Short Story #335: Teman Adalah..

“Just in time.” Arum berkomentar setelah berjalan agak cepat dari pelataran bandara ke kursi duduk di luar meja check-in. Wita, teman kecilnya yang sudah sedari tadi di bandara, lalu berdiri dan memeluknya.

“Good to see you.”

“Aku lebih seneng lagi.” Arum memberitahu. Lalu ia celingak-celinguk melihat sekitar Wita yang hanya ada koper dan tas. Tentunya, selain calon penumpang lain. “Om dan tante ke mana? Ga ikut?”

“Mereka udah pulang.” Wita memberitahu. Sambil kemudian merogoh-rogoh tasnya, mencari sesuatu.

“Yah, kirain masih ada. Aku juga udah lama ga ketemu mereka.”

“Ini.” Wita memberikan sesuatu dengan bungkusan kado. Mengabaikan komentar Arum.

“Buka sekarang?”

“Iya, buka sekarang boleh.”

Dalam beberapa tarikan saja, bungkus sudah terbuka. Isinya sebuah figura logam dengan foto 2 orang perempuan muda. Arum dan Wita, belasan tahun yang lalu.

“Udah ada teknologi watsap dan fesbuk, masih aja cetak foto.”

“Biar lebih berkesan. Lagipula, biar langsung kamu pajang di mana gitu di kamarmu itu.”

Arum tertawa. Juga Wita.

“Udah check-in?”

“Udah.” Wita menjawab. “Keep contact, ya.”

“Hei, biasanya yang mau ditinggal keluar negeri yang bilang gitu.”

“Aku tau. Makanya aku bilang duluan, biar ga biasa.”

“Btw, kamu ga sengaja nyuruh om dan tante pulang duluan kan?” Arum penasaran.

“Ah, kamu tau sendiri bukan? Bagi mereka, waktu itu uang. Jadi, kalo secara seremonial udah kelar, ya udah. Yang penting esensinya dapet.” Wita menjelaskan.

“Iya sih.. tapi kan…”

“Udah lah. Aku yang jadi anaknya mereka biasa aja. Why do you have to be worried?”

“Ya aku penasaran aja.” Arum mengulang.

“Ah kamu, kaya’  kita baru kenal aja.”

“Anyway, makasih ya fotonya. Aku ga sempet mikir buat ngasih apapun buat kamu.”

“Gapapa.. Kamu dateng aja, aku udah seneng.” Wita memberitahu. “Mudah-mudahan aku ga kehilangan kamu banget pas udah sampe sana.”

“Hei.. lagi-lagi ya.. itu kan harusnya diucapin orang yang mau ditinggal pergi.” Arum menegur sambil kemudian tertawa.

“Aku tau..” Wita menjawab. “Tapi aku beneran lho..”

“Emang ga bakal kehilangan keluarga kamu?”

“Itu kan udah pasti, tapi biasanya kehilangan teman ya lebih nyesek.”

“Kenapa?”

“Karena teman adalah keluarga yang kita pilih. Dan, setauku pilihan itu sudah tepat sejak kita sekolah dulu.”

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 + = fourteen