Keinginan yang Terwujud Bertemu Arsenal FC Berkat Telkomsel

Nonton pemain bola beradu kemampuan untuk saling mendapatkan kemenangan, lazim bisa dengan cara ditonton di TV. Kalopun nonton langsung ke stadion, pengalaman berbeda bakal didapatkan karena atmosfer yang berbeda. Nah, kalo sampai ketemu langsung berada di satu ruangan, bisa berinteraksi, atau bahkan foto bareng dan juga salaman sama pemain bola idola? Tentunya jadi pengalaman yang luar biasa dan bakal dikenang seumur hidup, dong. Seperti yang dialami mereka yang ikutan nonton dan atau ketemu Arsenal Football Club wiken (12-14 Juli 2013) lalu.

Dan, saya salah satunya. Tepatnya, saya ketemu dengan beberapa pemain Arsenal Football Club!

Iya, ini Arsenal Football Club yang dari London, Inggris itu. Arsenal yang dilatih sama Arsene Wenger. Arsenal yang beberapa bintangnya antara lain Theo Walcott, Lukas Podolski, Tomas Rosicky, Alex Chamberlain, Olivier Giroud, dan masih banyak lagi.

Wiken lalu, sekurang-kurangnya puluhan ribu orang berhasil mewujudkan mimpi untuk menonton langsung Arsenal FC bertanding, di Stadion Utama Gelora Bung Karno pula! 400an orang pula berhasil mewujudkan mimpi untuk bertemu langsung dengan pemain-pemain Arsenal dan sempat salaman atau foto bareng!

Termasuk saya. *mengulang*

Saya pertama kali “kenal” dengan Arsenal FC kira-kira di periode 1998 akhir. Kalo ga salah, waktu itu dari artikel tabloid olahraga lagi memuat profilnya Dennis Bergkamp – kalo yang ngaku fans Arsenal, pasti tau beliau siapa. Dennis Bergkamp, salah satu pemain penting di timnas Belanda pada jaman itu, adalah salah satu penyerang top yang dimiliki Arsenal.

Trus, siapa lagi pemain Arsenal di jaman itu yang saya ingat? Ada Emmanuel Petit – yang waktu itu juga memperkuat timnas Prancis jadi juara Piala Dunia 1998, trus ada Marc Overmars, David Seaman, dan Martin Keown. Pemain-pemain yang menjadi sejarah dari Arsenal FC, yang kemudian beregenerasi ke masanya Thierry Henry, Patrick Vieira, Emmanuel Adebayor, Cesc Fabregas (sebelum pindah balik ke Barcelona), Robin van Persie (sebelum pindah ke MU), dan Theo Walcott.

Ada 2 “momen” penting dalam sejarah Arsenal yang cukup teringat oleh saya. Yakni pada saat mereka jadi juara Liga Inggris tanpa sekalipun terkalahkan – tahun 2003/2004 (CMIIW), serta pada saat mereka menjejak final Piala Champions Eropa – tahun 2005/2006 – walau kemudian belum berhasil jadi juara Champions.

Saya akui ada klub yang lebih saya favoritkan di Liga Inggris, tapi saya tetap mengikuti perkembangan berita Arsenal FC. Mulai dari transfer keluar masuk pemain, wacana penggantian pelatih Arsene Wenger – yang tetap belum bisa tergantikan, sampai dengan perpindahan stadionnya dari Highbury ke Emirates! Oiya, soal transfer keluar masuk pemain, beberapa yang saya ingat antara lain Mathieu Flamini ke AC Milan, kemudian ada Lukas Podolski masuk sebagai striker, dan juga perpindahan RvP ke MU.

Anyway, pada saat saya dapat kabar bahwa Arsenal FC akan datang ke Jakarta – Indonesia sebagai salah satu bagian dari Asia Tour-nya, saya termasuk yang seneng lho. Kenapa? Karena saya pengen banget bisa ketemu Lukas Podolski – atau minimal ngeliat dari deket lah! :mrgreen: Selain itu, saya juga pengen bisa ngeliat dari deket Theo Walcott dan juga Tomasz Rosicky. Untungnya, berkat Telkomsel keinginan itu terwujud.

Iya, Telkomsel kan jadi Official Mobile Network of Arsenal in Indonesia – dengan kata lain, Telkomsel jadi SPONSOR Arsenal FC Asia Tour di Indonesia.

13 Juli 2013 lalu, setelah sehari sebelumnya dapet undangan via email dan SMS, saya akhirnya bisa beneran ketemu: satu ruangan-tatap muka-foto bareng beberapa pemain Arsenal FC. Ada Theo Walcott, Tomasz Rosicky, Olivier Giroud, Lukas Fabiansky, Alex Oxlade-Chamberlain, Laurent Koscielny, dan Aaron Ramsey yang saya ketemuin di acaranya “The Arsenal simPATI Fan Party” yang diselenggarain Telkomsel. 400-an orang dari seluruh Indonesia dan juga sebagian dari Singapore-Malaysia-Filipina dapetin pengalaman berharga seumur hidup yang mungkin ga bakal keulang lagi.

Berdasar info yang saya terima, Acara “The Arsenal simPATI Fan Party” itu sendiri jadi salah satu rangkaian Telkomsel Football Experience yang dimulai sejak beberapa minggu sebelumnya. Buat yang ngikutin, pasti tau ada acara Meet & Greet legenda Arsenal FC: Freddie Ljungberg, Telkomsel Football Fair, nonton bareng ‘simPATI Big Match’, dan juga ada launching ‘simPATI Starter Pack Arsenal Limited Edition’!

[set_id=72157634650126872]

Back to the event itself, “The Arsenal simPATI Fan Party” itu bener-bener HEBOH! Acara yang dipandu sama duet Tamara Geraldine & Nico Siahaaan itu beneran memanjakan undangan yang dateng. Ada bagi-bagi hadiah dengan lelang poin Telkomsel, ada undian buat interaksi dengan pemain Arsenal FC, juga ada undian buat nonton latihan Arsenal FC malam harinya.

