Rss Feed

Posts Tagged ‘Billy Koesoemadinata’

  1. Berubah?

    January 2, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Pertanyaan itu yang begitu banyak saya terima begitu masuk ke 2011 ini. Singkat kata, saya jawab saja tidak berubah. Walau begitu, sudah pasti ada yang berubah. Salah satunya antara lain adalah usia. Sepandai-pandainya manusia, takkan pernah bisa mengakali usia. Begitupula dengan blog ini, seiring berjalannya waktu, usianya pun bertambah. Seperti halnya ketika kita memasuki tahun yang baru.

    Tahun kemarin, saya sempat membuat sebuah keinginan untuk 2011. Iya, diawali dengan membuat sebuah resolusi mengalihkan penggunaan bahasa di blog ini dengan Indonesia. Lebih karena saya memang orang Indonesia, dan sehari-hari saya menggunakan bahasa Indonesia. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan saya akan menggunakan bahasa lain seperti Inggris untuk postingan di blog ini, tapi sesekali.

    Jadi, sudah berubah dong?

    Bisa iya, bisa tidak. Jika saya hanya mengubah penggunaan bahasa saja, tapi kemudian tidak memperbaharui blog ini, berarti percuma saja usaha yang saya lakukan. Saya perlu lebih rajin lagi untuk memperbaharui blog ini, mengisinya dengan ide, pikiran, konsep, usulan, dan berbagai macam hal yang bisa saja muncul dari otak, pikiran, kepala, pandangan, tangan dan perilaku saya. Apapun!

    Dan, untuk memberi semangat baru bagi saya untuk lebih mau berubah dan tetap semangat mengisi blog ini, saya pun sedikit demi sedikit mengubah blog ini. Dimulai dari tampilan, hingga deskripsi di bawah judul. Iya, saya beralih dari blog dengan tampilan 3 kolom yang bertahan sejak pertama kali blog ini berdiri sekitar 2 tahun yang lalu, menjadi 2 kolom. Alasannya, saya ingin lebih mengedepankan isi dari postingan saya ketimbang tampilan kolom saya. Sesederhana itu.

    Sementara itu, deskripsi di bawah judul blog ini pun berubah sejak semula “The Unspoken Writings” menjadi “engineer wannabe | penulis | pekerja media | pegiat daring”. Iya, kumpulan empat frasa-kata itu menjadi deskripsi blog ini, dan saya harap sekaligus bisa menjadi deskripsi singkat diri saya, tanpa orang harus mengklik halaman ini. Kenapa saya memilih keempat frasa-kata tersebut? Berikut penjelasan singkatnya,

    - Engineer wannabe — tak lain merupakan cerminan kondisi saya yang merupakan lulusan Diploma 3 jurusan Teknik Mesin. Saya begitu ingin melanjutkan ke jenjang S1 hingga menjadi Sarjana Teknik (Engineer), namun belum ada kesempatan saja. Jadilah, engineer wannabe sebagai cerminan sisi cita-cita terpendam saya.

    - Penulis — hal ini sudah jelas merupakan kegiatan saya, dan saat ini menjadi profesi saya. Baik itu di tempat kerja saya, maupun sebagai hobi. Penulis mencerminkan saya dari sisi jati diri.

    - Pekerja media — frasa ini saya anggap cukup mewakili pekerjaan yang sedang saya jalani saat ini. Resminya, saya adalah seorang Redaksi di sebuah media terbitan nasional, namun jangkauan kegiatan yang saya lakukan tak hanya sebagai seorang redaksi, tapi juga berbagai kegiatan yang berkaitan dengan media tersebut. Jadilah, pekerja media lebih tepat untuk mendeskripsikan saya, dari sisi pekerjaan.

    - Sementara terakhir, pegiat daring — saya anggap ini mewakili kegemaran saya untuk tetap berada dan eksis di dunia internet dan online (dalam jaringan/daring). Saya gemar ngeblog di sini, ngeblog juga di sana, ngetwit, ngeplurk, ngoprol, dan masih banyak lagi. Intinya, saya senang eksis! Sehingga pegiat daring menjadi cerminan sisi keseharian.

    Sepertinya cukup demikian yang bisa saya sampaikan. Jadi, andai kata ada yang bertanya kembali apakah saya berubah, bisa ditemukan jawabannya di postingan ini.

    Yuk ah,, ngeblog lagi!


  2. Menuju 2011

    December 9, 2010 by Billy Koesoemadinata

    Untuk tahun yang akan datang nanti, yakni 2011, saya punya sebuah resolusi untuk blog ini. Yakni, beralih menggunakan bahasa Indonesia. Kenapa? Banyak hal yang bisa dijadikan alasan mengapa saya akan beralih menggunakan bahasa Indonesia. Salah satunya adalah, saya warga negara Indonesia, dan harus bangga akan bahasa saya sendiri tentunya.

    Lebay? Berlebihan? Hmm.. Biar saja, karena sebenarnya saya sudah sejak lama gatal ingin segera beralih menggunakan bahasa Indonesia. Selain karena saya sehari-hari menggunakan bahasa tersebut, juga karena saya sedikit kesulitan untuk terus menerus menulis dalam bahasa Inggris di blog ini. Kenapa? Karena saya harus bekerja dua kali untuk menulis dalam bahasa Indonesia, dan kemudian menerjemahkan dalam bahasa Inggris. Meski memang, terkadang saya bisa langsung menulis dalam bahasa Inggris, tapi tentunya lebih nyaman untuk langsung menulis dalam bahasa Indonesia, karena itulah bahasa yang sering saya gunakan setiap harinya.

    Dan, di awal tahun ini atau akhir tahun kemarin, sebenarnya saya sempat berjanji untuk lebih memperbaharui blog ini. Akan tetapi, begitu banyak sekali halangan yang menyebabkan saya untuk memperbaharui postingan di blog. Dan juga, sebenarnya saya masih bingung blog ini mau diisi dengan apa, dengan tujuan apa, selain untuk meng-eksis-kan nama saya di ranah maya. Saya akui, saya lebih sering memperbaharui blog yang lain. Padahal, untuk blog ini saya mengeluarkan biaya, sementara yang lain itu gratis.

    Hmm… sepertinya postingan kali ini lebih berbentuk racauan. Tapi saya punya cita-cita, untuk 2011 nanti, dengan sekian banyak rencana yang sudah saya buat serta semangat untuk terus menjadi lebih baik setiap saatnya, blog ini akan saya ubah sedikit demi sedikit. Sekaligus juga, saya memiliki sebuah rencana kegiatan yang setidaknya akan berguna sekaligus menjadi perwujudan mimpi saya sejak lama. Ingin tahu apa? Tunggu saja tanggal mainnya! ;-)

    Mudah-mudahan, keinginan saya ini tidak hanya berakhir di postingan. Apalagi hanya berakhir di kepala saya saja. Karena sesungguhnya, niatan yang baik akan menjadi lebih berguna ketika menjadi sebuah kegiatan nyata.

    Doakan saya, ya!


  3. Coaching Menulis #014: Konsistensi

    November 5, 2010 by Billy Koesoemadinata

    Ya, akhirnya saya memperbaharui kembali blog menulis ini. Setelah pembaharuan (update) terakhir sudah berbulan-bulan yang lalu. Tak lain, karena memang saya akui, beberapa kesibukan membuat saya sulit untuk menyentuh blog ini dan memberikan materi yang benar-benar sesuai. Belum lagi, pelaksanaan Coaching 101 yang ternyata tidak selancar seperti rencana. Tapi ya, itulah tantangan yang harus saya hadapi tentunya. Semenjak, saya memutuskan untuk menulis, dan menulis. Lagi, dan lagi.

    Oke, jadi dengan memublikasikan materi coaching ke-14 ini, saya resmi membuka kembali Coaching 101. Kali ini, saya tidak melakukan per angkatan, tapi membebaskan setiap orang untuk menghubungi saya via e-mail ke naga.tasik@gmail.com. Via e-mail tersebut, silakan saja Anda bertanya kepada saya, baik itu berkelanjutan melalui e-mail berikutnya, atau bertemu, atau cukup satu-dua kali saja. Bebas. Tak ada ikatan. Dan, jangan lupa tuliskan di subject-nya “Coaching 101″ yang kemudian diikuti oleh keperluan Anda.

    Dan, untuk materi ke-14 ini, saya mengambil tema: Konsistensi.

    Coaching Menulis #014: Konsistensi

    Konsistensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan yang beralamat di sini, kata ‘konsistensi’ berarti:

    n1 ketetapan dan kemantapan (dl bertindak); ketaatasasan: kebijakan pemerintah mencerminkan suatu — dl menghadapi pembangunan yg sedang kita laksanakan;2 kekentalan: – agar-agar;3 kepadatan, kepejalan, atau ketetalan jaringan yg menyusun bagian tubuh buah; 4Geoa ketahanan suatu material terhadap perubahan bentuk atau perpecahan; b derajat kohesi atau adhesi massa tanah;
    kontekstualLing kualitas terjemahan yg diperoleh dng menerjemahkan ungkapan yg cocok untuk konteks tertentu dan bukannya untuk semua konteks

    Singkat cerita, konsistensi berarti tetap dan mantap. Saya sendiri sering mengartikan konsistensi sebagai “sebuah keadaan untuk tetap melakukan yang sudah ditetapkan di awal kegiatan.” Jadi, kurang lebih konsistensi adalah melakukan sesuatu secara terus-menerus, sesuai target, hingga mencapai tujuan. Meski begitu, tujuan yang ingin dicapai bisa jadi terus berubah-ubah sesuai dengan perkembangan situasi.

    Bingung? Oke, mari kita sederhanakan saja dengan mengambil contoh kasus dalam menulis.

    Andai Anda sudah merencanakan untuk membuat sebuah tulisan semacam artikel yang memiliki panjang kurang lebih sekitar 3-4 halaman A4. Jika ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang lengkap, maka harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, When, Why, Where, Who, & How). Dan, dalam perencanaan tersebut juga dilakukan pemilihan jenis tulisan yang akan dibuat, ada persuasi, argumentasi, narasi, deskripsi, dan masih ada beberapa jenis lainnya.

    Lalu, setelah perencanaan tulisan selesai, apa? Tentu, jawabnya adalah pencarian data untuk tulisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mencari narasumber, baik itu ahli ataupun masyarakat, melakukan penelitian lewat internet, buku-buku, hingga kemudian membuat sebuah catatan lengkap. Nah, khusus untuk catatan ini bisa juga dilakukan dengan membuat sebuah jurnal — mencatat tanggal, waktu, siapa orangnya, dan apa isi percakapan dengan orang tersebut.

    Selesai sampai di situ? Jelas tidak! Penelitian dan pengumpulan data, harus segera diikuti dengan penulisan mengenai artikel yang sudah direncanakan sejak awal. Dan, untuk mengawali menulis, terkadang sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena ada beberapa energi yang terkuras di saat mencari dan mengumpulkan data lewat penelitian tersebut. Dan, untuk tetap menulis sesuai dengan rencana itulah diperlukan konsistensi.

    Iya, konsistensi. Ketetapan hati untuk tetap melakukan rencana sejak awal untuk mencapai tujuan itu begitu penting dalam menulis. Dengan tetap konsisten terhadap rencana, maka kita akan bisa menulis sesuai keinginan awal seperti yang tertulis di rencana kita. Dengan konsistensi, kita dapat menyelesaikan tulisan sesuai jadwal atau target yang kita inginkan.

    Memang diakui, konsistensi terkadang sulit dilakukan bagi kebanyakan orang. Penyebabnya banyak, tapi lazimnya karena mereka belum terbiasa. Lantas, jika sudah terbiasa apa bisa langsung konsisten juga? Saya ingin sekali menjawab “IYA” dengan lantang, tapi sepertinya sulit. Mengingat-ingat, saya juga tidak konsisten terhadap blog ini. :mrgreen:

    Oke, lalu harus bagaimana agar tetap konsisten? Mudah saja, lakukanlah sepenuh hati Anda akan apa yang sedang Anda lakukan. Jika sedang merencanakan untuk menulis mengenai sebuah hal, maka lakukanlah sepenuh hati, dan konsistensi akan mengikuti dengan sendirinya. Jadwal yang super efektif sekalipun takkan bisa mengalahkan kekuatan hati dan juga konsistensi.

    Dan, jangan pernah meremehkan kekuatan konsistensi. Kenapa? Karena dengan sebuah konsistensi, target yang direncanakan bisa dapat tercapai, atau bahkan terlampaui! Jadi, mulailah Anda menulis dengan konsisten! *pengingat untuk diri saya sendiri juga tentunya*


  4. 3 Parts of Web Designing

    June 10, 2010 by Billy Koesoemadinata

    Web designing simply divided into 3 parts. Planning, process, and trial-error. For me, those 3 parts could be known as Designing-Coding-Trying. Why did I know it like that? Let’s take a look at this post. (more…)


  5. Designing While Modifying

    April 27, 2010 by Billy Koesoemadinata

    As I said before, I’m improving my skill as a designer. And yes, actually the improvement itself already started since few days nor weeks ago. I can’t remember the first day I start improving it, since I don’t have any related background on designing.

    Well, now my phase on improving the web designing skill, are on the phase of “Designing While Modifying”. I think it’s the phase of absorbing any resources which is provided on the internet world and then study it deeply to gain more informations and lessons.

    Google, Facebook, and Twitter are the most resources that I use to gain so many informations. The three of them are counted as the most reliable source to gain -almost- everything. Now, I’m learning about php, css, js (javascript) and so to improve my web designing abilities using the information gained from them.

    So, let’s start designing while modifying the web!