Short Story #351: Kesempatan

Diego melihat selembar kertas di tangannya untuk kesekian kalinya. Informasi yang tertera di sana masih sama. Bahwa ia terpilih menjadi salah satu kandidat penerima beasiswa studi di Eropa. Tapi, ia bimbang.

“We’ll be just fine.” Santi memberitahu. Menguatkan.

“Yang kamu maksud kita, apakah hubungan di antara kita berdua atau masing-masing kita dengan mereka?” Diego bertanya sambil melihat kedua anak kecil bermain di taman kecil di depan mereka.

“All of us.”

Diego tak menjawab. Ia tahu jika Santi benar. Ia tahu jika Santi kuat. Tapi apakah ia sendiri kuat?

“After all these years, you’re still here.” Diego berkata.

“I’m here not just for you..” Santi memberitahu. “Also for me. For them. For us.”

“Tapi…”

“Kita pernah ngalamin yang lebih buruk.” Santi memberitahu. Kali ini dengan menggenggam tangan Diego. “Kamu tahu persis itu.”

Sejenak ingatan Diego melayang ke beberapa tahun silam. Saat ia sudah hampir menyerah. Saat Santi sudah hampir menyerah.

“Ketahuilah, ketika sebuah kesempatan menghampirimu, mungkin karena orang lain mengabaikannya.” Santi memberitahu.

“…atau menyia-nyiakannya.” Diego menambahkan. “Dan, aku ga akan mau menyia-nyiakan kesempatanku denganmu. Dengan kalian.”

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 − two =