Yang paling bikin HEBOH itu adalah saat pemain Arsenal FC bersiap masuk ke dalam ruangan acara, hampir seluruh fans yang dateng nyanyi bareng lagu dukungan Arsenal FC. Bulu kuduk saya sampe merinding dengernya.. And you know what, saat pemain Arsenal FC itu mulai dikenalin satu-satu, seluruh ruangan sampe bergemuruh sambutan yel-yel nama masing-masing pemain Arsenal FC itu. Well, the fans who attended clearly really LOVE Arsenal FC.

Keseruan acara berlanjut waktu sesi foto bareng dimulai. Seluruh fans yang hadir diundang ke depan per sepuluh orang sesuai dengan nomer urutan kursi duduk. Dan ya, walaupun MC serta pihak keamanan udah ngasitau soal dos & don’ts, tapi tetep aja ada yang curi-curi kesempatan buat minta tanda tangan ke jersey yang dipake, foto bareng personal, dan lain-lain. Saya pribadi, setelah kesempatan foto bareng, “cuma” sempet salaman sama Tomasz Rosicky dan juga Theo Walcott – sayangnya ga ada bukti foto. 🙁

satuframe-by yeti_sugyati
Foto bareng pemain-pemain Arsenal FC. Thanks @yeti_sugyati atas fotonya!

Anyway, it’s such a GREAT event. Jelas, acara itu bener-bener bikin keinginan dan mimpi fans yang hadir terwujud: untuk bisa lebih dekat dengan pemain-pemain Arsenal FC yang biasanya cuman bisa diliat di TV-untuk foto bareng-untuk minta tanda tangan asli. Saya sendiri setelah foto bareng (sekitar jam 5 sore) langsung pulang, karena saya berencana untuk buka puasa di rumah, sementara acara masih berlanjut sampai dengan jam 6 sore.

Terima kasih Telkomsel. Terima kasih Arsenal FC. Kalian benar-benar tahu bagaimana cara membuat keinginan banyak orang terwujud.

NB: Baca juga tulisan saya di sini!

Mengelilingi Tempat Tertinggi di Sydney Tower Eye

Setiap kota pasti punya ciri khas berupa landmark. Entah itu gedung tertinggi, bangunan termegah, terantik, terluas, atau apapun. Yang pasti punya. Kalopun ga punya, pasti ada satu bangunan atau area yang emang jadi ciri khas kota itu.

Begitupun Sydney, dengan Sydney Tower Eye yang jadi salah satu landmark-nya.

Sydney Tower Eye dilihat dari Hyde Park

Sydney Tower Eye, singkat cerita adalah tempat paling tinggi di Sydney. Berdasar kelakar yang saya dengar dari seorang kenalan, dulunya menara ini tidak ada. Lalu seorang warga Sydney berujar bahwa sebagai salah satu kota maju, mereka harus punya sebuah menara layaknya menara atau gedung tinggi lain di dunia, maka diciptakanlah Sydney Tower Eye ini. Benar atau tidak, biarlah menjadi misteri. *halah*

Beda sama Monas di Jakarta, Sydney Tower Eye ga dikelilingi sebuah lapangan atau area terbuka khusus. Sydney Tower Eye justru dikelilingi deretan bangunan dan toko-toko. Akses menuju Sydney Tower Eye sendiri melalui lantai 5 sebuah pusat perbelanjaan bernama Westfield – pusat perbelanjaan yang berlokasi di Pitt Street dan juga Market Street. Pas banget di tengah-tengah CBD Sydney! Soal tiket, seperti pernah saya bilang di postingan sebelumnya, mendingan beli via online atau beli paketan sama objek wisata lain di Sydney. Pasti dapet lebih murah dibandingkan Go Show.

Eiya, sebagaimana gedung tinggi lain di dunia, lift di dan dalam Sydney Tower Eye ini cepet kok. Ga sampe semenit dari lantai 5, udah sampe ke Observation Deck. Selain itu, juga ada teater 4D yang emang bisa dikunjungi dalam perjalanan menuju ke atas dari loket tiket.

Trus, apa aja sih yang spesial dari Sydney Tower Eye selain jadi tempat tertinggi di Sydney? Banyak! Mau tahu? Ini dia:

  1. Pemandangan menyeluruh dari seluruh penjuru Sydney. Barat-Utara-Timur-Selatan. Dan itu bisa dikelilingi dalam 1 tempat yang tak putus di Observation Deck.
  2. Buat yang punya nyali cukup besar, pengalaman jalan-jalan di area outdoor di tempat tertinggi bisa jadi pilihan tambahan dengan ikutan Skywalk. Pastinya ada tiket tambahan selain tiket masuk ke Sydney Tower Eye, tapi ya buat pengalaman sekali seumur hidup ya jangan sampe kelewat – kecuali anggaran terbatas macam saya. Jangan khawatir, aman kok.
  3. Pernah makan di mana aja? Kalo pengen ngerasain makan di tempat tertinggi, ada lho pilihan Sydney Tower Dining. Makan malam sama orang tersayang di tempat tertinggi, pemandangannya kan bagus. Siapa tau ada yang pengen bikin prosesi lamaran di situ. *eh*
  4. Di Sydney Tower Eye juga ada beberapa poin spesial antara lain bis surat yang masih aktif (tapi saya belom coba sih), toko souvenir, dan juga tempat pembuatan pin manual gitu.

Cara buat ke sana? Gampang kok. Karena dia bentuknya unik dan bisa keliatan dari hampir seluruh penjuru Sydney, begitu kita bilang pengen ke Sydney Tower Eye juga (hampir) semua orang tahu. Kalo masih bingung juga, bisa diliat infonya di sini.

Kapan paling pas ke sana? Banyak yang bilang ga ada waktu yang pas. Tapi saya pribadi, pas kunjungan ke sana, timing-nya pas deket-deket sama waktu sunset –matahari tenggelam gitu. Ya, selain buat nyari experience berada di tempat tinggi dan ngeliat suasana perubahan siang/sore ke malam, saya juga nyari kesempatan buat foto-foto sih. Hasilnya? Saya dapet experience sunset yang seru berupa pemandangan pelangi di Timur Sydney, dan pemandangan matahari tenggelam di Barat Sydney. Foto-foto lengkapnya ada di bawah ini ya..

[set_id=72157634300043768]

Kamu pernah ke tempat paling tinggi di mana aja?

Gangster Squad: Classy Modern “Cowboys”

poster film Gangster Squad dari wikipedia (click to know more)

Cerita-cerita dan juga film-film bertemakan mafia, jaman 1920-1930an dan juga 1940-1950an di Amerika Serikat, ataupun film koboi, selalu menarik perhatian saya. Sebut saja: seri The Godfather, Magnificent Seven, Wild Wild West (the original), sampai dengan yang paling baru itu The Great Gatsby. Film-film seperti itu semacam punya daya tarik tersendiri, apalagi kalo semuanya jadi satu.. mungkin jadinya ya seperti film Gangster Squad.

Yep, film yang disutradarai Ruben Fleischer ini, menurut saya memadukan berbagai elemen yang menarik bagi saya. Yakni mafia, jaman 1940-1950an, dan juga koboi. Tembak-menembak, jaringan kejahatan, dengan gaya berkelas (classy) jadi ciri khas film ini, yang didukung juga oleh cerita yang – menurut saya – BAGUS. Ya.. mungkin bisa ditebak di beberapa titik cerita, tapi ya.. tetap saja bagus.

Bukan, ini bukan ala The Untouchables yang perpanjangan dari agen federal, Gangster Squad ini lebih ke sebuah unit khusus kepolisian kota beranggotakan beberapa orang Polisi yang melakukan “kejahatan” terhadap kejahatan. Fight fire with “fire”. Tepatnya, melawan bisnis yang jadi backup sebuah jaringan kejahatan, dengan cara dirampok, dibakar, dan “dihabisi” oleh para Polisi. Tapi semua uang ataupun penghasilan dari bisnis dari kejahatan itu ga diambil, melainkan tetap dihanguskan – semuanya.

Tembak-menembak, raut muka yang khas, hingga pakaian yang begitu menawan sesuai era 1940-1950an benar-benar membuat saya tak bisa melepaskan mata dari film berdurasi sekitar 113 menit ini. Film ini jadi berasa film koboi di era modern dengan gaya pakaian dan cara bertarung yang amat-sangat berkelas. Apalagi didukung akting dari Josh Brolin (Sgt. John O’Mara), Ryan Gosling (Sgt. Jerry Wooters), dan yang-cocok-banget-jadi-penjahat Sean Penn (Mickey Cohen), plus Emma Stone (Grace Faraday – yang muncul dikit banget, tapi tetep jadi pemanis film ini).

Jalan cerita dari film ini juga menurut saya cukup oke – walau muncul beberapa pertanyaan di beberapa tempat, sbb:

  1. Waktu rumahnya John O’Mara diserang kelompok suruhannya Mickey, sebuah mukjizat besar istrinya yang lagi mengandung dan siap-siap melahirkan ga (diceritakan) kena cedera sedikitpun dan melahirkan dengan selamat di bak mandi. IYA, DI BAK MANDI! – jadi penasaran, bak mandi buatan amrik bisa tahan peluru kali ya? *eh*
  2. Pas Conwell diserang penjahat, kok bisa dia ga sadar sama sekali ada orang dateng? Apa sebegitu kedap suaranya “markas” Gangster Squad atau headhphone, jadinya ga nyadar ada yang dateng? Atau, dia terlalu asyik nguping rumahnya Mickey?
  3. Trus, pas night club ditembakin dari luar buat nyerang salah satu “utusan” keluarga dari Chicago atau New York itu, kenapa pengunjung dari dalem night club ga ada yang nyadar sama sekali?

Tapi ya, itulah film. Kalo katanya @warm, nonton film itu harus optimize otak kanan – dengan kata lain, jangan kebanyakan mikir. Just enjoy the show.

Eiya, kalo katanya Wikipedia sih, selain Gangster Squad yang diceritakan di film ini, aslinya pada era 1940-1950an di Los Angeles emang ada Gangster Squad yang asli sih. Jadi penasaran ya, apa aksi-aksi mereka sama atau mendekati dengan yang ada di film ini.

Kamu udah nonton film Gangster Squad belom?

#TselNEDTrip: Jakarta-Semarang-Solo, 27-28 Juni 2013 with @Telkomsel

Bermula dari sebuah DM di twitter dan juga email, jadilah (sebelum) wiken lalu saya “jalan-jalan” ke Solo melalui Semarang dari Jakarta, barengan rombongan media dan Telkomsel yang lagi ngadain Network Drive Test. Tanggal pasti pelaksanaannya 27-28 Juni lalu.

Network Drive Test Telkomsel
Network Drive Test Telkomsel

Berdasar press release yang saya terima dari Telkomsel di perjalanan tersebut, rangkaian acara ini jadi salah satu persiapan menjelang musim Ramadan, mudik, Lebaran, dan arus balik buat ngetes jaringan dan sinyal Telkomsel. Berita lengkap seputar Network Drive Test dari Telkomsel, bisa dilihat di sini, di sini, atau di sini.

Kenapa Telkomsel ngadain Network Drive Test? Karena di musim Ramadan, mudik, Lebaran, dan arus balik nanti traffic komunikasi Telkomsel diprediksi meningkat. Tahu dari mana? Ya pastinya dari lesson learn tahun-tahun sebelumnya. Dan kenapa jalurnya Jakarta-Semarang-Solo? Kalo ga salah sih, berdasar percakapan di bus sepanjang jalur Semarang-Solo, jalur Jakarta-Semarang-Solo termasuk yang peningkatan traffic komunikasinya paling tinggi pada saat musim mudik dan Lebaran.

Alhasil, perjalanan yang saya pribadi awali dengan jadwal kereta commuterline paling awal dari stasiun terdekat dari rumah menuju stasiun kereta Gambir supaya sampe sana jam 5an pagi lewat, seluruh peserta #TselNEDTrip ngetes jaringan pake alat komunikasi (baca: smartphone, tablet, dan juga modem) masing-masing. Saya sendiri ngetes pake BlackBerry dan juga android.

Sepanjang perjalanan naik kereta Argo Muria buat rute Jakarta-Semarang, yang juga ada gerbong kereta wisata, peserta #TselNEDTrip ga berenti-berentinya dapet hiburan dan juga MAKANAN! :mrgreen: Hiburannya mulai dari live music, games yang dipandu MC @ichasasmita, dan juga film yang disetel secara sentral di dalam kereta. Oiya, sepanjang perjalanan juga ada penjelasan mengenai Network Drive Test dengan narasumber Nurdianto – Head of Radio Access Network Quality Management Jawa Bali Department Telkomsel, dan juga Pak Abdus Somad Arief – Direktur Network Telkomsel. Pas ikutan penjelasan itu, kalo ga berasa wartawan (lagi), ya.. berasa jadi mahasiswa teknik elektro telekomunikasi. 2 cita-cita tercapai sekaligus deh *eh*

Abdus Somad Arief - Direktur Network Telkomsel lagi ngasih penjelasan
Abdus Somad Arief – Direktur Network Telkomsel lagi ngasih penjelasan

Tiba di Semarang, abis rehat sejenak langsung aja lanjut perjalanan naik bus menuju Solo. Jujur, saya belum pernah ke Semarang, apalagi Solo. Kalo lewat-lewat aja, mungkin pernah. Tapi ga pernah sambil lihat-lihat pemandangan sekitar. Dan syukurnya, sambil naik bus itu saya jadi bisa lihat-lihat sekitar Semarang menuju Solo.

Sekitar jam 7-8an malam, sampailah di Solo. Langsung masuk hotel, dan siap buat gathering #TselNEDTrip. Apa aja yang disampein di gathering itu? Antara lain peresmian BTS On Air Telkomsel ke-7500 di 2013– yang totalnya jadi 62ribu se-Indonesia, mudik bareng Telkomsel, kesiapan posko mudik Telkomsel Siaga di jalur mudik, sampai dengan pemaparan hasil Network Drive Test. Berita lengkapnya bisa dilihat di sini, atau di sini. Kalo dari sisi saya pribadi, Network Drive Test-nya cukup berhasil karena Alhamdulillah, seluruh kebutuhan saya pake Telkomsel sepanjang perjalanan bisa terpenuhi. Ya pake aplikasi di smartphone, ya menelepon, ya terima telepon. Syukurnya lancar. Salah satu bukti kalo Telkomsel emang siap ngadepin musim Ramadan, mudik, Lebaran, dan arus balik. Mudah-mudahan pas hari H mudik dan arus balik, sinyal dan traffic komunikasi Telkomsel tetap lancar. 🙂

Peresmian BTS On Air Telkomsel ke 7500 di 2013, total jadi 62000. Di-mention juga lho sama @Telkomsel di http://t.co/ZkAMwbY2aI

Eiya, di gathering itu ada penampilan Isa Raja – yang ikutan X Factor itu lho, bersama bandnya. Ga lupa pula ada Magdalena yang nge-MC bareng Icha Sasmita. Jam berapa gatheringnya kelar? Yang pasti sih larut, dan saya SENENG! (yang ngikutin twit saya pasti tau kenapa saya seneng *eh*)

Besok paginya, rombongan dibagi jadi 2 kelompok – kelompok city tour pagi, dan kelompok city tour siang. Saya sebenernya kebagian kelompok city tour siang – secara flight saya ke Jakarta dijadwalkan setelah jam 6, tapi ya.. singkat cerita saya pun jalan duluan dengan city tour pagi. Ke mana aja? Yang pasti sih ke Laweyan! Belajar ngebatik, dan juga liat-liat suasana sekitar.

Kelar ngebatik, beberapa pria yang muslim pun beranjak Jumatan dekat dengan rumah makan yang udah ditentuin panitia #TselNEDTrip – saya juga Jumatan dong. 🙂 Kelar Jumatan, langsung makan siang dan sementara peserta city tour pagi langsung ke bandara Adi Soemarmo buat ngejar flight, saya dan @agushamonangan justru menuju tempat standby dari city tour sore. Agendanya pun ternyata sama, yakni ke Laweyan (lagi)! 😆 Ya… lumayan lah, kali kedua ke Laweyan di hari yang sama buat ngebatik, saya udah cukup lancar. :mrgreen:

Selesai dari Laweyan, langsunglah menuju bandara dan persiapan balik ke Jakarta. Walau “diwarnai” delay 1 jam karena faktor dari maskapainya, tapi ya Alhamdulillah, saya tiba di Soekarno-Hatta dengan selamat. Lebih bersyukurnya lagi, bisa nebeng pula dengan bis yang sudah disediakan panitia #TselNEDTrip yang menuju kantor Telkomsel di Gatot Subroto. Saya sih turun di sekitar Kuningan, baru kemudian pulang ke rumah.

Yang paling berkesan dari perjalanan #TselNEDTrip ini, selain karena (akhirnya) saya bisa liat-liat kota Solo, sbb:

1. Bisa liat pinggir laut secara dekat dari atas kereta Argo Muria. Iya, saya baru tau kalo jalur kereta api Jakarta-Semarang itu lewat pinggir laut persis. Kalo ga salah deket Pekalongan atau Batang itu ya. CMIIW.

Pinggir laut dilihat dari atas Argo Muria
Pinggir laut dilihat dari atas Argo Muria

2. Bisa foto bareng Magdalena! :mrgreen:

Foto bareng Magdalena
Foto bareng Magdalena

3. Bisa kenal (dan ketemu) dengan @agushamonangan, @IDberry, @aditawiharto, @mrbambang, dan masih banyak lagi rombongan #TselNEDTrip yang ga bisa saya sebut satu-persatu. Baik itu dari media, panitia, maupun dari Telkomsel.

4. Jadi tau beberapa istilah telekomunikasi dan juga teknis pelaksanaan Network Drive Test meski ga mendetail. Tapi, hal-hal semacam itu aja udah bikin saya seneng karena berasa jadi mahasiswa Teknik Elektro Telekomunikasi. :mrgreen:

5. Ngebatik di Laweyan! Yay! Ini hal yang jarang-jarang banget bisa saya lakukan, secara ngebatik langsung di salah satu wilayah yang emang terkenal dengan batik gitu lho.. 🙂

Ngebatik di Laweyan. Foto by @aditawiharto – https://twitter.com/aditawiharto/status/350450135798534144/photo/1

6. Trus apa lagi ya? *mikir*

Well, semoga hasil dari Network Drive Test kemarin terbukti kehandalannya saat hari H musim mudik dan arus balik kelak. Terima kasih Telkomsel! Thanks juga buat semua panitia dan rombongan yang udah ikut serta. 🙂

Ketemu Tokoh Dunia di Madame Tussauds, Sydney

Siapa aja tokoh dunia yang jadi idola kamu? Kalo saya ada Nicole Kidman dan Barack Obama. Itu beberapa tokoh dunia yang pengen saya ketemuin, selain karena mereka masih hidup, juga karena saya dan mereka hidup di jaman yang sama. *halah* Trus, emang ada tokoh dunia yang pengen saya ketemuin? Jelas ada, antara lain Marilyn Monroe dan juga Heath Ledger. Tapi ya.. mungkin itu cuman mimpi.

Kenapa saya bilang mimpi? Karena saya bukan artis, bukan (atau belum tentu?) politisi, apalagi orang dengan kekayaan selangit macam Bill Gates. Saya cuman seorang Billy Koesoemadinata, yang senang nulis, senang jalan-jalan, dan senang foto-foto. :mrgreen:

Tapi saya juga bukan sekadar bisa mimpi doang. Sebisa mungkin saya bakal ngelakuin usaha-usaha buat ngebuat mimpi-mimpi itu terwujud. Saya pernah baca kata-kata positif sebagai berikut,

Jika engkau bersungguh-sungguh, maka seluruh alam semesta akan mendukungmu.

Saya kurang ingat persis bacanya di mana. Entah itu di buku, entah itu di film. Tapi yang pasti, kata-kata positif itu (bisa jadi) benar adanya. Setidaknya, sesuai dengan pengalaman saya pribadi. 🙂

Iya, saya beneran bisa ketemu tokoh-tokoh dunia yang saya impikan itu* (keterangan *=syarat dan ketentuan berlaku 😛 ). Ini nih, bukti foto-fotonya di galeri di bawah ya.

[set_id=72157634300022420]

Ehehehe.. Jangan kecele ya, tapi semua tokoh dunia di galeri foto itu asli lho. Asli replika dari tokoh aslinya. :mrgreen: Nicole Kidman, Barack Obama, Nelson Mandela, Ratu Elizabeth II, Marilyn Monroe, Johnny Depp, Bruce Willis, Heath Ledger, Iron Man, Einstein, Jackie Chan, dan masih BANYAK LAGI! Semuanya bisa ditemuin di Madame Tussauds, Sydney, Australia yang letaknya deket Darling Harbour.

Kok bisa ke sana? Gimana caranya? Berapa harga tiketnya? Kapan ke sana lagi? Ada oleh-oleh, ga?

Eng.. singkat cerita saya ke sana hari Jumat 14 Juni 2013 lalu. Masih sekitar seminggu yang lalu lah.. Dalam rangkaian pekerjaan sih, tapi saya sempet-sempetin ke sana. Karena e karena, emang udah cita-cita pengen ke Madame Tussauds, di lokasi manapun. Kebanyakan teman-teman saya sih ke Madame Tussauds yang di Hong Kong — dan Alhamdulillah, saya sempetnya ke yang di Sydney, Australia. 🙂

Oiya, beberapa catatan seputar Madame Tussauds Sydney ini, sbb:

  1. Beli tiket masuk secara online. Selain lebih murah dan praktis, juga banyak promo yang bisa digabung sama objek wisata lainnya di Sydney. Kemarin saya beli yang sepaket dengan tiket masuk Sydney Tower Eye **. (**=ceritanya di postingan lain ya)
  2. Kalo mau menikmati koleksinya, sebisa mungkin datang di awal-awal jam buka. Pengunjungnya masih sepi (banget). Trus gimana kalo mau foto-foto? Tenang, ada fotografer Madame Tussauds yang bisa bantu, ataupun ada beberapa pengunjung yang bisa dimintain bantuan — tapi ya, emang ga semudah kalo ke sana bareng temen sih.
  3. Ketahui dulu siapa aja tokoh yang ada di sana. Koleksi-koleksi Madame Tussauds di seluruh dunia itu ga semuanya sama. Khusus yang di Sydney ini, selain tokoh-tokoh dunia macam presiden dan tokoh legendaris macam Marilyn Monroe, juga banyak tokoh-tokoh asli Australia atau Inggris. Jelas Presiden Soekarno ga ada di Sydney, melainkan adanya di Hong Kong.
  4. Bawa duit yang cukup, kalo bisa minimal AUD 50. Buat apa? Buat beli memorabilia alias oleh-oleh, terutama foto-foto bagus yang dibuat sama fotografer Madame Tussauds.
  5. Trus apa lagi ya?

Intinya sih, kalo emang lagi ke kota yang ada Madame Tussauds macam di Sydney begini, saya nyaranin banget buat sempetin dateng. Sebisa mungkin, anggap harga tiket yang cukup tinggi (kalo di-compare sama harga tiket di Indonesia) sebanding dengan pengalaman dan foto-foto yang bakal didapat.

Trus, yang mana di Madame Tussauds yang jadi favorit saya? Jelas Nicole Kidman. Tapi, dari sekian banyak foto di sana, saya paling suka foto yang ini nih.

thanks for lending me your desk, mister Obama! ~ taken at Madame Tussauds, Sydney, June 14, 2013.

 

Kapan lagi coba bisa pose begitu sama Barack Obama? 😛

Kamu udah pernah dateng ke Madame Tussauds belum?

A Good Day to Die Hard: Running Out of Story?

poster taken from wikipedia  *click for page source*

Susah mati: ditembak, terluka, berdarah-darah tapi ga mati-mati. Bruce Willis, a.k.a. John McClane, si Polisi dari NYPD yang sempat pindah ke LAPD dan kemudian pindah lagi ke NYPD. Ya.. secara logis, kalo gampang mati ga bakal dong dia jadi tokoh utama di filmnya.. *eh*

Sejak Die Hard, Die Hard 2 (Die Harder), Die Hard 3 (Die Hard with Vengeance), dan Die Hard 4.0 (Live Free or Die Hard) total ada 4 film di seri Die Hard & John McClane ini – sebelum ada yang kelima ini. Sempet ngira bakal “abis” di film keempat, eh ga taunya dibuat film kelima dengan judul A Good Day to Die Hard.

Iya, saya kira bakal “abis” di film keempat karena menurut saya film keempat itu puncak dari “susah mati”-nya si John McClane dan juga penghabisan dari tokoh antagonis yang dimunculkan di setiap film. Well, film pertama berkisar pada penyanderaan sebuah gedung & perusahaan, film kedua pembajakan bandara & penyalahgunaan kemampuan militer, di film ketiga berkisar pada pembalasan dendam dari film pertama sekaligus pencurian emas, hingga film keempat berupa penyerangan menyeluruh terhadap sistem dan struktur kemapanan negara. Sudah seperti itu? Iya, ultimate story dari seluruh seri Die Hard menurut saya berpuncak di film keempat. Tapi nyatanya, itu cuman anggapan saya aja karena produser-produser Hollywood melanjutkan seri tersebut.

Siap-siap ada spoiler…

A Good Day to Die Hard adalah sekuel keempat sekaligus film kelima dari seri Die Hard. Bagus? Menurut saya cukup, tapi tidak cukup bagus. Iya, so-so lah.. kalo di skala 10, saya menilai film ini sekitar nilai 6 dan 7. Mungkin 6,5 tapi ya.. pokoknya antara nilai 6 dan 7. Kenapa? Karena menurut saya ceritanya “sedikit” dipaksakan.

Well, saya akui saya bukan Die Hard fans ataupun John McClane fans, tapi saya mengikuti perkembangan ceritanya dari film ke film. Dan, menurut saya film kelima ini dipaksakan karena sbb:

  1. John McClane dibuat melakukan aksinya di luar negerinya sendiri – terlepas dari keberadaan Jack McClane (anaknya) yang sedang melakukan operasi CIA. Iya, “dipaksa” melakukan aksi di luar negeri, karena di dalam negeri sudah ga ada “tantangannya” lagi.
  2. Chernobyl seperti dipaksakan masuk ke dalam film agar terlihat lebih masuk akal tentang bahan-bahan radioaktif yang tertinggal. Di dalam film, bahan-bahan radioaktif tersebut yang rencananya akan digunakan untuk teror yang lebih besar.
  3. Kehadiran anak gadis dari tokoh antagonis, yang dibuat seolah-olah sebuah twist di dalam cerita – namun tetap saja penonton akan melihatnya sebagai pemanis.
  4. Aparat keamanan Rusia terlihat kurang preparatif dan kurang responsif terhadap pengamanan sidang, dan pengeboman yang terjadi. Kalo emang bener tokoh Yuri itu jadi lawan dari salah satu pejabat negara, ya harusnya pengamanannya lebih oke dong. Apalagi pejabat negaranya bilang di awal film, “…semua orang di sidang itu orangku.” – atau mungkin justru karena itu, jadinya kurang ya pengamanannya?
  5. Petugas kepolisian jalan raya kurang terlihat sepanjang film – terutama di adegan pengejaran antara John McClane, antagonis, dan Jack McClane.
  6. Umm.. apalagi ya? *mikir*

Selain karena hal-hal yang seperti “dipaksakan” agar sesuai dengan plot cerita, film kelima Die Hard ini masih tetap mempertunjukkan beberapa poin positif mengenai cerita dan juga nilai (values) yang erat kaitannya dengan kehidupan nyata. Eng.. jangan langsung mengarah ke soal perjuangan mengejar penjahatnya ya, tapi coba ke hal-hal kecil yang (mungkin) diabaikan sehari-harinya. Mau tahu?

  1. Family does matters. Itu hal yang saya dapatkan dari A Good Day to Die Hard (dan juga dari film-film sebelumnya). Sebuah keluarga itu penting, tak peduli apa pun pekerjaanmu, seberat dan setangguh apapun hal yang harus dihadapi setiap harinya, keluarga tetap haruslah menjadi prioritas. Kenapa? Agar sebuah keluarga tetap harmonis, serta perkembangannya tetap baik.
  2. Komunikasi itu penting, terutama bagi orang-orang terdekat. Ya, ga musti setiap menit, setiap jam, ataupun setiap hari. Tapi masa’ iya seminggu sekali ga ada kabar sama sekali? Come on! Di jaman teknologi makin canggih setiap harinya, dan makin banyak pilihan komunikasi? Saya nulis ini, karena komunikasi dengan orang-orang terdekat seenggaknya bakal ngebuat mereka – yang kita anggap dekat, tetaplah merasa diperhatikan. Yes, I do believe in that.
  3. Let the officials do their work, don’t interrupt only if you’re requested to do that. Petugas pemerintah, aparat keamanan, dan masih banyak lagi elemen lembaga resmi tentunya lebih tahu apa yang harus dilakukan terhadap beragam situasi. Well, itu kan sudah jadi kewajiban dan bagian dari tugas/pekerjaan mereka. Kalo ada kemudian warga sipil, atau mungkin bagian dari mereka yang kebetulan mengetahui namun sedang tidak aktif bertugas, maka bukanlah kewajiban. Apalagi kalo udah soal yurisdiksi – coba kalo ga ngerti apa artinya, gugling deh.. 😛
  4. *mikir apaan lagi*

Itu sih menurut saya. Menurut kamu gimana? Atau jangan-jangan belom nonton?

(Fast &) Furios 6: Villains, Tank, and (of course) Cars

Fast & Furious 6

All roads lead to this. Begitu bunyi tagline sekuel ke-5 dari film The Fast & The Furious ini. Pertama baca tagline itu, ga sempet mikir macem-macem, kecuali kalo sekuel ini bakal jadi lanjutan yang terjadi di film sebelumnya – Fast Five, dan juga kemunculan lagi tokoh yang sempet (dikira) mati di Fast & Furious (film keempat/sekuel ketiga) – Letty. Sesuai dengan premis yang dibentuk oleh trailernya.

