Short Story #302: Hak Milik

“Kita harus bergerak. Dan saatnya adalah sekarang!” Emma menutup ceramahnya dengan disambut tepuk tangan yang menggemuruh dari hadirin.

Tak lama dari itu, ia kemudian turun mimbar lalu ke belakang panggung dan posisinya untuk memberikan ceramah digantikan oleh pembicara berikutnya.

“Ceramah yang bagus.” Jennifer mengomentari sambil mengikuti Emma ke ruang ganti. “Inspiratif.”

“Sudah saatnya kita, perempuan tahu apa saja hak kita, dan kenapa kita harus membuat klaim atasnya.” Emma menjawab.

“Aku setuju, tapi…”

Emma tiba-tiba berhenti berjalan dan melihat ke arah Jennifer untuk melanjutkan kalimatnya.

“Sepertinya masalah terbesar bukan di diri kita perempuan, melainkan para lelaki.”

“Maksudmu?” Emma bertanya hendak tahu lebih lanjut.

“Yah.. seperti yang kau sebutkan, kita perempuan harus tahu hak dan bagaimana menuntutnya.” Jennifer menjawab. “Sayangnya… itu semua akan percuma jika para lelaki tak tahu apa yang tidak jadi haknya.”

“Itu seharusnya menjadi tanggung jawab para lelaki juga.”

“Menurutku justru itu menjadi tanggung jawab kita juga, memberitahu dan menyebarkan kesadaran yang sama akan hak-hak kita terhadap mereka yang seringkali lupa atau bahkan tidak tahu bahwa itu bukan menjadi hak mereka.”

Emma melanjutkan jalannya sambil diam mendengarkan Jennifer.

“Menurutku, salah satu hal tersulit bukanlah menyadari apa saja hak kita dan memintanya, melainkan menyadarkan orang lain apa yang bukan menjadi hak mereka dan kemudian berhenti menuntutnya.” Jennifer melanjutkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *