Short Story #357: Di Sana Selama Ini

“Di mana lagi yang harus aku tanda tangani? Sudah semua, ‘kan?” Indra bertanya sambil melihat ke arah arlojinya. Ia terlihat antara sebal karena lelah atau ada acara lain. Tapi satu hal yang pasti, ia ingin agar semua ini lekas tuntas.

“Sebentar.” Pramita membereskan dokumen-dokumen yang baru selesai Indra tandatangani ke dalam sebuah map, lalu menyiapkan map lain dan mengeluarkan isinya ke meja depan Indra.

“Ini dokumen apa?”

“Masih soal harta, tapi lebih ke soal statement kalo ga bakal ada tuntutan di masa yang akan datang.”

“Lho, kupikir udah tercantum juga dengan yang tadi? Soal pemisahan dan klaim harta yang dimiliki?”

“Aku juga berpikir gitu awalnya. Tapi kata pengacaraku ini baiknya ada juga.” Pramita memberitahu.

“Berarti ini baru? Kalo gitu minta pengacaramu untuk kirim dulu ke pengacaraku untuk ditinjau.” Indra memerintah.

“Kamu ga bisa tanda tangan aja? Biar cepet selesai. Kamu sendiri yang bilang pengen semua cepet selesai, ‘kan?”

“Tapi bukan berarti ada dokumen yang ga perlu di-review.”

“Kamu dan segala peraturanmu.” Pramita menggerutu sambil kemudian menarik lagi dokumen tadi ke dalam map, lalu memeriksa kembali semua dokumen sebelumnya.

“Mungkin ga sempurna, tapi peraturan bikin hidup lebih tertib.”

“Dan selama ini berarti aku harus ditertibkan selayaknya penyakit masyarakat.” Pramita berkomentar. “Aku bersyukur akhirnya aku berani mengambil langkah ini.”

“Yang kulakukan adalah untuk kebaikan kita.”

“Kita atau kamu?” Pramita langsung bereaksi.

Indra membuang muka. Kesal. Ia tak menduga jika ia bisa sesebal itu pada perempuan yang pernah dicintainya.

Pramita lalu berdiri. Siap pergi setelah memastikan semua dokumen yang ia perlukan sudah selesai ditandatangani Indra. Tapi…

“Aku selalu kagum dengan kemampuanmu untuk recover dan rebound.” Indra berkomentar tanpa melihat ke arah Pramita.

“Ini mungkin terakhir kali kita ketemu dan kamu malah ngomongin kemampuanku dalam olahraga?” Pramita mulai sebal.

“I’m talking about you.” Indra menjawab sambil akhirnya menoleh dan melihat Pramita, mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Kamu selalu bisa move on, dengan cepat. Sama seperti sekarang ini.”

“Are you jealous with my life?”

Indra kembali membuang muka. Sedikit banyak, ia menyesal sudah mengucapkan kalimat tadi.

“Seharusnya kamu tahu, seperti yang selalu kamu bilang, jodoh hanya Tuhan yang tahu.” Pramita berkomentar.

“Oh ya? Karena dalam pemahamanku, jika secepat itu kamu mendapatkan yang lain, jangan-jangan dia memang sudah ada di sana selama ini.”

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


seven + = 10