Udah, gitu doang. Sesederhana itu. Dan soal Owen Shaw (dan Joe Taslim yang jadi komplotannya)? Itu sih mikirnya sebagai “just another villain that will perfectly fit the movie.”

Udah, segitu aja? Iya. Kalopun ada yang kepikiran lagi ya paling penasaran sama perannya Joe Taslim di film itu. Bakal seperti apa sih, kalo aktor beladiri Indonesia main di sebuah film yang termasuk salah satu seri sukses buatan Hollywood?

Ada lagi? Ya.. ada sih, tapi ga seperti pemikiran-pemikiran di dua paragraf sebelumnya. *halah*

Anyway, ternyata pendapat yang bilang “make low expectations, and you’ll be surprise” itu benar adanya. Iya, seperti harapan saya terhadap film (Fast &) Furious 6 ini. Dari pemikiran-pemikiran saya yang ga gitu ngarep macem-macem, akhirnya saya emang beneran kagum dan cukup terkesan dengan filmnya.

Betul, film Furious 6 ini emang layak buat ditonton (siap-siap bisa jadi ada spoiler). Ada jagoan, ada penjahat, aksi kejar-kejaran mobil, aksi ledakan, aksi tembak-tembakan, dan juga twist. JUGA ADA TANK! Semua yang dibutuhkan sebuah film laga.

Dan juga, ada satu hal yang selalu ada (CMIIW) di setiap film Fast & Furious, yakni balapan mobil dengan taruhan. *tapi belom nemu link youtube-nya nih*

Plus ada scene Joe Taslim yang menghajar Tyrese & Sung Kang di Waterloo. (awas SPOILER!)

Tapi, ada beberapa hal yang masih ngegantung dan kurang, terutama dalam soal cerita. Iya, ceritanya kurang menggigit ketimbang film keempat (Fast & Furious) atau kelima (Fast Five). Ya, sah-sah aja kan saya bilang begitu? Kan saya juga nonton. :mrgreen:

Anyway, ada beberapa hal yang agak “rancu” atau menggantung dari film ini, antara lain: (awas ada spoiler ya!)

  1. Kalo emang Hobbs itu dari badan keamanan internasional, kenapa kaya’nya dia ga punya tim seperti di Fast Five?
  2. Kalo Owen Shaw itu jago dan lebih bos daripada Braga (penjahat di Fast & Furious – film keempat), kenapa dia malah ngelakuin sendiri semua aksi kejahatannya, dan bukannya kaya’ Braga yang lebih nyuruh kaki tangannya?
  3. Kalo emang ada penyusup di timnya Hobbs berupa Riley, kenapa timnya Owen Shaw harus susah-susah nyuri data soal timnya Dom Toretto ke Interpol? Bukannya lebih gampang lagi kalo lewat Riley itu?
  4. Trus di penghujung film, KENAPA kok tiba-tiba semua mobil yang dipake bisa ada harpoon (atau apalah itu namanya) yang bisa dipake buat nembak pesawat?

Jadi, itu pendapat saya. Kalo sampe kelak jadinya ga nonton filmnya karena kebanyakan spoiler, ya it’s your choice. Karena kalo saya sih, ada spoiler atau engga, ya.. saya tetep nonton filmnya. KARENA SAYA EMANG MAU NONTON.

Eiya, kalo komentar istri saya soal film Fast & Furious 6 ini begini: “Ya wajar aja jagoannya kalah berantemnya, ya cuma jago balapan doang tapi ga jago berantem kaya’ penjahatnya.”

NB: poster filmnya dari sini.

Kamu udah nonton Fast & Furious 6 belum?

Menyimpan di Banyak Kantong

“Simpanlah di banyak kantong, untuk berjaga-jaga.”

Pepatah di atas, seringkali diucapkan terkait dengan keuangan atau dana yang dimiliki. Pengertiannya secara sederhana adalah, untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada sebuah “kantong” dana, maka “kantong” lainnya tidak akan dipengaruhi. Pengertian lebih lanjut, juga bisa diartikan sebagai investasi, ataupun sebagai back up – sebagai cadangan. Pengertian pada praktiknya, menyimpan di banyak “kantong” adalah agar selalu siap untuk mengambil dana yang dimiliki, tanpa harus bergantung ke salah satu “kantong” saja.

Apapun pengertian yang kemudian dipahami, inti dari pepatah tersebut adalah untuk bersiap-siap atau menyiapkan cadangan atau back up apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Praktiknya di jaman teknologi yang terus berkembang dan juga dipenuhi dengan berbagai inovasi ini, menyimpan di banyak “kantong” tak hanya bisa diperuntukkan dana atau keuangan. Data, atau juga biasa dikenali sebagai file ataupun dokumen, juga bisa dan ada baiknya disimpan di berbagai “kantong”. Teknologi digital/jaringan sebagai salah satu media yang tersedia saat ini, memiliki peranan yang cukup penting dan bisa dijadikan pilihan utama sebagai “kantong” untuk menyimpan data – terutama kalo udah pada tau yang namanya cloud computing.

Engga, saya ga bakal bahas soal cloud computing, melainkan ngebahas soal saya yang pake “kantong” yang (mungkin) menggunakan teknologi itu.

Iya, saya pake “kantong” data yang menggunakan teknologi digital/jaringan itu. Buat apa? Buat simpen banyak hal, mulai dari foto-foto, video, dokumen kerjaan, dokumen non-kerjaan, dan masih banyak lagi. Kenapa saya pake? Karena ya sesuai pepatah di awal tadi, untuk berjaga-jaga. Just in case terjadi sesuatu sama “kantong” di komputer,  maka data yang saya simpen di “kantong” itu masih terjaga – sepanjang masih bisa diakses, dan mudah-mudahan terus bisa diakses. :mrgreen:

Oiya, ngomong-ngomong soal akses, salah satu kantong yang saya pake ini, bisa diakses dengan berbagai cara. Mulai dari aplikasi yang diinstal di komputer, akses via web (pake browser), sampai dengan akses dari aplikasi di ponsel (pintar). Seru juga, apalagi ada opsi awal buat pake gratisan sampe dapet storage sekitar 2GB, trus bisa ditambah dengan gratis pula – dengan pilihan-pilihan tertentu yang bisa diliat lebih lengkap di sini. Kalopun mau berbayar, paketnya juga ada kok. 🙂

Trus, saya pake paket yang mana? Yang pasti, saya mulai dengan paket yang gratisan, dan kemudian ditambah-tambah pake opsi gratisan juga, dan ternyata kebutuhan saya akan “kantong” data tersebut terus bertambah karena saya memang perlu untuk menyimpan beberapa data sebagai cadangan/back up dan mudah diakses dari mana aja, gimana aja caranya.

Kamu, udah perlu belum?

Anugerah

Ga ada kata yang bisa ngegantiin betapa kagumnya Papi akan kamu, Nak. Setiap tingkah laku, ucapan, dan semua respon darimu, adalah anugerah. SEMUANYA! Kehadiranmu, di setiap bagian dan setiap saat untuk Papi adalah anugerah.

Tangisan pertama, tatapan pertama, sentuhan tangan pertama, gendongan pertama, pelukan pertama, sampai dengan senyuman pertama, tawa pertama, kata pertama, jejak merangkak pertama, atau bahkan “obrolan” pertama adalah beberapa momen terbaik yang akan Papi usahakan agar selalu teringat. Bukan semata-mata karena urutan, melainkan karena kamu adalah anugerah.

Begitu banyak yang hendak Papi lakukan denganmu, bersamamu, untukmu, Nak. BANYAK! Tapi Papi juga tahu, bahwa kamu akan begitu cepat tumbuh dan berkembang. Betapa engkau akan menjadi dirimu sesuai yang engkau inginkan. Betapa engkau bukan Papi, melainkan dirimu, anugerah.

Satu hal yang sudah pasti, Papi akan selalu ada untukmu. Sebagai ayah, teman, guru, instruktur, hingga penyemangat. Jika kelak perjalananmu bagai sebuah pertandingan olahraga, maka Papi akan menjadi yang pertama kali berteriak lantang setiap kali engkau mencetak angka, memberikan nyanyian penyemangat sepanjang pertandingan, dan akan jadi yang terakhir pergi dari lapangan setelah pertandingan usai apapun hasilnya. Karena perjalananmu adalah anugerah.

Nak, selamat ulang tahun pertama, anugerah-ku.

Cissy
Cissy – the birthday girl. The photo taken January of 2013 on a studio at Depok.

“Diuntungkan” Fitur Scheduling Post di WordPress

Suka baca Short Story saya, ‘kan? Kalo engga, pokoknya harus baca deh. Nah, kalo yang ngeh, belakangan ini Short Story saya itu kebanyakan dan seringnya saya apdet di hari yang sama setiap minggunya, yaitu hari Senin. Jam apdetnya pun, saya lagi coba-coba buat disamain – meski kadang ada aja yang ga sama. Bukan, saya bukan mau ngomongin tren atau data analytics perilaku/kunjungan orang ke blog/website. Saya mau ngomongin gimana kok saya bisa ngapdet postingan di hari yang sama, setiap minggunya.

WordPress. Itulah CMS – Content Management System yang saya pake buat blog saya ini. Kenapa pake WordPress? Soalnya gratis – kalo udah pake hostingan sendiri. Soalnya gampang pakenya. Soalnya udah familier – blog saya yang lain juga pake WordPress. Soalnya gampang kalo mau “nempelin” themes – buat tampilan blog jadi lebih beragam. Soalnya gampang buat nambah-kurang plugin. Soalnya… dst. dll. dsb.

Iya, banyak banget alasan kenapa saya pake WordPress.

Trus, apa hubungannya saya pake WordPress dan apdet post di hari yang sama setiap minggunya? Nah, ada salah satu fitur/opsi di WordPress yang namanya scheduling post – penjadwalan terbit. Fitur ini bakal keliatan tiap kali kita lagi ngedit post, baik itu postingan baru atau postingan eksisting. Secara singkat, scheduling post ini ngebantu kita buat nerbitin/publish post di waktu yang kita mau – baik itu tanggal maupun jam.

ini penampakan fitur scheduling kalo lagi ngedit/bikin post baru
ini penampakan fitur scheduling kalo lagi ngedit/bikin post baru

Kalo lagi ngedit postingan baru (new post) ataupun postingan eksisting, saat scheduling post ini ditambahin untuk waktu yang akan datang, maka postingan kita bakal ke-save di daftar postingan dan akan terbit di waktu yang diminta. Lucunya adalah, scheduling post ga cuman bisa buat ngejadwal nerbitin/publish post di waktu yang akan datang, tapi juga di waktu yang lampau. Iya, bisa dijadwalin buat di tanggal atau jam yang udah lewat.

Nah, berkat fitur scheduling post inilah, saya pun “diuntungkan”. Soalnya, saya jadi lebih bisa keliatan tepat waktu nerbitin postingan. Ehehehe.. jadi postingannya ga dibuat serta-merta dan langsung publish atau publish-nya bergantung sama koneksi yang lancar, melainkan bisa kelarin postingan trus dijadwal di waktu yang kita pengen. :mrgreen: Ya, sederhananya adalah.. fitur penjadwalan terbit/publish postingan ini, bikin hidup saya jadi lebih “tentram”, karena saya ga dikejar-kejar deadline buat selalu terbit di hari yang sama – meski terkadang kalo ide lagi abis dan mandeg, ujung-ujungnya ya.. dikejar-kejar deadline juga. *eh*

Trus, kenapa kok jam terbit/publish-nya kadang beda-beda meski bisa disetel pake fitur scheduling post? Ah.. saya jawabnya di postingan lain kali aja ya. Karena kalo udah soal yang itu, selain faktor teknis berupa fitur, juga berupa pertimbangan saya pribadi. SOK SERIUS *halah*