atau prokrastinasi.

Malas.

Buntu ide.

Lelah.

Mengulang.

Kurang lebih memang ada 5 masalah yang terus saya hadapi di saat saya menulis. Memang, permasalahan tersebut tidak selalu muncul. Ada kalanya, saya begitu on fire, sehingga sebuah tulisan sepanjang 2 lembar A4 dapat selesai dalam beberapa menit saja. Tapi ada kalanya juga, saya baru bisa menyelesaikan sebuah tulisan singkat — 2-3 paragraf setelah menunggu 1-2 hari. Dan, kedua jenis tulisan tersebut sama, fiksi atau nonfiksi.

Untuk mengatasi masalah tersebut, saya biasanya melakukan beberapa hal secara sekaligus. Mulai dari ngetwit, menulis cerita singkat, makan, hingga tidur. Kenapa? Karena saya ingin pikiran saya teralihkan dari bahan tulisan yang harus saya kerjakan. Karena saya perlu penyegaran dan juga perbaikan situasi sebelum menyelesaikan tulisan. Karena, perbedaan kondisi itu penting adanya.

Anda bisa saja melakukan langkah-langkah seperti yang saya lakukan. Tapi, saya bisa jamin itu belum tentu efektif bagi Anda. Hihi, sepertinya saya menyesatkan saja ya.. 😛 Oke, maksud saya menyatakan seperti itu karena pribadi setiap orang itu berbeda-beda. Setiap orang itu unik, dan sempurna dengan caranya sendiri. Setiap orang tentu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Itulah makanya, di awal saya sudah bilang bahwa yang bisa menyelesaikan permasalahan ketika menulis, adalah Anda sendiri.

Tapi bagaimana jika Anda sendiri tidak tahu bagaimana mencari penyelesaiannya? Oke, kali ini bisa saya bagi trik untuk mencari penyelesaian tersebut,

Ambil 5 langkah ke belakang menjauh dari  masalah Anda.

Ambil waktu sekitar 5 menit jeda untuk tidak memikirkan permasalahan Anda.

Dan, lakukan 5 kegiatan yang tak berkaitan dengan masalah yang sedang Anda hadapi, selama kurang lebih 5-15 menit.

Kemudian balik lagi, dan pikirkan 5 pilihan yang bisa Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya sudah Anda selesaikan.

Seharusnya, setelah Anda kembali lagi untuk menghadapi masalah setelah menjauh 5 langkah, jeda 5 menit, dan melakukan 5 kegiatan, Anda bisa mendapatkan solusi yang tepat. Trik, saya dapatkan dari menggabung-gabungkan antara berbagai problem-solving yang pernah saya dapatkan. Dan, saya tidak mengakui bahwa ini milik saya seorang. Anda berhak untuk menyebarkannya kembali.

Sudah siap? Coba segera lakukan ketika Anda menghadapi masalah, ya!

NB: Tak perlu melakukan semua langkah tersebut, cukup beberapa saja. Dan, hal ini tidak perlu dicatat. Cukup diingat sambil dilakukan.

Coaching Menulis #014: Konsistensi

Ya, akhirnya saya memperbaharui kembali blog menulis ini. Setelah pembaharuan (update) terakhir sudah berbulan-bulan yang lalu. Tak lain, karena memang saya akui, beberapa kesibukan membuat saya sulit untuk menyentuh blog ini dan memberikan materi yang benar-benar sesuai. Belum lagi, pelaksanaan Coaching 101 yang ternyata tidak selancar seperti rencana. Tapi ya, itulah tantangan yang harus saya hadapi tentunya. Semenjak, saya memutuskan untuk menulis, dan menulis. Lagi, dan lagi.

Oke, jadi dengan memublikasikan materi coaching ke-14 ini, saya resmi membuka kembali Coaching 101. Kali ini, saya tidak melakukan per angkatan, tapi membebaskan setiap orang untuk menghubungi saya via e-mail ke naga.tasik@gmail.com. Via e-mail tersebut, silakan saja Anda bertanya kepada saya, baik itu berkelanjutan melalui e-mail berikutnya, atau bertemu, atau cukup satu-dua kali saja. Bebas. Tak ada ikatan. Dan, jangan lupa tuliskan di subject-nya “Coaching 101” yang kemudian diikuti oleh keperluan Anda.

