Short Story #297: I LOVE YOU

“Demikian untuk malam ini. Terima kasih. Selamat malam.” Diva mengucapkan salam sambil undur diri ke belakang panggung. Riuh rendah hadirin bertepuk tangan sambil sebagian mengucap dan memanggil namanya.

“Mereka masih menginginkanmu.” Jeremy, manajernya memberitahu ketika Diva masih di anak tangga terakhir belakang panggung.

Sambil tersenyum kecil, Diva kembali menuju panggung dan menampakkan dirinya lagi. Tepuk tangan kembali bergema. Kali ini lebih kencang.

“LAGI! LAGI! LAGI!” seruan memohon terdengar. Tapi Diva hanya melambaikan tangannya, memberikan ciuman ke angkasa, lalu kembali menghilang ke belakang panggung.

“This is it.” Diva memberitahu Jeremy yang tersenyum sambil bertepuk tangan.

“Your call, meski aku masih fifty-fifty.” Jeremy memberitahu.

Setelah memberikan seluruh perangkat elektronik panggung kepada kru yang bertugas, Diva berjalan agak tergesa-gesa menuju kamar gantinya. Diikuti Jeremy di sebelahnya.

“Sesuai kesepakatan terakhir, kerjaan kolaborasi, rekaman, non-panggung, non-broadcast, non-holiday, dan dalam kota aja ya.” Diva mengingatkan.

“Iya.” Jeremy menjawab.

“Bagus.” Diva tiba di kamar gantinya, ia masuk dan diikuti Jeremy. Di sana sudah ada asisten dandan yang menanti untuk mulai membersihkan seluruh riasan di wajahnya dan membantunya mengganti pakaian.

“Aku penasaran aja sih, kamu emang ga bakal rindu suasana seperti ini lagi? Kemegahannya? Perjalanannya? Tempat-tempat yang bisa kita kunjungi?” Jeremy bertanya.

“Terakhir kita bahas, aku udah pernah bilang bakal rindu, tapi aku lebih rindu hal lainnya.”

“Yaitu apa? Aku masih belum dapet jawabannya darimu.” Jeremy mengejar. “Teriakan fans jelas akan menghilang. Hadiah-hadiah yang dikirim ke kamar ganti jelas akan berkurang. Dan tak ada lagi ucapan I LOVE YOU saat kau di panggung dari ribuan orang, setiap kali kau ada di atas sana.”

“Itu dia.”

“Yang mana?”

Diva memberi isyarat pada asistennya agar berhenti sejenak.

“Aku lebih rindu ucapan I LOVE YOU yang diucapkan oleh beberapa orang yang kukenal, kurindukan, kusayangi, dan kukasihi setiap malamnya. Terutama, malam-malam seperti ini, saat aku jauh dari mereka.” Diva memberitahu. “Aku lebih rindu ucapan I LOVE YOU diucapkan dengan suara perlahan, tulus, dalam kondisi privat, dan sebelum atau setelah tidur.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *