Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia

Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,

“Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”

Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.

Bingung? Oke, lanjut ke bawah.

Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.

Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.

Lalu apa masalahnya?

Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”

Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.

Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.

Menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Bahasa Indonesia itu Kaya

Sebelum membaca lebih jauh blogpost saya, coba jawab pertanyaan berikut,

Sebelum di blog saya, kapan terakhir kali baca/ucapkan/dengar kata-kata seperti nan, alangkah, amboi, niscaya, elok, atau nian?

Bagi yang menjawab terakhir kali mendapati kata-kata tersebut dalam periode kurang dari sebulan terakhir, patutlah bersyukur. Bisa jadi, lingkungan sekelilingnya meliputi orang-orang yang bercakap-cakap dengan kekayaan bahasa Indonesia. Bagi yang lebih dari sebulan, tak perlu berkecil hati. Karena memang kata-kata tersebut kini sudah semakin jarang digunakan oleh generasi terkini.

Balik lagi ke judul dan juga topik postingan blog saya ini, sebenarnya dan selayaknya bahasa Indonesia itu kaya. Banyak sekali unsur bahasa dan kata-kata yang diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi sekarang dalam bentuk yang unik sekaligus mencerminkan ke-Indonesia-an. Kenapa? Karena hampir takkan ditemukan di bahasa lainnya. Contohnya? Ya.. seperti yang saya tulis di pertanyaan di awal-awal tadi.

Penjelasan singkatnya mudah saja seperti berikut,

Amboi dan nian, adalah sebagian kata yang bisa digunakan untuk dalam ungkapan pujian, terlepas dari maksud buruk atau baik. Coba bandingkan dengan kata-kata generasi sekarang yang mungkin lebih mengenal “Wow!” dan atau “banget, atau the most”.

Lalu, kalau bahasa Indonesia itu kaya, kenapa? Apa kita perlu menggunakan kata-kata tersebut di keseharian kita? Jawabnya ya, dan tidak. Ya, sesekali perlu kita gunakan. Agar kita tidak lupa terhadap akar budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Tidak, karena tak semua orang mengetahui arti dari kata-kata tersebut – meski mungkin dulu saat sekolah dasar, pernah belajar mengenai kata-kata tersebut, tapi kemudian lupa karena tergerus kata-kata yang lebih modern dalam pergaulan.

Adakah pihak yang pantas atau patut disalahkan? Buat saya pribadi, tidak ada. Karena saya juga sulit untuk tetap menggunakan bahasa tersebut. Lebih mudah rasanya menggunakan kata-kata yang lebih updated, sleng, dan mungkin aktual dibandingkan kata-kata terkini atau terbaru. à Mengerti maksud saya?

Oiya, seiring penghabisan postingan ini, ada sesuatu hal yang pantas diketahui oleh orang banyak. Yakni kekayaan bahasa Indonesia itu bisa dinikmati dengan membaca cerpen-cerpen angkatan 66, 45, atau bahkan angkatan yang lebih awal seperti balai pustaka atau pujangga baru. Penggunaan diksi di tulisan mereka begitu benar-benar membuat kita perlu membacanya berulang-ulang, sekaligus juga terngiang-ngiang akan isi ceritanya. Yah, setidaknya saya begitu. ^^v

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.