Dan, untuk materi ke-14 ini, saya mengambil tema: Konsistensi.

Coaching Menulis #014: Konsistensi

Konsistensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan yang beralamat di sini, kata ‘konsistensi’ berarti:

n1 ketetapan dan kemantapan (dl bertindak); ketaatasasan: kebijakan pemerintah mencerminkan suatu — dl menghadapi pembangunan yg sedang kita laksanakan;2 kekentalan: — agar-agar;3 kepadatan, kepejalan, atau ketetalan jaringan yg menyusun bagian tubuh buah; 4Geoa ketahanan suatu material terhadap perubahan bentuk atau perpecahan; b derajat kohesi atau adhesi massa tanah;
kontekstualLing kualitas terjemahan yg diperoleh dng menerjemahkan ungkapan yg cocok untuk konteks tertentu dan bukannya untuk semua konteks

Singkat cerita, konsistensi berarti tetap dan mantap. Saya sendiri sering mengartikan konsistensi sebagai “sebuah keadaan untuk tetap melakukan yang sudah ditetapkan di awal kegiatan.” Jadi, kurang lebih konsistensi adalah melakukan sesuatu secara terus-menerus, sesuai target, hingga mencapai tujuan. Meski begitu, tujuan yang ingin dicapai bisa jadi terus berubah-ubah sesuai dengan perkembangan situasi.

Bingung? Oke, mari kita sederhanakan saja dengan mengambil contoh kasus dalam menulis.

Andai Anda sudah merencanakan untuk membuat sebuah tulisan semacam artikel yang memiliki panjang kurang lebih sekitar 3-4 halaman A4. Jika ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang lengkap, maka harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, When, Why, Where, Who, & How). Dan, dalam perencanaan tersebut juga dilakukan pemilihan jenis tulisan yang akan dibuat, ada persuasi, argumentasi, narasi, deskripsi, dan masih ada beberapa jenis lainnya.

Lalu, setelah perencanaan tulisan selesai, apa? Tentu, jawabnya adalah pencarian data untuk tulisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mencari narasumber, baik itu ahli ataupun masyarakat, melakukan penelitian lewat internet, buku-buku, hingga kemudian membuat sebuah catatan lengkap. Nah, khusus untuk catatan ini bisa juga dilakukan dengan membuat sebuah jurnal — mencatat tanggal, waktu, siapa orangnya, dan apa isi percakapan dengan orang tersebut.

Selesai sampai di situ? Jelas tidak! Penelitian dan pengumpulan data, harus segera diikuti dengan penulisan mengenai artikel yang sudah direncanakan sejak awal. Dan, untuk mengawali menulis, terkadang sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena ada beberapa energi yang terkuras di saat mencari dan mengumpulkan data lewat penelitian tersebut. Dan, untuk tetap menulis sesuai dengan rencana itulah diperlukan konsistensi.

Iya, konsistensi. Ketetapan hati untuk tetap melakukan rencana sejak awal untuk mencapai tujuan itu begitu penting dalam menulis. Dengan tetap konsisten terhadap rencana, maka kita akan bisa menulis sesuai keinginan awal seperti yang tertulis di rencana kita. Dengan konsistensi, kita dapat menyelesaikan tulisan sesuai jadwal atau target yang kita inginkan.

Memang diakui, konsistensi terkadang sulit dilakukan bagi kebanyakan orang. Penyebabnya banyak, tapi lazimnya karena mereka belum terbiasa. Lantas, jika sudah terbiasa apa bisa langsung konsisten juga? Saya ingin sekali menjawab “IYA” dengan lantang, tapi sepertinya sulit. Mengingat-ingat, saya juga tidak konsisten terhadap blog ini. :mrgreen:

Oke, lalu harus bagaimana agar tetap konsisten? Mudah saja, lakukanlah sepenuh hati Anda akan apa yang sedang Anda lakukan. Jika sedang merencanakan untuk menulis mengenai sebuah hal, maka lakukanlah sepenuh hati, dan konsistensi akan mengikuti dengan sendirinya. Jadwal yang super efektif sekalipun takkan bisa mengalahkan kekuatan hati dan juga konsistensi.

Dan, jangan pernah meremehkan kekuatan konsistensi. Kenapa? Karena dengan sebuah konsistensi, target yang direncanakan bisa dapat tercapai, atau bahkan terlampaui! Jadi, mulailah Anda menulis dengan konsisten! *pengingat untuk diri saya sendiri juga tentunya*

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Layaknya sebuah perjalanan, sebuah permulaan pastinya akan diakhiri dengan sebuah penghabisan. Begitu pula proses menulis, karena sesuatu yang berawal akan lebih baik jika memiliki sebuah akhir. Namun, akhir sebuah proses menulis merupakan awal yang baru bagi proses selanjutnya.

Menulis, adalah sebuah perjalanan yang melenakan penulisnya sehingga terus membuatnya tetap berkutat dengan tulisannya. Ide dan segala pikiran ditumpahkan ke dalam tulisan agar membuatnya menjadi sebuah mahakarya yang memuaskan. Dan, setelah semuanya selesai tentu langkah yang ingin dilakukan adalah mengirimkannya ke pihak yang bisa membuat tulisan kita dibaca oleh banyak orang. Benarkah begitu? Hmm.. tentu tidak. Karena ada sebuah tahapan kecil yang akan lebih menyempurnakan tulisan kita tersebut.

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Pada materi coaching kali ini, saya akan menganalogikan penulis sebagai seorang juru masak. Profesi yang berkaitan dengan makanan serta selera tersebut, memiliki beragam tahapan serta kemahiran dalam memasak dan menghasilkan masakan makanan bagi para penikmatnya. Nah, tulisan tentunya adalah masakan makanan tersebut.

Bagi seorang juru masak pemula, memasak makanan adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Jangankan menyajikan masakan, mendapatkan bumbu-bumbu yang tepat dan ideal tak semudah yang dibayangkan. Namun, dengan latihan dan juga percobaan yang terus dilakukan tentu akan membuat keahlian semakin terasah dan juga kemampuan semakin jitu.

Juru masak yang baik tentunya akan menikmati setiap proses yang terjadi dalam menghasilkan masakannya. Setiap detil dan juga perlengkapan yang diperlukan akan diperlakukan dengan baik agar terciptanya sebuah kesempurnaan. Dan, setelah proses memasak hampir selesai, penyajian yang tepat adalah sebuah keharusan. Itulah mengapa coaching kali ini saya mengambil tema ‘Bungkus!’.

Sajian Terpilih

Pernahkah Anda menikmati masakan makanan di sebuah restoran berkelas yang makanannya kebanyakan adalah khas benua lain dan dibandrol dengan harga yang tinggi? Bagi yang belum, tidak mengapa. Karena sebenarnya yang berada di sana adalah masakan makanan yang rasanya nikmat dengan sajian yang menarik sehingga harga yang selangit pun layak untuknya.

Lalu, pernahkah Anda menikmati masakan makanan di pedagang kaki lima pinggiran jalan dengan gerobak, dipikul, atau mungkin di kios-kios kecil? Harganya umumnya terjangkau dengan variasi makanan yang tersaji secara umum namun memiliki rasa yang berbeda-beda di setiap penjualnya, yang bisa jadi tidak berbeda jauh dari restoran berkelas yang saya sebutkan sebelumnya.

Nah, sekarang seperti ini. Andaikata di depan Anda terdapat sebuah piring berisikan dua buah makanan yang masing-masing berasal dari restoran berkelas dan kaki lima. Mana yang akan dipilih pertama kali untuk dicicipi? Bagi kebanyakan orang pasti akan memilih makanan dari restoran berkelas. Alasannya beragam, mulai dari harga yang mahal, bahan yang berbeda, rasa yang (bisa jadi) lebih baik, hingga kualitas pembuatnya yang baik atau tampilannya yang menarik. Apapun, yang menentukan makanan tersebut terlihat lebih baik tentunya adalah cara penyajian yang menarik oleh sang juru masak.

Membungkus Tulisan

Tulisan selayak masakan yang diracik oleh juru masak, tentunya memerlukan penyajian yang menarik agar menjadi pilihan penikmatnya. Dengan mengesampingkan nama penulis – yang belum tentu banyak dikenal orang, sebuah tulisan dengan tampilan yang menarik akan lebih mudah untuk disebarkan ke khalayak ramai melalui media publikasi.

Salah satu langkah untuk mengawali pembungkusan tulisan, adalah dengan mengedit sendiri tulisan tersebut seperti yang telah saya sebutkan di materi coaching sebelumnya mengenai Self Editing. Nah, langkah selanjutnya setelah awalan tersebut, adalah dengan membuat tulisan kita menjadi lebih menarik dari sisi tampilan.

Tenang, saya tidak akan menyuruh untuk menambahkan gambar-gambar kartun di sekeliling tulisan – pada bagian kosong kertas, ataupun memilih kertas berwarna menarik dengan aroma menggoda selera. Bukan, bukan begitu. Tapi lebih ke sisi teknis penyajian tulisan agar tepat tujuan.

Lengkapi

Apa saja yang perlu dilengkapi agar penyajian terlihat lebih sempurna? Apakah setelah selesai menulis lalu langsung diprint begitu saja setelah melalui self editing? Jawabnya akan ditemukan di pembahasan berikut ini.

Data diri. Informasi berupa nama lengkap, serta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi adalah data yang perlu dilengkapi ke dalam tulisan yang telah selesai ditulis. Tanpa informasi ini, pihak yang akan menerbitkan tulisan kita tentu akan kesulitan untuk menghubungi kita.

Nomor halaman. Untuk sebagian orang, penomoran halaman di kertas seringkali terlewatkan karena tak dianggap penting. Padahal, untuk memudahkan pembacaan bagi pihak yang akan kita kirimkan untuk menerbitkan, nomor halaman ini menjadi penting, dan terkadang menjadi poin lebih tentang keseriusan dan ketelitian.

Judul dan kata-kata deskripsi. Pemilihan kata yang tepat untuk tulisan kita, ibarat penunjuk seberapa menarikkah tulisan kita. Dengan kata yang tepat, tentunya pembaca akan lebih tertarik untuk membaca tulisan kita secara menyeluruh dibandingkan dengan judul yang tak menarik. Dan terkadang, judul dan kata-kata deskripsi harus bersifat kontradiktif, aktual, serta fantastis.

Jarak baris atau paragraf. Tak dapat dipungkiri sebuah tulisan yang baik umumnya adalah tulisan yang memudahkan untuk dibaca. Bayangkan jika terdapat sebuah tulisan hanya merupakan tulisan yang ditimpa berkali-kali di baris yang sama, atau jarak antar baris dan paragrafnya terlalu erat. Sudah tentu pembaca pun akan kesulitan membaca tulisan tersebut.

Ukuran kertas. Selayak membuat makalah ataupun skripsi, ukuran kertas menjadi hal yang cukup vital dalam menyajikan tulisan. Ukuran kertas yang salah, selain dapat menyulitkan untuk proses printing, juga akan membuat pihak penerbit akan kesulitan untuk membaca tulisan kita. Bayangkan saja jika tulisan yang sedianya akan diterbitkan dalam bentuk halaman A4, harus diskalakan menjadi kertas yang berukuran seperempatnya.

Jilid. Hal ini tak menjadi sebuah kewajiban, akan tetapi akan lebih baik jika tulisan kita yang jumlahnya hingga berpuluh-puluh lembaran bersatu dalam sebuah jilid. Selain memudahkan dibaca oleh pihak penerbit, jilid pun akan membantu agar naskah tulisan kita tetap utuh di dalam amplop atau map untuk mengirimkannya.

Hal-hal kelengkapan yang telah saya sebutkan di atas bisa jadi sepele karena seiring penulisan pun seharusnya mereka langsung disusun. Akan tetapi, meremehkan detil-detil kecil bisa menjadi sebuah kesalahan besar di kemudian hari jika tidak diperhitungkan. Jadi, ada baiknya jika berwaspada dan bersiaga daripada menyesal di kemudian hari.

Jadi, seperti apa pembungkusan tulisan Anda? Apa bisa jadi sajian terpilih?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Coaching Menulis #010: Self Editing

Sudah berapa banyak tulisan Anda? Sudah seberapa jauhkah pengembangan ide dasar Anda dalam tulisan? Sudah berkembang menjadi berapa bab, sub bab, halaman, atau sudah menjadi berapa ribu karakter dan kata?

Tak ada patokan yang tepat mengenai berapa angka yang harus dicapai untuk sebuah tulisan. Karena, sebuah tulisan adalah sebuah produk yang dibuat oleh penulisnya untuk menjadi sebuah maha karya, yang tentunya bergantung kepada pemahaman masing-masing akan sebuah kesempurnaan. Tapi, sebelum mencapai penyelesaian, terdapat satu hal yang tak boleh terlewatkan. Yakni, proses self editing yang mencakup banyak hal.

Coaching Menulis #010: Self Editing

Self editing, atau dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata sebagai penyuntingan mandiri, adalah sebuah proses dalam penulisan yang harus dilakukan untuk membuat produk tulisan yang dikerjakan menjadi lebih baik. Mengapa? Karena self editing mencakup banyak sekali hal yang akan membuat tulisan menjadi lebih baik.

Apakah proses ini benar-benar perlu dilakukan? Tentu saja perlu. Tapi apakah harus dilakukan? Tidak harus, namun akan lebih baik jika dilaksanakan. Lalu, bagaimana? Nah, mari simak lebih lanjut.

Menyadari Kekurangan/Kesalahan

Coba hitung, sudah berapa lamakah dari pertama kali mendapatkan ide dan kemudian melanjutkannya menjadi sebuah tulisan, hingga saat ini? Kurang lebih sudah mencapai 2 bulan lebih bukan? Pernahkah disadari, bahwa sepanjang waktu tersebut, kita sebagai penulis sudah menjadi sangat dekat dengan tulisan yang kita buat?

Saya bersimpati terhadap Anda yang tidak menyadarinya. Kenapa? Karena itu artinya Anda sudah dikuasai oleh tulisan tersebut, dan bukannya menguasai tulisan tersebut. Karena itu artinya Anda buta akan beberapa kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam tulisan tersebut. Padahal, sebuah penulis yang baik adalah penulis yang mampu memperbaiki kesalahannya.

Setiap penulis, sebanyak apapun pengalamannya, ketika ia membuat sebuah tulisan, ia akan membuat kesalahan ataupun kekurangan entah itu banyak atau sedikit. Dan, untuk menyadari hal itu, diperlukanlah proses self editing. Karena dengan proses tersebut, kita akan menjadi lebih sigap dan dapat membuat tulisan kita menjadi lebih baik.

Endapkan

Langkah utama yang harus dilakukan ketika menjalankan proses self editing adalah mengendapkan tulisan kita. Selesai ataupun tidak, banyak atau sedikit, endapkanlah tulisan kita. Langkah ini amat sangat dianjurkan untuk dilakukan dalam self editing, karena ketika tulisan diendapkan akan memicu hal-hal lain yang dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahan dalam tulisan kita.

Tempo yang tepat untuk mengendapkan tulisan, adalah kurang lebih selama seminggu. Kenapa seminggu? Menurut Nick Daws – seorang penulis potensial Inggris, dalam waktu seminggu itu pikiran kita akan menjadi lebih fresh karena terlepas dari tulisan yang sedang dibuat. Dalam waktu seminggu itu, pandangan kita akan menjadi berbeda dibanding saat masih melekat dengan mengerjakan tulisan tersebut.

Seminggu terdiri dari 7 hari, Senin hingga Minggu yang dapat menjadi siklus istirahat bagi fisik dan juga pikiran kita setelah menulis secara marathon. Dan, selama seminggu itu pastikanlah tulisan yang diendapkan tersebut tak dibuka, diutak-atik, dibaca, ataupun dipikirkan sama sekali dalam kepala. Karena ini dimaksudkan untuk membuat pikiran kita dapat melihat berbagai hal dan juga ide-ide baru yang membuatnya menjadi tetap segar dan dinamis.

