Short Story #358: Terbiasa

TOK! TOK! TOK! Pintu apartemen Agnes setengah digedor. Dengan mata yang masih perih karena kantuk serta kepala yang pening karena belum sadar sepenuhnya, Agnes berjalan enggan dari kamarnya ke depan.

Agnes melihat sejenak melalui lubang intip di pintunya untuk melihat siapa yang membangunkannya sepagi itu. Lalu, ketika ia sudah tahu, langsung ia buka pintunya cepat-cepat.

“Sepagi ini?” Agnes bertanya.

“Aku boleh masuk dulu, ga?” Ryan balik bertanya. Bajunya lusuh, sepertinya belum pulang dari semalam. Matanya sedikit merah, tapi mungkin itu hanya ilusi yang terlihat oleh Agnes.

Agnes mundur sedikit memberikan sedikit ruang di antara pintunya yang tak terbuka sepenuhnya. Secukupnya agar Ryan bisa lewat dan masuk.

Klik. Agnes menutup pintu dan menguncinya.

“Aku masih ngantuk dan mau tidur lagi, ya. So suit yourself. Udah tau kan ada apa di mana?” Agnes memberitahu tanpa mengharapkan jawaban sambil melangkah ke kamarnya, tapi…

“Ini terakhir kalinya aku ke sini.”

Langkah Agnes terhenti, lalu ia membalikkan badannya.

“Kamu mutusin aku?” Agnes bertanya.

“Nope. Kamu sendiri yang bilang kalo kita ga ada hubungan apa-apa.” Ryan menjawab. “We’re just living a mutual state, katamu dulu.”

Kerongkongan Agnes terasa kering. Ia tak menyangka jika Ryan mengingat ucapan itu. Ia sendiri sudah lupa jika Ryan tidak mengingatkannya.

Agnes lalu mendengus. Ia berjalan ke arah dapur kecil dekat pintu di seberang Ryan yang berada di ruang tamu. Sebuah minuman beralkohol ia ambil dari kulkas, lalu menuangkannya ke gelas. Tak lama sebelum isi gelas itu berpindah ke dalam sistem pencernaannya.

“Dia hamil?”

“Engga. Belum.”

“Trus?” Agnes penasaran.

“Aku yang ambil keputusan.”

Agnes mendengus lagi. Segelas minuman beralkohol kembali berpindah ke dalam tubuhnya.

“I can hear her words on your voice.” Agnes berkomentar.

Ryan tak menjawab. Ia hanya berdiri diam dan melihat ke arah Agnes.

“Terima kasih untuk selama ini, kuharap kamu selalu sehat dan lebih bahagia.” Ryan pamit.

“Aku penasaran…” Agnes berkata sesaat sebelum Ryan membuka pintu. “Apa sih yang bikin kamu bertahan dengannya? Aku yakin itu bukan perasaan cinta atau kenikmatan fisik, karena aku tahu kau mendapatkannya denganku.”

Ryan diam sejenak sebelum menjawab. Ia bimbang antara menjawab atau tidak. Perlahan, ia memegang kenop pintu apartemen, lalu membukanya.

“Aku… sudah terbiasa akan kehadirannya.” Ryan memberitahu sambil kemudian melangkah keluar dan menutup pintu.

Dari balik pintu, Ryan dapat mendengar jeritan Agnes yang perlahan menghilang sejalan langkahnya menjauh.

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

2 Comments

  1. Tumben obrolannya rada panjang, jd pnasaran spin off cerita ini

  2. om @warm: pas bikin lagi niat kayanya, makanya obrolannya rada panjang.
    anyway, makasih untuk reminder-nya mengenai “spin off”, tapi ga ada rencana untuk itu. at least, dalam waktu dekat. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ five = 6