Short Story #345: Sedikit Cerita

“Bener ‘kan yang gue bilang kemaren.” Sarah berkomentar sambil menyimpan tasnya di atas meja kubikelnya.

Jane dan Jeremy yang menjadi teman dekat kubikelnya, serempak menoleh.

“Yang mana?” Jeremy bertanya.

“Itu lho, yang kemaren sore.” Sarah menjawab. “Pagi ini gue liat sendiri tuh ternyata si anak baru itu emang udah tekdung!”

“Lo liat di mana, nek?” Jane antusias.

“Gue tadi sampe langsung ke rest room cewek kan, trus si anak baru itu keliatannya lagi cuci muka. Gue perhatiin, mukanya pucet. Kaya’ abis muntah-muntah gitu.” Sarah memberitahu sambil duduk dan mendekati Jane.

“Ah, lo tau dari mana kalo abis muntah-muntah pasti mukanya pucet?” Jeremy bertanya. “Lagipula, emang udah pasti kalo muntah-muntah itu pasti karena tekdung?”

Sarah dan Jane melihat Jeremy dengan tatapan sinis.

“Lah, gue beneran nanya ini..” Jeremy berkilah.

“Selepas dia keluar, gue ga sengaja nih ngeliat testpack stripnya dua di tempat sampah.” Sarah memperlihatkan testpack sudah dipakai dalam kertas plastik bening.

“Buset, lo sampe segitunya…” Jane berkomentar.

“Emang udah pasti punya dia? Kali-kali aja punya orang lain yang emang belom dibersiin dari semalem sama CS.” Jeremy menyambung.

“Udah deh, Jem. Diem aja deh lo. Ga asik!” Sarah sebal.

“Lah, yang ga asik kaya’nya elo sih, Sar.” Jeremy membalas.

“Kenapa jadi Sarah yang ga asik?” Jane tambah bertanya. Ia semula setuju dengan Sarah bahwa Jeremy “ga asik”.

“Gini ya nek,” Jeremy ambil posisi, “Lo mendingan jangan langsung nuduh begini-begitu, dosa tau ngegosipin orang itu. Bisa jadi fitnah malah. Apalagi lo cuma tau sedikit cerita dari yang lo liat aja kan, atau didenger dari orang lain dan bukan dari subjeknya langsung. Kalo ga tau cerita lengkapnya tuh bisa bikin misleading, kaya’ gini ini nih. Lagipula kalopun dia tekdung, ya bukan urusan lo juga. Bisa jadi dia di luar emang udah merit atau dia punya pertimbangan sendiri kenapa begitu.”

“Tapi ‘kan-” Sarah tak meneruskan kalimatnya karena Jeremy menunjukkan tanda STOP dengan tangannya.

“Kalo ini diterusin, gue mau request ah sama pabos buat pindah kubikel. Mendingan gue dibilang ga asik sama orang ga asik beneran karena ngegosipin orang. Dari gosip, ujung-ujungnya nuduh, atau malah fitnah. Gue ga mau jadi bagian dari itu.”

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − one =