Rss Feed

Posts Tagged ‘marketing’

  1. Cerita Rak Majalah

    October 21, 2011 by Billy Koesoemadinata

    dari stream yang dibuat putri pratiwi di googleplus soal cover buku, saya jadi keingetan salah satu laporan dan riset “kecil-kecilan” soal cover majalah yang pernah saya buat dulu waktu masih jadi pekerja media.

    kurang lebihnya, intisarinya seperti ini: selayaknya manusia, cover itu adalah tampilan terluar sebuah produk buku/majalah. bisa itu baju yang kita kenakan, wajah, ataupun tampilan kita secara keseluruhan. itulah cover.

    dan, selayak manusia pula, buku/majalah pun “ingin” terlihat berbeda. tapi apabila manusia mampu membedakan dirinya selain dengan penampilan tapi juga dengan keahlian dan kelihaian dalam komunikasi 2 arah, maka buku/majalah “hanya” bisa berkomunikasi 1 arah, sehingga belum tentu keahlian dan kelihaian yang dimilikinya dapat “dinikmati” pembacanya apabila covernya tak menarik.

    lalu bagaimana agar bisa menarik? apakah perlu desain yang kreatif, menonjol, dan mahal? jawab singkatnya, iya dan tidak. iya, karena hal itu dapat menunjang, dan tidak karena hal itu akan percuma apabila produk buku/majalah nantinya disimpan di bagian rak yang tak terjangkau — baik oleh pandangan mata, maupun tangan.

    yes, penempatan di rak adalah hal yang juga penting bagi sebuah produk buku/majalah agar bisa “laku” — diambil, dibaca, lalu (mudah-mudahan) dibeli. lalu, kalau penempatannya tidak di lokasi yang bagus, maka percuma saja sebuah cover dibuat sesempurna mungkin. contoh mudahnya, cover yang terbuat dari lembaran emas sekalipun takkan menarik untuk dilihat atau dibeli, apabila diletakkan di bagian bawah rak — yang sejajar dengan kaki kita, dan atau kemudian ditumpuk dengan deretan majalah/buku lain.

    jadi bagaimana membuat sebuah cover agar bisa menarik untuk dibaca, dan (mudah-mudahan) dibeli? pertimbangkan faktor ini,
    1. majalah/buku cenderung ditumpuk secara cascade ke atas. jadi, pertimbangkan meletakkan header yang menarik.
    2. majalah/buku juga cenderung ditumpuk secara cascade ke samping, dengan meletakkan jilid di bagian luar. jadi, pertimbangkan membuat sidebar yang juga menarik.

    silakan cermati rak buku/majalah di lapak, hingga toko buku. kebanyakan, pasti akan melakukan hal ini. soal image/foto yang digunakan sebagai cover, itu nilai plus yang lebih menampilkan isi dari majalah/buku itu.

    begitulah, kurang lebihnya..

    NB: gambar asli dari sini.


  2. Black Marketing, Strategi Miring Nan Jitu

    February 2, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Anda terlibat dalam pemasaran di kantor Anda? Mau itu produk, ataupun jasa, diperlukan strategi pemasaran atau marketing yang tepat. Baik itu tepat sesuai sifat dari produk atau jasa yang Anda tawarkan, maupun juga tepat sasaran, yakni para konsumen yang Anda tuju. Salah membuat strategi, justru akan muncul cap buruk akan penawaran Anda. Tapi, bagi sebagian orang, cap buruk tersebut adalah salah satu jenis marketing yang baik. Atau bisa dikatakan, lebih baik!

    Mengherankan memang, bagaimana bisa sebuah cap buruk justru menjadi salah satu strategi marketing yang oke. Tapi, justru itulah sebenarnya memang. Alasan sebenarnya adalah karena salah satu sifat manusia yang mudah terintimidasi. Sehingga, jika ada cap buruk yang melekat pada sebuah produk atau jasa, maka mereka pun akan dengan mudah terintimidasi untuk sama-sama mengecap buruk, meski sebenarnya mereka belum pernah atau takkan pernah mengonsumsinya.

    Strategi cap buruk pada produk atau jasa yang ditawarkan, bisa disebut juga sebagai Black Marketing.

    Black Marketing adalah konsep pemasaran produk atau jasa, dengan tidak mengedepankan kelebihannya, melainkan menampilkan kekurangannya secara total. Black Marketing memiliki tujuan utama membangun awareness, atau mempublikasikan nama brand dari produk atau jasa agar dikenal orang banyak, melalui sentimen negatif. Baru kemudian, di suatu titik, dilakukan kampanye “pemutihan” untuk memulihkan brand tersebut.

    Harus diakui, dengan menerapkan Black Marketing dapat menambah brand awareness dari produk atau jasa yang kita kelola. Bisa dibilang, cukup boosted. Namun ada hal yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. Yakni, perhatikan setiap masukan atau saran yang masuk. Jika ada pertanyaan, segeralah jawab. Selain itu, risiko terbesar adalah image negatif yang bisa timbul dari Black Marketing terhadap produk atau jasa.

    Yang paling penting adalah, setiap strategi tersebut, harus mampu mendongkrak kepekaan dari orang-orang yang tidak tahu persis mengenai brand yang dikelola. Dan yang paling penting adalah, langkah pemulihan dari Black Marketing tersebut. Caranya bisa dilakukan dengan membuat konferensi pers, menyewa jasa buzzer (pegiat daring dengan massa tertentu), ataupun membuat kampanye yang mengedepankan perubahan menjadi lebih baik. Manapun langkah pemulihan yang dipilih, tentunya harus sesuai dengan cap buruk yang sudah melekat melalui Black Marketing.

    Well, semoga berhasil bagi Anda yang akan mencobanya!

    NB: foto dari sini.