Sketsa #2: Hidangan

“Kamu tahu apa yang paling kusuka?” tanya sang wanita.

“Wanginya?” jawab sang pria.

“Bukan.”

“Rasanya?”

“Bukan juga.”

“Warnanya?”

Sang wanita diam sejenak sambil tersenyum kecil. “Mungkin ya, tapi bukan itu yang paling kusuka.”

“Hmm… Jumlahnya?”

“Kalo jumlahnya, satu porsi aja cukup buat jangka waktu tertentu. Malah kadang, 1 porsi ga abis aku udah kekenyangan.” jawab sang wanita.

“Terus apa?” tanya sang pria.

Sang wanita berjalan mendekati meja. Ia menatap sajian yang dipersembahkan oleh sang lelaki, khusus untuknya.

“Aku suka denger teriakan mereka saat gigiku nempel ke leher mereka.” kata sang wanita sambil menampakkan taringnya diikuti teriakan kesakitan dari atas meja.

Sketsa Cerita #1: Paket Cokelat

Pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Ia menatap cangkir kopi di depannya yang hanya berisikan ampas. Ia ingin memanggil pramusaji untuk tambah, tapi asam yang terasa di lidahnya membuatnya diam.

Kembali, pria itu menyesap rokoknya.

Sekeliling pria itu yang mulai hiruk-pikuk dari pertemuan orang-orang, tak mengindahkannya dari posisi duduknya sejak beberapa jam yang lalu. Ia melihat ke arah jam dinding di dekat pintu masuk, kemudian melihat ke arlojinya. Sama. Walau detiknya mungkin beda.

Kembali, pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Menahannya sejenak sebelum menghembuskannya.

Dua orang perempuan melewati tempat pria itu duduk. Melihat ke mejanya sejenak, kemudian ke kursi kosong di depan pria itu. Salah satu perempuan berbisik cepat, dan yang lainnya tersenyum kecil. Mereka kemudian pergi memunggungi pria itu. Tanpa mereka sadari, pria itu tahu apa yang kedua wanita itu pikirkan.

Sudah biasa. Seperti biasa. Pria itu bergumam.

Di bawah meja, pria itu mengubah posisi kakinya. Semula lurus, kini menyilang ke arah belakang. Rasa pegal lama-lama menerpanya juga. Walau begitu, tangannya di atas meja masih sama. Tangan kiri memegang cangkir kopi, yang kanan memangku dagunya sambil jemarinya menahan rokok di mulutnya.

Tatapan pria itu kini berpindah ke jendela. Melihat ke arah aliran air yang garisnya tinggal sedikit saja di kaca. Melihatnya jatuh dari pangkal di kusen atas, lalu bergulir sepanjang garis yang tak rata. Kadang berbelok membentuk garis baru, kadang tetap berada di garis yang sudah ada. Lalu menyentuh kusen bawah. Hilang. Membasahi kusen jendela.

Jauh dari mejanya, bel pintu berbunyi. Seorang pengunjung lain telah masuk ke dalam café.

Sedikit bergerak, tangan pria itu menyisir dagunya yang kasar. Jenggot. Berewok. Sudah hampir 4 hari sejak terakhir. Sejalan dengan matanya yang sedikit merah berair. Selaras dengan kantung mata yang sedikit terlihat gelap.

“Ujan selalu bikin macet.” kata seorang pria bermantel sambil duduk di depan pria itu.

“Tapi cuma macet jalan raya doang. Ga yang laen.” jawab pria perokok itu. Tangannya merogoh sebuah paket berwarna cokelat yang sedari tadi ia tempelkan di bawah meja. “4 hari.”

“Nice job.” jawab pria bermantel sambil menerima paket cokelat itu, dan menaruhnya ke saku mantelnya. Kemudian tangannya keluar lagi dengan sebuah kantong plastik cukup tebal. “50 persen sisanya.”

Pria perokok itu langsung menarik kantong plastik itu dan menggesernya hingga terjatuh ke dalam tas terbuka tepat di bawah tepi meja.

“Liburlah 2 minggu.” ujar pria bermantel sambil bergeser untuk berdiri.

“Pasti.” jawab pria perokok. “Bisa jadi lebih.”

Pria bermantel diam berdiri sebelum beranjak. Ia melihat ke arah bartender.

“Jangan matikan ponselmu.” kata pria bermantel sambil kemudian beranjak.

Pria perokok tak menjawab. Ia menyesap rokoknya lagi. Dalam, dan menghembuskan asapnya.

Bel pintu terdengar kembali. Dan, sepersekian detik berikutnya terdengar ledakan keras. Memekakkan telinga. Menghancurkan kaca. Melemparkan hampir semua orang yang ada di dalam café. Apalagi, orang-orang yang sedang berada dekat dengan pusat ledakan. Tapi pria perokok itu tak ada di mejanya.