Short Story #359: Bukan Sensitif

“Eh, kamu ada di rumah.” Fika menyapa Reni, teman seapartemennya saat ia membuka pintu dan keluar kamar.

“Well, I lived here.” Reni menjawab sambil terus menyantap semangkuk es krim di atas sofa ruang tengah. “Kamu yang ke mana aja, kok baru keliatan?”

“Di kamar.” Fika menjawab singkat dari atas meja dapur kecil. Menyiapkan makanan.

“Hampir kukira kamu minggat.”

Fika mendengus merespon ucapan Reni.

“Habis kamarmu selalu ketutup sih.” Reni melanjutkan.

“Bukannya kamarmu juga begitu?”

“Iya, tapi setidaknya aku keliatan juga di luar kamar.” Reni menjawab. “Kamu, ada apa kok tumben-tumbenan semingguan ini di kamar terus?”

“Yah.. gitu deh.” Fika enggan menjawab. Ia lalu mengeluarkan sepiring makanan siap saji dari microwave kecil dan mengambil segelas minum lalu kembali beranjak ke kamarnya.

“You know you can talk to me.” Reni memberitahu.

Fika menghentikan langkahnya sambil menoleh. “Iya, makasih. Tapi saat ini ga ada yang perlu aku ceritain.”

“Termasuk soal Anton?”

Fika belum lanjut masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali menoleh ke Reni.

“Kamu punya banyak mata-mata atau emang sensitif sih?”

“Mata-mata jelas bukan. Dan aku juga bukan orang yang sensitif.” Reni memberitahu. “Let say, I just know where & when to look at.”

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


5 − = zero