Short Story #346: Bikin Happy

“Udahan ya nangisnya.” Harsa membujuk Lindri yang masih sesenggukan. “Nanti berkurang cantiknya.”

“Jadi jelek, gitu?” Lindri menjawab sambil masih sesenggukan.

“Ya engga. Berkurang aja cantiknya daripada biasanya.” Harsa langsung merespon.

“Kalo mau bilang aku jelek, ya¬†jujur aja deh. Ga usah sok-sok ngehibur segala.” Lindri membentak.

Harsa sejenak kaget, tapi kemudian justru terkekeh.

“Yaudah, terserah kamu deh mau nangis sampe kapan. Yang pasti kalo nangis terus, bakal capek lho. Mending tenaganya dipake buat yang lain. Yang lebih berguna. Yang lebih pasti. Yang lebih baik.”

“Seperti?”

“Ya.. hal-hal yang bikin kamu happy, misalnya.”

“Iya, seperti apa?” Lindri mulai tertarik, tapi tissue masih di tangannya untuk sesekali menyeka¬†linangan air matanya.

“Jalan-jalan? Belanja? Makan?”

“Kamu tuh ya, garingnya ga abis-abis.” Lindri menjawab. “Jelas-jelas aku ga suka itu semua, gimana bisa happy?”

“Ehehe.. kamu kaya’ baru kenal aku aja. Emang gini bukan?” Harsa membela diri.

Lindri sebal dan hendak memukul lengan Harsa, tapi belum sempat terjadi Harsa sudah bersiap dan menghindar.

“Katanya pengen aku happy, masa’ aku mau mukul karena sebel kamu justru menghindar?”

Harsa tak menjawab. Kemudian pasrah lengan kirinya ditonjok beberapa kali oleh Lindri.

“Udah?” Harsa bertanya sambil jaga image, meski dalam dada ia menahan sakit.

“Udah.” Lindri memberitahu. “Makasih, ya.”

“Anytime..”

“Mukulnya?”

“Lho, bantu bikin happy-nya!” Harsa langsung mengoreksi.

“Ya kirain…”

 

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


9 + eight =