Short Story #353: Kekal

Beberapa bunga terkumpul dalam genggaman Rasyid. Dalam perahu yang bergoyang terkena ombak, ia melepas bunga tersebut ke hamparan laut. Lalu menatapnya sampai hilang dibawa arus.

Perlahan, perahu kayu sewaan mulai kembali ke pesisir dari tengah laut.

“Do you know what makes it beautiful?” Rasyid bertanya pada Dara yang duduk di dekatnya, tapi tanpa mengalihkan pandangannya dari garis horizon.

“Laut?”

“Bukan, bunga yang tadi kuhamparkan.”

“Setiap bunga bukannya cantik?” Dara menebak.

Rasyid menoleh, menatap Dara yang sedikit memicingkan matanya karena silau akan langit biru.

“Karena dia tidak kekal.” Rasyid memberitahu.

“I thought eternity makes everything better?” Dara menebak.

“Coba, menurutmu mana hal yang lebih berharga: berada di tempat terbaik saat kau tahu besok segalanya akan berakhir, atau berada di posisi yang sama selamanya?”

Sambil membenarkan rambutnya yang tersibak angin laut, Dara diam sejenak. Berpikir.

“Aku… aku kira yang pertama.” Dara menebak, lagi.

“Tepat.” Rasyid membenarkan.

“Tapi bukankah keabadian memberimu banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan segalanya?” Dara penasaran.

“Yang kamu tidak tahu, keabadian juga memberimu waktu dan kesempatan untuk kehilangan segalanya.”

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

2 Comments

  1. keabadian itu menjadi percuma apabila sendirian

  2. nah, bener ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 1 = seven