Short Story #344: Hit

“Hei…” Hakim akhirnya menghampiri seorang pria yang berdiri di tepi jembatan, setelah beberapa menit ia hanya dia memperhatikan.

Pria tersebut hanya menatap ke bawah. Berpura-pura tak mendengarkan.

“Saya tau kamu bisa denger saya. Jadi jangan pura-pura.”

“None of these are your business.” pria tersebut menjawab. “Pergi aja sana..”

“Mungkin bukan urusan saya, tapi sebelum gimana-gimana, boleh ga saya tau kenapa kamu di situ, begitu?” Hakim coba menawar. “Nama saya Hakim.”

“Halo Hakim. Saya di sini karena ini keputusan yang saya ambil.” pria itu memberitahu.

“Okay.. tapi kenapa di sini? Kenapa sekarang?” Hakim coba mengulur lagi.

Beberapa pengguna jalan perlahan mulai melambatkan kendaraan untuk melihat yang Hakim sedang lakukan, juga para pejalan kaki lain yang berada di sisi lain jembatan pun mulai memperhatikan. Tidak seperti beberapa menit yang lalu, ketika hanya Hakim yang menyadari.

“Karena saya udah ga tau harus gimana lagi.” suara itu bergetar. Matanya masih menatap ke bawah, bukan ke arah Hakim yang makin mendekatinya.

“Pasti masih ada pilihan lainnya. Pasti.” Hakim memberitahu.

“GA ADA!” pria itu berteriak lalu menoleh. Ia sedikit terkejut ketika melihat ternyata Hakim sudah cukup dekat. “Don’t get any closer!”

“OK, I won’t.” Hakim memberitahu. “Tapi boleh saya kasitau sesuatu?”

“Apalagi? Emangnya kamu siapa, kok mikir bisa pengaruhin keputusan yang udah saya buat?”

Hakim menarik kedua lengan jaketnya sampai siku, lalu mengulurkannya ke arah pria itu. Beberapa garis bekas luka terlihat di kedua bagian bawah lengannya.

“I was just like you.” Hakim memberitahu.

Pria itu melihat ke lengan bawah Hakim.

“Tapi ga semua orang sama.”

“Saya tau.” Hakim memberitahu. “Dan karena ga sama itulah, mungkin sebenarnya pilihan yang kamu hadapi lebih banyak daripada yang saya punya.”

Pria itu diam. Pandangannya bergantian antara ke sungai di bawah jembatan dan juga Hakim.

“Tapi…” pria itu diam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca. “It’s just too hard.. terlalu susah untuk ngelakuin sesuatu untuk ngadepin ini semua.”

“Hey.. I’m not talking about how hard you should do something when life hits you. It’s about how you take the hit.” Hakim memberitahu. “It doesn’t matter about how you knocked on something, it’s a matter about how can you rise every single time you’ve knocked down. Down to your knees.”

Pria itu tak menjawab. Pandangannya kembali fokus ke sungai. Angin menderu, menulikan telinganya dari panggilan Hakim berikutnya. Di saat ia sudah merasa tak ada gunanya lagi ia berdiri di situ, di saat itulah ia memutuskan tangannya untuk melepaskan pegangan ke jembatan.

Dan, Hakim berada di saat yang tepat untuk menangkap tangan pria itu.

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


1 + = ten