Posts Tagged: Burung Kertas

Membuat (baca: menulis) novel atau buku cerita adalah salah satu impian saya sejak kecil. Alhamdulillah, terlepas dari tiras dan angka penjualannya, saya sudah pernah menerbitkan satu judul novel dari salah satu penerbit bergengsi di tanah air. Dan, sebenarnya keinginan hati adalah kembali menerbitkan novel. Akan tetapi, pada kenyataannya semuanya tidaklah mudah. Mungkin sudah banyak yang… Read Article →

#21

Beberapa hari kemudian, Festival Hanami yang terkenal itu dimulai. Sakura pun sudah bermekaran di sekitar Jepang. Indah sekali. Belum pernah aku merasa sebahagia ini dengan ditemani kehadiran bunga Sakura. Bagaimana tidak? Pernikahanku akan segera berlangsung! Jadi, ceritanya berlanjut dari hari itu. Hari saat Pram melamarku. Ternyata, kejutan lain yang ia maksud adalah kedatangan keluargaku. Terutama,… Read Article →

#20

Deburan ombak menyapa pantai. Sepi. Damai. Aku duduk sendiri. Angin laut menyibakkan rambutku. Aku menunggu. Menunggu siapa? Kurasakan, seseorang mendekat. Aku ingin menoleh, tapi aku tak bisa. Dalam hati, aku bertanya-tanya. Siapa dia? Rambutku seakan-akan dibelai. Lembut sekali. Hanya satu orang yang bisa membelaiku lembut seperti itu. “Pram?” Orang itu duduk di sebelahku. Aku menoleh…. Read Article →

#19

Malam itu, lagi-lagi aku menunggui Pram. Kusandarkan kursiku di dekat jendela. Diam. Menatap Pram. Bulan bersinar hangat. Bintang menemani malamku. “Pram, aku harap kau bisa mendengarku, karena aku tahu sebenarnya kau bisa, bukan?” Hening. “Dua hari yang lalu, seseorang menjengukmu. Namanya Samiaji. Kau kenal?” Hanya denyut penanda kehidupan yang menjawab. “Dia bilang, dia leader tim… Read Article →

#18

Malam sudah menjelang. Di ruang 36, hanya ada aku dan Pram. Ia terlelap dalam damai. Tubuhnya dililiti selang-selang yang menunjang kehidupannya. Tenang. Sunyi. Sepi. “Pram…sebenernya, apa sih yang terjadi di peragaan tadi? Kenapa kamu nggak hati-hati? Denger-denger, kamu nolong orang jadi begini. Kenapa? Sampe kapan kamu bakalan terus begini? Kenapa kamu terlalu egois untuk nyelametin… Read Article →

Scroll To Top