Short Story #337: Ada Waktu

Malam itu sudah 2 kali Christine mencoba menelepon Siti, teman dekatnya sejak SMA lalu. Tapi, 2 kali itu juga hanya terdengar nada sambung berakhir dengan sambungan putus. Bukan, bukan ditutup atau di-reject, tetapi pemberitahuan bahwa si penerima tak juga mengangkat.

Christine khawatir. Ia merasa bersalah karena seharian itu Siti sampai 5 kali meneleponnya, tapi tak sekalipun bisa ia angkat berlama-lama. Sekalinya ia angkat dan bicara, ia hanya bisa memberitahukan bahwa ia sedang sibuk. Pun juga dengan pesan yang ia kirim bahwa ia sibuk, tanpa ada balasan dari Siti.

Ketika akhirnya ia memutuskan untuk membelokkan perjalanan pulangnya justru ke arah rumah Siti, teleponnya berbunyi. Siti meneleponnya.

“Hei..” Christine langsung menyapa.

“Hai. Udah ga sibuk?” Siti bertanya. Christine merasa bersalah sekaligus tidak enak karena Siti menanyakan kesibukannya itu.

“Udah engga. Aku otw ke rumah kamu.” Christine memberitahu.

“Oh ya? Ga usah aja ya. Aku udah gapapa.” Siti memberitahu.

Merasa ada yang janggal, Christine lalu menepikan kendaraannya di sebuah slot parkir pinggir jalan.

“Gapapa, aku udah setengah jalan.”

“Ke rumahmu juga udah setengah jalan lagi kalo gitu, kan.”

Christine diam. Tak biasanya Siti menolaknya. Mungkin ia sakit hati. Mungkin ia sebal. Tapi…

“Aku minta maaf kalo kamu tersinggung karena aku ga sempet angkat telepon tadi. Ada apa sih sebenernya?”

“Ga ada apa-apa. Aku cuma pengen ngobrol aja. Bentar. Buat ngalihin beberapa hal di pikiranku.”

“Nanti juga kamu bisa ngobrol sama aku begitu aku sampe.” Christine memberitahu. “Atau bisa sekarang. Aku udah nepi dulu.”

“Ga usah. Makasih.” Siti memberitahu. “Aku udah berhasil ga mikirin lagi hal-hal yang tadinya mau aku obrolin sama kamu, kok.”

Christine tak menjawab. Diam. Ia benar-benar merasa bersalah. Tapi…

“I’m okay. I’m not going to end my life.” Siti memberitahu. Seakan bisa membaca pikiran Christine. “Well at least, not tonight.”

“Kenapa kamu mikir gitu?”

“Biar kamu tau aja, aku ga se-desperate itu. Meski kadang aku juga perlu orang buat dengerin aku di saat yang aku mau.”

Christine hendak menjawab bahwa “orang” yang dimaksud Siti adalah dirinya, tapi ia langsung mengenyahkan pikiran itu karena ia sadar hari ini ia sudah membuktikan ia tidak bisa menjadi orang itu.

“I’m sorry.”

“Stop it. Aku ga nyalahin kamu.” Siti memberitahu.

“Tapi aku merasa bersalah..”

Lalu hening. Siti tak merespon sementara Christine seakan kehabisan kalimat.

“Gini aja deh, pastiin lain kali kamu ada waktu, ya.” Siti memberitahu.

“Aku ga bisa janji.”

 

“Oke. Gapapa. Sama halnya aku juga ga bisa janji lain kali aku bakal nyari kamu buat ngobrolin hal-hal seperti ini.”

“Kenapa gitu?” Christine sedikit tersinggung meski ia tahu bahwa itu adil.

“Karena esensi terpenting dari mendengarkan adalah menyediakan waktu untuk mendengarkan.” Siti memberitahu. “Karena kadang yang diperlukan hanyalah didengarkan, bukan direspon, apalagi ditemani. Dan, mendengarkan itu harus segera. Ga bisa nanti-nanti.”

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − = four