Short Story #362: Kode

“Fiuh…” Utari menghela napas seraya kemudian menutup laptopnya. Ia terlihat bersiap untuk beranjak dari perpustakaan setelah riset.

“Udah selesai?” Hans di sebelahnya bertanya.

“Hampir.” Utari menjawab. “Nanti malam gue lanjutin lagi. Lo?”

“Gue kaya’nya mau submit seadanya aja ini, tapi besok pagi.” Hans memberitahu. “Ntar malem mau coba eksperimen kecil dulu buat pengesahan yang ditulis.”

“Well, good luck then.” Utari menepuk pundak Hans, rekan sejawatnya. “By the way, kalo misal udah ga bakal dilanjutin lagi, gimana kalo kita cabs aja dari sini?”

“Trus ke mana? Masa’ mau ke RS?” Hans bertanya. “Cukup sudah lima hari dalam seminggu ada di sana.”

“Ya… kita hangout lah. Like the old times.” Utari mengajak. Ia tahu Hans sulit untuk menolak tawaran tersebut, seperti yang telah ia tahu sejak tahun pertama kuliah.

“Hmm…” Hans bergumam. Berpikir.

Utari tertawa kecil – karena memang tidak boleh terlalu berisik di perpustakaan meski boleh mengobrol.

“Apa yang lucu?”

“Kamu. Dari dulu ga berubah, sok-sok mikir dulu padahal emang mau.”

Hans agak cemberut, tapi sekaligus menyadari jika sepertinya ia dan Utari memang saling mengenal. Bahkan, terlalu saling mengenal.

“Oke.” Hans menjawab yang langsung direspon dengan senyum Utari. “Tapi…”

“Apa?”

“Kamu pernah bilang kalo kamu jago soal kode, ‘kan? Morse, dan lain-lain itu..”

“Trus?”

“Sini, coba pegang dada gue, tepat di jantungnya.”

“Kalo ini termasuk eksperimen lo itu…”

“Udah deh, pegang dulu!” Hans sedikit galak yang langsung membuat Utari menempelkan sebelah tangannya ke dada Hans.

“Oke. Berdetak nih. Trus apa hubungannya?” Utari penasaran.

“Oh, kirain kamu nangkep detaknya bilang ‘I love you’.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *