Short Story #348: Stick Back

“Kalo aku bisa milih, aku juga ga bakal mau pergi.” Julia memberitahu.

“Maksudmu, kamu ga punya pilihan?” Indra menanyakan hal yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu.

“Kamu yakin mau ngulangin ini lagi?” Julia balik bertanya.

“Ya karena kamu ngomong gitu, aku jadi pengen inget lagi.” Indra memberitahu. “Karena sebenarnya, aku sudah lupa.”

“Termasuk melupakanku?”

Indra diam sejenak sebelum menjawab. Ia melihat cantiknya paras Julia yang seakan tak lekang oleh waktu.

“Iya.”

Julia langsung menarik napas. Ia tak menduga Indra akan bilang begitu. Setidaknya, tidak ia duga saat ia memutuskan untuk mendatangi kedai kopi yang dimilliki oleh Indra itu.

“Harusnya aku ga usah datang ke sini.” Julia mulai membereskan barang-barangnya. “Aku bodoh sekali karena mikir masih ada yang harus diselesaikan di antara kita.”

“Memang ada kok yang belum selesai.” Indra langsung menjawab.

Julia langsung berhenti. Ia kembali melihat ke arah Indra. “Sungguh?”

“Iya, tapi mungkin ga seperti yang kamu harapkan.”

Julia bimbang. Ia ingin mendengar apa yang Indra maksudkan, tapi ia takut ia tidak siap. Ia takut, apa yang Indra utarakan tak seperti harapannya.

“Kamu mau dengar?”

“Mungkin sebaiknya tidak.” Julia berkata sambil meretsleting tasnya. “Kali ini kuanggap semua di antara kita sudah selesai. We’re done.”

Julia lalu berdiri, dan ketika berjalan melewati kursi Indra, ia tertahan. Pergelangan tangan kanannya ditahan oleh Indra yang sedang menatapnya.

“Aku mohon maaf kalo ternyata kamu justru patah hati.” Indra memberitahu. “But one thing for sure, one day, someone is going to hug you so tight, that all of your broken pieces will stick back together.”

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


four × 7 =