Short Story #334: Apa Masalahnya?

“Jadi maumu apa, sih?” Lena menjerit putus asa setelah terus-menerus adu argumen dengan Tristan. Bukan hari ini saja, tapi sudah sejak berhari-hari yang lalu. Tentu, dengan jeda yang tak bisa dijelaskan di antara keduanya.

“Kamu udah tau apa mauku.” Tristan menjawab singkat.

“Kalo aku bilang ga bisa?!”

“Kamu harus kasitau aku kenapa ga bisa?”

“UDAAAAHHH…” Lena berteriak. Frustasi. Ia menarik rambutnya sendiri sambil berjalan di koridor menuju ruang depan dari kamarnya. Ia lalu melemparkan dirinya ke sofa panjang.

Tristan menyusul tanpa suara. Lalu duduk di kursi di depan sofa. Menunggu.

“Could you please just go away?”

“Aku udah janji ga bakal ninggalin kamu, ga bakal biarin kamu sendiri, trus kamu aku ingkar sama janji aku sendiri?”

“UUURRRGGHH…” Lena sebal. Kesal. Ia lalu menarik bantal, lalu menutup mukanya. Perlahan, tanpa bisa ia tahan, air mata mengalir dari sudut matanya.

Sesenggukan, Lena merasa dadanya sesak. Ingin rasanya untuk melempar bantal lalu memeluk Tristan, seperti biasanya, tapi…

“Sini…” ucap Tristan yang tanpa diduga sudah terduduk di lantai dekat Lena.

Lena hanya menjawab dengan dengungan sambil menghadap sandaran sofa. Memunggungi Tristan.

Tristan menghela napas. “Harus gimana lagi supaya kamu ngerti kalo cuma kamu yang paling baik buat aku?”

“Kamu ngomong gitu karena kamu belum ketemu yang lebih baik aja, ‘kan…” Lena menjawab dari balik bantal. “Coba kalo udah…”

Tristan tak menjawab. Ia ingin sekali untuk memeluk Lena, tapi…

“Aku capek begini terus, ribut terus, marah-marah terus..” Lena akhirnya membalik badan sambil memeluk bantal. “Lebih baik kita ga sama-sama lagi.”

“Aku ga tau kenapa dan gimana bisa kok kamu mikir gitu.” Tristan langsung merespon cepat. Meski kesal, ia tetap coba mengatur nafas dan nada suaranya. “Kecuali emang.. kamu udah ngerasa kalo kita ga sama lagi, atau nemu yang lebih baik dari aku.”

“Aku ga ada orang lain selain kamu.”

“Trus, apa yang jadi masalahnya?”

Lena tak menjawab. Air mata masih mengalir perlahan di pipinya. Meski sesak, tapi ia tahu bahwa yang dikatakan oleh Tristan benar adanya.

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight − = 0