Rss Feed

Posts Tagged ‘Billy Koesoemadinata’

  1. after 23

    March 1, 2010 by Billy Koesoemadinata

    hoorraaayy!!! it’s my birthday! and, now i’m officially out of 23 years old, and living on 24 years old! well.. pretty much closer to a ‘quarter-life’ eh?

    well.. now at my birthday, i’m also celebrating my blogs birthday.. this is my first anniversary since first published a year a go at 2009. hope, everything would go well..

    phew.. now, i got a lot things to do, and a lot stuff to conquers.. wish me luck, guys!


  2. Music: Between Originality and Marketability

    February 2, 2010 by Billy Koesoemadinata

    It’s the second month at 2010, and two music events had been held just in a week period. First, it’s 2010 New Day which has been held in SCBD Jakarta, Indonesia by Langit Musik, Telkomsel, and the second is 52nd Annual Grammy Award which has been held in Los Angeles, USA. Both of them presented lots of music, and surely it’s entertaining.

    (more…)


  3. Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

    January 29, 2010 by Billy Koesoemadinata

    Tak terasa, ternyata saya sudah melewatkan 1 minggu tanpa materi coaching menulis. Wah, saya sangat menyesal! Entah kenapa, saya menghadapi banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan di tanggal yang sama. Tapi, walau demikian mudah-mudahan materi Coaching Menulis ini bisa mengobati rasa kecewa tersebut.

    Memulai untuk menulis, bagi kebanyakan orang memang sulit. Tapi kemudian, ketika proses menulis sudah berjalan, bisa jadi orang-orang tersebut tak ingin segera berakhir. Tapi, menulis memang harus berakhir agar didapatkan akhirannya yang tentu akan diteruskan pada proses selanjutnya.

    Mencari ide, mengembangkannya, dan kemudian menulis serta mengakhiri dengan membuatnya lebih bermakna dengan bungkus yang sesuai, akan membuat tulisan menjadi lebih sempurna ketika ia diterbitkan. Apapun bentuknya, melalui media massa, media elektronik, ataupun diterbitkan sebagai buku, tentu akan mendatangkan kepuasan tersendiri bagi sang penulis.

    Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

    Rasa minder seringkali muncul terlebih dahulu ketika kita akan menawarkan tulisan ke penerbit. Takut ditolak, tak percaya diri, ataupun menghindari kata-kata pedas dari penerbit adalah alasan yang seringkali dilontarkan jika tulisan tak kunjung dikirimkan. Padahal, tanpa mengirimkan tulisan ke penerbit, kita takkan pernah tahu seperti apa reaksi penerbit terhadap tulisan kita bukan?

    Mengirimkan tulisan ke penerbit, adalah sebuah hal yang wajib dilakukan agar tulisan kita lebih diketahui banyak orang. Apalagi, ketika tulisan tersebut dimuat dalam media massa yang memiliki sebaran luas. Tak ayal jika nantinya tulisan tersebut dibaca oleh banyak orang, tentu akan membuat penulis menjadi selebritis dadakan. Tapi, apa benar seindah itu?

    Surat Pengantar

    Apa yang perlu dilakukan sebagai awal mengirimkan tulisan ke penerbit? Tentunya mempersiapkan tulisan sebaik-baiknya, seperti yang sudah saya pernah sebutkan di pembungkusan tulisan yang baik. Dengan tampilan yang menarik, tentu staf editor penerbit akan lebih tertarik ketimbang naskah yang tak tampil dengan menarik.

    Lalu, apa lagi? Mempersiapkan surat pengantar naskah adalah jawabnya.

    Ya, surat pengantar naskah adalah sebuah bantuan kecil sehingga tulisan Anda lebih dilirik. Apa pasal? Ibarat kata pengiriman barang, seorang kurir yang mengirimkan barang tersebut tentu akan lebih menyenangkan pelanggan jika ia santun, menyapa pelanggan dengan baik, serta jasa pengiriman barang yang sempurna tanpa cacat. Nah, surat pengantar naskah adalah ibarat kurir ataupun hal yang akan membuat tulisan kita dianggap lebih sopan.

    Seperti apa bentuknya? Yang berikut ini saya harap bisa menjadi contoh surat pengantar yang baik.

    Yth. Editor Penerbit ABCD (sebutkan nama penerbitnya)

    Perkenalkan, nama saya Billy Koesoemadinata. Bersama dengan surat ini saya kirimkan satu eksemplar naskah tulisan saya yang berjudul “CONTOH” (sebutkan judulnya).

    Naskah “CONTOH” ini bergenre fiksi. Sebuah novel yang bercerita mengenai kehidupan seorang pria yang selalu menjadi kelinci percobaan bagi orang lain. Ia menghidupi dirinya dari menjadi objek percobaan dikarenakan ia tak mau ambil pusing terhadap pekerjaan lain. Semuanya berjalan lancar sampai suatu ketika ia dijadikan objek percobaan kedokteran yang mengubah jalan hidupnya.

    Mudah-mudahan naskah “CONTOH” ini dapat memenuhi kriteria penerbitan di ABCD. Saya tunggu kabar baiknya.

    Terima kasih.

    Billy Koesoemadinata

    Oke, jadi begitu contoh surat pengantar yang saya berikan. Secara singkat, surat pengantar memuat,

    1. Sapaan terhadap penerbit,
    2. Keterangan singkat mengenai naskah tulisan,
    3. Sinopsis dari naskah tulisan,
    4. Harapan untuk dihubungi kembali.

    Surat pengantar yang saya jadikan contoh ini merupakan salah satu contoh. Dan, pada praktiknya lebih banyak lagi surat pengantar yang dapat dibuat atau diberikan kepada penerbit. Umumnya, jika penerbit memang mencari naskah, maka ia pun akan menetapkan kriteria yang diperlukan. Sehingga, hal-hal yang ditulis di surat pengantar pun akan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

    Bagaimana jika tulisan yang dikirim adalah artikel?

    Surat pengantar yang disertakan kepada penerbit ataupun surat kabar dan media massa tetap harus diberikan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa fungsi surat pengantar adalah ibarat seorang kurir yang menyapa pelanggan terlebih dahulu sebelum memberikan barang yang diantarkannya.

    Mengirimkan tulisan artikel ke surat kabar ataupun media massa menurut saya justru akan sangat baik jika menyertakan surat pengantar. Kenapa? Karena media massa bersifat mencakup banyak hal yang lebih umum dibanding dengan buku. Segala macam hal dapat tercakup di dalam media massa, dan semua harus bisa dipertanggungjawabkan dengan nama media massa tersebut. Dapat terbayangkan jika media massa menerbitkan sebuah tulisan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka kredibilitasnya akan runtuh dalam seketika.

    Komponen surat pengantar ke media massa pun memiliki tambahan dibandingkan surat pengantar untuk naskah buku. Yakni, keterangan mengenai penulis yang lebih lengkap. Contohnya adalah pekerjaan sehari-hari dari penulis yang mengirimkan artikelnya. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi referensi untuk mencari latar belakang tulisan artikel tersebut.

    Setelah dikirim, lalu bagaimana?

    Menunggu. Itulah hal yang paling pasti dari mengirimkan tulisan ke penerbit ataupun media massa. Menunggu, adalah hal yang memang harus dilakukan ketika kita mengirimkan tulisan ke penerbit maupun media massa. Menunggu kabar diterima akan diterbitkan, atau tidak.

    Durasi waktu pemberian kabar apakah naskah tulisan kita akan diterbitkan atau tidak di sebuah penerbit dan media massa tak ada bilangan pasti. Namun, terdapat anggapan umum yang beredar di kalangan penulis dan penerbit, bahwa jika dalam waktu 3 bulan tidak terdengar kabar dari penerbit buku mengenai naskah yang kita kirimkan, maka anggap saja naskah tersebut ditolak.

    Sementara itu, untuk kabar pemuatan artikel di media massa, anggapan durasi waktunya lebih singkat lagi. Yakni, jika dalam waktu maksimal 1 bulan tidak ada kabar, berarti tulisan artikel yang dikirimkan telah ditolak. Kenapa saya bilang 1 bulan? Karena terkadang media massa menyimpan beberapa tulisan artikel yang masuk ke mereka, untuk kemudian dianalisa kembali jika masih menjadi tren dalam 1 bulan tersebut. Dan juga, 1 bulan tersebut adalah jangka waktu terlama periode terbit sebuah media massa. Memang, ada pula sebuah media massa yang periode terbitnya lebih dari 1 bulan, akan tetapi sangat jarang sekali akan ada kabar mengenai dimuat atau tidak lewat dari 1 bulan.

    Jadi, sudah siap untuk membuat tulisan Anda untuk dikonsumsi pembaca?

    Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.


  4. Coaching Menulis #011: Bungkus!

    January 15, 2010 by Billy Koesoemadinata

    Layaknya sebuah perjalanan, sebuah permulaan pastinya akan diakhiri dengan sebuah penghabisan. Begitu pula proses menulis, karena sesuatu yang berawal akan lebih baik jika memiliki sebuah akhir. Namun, akhir sebuah proses menulis merupakan awal yang baru bagi proses selanjutnya.

    Menulis, adalah sebuah perjalanan yang melenakan penulisnya sehingga terus membuatnya tetap berkutat dengan tulisannya. Ide dan segala pikiran ditumpahkan ke dalam tulisan agar membuatnya menjadi sebuah mahakarya yang memuaskan. Dan, setelah semuanya selesai tentu langkah yang ingin dilakukan adalah mengirimkannya ke pihak yang bisa membuat tulisan kita dibaca oleh banyak orang. Benarkah begitu? Hmm.. tentu tidak. Karena ada sebuah tahapan kecil yang akan lebih menyempurnakan tulisan kita tersebut.

    Coaching Menulis #011: Bungkus!

    Pada materi coaching kali ini, saya akan menganalogikan penulis sebagai seorang juru masak. Profesi yang berkaitan dengan makanan serta selera tersebut, memiliki beragam tahapan serta kemahiran dalam memasak dan menghasilkan masakan makanan bagi para penikmatnya. Nah, tulisan tentunya adalah masakan makanan tersebut.

    Bagi seorang juru masak pemula, memasak makanan adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Jangankan menyajikan masakan, mendapatkan bumbu-bumbu yang tepat dan ideal tak semudah yang dibayangkan. Namun, dengan latihan dan juga percobaan yang terus dilakukan tentu akan membuat keahlian semakin terasah dan juga kemampuan semakin jitu.

    Juru masak yang baik tentunya akan menikmati setiap proses yang terjadi dalam menghasilkan masakannya. Setiap detil dan juga perlengkapan yang diperlukan akan diperlakukan dengan baik agar terciptanya sebuah kesempurnaan. Dan, setelah proses memasak hampir selesai, penyajian yang tepat adalah sebuah keharusan. Itulah mengapa coaching kali ini saya mengambil tema ‘Bungkus!’.

    Sajian Terpilih

    Pernahkah Anda menikmati masakan makanan di sebuah restoran berkelas yang makanannya kebanyakan adalah khas benua lain dan dibandrol dengan harga yang tinggi? Bagi yang belum, tidak mengapa. Karena sebenarnya yang berada di sana adalah masakan makanan yang rasanya nikmat dengan sajian yang menarik sehingga harga yang selangit pun layak untuknya.

    Lalu, pernahkah Anda menikmati masakan makanan di pedagang kaki lima pinggiran jalan dengan gerobak, dipikul, atau mungkin di kios-kios kecil? Harganya umumnya terjangkau dengan variasi makanan yang tersaji secara umum namun memiliki rasa yang berbeda-beda di setiap penjualnya, yang bisa jadi tidak berbeda jauh dari restoran berkelas yang saya sebutkan sebelumnya.

    Nah, sekarang seperti ini. Andaikata di depan Anda terdapat sebuah piring berisikan dua buah makanan yang masing-masing berasal dari restoran berkelas dan kaki lima. Mana yang akan dipilih pertama kali untuk dicicipi? Bagi kebanyakan orang pasti akan memilih makanan dari restoran berkelas. Alasannya beragam, mulai dari harga yang mahal, bahan yang berbeda, rasa yang (bisa jadi) lebih baik, hingga kualitas pembuatnya yang baik atau tampilannya yang menarik. Apapun, yang menentukan makanan tersebut terlihat lebih baik tentunya adalah cara penyajian yang menarik oleh sang juru masak.

    Membungkus Tulisan

    Tulisan selayak masakan yang diracik oleh juru masak, tentunya memerlukan penyajian yang menarik agar menjadi pilihan penikmatnya. Dengan mengesampingkan nama penulis – yang belum tentu banyak dikenal orang, sebuah tulisan dengan tampilan yang menarik akan lebih mudah untuk disebarkan ke khalayak ramai melalui media publikasi.

    Salah satu langkah untuk mengawali pembungkusan tulisan, adalah dengan mengedit sendiri tulisan tersebut seperti yang telah saya sebutkan di materi coaching sebelumnya mengenai Self Editing. Nah, langkah selanjutnya setelah awalan tersebut, adalah dengan membuat tulisan kita menjadi lebih menarik dari sisi tampilan.

    Tenang, saya tidak akan menyuruh untuk menambahkan gambar-gambar kartun di sekeliling tulisan – pada bagian kosong kertas, ataupun memilih kertas berwarna menarik dengan aroma menggoda selera. Bukan, bukan begitu. Tapi lebih ke sisi teknis penyajian tulisan agar tepat tujuan.

    Lengkapi

    Apa saja yang perlu dilengkapi agar penyajian terlihat lebih sempurna? Apakah setelah selesai menulis lalu langsung diprint begitu saja setelah melalui self editing? Jawabnya akan ditemukan di pembahasan berikut ini.

    Data diri. Informasi berupa nama lengkap, serta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi adalah data yang perlu dilengkapi ke dalam tulisan yang telah selesai ditulis. Tanpa informasi ini, pihak yang akan menerbitkan tulisan kita tentu akan kesulitan untuk menghubungi kita.

    Nomor halaman. Untuk sebagian orang, penomoran halaman di kertas seringkali terlewatkan karena tak dianggap penting. Padahal, untuk memudahkan pembacaan bagi pihak yang akan kita kirimkan untuk menerbitkan, nomor halaman ini menjadi penting, dan terkadang menjadi poin lebih tentang keseriusan dan ketelitian.

    Judul dan kata-kata deskripsi. Pemilihan kata yang tepat untuk tulisan kita, ibarat penunjuk seberapa menarikkah tulisan kita. Dengan kata yang tepat, tentunya pembaca akan lebih tertarik untuk membaca tulisan kita secara menyeluruh dibandingkan dengan judul yang tak menarik. Dan terkadang, judul dan kata-kata deskripsi harus bersifat kontradiktif, aktual, serta fantastis.

    Jarak baris atau paragraf. Tak dapat dipungkiri sebuah tulisan yang baik umumnya adalah tulisan yang memudahkan untuk dibaca. Bayangkan jika terdapat sebuah tulisan hanya merupakan tulisan yang ditimpa berkali-kali di baris yang sama, atau jarak antar baris dan paragrafnya terlalu erat. Sudah tentu pembaca pun akan kesulitan membaca tulisan tersebut.

    Ukuran kertas. Selayak membuat makalah ataupun skripsi, ukuran kertas menjadi hal yang cukup vital dalam menyajikan tulisan. Ukuran kertas yang salah, selain dapat menyulitkan untuk proses printing, juga akan membuat pihak penerbit akan kesulitan untuk membaca tulisan kita. Bayangkan saja jika tulisan yang sedianya akan diterbitkan dalam bentuk halaman A4, harus diskalakan menjadi kertas yang berukuran seperempatnya.

    Jilid. Hal ini tak menjadi sebuah kewajiban, akan tetapi akan lebih baik jika tulisan kita yang jumlahnya hingga berpuluh-puluh lembaran bersatu dalam sebuah jilid. Selain memudahkan dibaca oleh pihak penerbit, jilid pun akan membantu agar naskah tulisan kita tetap utuh di dalam amplop atau map untuk mengirimkannya.

    Hal-hal kelengkapan yang telah saya sebutkan di atas bisa jadi sepele karena seiring penulisan pun seharusnya mereka langsung disusun. Akan tetapi, meremehkan detil-detil kecil bisa menjadi sebuah kesalahan besar di kemudian hari jika tidak diperhitungkan. Jadi, ada baiknya jika berwaspada dan bersiaga daripada menyesal di kemudian hari.

    Jadi, seperti apa pembungkusan tulisan Anda? Apa bisa jadi sajian terpilih?

    Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.


  5. Koprolize yourself!

    January 12, 2010 by Billy Koesoemadinata

    It’s been a long time since I first joined Koprol. But, I just became more active on it nowadays. Since, I attended to Yahoo Open Hack Day at Jakarta, few months ago. It was on November 2009, I suppose. And hey, this is my first time making a special post about Koprol on my blogs – if I’m not mistaken. :P

    So Koprol? What is it?

    Anyhow, Koprol – a ‘creature’ which is addressed at www.koprol.com and displayed so many latest posts from a nearby nor the same location with us, is growing more and more user than before. Do you want to know why they could? Because at last Saturday (9 Jan.2010), one of Koprol’s founders, is interviewed at Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan Show of tvOne. Wondering who, I guess? Well, it’s Fajar, which his nickname was @fajar at Koprol.

    What’s on the show?

    At the show, Fajar was interviewed with Daniel from Kaskus. The topic itself about online forum and so, whose Indonesia isn’t losing anything from international netters. Why? Because Indonesians have Koprol and Kaskus, social media which is also awesome as Facebook, Twitter, Plurk, and of course.. Friendster :P

    Well, back to Koprol itself, as I mentioned before, Koprol just became growing more nowadays. Since the TV interviews, Koprol’s users growing until thousands! Even, on the same day with the TV interviews – Saturday (9 Jan.2010), the added users grew until 4,000 users! And, last Monday (11 Jan.2010), more 1,000 users was added. Well, that’s a lots of numbers, I suppose.

    Isn’t it a good job to be on TV, eh? Is it the first time for Koprol on the media?

    Koprol was also interviewed by The JakartaGlobe, Media Indonesia, and also Metro TV – if I’m not mistaken. :D And, the case was almost the same with yesterday, the Koprol’s new users was increasing highly so Koprol must added new servers! It’s such a logic, since so many users means so many data loads, and more storage is needed of course. And, after added 5,000 more Koprol’s users on 3 days on a row, they would added more servers so the data loading more reliable and could saved so many people on Koprol.

    What’s more on Koprol?

    A lots! Do you want to know it? Okay, let’s start it with the ‘check in’ concept which is given by Koprol. With this concept, each users would be detected where they’re belonged, in any locations which is saved on Koprol’s database. And, no need to fear of lost direction, since Koprol used Google Maps for the guidance, instead of GPS. And, it makes a lot users easier to ‘check in’ on a location after searched it on the database.

    What if the location doesn’t exist on Koprol?

    Well, if it doesn’t exist yet, so suggest it to the developer team of Koprol. It’s quite easy, just suggest it via form whose will be displayed if the location that we searched isn’t exist. And, each location suggest would be monitorized and approved by @wiqzz the district administrator of Koprol which is a person with full attentions – watch out for any ‘gombal’ things! :P

    So, what’s next after I checked in?

    After you checked in, you could share what’s happening on that location, what’s going on, what’s interesting, and so. You could also rate the places nearby the location where you checked in, by liking it or disliking it. In each rate users could also gives any personal comments about it. And, this is one of many Koprol’s power as Satya ever spoken, “Each rate on Koprol is done by social – of users,” who’s making the good or bad criteria of a locations is decided by any users. Satya (@satya) is one of many founders of Koprol.

    What if I don’t want to rate? Is it okay?

