Short Story #354: Partner

Dewi menutup pintu setelah mempersilakan seorang pria pamit dan keluar dari apartemennya. Ia lalu berbalik ke arah Devi, adiknya yang belum mengubah posisi duduknya di kursi sofa ruang depan.

“Gimana? Oke?” Dewi lalu duduk di kursi sebelah Devi.

“Sejauh ini, ceklisnya yang paling banyak.” Devi menjawab kalem.

“Sejauh ini?!” Dewi setengah berteriak. “Dia cowok kelima belas yang udah dateng sejak pertama kali kamu bilang butuh referensi! Aku bahkan dapet referensinya dari temen kuliahku yang udah lama ga ketemu.”

Devi menatap kakaknya yang dinilainya sedikit berlebihan.

“Trus?”

“Mau sampe kapan jadi pemilih begini?”

Devi mengubah posisi duduknya.

“Aku ga pemilih, aku cuma punya daftar ceklis buat masing-masing dari mereka.”

“Tapi bukan berarti ga cocok semua kan?”

“Gimana mau cocok kalo ceklisnya ga penuh?”

“Maksudku, bukan berarti semuanya cuma sampe tahapan perkenalan ini aja kan?”

Devi berpikir sejenak.

“Aku ga tau.” Devi menjawab singkat.

“Kamu tuh kaya’ rekrutmen karyawan aja. Pake seleksi ketat.” Dewi berkomentar.

“Ya harus.” Devi menjawab cepat, tanpa diduga oleh Dewi.

“Kenapa?”

“Rekrutmen karyawan yang maksimal kerjanya buat belasan tahun aja harus pake seleksi ketat, apalagi ini yang buat jadi partner seumur hidup?” jawab Devi.

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


six − = 4