Jika waktu seminggu dirasakan terlalu lama untuk mengendapkan tulisan atau sedang dikejar-kejar jadwal tenggat, maka setidaknya sekurangnya satu hari atau 24 jam biarkan tulisan tersebut mengendap. Jangan dibuka, jangan dibaca, jangan diutak-atik, jangan dipikirkan. Pastikan sekurangnya 24 jam tanpa tulisan tersebut jika seminggu tak dapat dilakukan.

Pikiran yang segar dengan pandangan yang baru akan membuat kesalahan dan juga kekurangan dalam tulisan yang sudah dibuat akan mudah ditemukan dan juga diperbaiki. Jikalaupun tidak memperbaiki tulisan, setidaknya akan tercipta paradigma baru akan tulisan yang sudah dibuat tersebut, entah itu mengenai alur, amanat, ataupun latar dari tulisan tersebut.

Tambah Kurang

Salah satu hal yang seringkali terjadi ketika melakukan self editing adalah menambah dan atau mengurangi tulisan. Hal ini dapat terjadi karena ide-ide segar yang masuk setelah mengendapkan tulisan selama beberapa waktu.

Kejadian ini jangan dikhawatirkan akan mengubah tujuan utama penulisan, namun jadikanlah hal ini sebagai masukan agar tulisan menjadi lebih kaya. Akan tetapi, jika terlalu takut akan mengubah tulisan secara keseluruhan, maka sebelum mengerjakan self editing, maka buatlah salinan dari tulisan asli yang belum diproses self editing.

Proses penambahan dan pengurangan yang terjadi karena self editing pada tulisan bukan hanya terletak pada konteks isi dan juga materi tulisan. Hal yang harus dicermati antara lain juga pada tanda baca, jarak antar paragraf, serta jeda antar pokok bahasan. Ini dimaksudkan agar pembaca dapat membaca tulisan kita dengan lebih nyaman dan dapat memuaskan.

Bagi Dan Ulangi

Beberapa orang mungkin menanyakan hal berikut, “Bagaimana jika tulisan yang sudah dibuat memuat ratusan halaman dan puluhan bab? Apakah self editing tetap perlu dilakukan?”

Jawab saya adalah, “Tentu perlu. Justru jika semakin banyak jumlah dalam tulisannya, self editing semakin perlu dilakukan sebelum kemudian dianggap selesai. Karena semakin banyak tulisan yang telah dibuat, kemungkinan menemukan kesalahan dan kekurangan dalam tulisan akan semakin besar. Apalagi jika tulisan telah dibuat sejak beberapa bulan yang lalu, atau bahkan tahunan.”

Untuk mempermudah melakukan self editing terhadap tulisan yang berjumlah besar, dan tak ingin lagi membuang banyak waktu karena sudah banyak waktu yang dikeluarkan untuk menulisnya, maka langkah yang paling efektif adalah dengan membagi bagian-bagian yang akan diedit.

Bab-bab serta sub-sub yang terjadi, merupakan bagian-bagian yang dapat dipecah-pecah untuk memudahkan self editing. Strukturnya yang merupakan satu kesatuan pembahasan akan mempermudah self editing.

Lalu, setelah dibagi apakah selesai? Tentu belum. Karena langkah terakhir di saat melakukan self editing adalah dengan mengulang membaca hasil sunting (editing) yang telah dilakukan. Dengan mengulang, kita akan mengetahui secara lebih tepat apa yang sudah dilakukan, apalagi jika dengan membandingkan dengan tulisan sebelumnya.

Jadi, apa guna self editing sesungguhnya?

Self editing sesungguhnya berguna sebagai mekanisme pengendalian kesalahan yang dapat terjadi dalam tulisan kita sebelum kita memutuskan untuk memberikannya pada penerbit, surat kabar, ataupun memublikasikannya secara mandiri melalui blogs, milis, dan lain-lain. Self editing terutama sangat berguna untuk membuat tulisan kita bukan hasil produk yang serampangan dibuat agar selesai, dan tentunya akan membuat tulisan menjadi lebih sempurna.

Jadi, sudah siap untuk mengedit secara mandiri tulisan Anda?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.