    Well, it’s okay. But, with any rate, each time a user would checked in the same location later on, he or she would knew which places is better to be visited or not. And, the location’s rating would be more joyful if it’s a movie theatre, restaurant, café, buildings, offices, and other places which is so many people visited. Even though, location’s rating of a city nor a district is possible.

    Back again to location’s check in. If we’re so mobile and changing places so many fast, it would be ‘not cool’, eh?

    Well, if you’re changing places so fast, it would be ‘not cool’ to searched back again the location on the internal search engine. BUT, there’s an easier way! So, if we’re moving on places which we’re so many times checked in on it – e.g. school, office, home, etc – just make it our favorite location with our own names. So, if those places already on our favorite terms, we could easily moved our check in on it, with teleport features. Yes, it does like the Star Trek things! Even some of users would say, “It’s faster than using a flying rugs!” :P And to use it is so easy! Just add this text, #favorite place#, in each start of the roll. So, here’s an example, if my destination is my office as my favorite place, so I would type, #office# just arrived, on my roll! And, it would checked in automatically on the location, with our own roll on it.

    Could we send a private message such as Facebook or Twitter?

    Of course you can! And, how to send it is easier than the other two. Because, we don’t need to click nor open new tabs or links which directs to private message. We just type the messages as this example, to:(username) (messages) – The real roll would be like this one, to:billy is it true? – And, it could be typed directly on our status box! We don’t need to open messages tabs, DM (direct messages – as on Twitter), etc. And, as a private message, the message would be sent to our destination’s inbox, and no one else would see it. Except if you typed it wrong, nor write it wrong. Of course, it’s out of my business, Koprol, and also the dev team. ;-)

    By the way, what is a roll?

    OOPS! You haven’t known it yet, eh? Roll is a name for any thread of updated status which we’re made on Koprol. If it’s on Plurk, the name would be also plurk. And, in Twitter the name would be twit. In forums, the name would be thread or tret. But in Koprol, the name would be roll – or is it proll? I can’t remember it precisely, though. :P

    Can we add some friends on Koprol?

    Why not? Koprol is also a social media, which allows any users to know each other, which is provided with adding friends, following users, or just checked in a location with so many users. Some of Koprol users even made a location based community, and holding a kopdar sometimes! For examples, there are sikodok for Depok’s Koprol Users, Sukoco for Koprol users from Surabaya, and many more.

    What is kopdar?

    Kopdar, means kopi darat, or meet up on English is an old proverb for meeting with some people in a non-formal situations. And, me –finally- could attend a kopdar itself with some of Koprol users which is on the same location! Well, not only on the same locations, but also in the same office complex. Even actually, when I was on my early days on Koprol, on my office locations would be only me as a Koprol user. But then, it’s increasing, until becomes a lot and at the meet up (kopdar) on last Monday (11 Jan. 2010), 8 Koprol users attended it which is held at office’s canteen.

    So, Koprol just for meet up, eh?

    Now wait a moment! Koprol is not just for meet up (kopdar), but it’s also a good guidance of a nice place to eat/drinks/hangout/see movies which is recommended by so many people around it, nor who checked in on it. But there’s one condition to use it, just don’t forget to check in on it. :D And, Koprol also could be used as a review and database of places which we have or haven’t been there. As an example, would be my self, because I’ve checked in and also rated Beijing (PRC), which it was a place of living and working for a while.

    But how could I checked in if there’s doesn’t have any computers and internets?

    You could use you mobile phone, since Koprol also has a mobile site on m.koprol.com, which would be a good assistant to be updated when we’re mobile. And, Koprol is great if we’re using it on mobile! – based on my own experience. ;-)

    Wow, it sounds cool to join Koprol. So, how it should be done?

    Easy.. just log on to www.koprol.com, prepare your profile pictures, and also e-mail address. And, checked to your place, and ask your friends on real life and also in nearby to Koprol-ing. It’s better to Koprol first, than heard people saying, “What? You already joined Koprol today?” :P

    Let’s go then, and Koprolize yourself!

    PS: Koprol users also called as Koproler or Koprolers. — more images is coming to complete this posts!

    Have you joined Koprol?