Project: Unspoken Words

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita menyesali tak pernah mengucapkan kata-kata tertentu?

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita menyesali tak pernah menyampaikan apa yang ingin (seharusnya) kita sampaikan?

Sudah berapa kali/sudah berapa lama kita berharap waktu terulang dan mungkin segala sesuatu bisa berjalan berbeda dibandingkan kenyataan saat ini?

Andai saja…

Dalam rangka ‘memaksa’ diri untuk kembali menulis dan berpikir kreatif, maka saya berniat untuk membuat seri terbaru. Sebutan resminya “Project: Unspoken Words”. Masih tetap fiksi – khayalan semata atau ya.. sebagian terinspirasi dari kejadian nyata tapi kemudian di-fiksi-kan. Isinya (mudah-mudahan) lebih panjang daripada yang bisa terbit di Short Story, karena niatnya sih Unspoken Words ini bakal kebaca semacam curcol (curhat colongan). Ada selipan lagu-lagu gitu — kalo nemu yang cocok. Format judulnya masih belum ditentukan, tapi kemungkinan akan menggunakan seperti format Short Story — dengan angka. Bedanya ya depannya jadi “Unspoken Words” bukan “Short Story”.

Terus apa bedanya dengan Short Story?

Hampir ga ada. 😆 Beberapa petunjuk udah dikasih di paragraf di atas, selebihnya tungguin aja ketika post pertamanya terbit. Tapi nafasnya memang sama seperti kalimat awal di paragraf ini “Hampir ga ada.” :mrgreen:

Dah, gitu aja. Ini juga nulis post dalam rangka aktivasi lagi untuk ngeblog. Secara blog yang satu lagi masih “tutup”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *