Short Story #352: Harm

“Secantik apa sih dia?” Ratih bertanya memecah sunyi perjalanan.

“Siapa?” Panji yang tengah fokus menyetir bertanya balik.

“Dia, yang terakhir sebelom kamu ketemu aku.” Ratih memberitahu.

Panji diam sejenak. Tangannya pura-pura membenarkan posisi kacamata hitamnya.

“Ya.. cantik begitulah. Sama seperti perempuan lainnya.”

“Tapi beda denganku, ‘kan?”

Panji menoleh sejenak. Lalu tersenyum. “Jelas beda, lah.”

“Kenapa?”

Panji diam lagi. Berpikir.

Ratih lalu menoleh ke jalanan di depan kendaraan mereka. Juga asyik dengan pikirannya sendiri.

“Aku kan udah ga secantik dulu.”

“Buatku kamu selalu cantik.”

“Ah, kamu ngomong gitu paling juga karena aku istri kamu, ‘kan.”

“Lho, justru karena kamu istriku. Jadi buatku kamu pasti cantik.” Panji memberitahu. “Kamu selalu cantik.”

“Ah, gombal.”

Panji tahu jika istrinya gundah sejak beberapa hari yang lalu. Sejak sebuah surat undangan tiba di rumah mereka. Undangan tentang seseorang yang pernah hadir di kehidupan Panji.

“You’d be better to stop any thoughts like this. Thoughts about her.”

“Trus kenapa kita sekarang ke undangan itu?” Ratih bertanya. “Emang ga bisa ngedoain yang terbaik aja dari rumah?”

“It’s about paying my respect. About maintaining relationship.” Panji memberitahu.

Ratih kembali merajuk sementara Panji memarkirkan mobilnya di belakang barisan kendaraan lainnya.

“Sudahlah…” Panji coba menghibur. “What harm can ghosts do to us?”

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

1 Comment

  1. Selalu saja, endingnya bikin pnasaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


4 + = nine