#14

Di stasiun Yamaguchi, aku turun. Pram di belakangku. Hari sudah mulai gelap. “Lalu?” “Kita jalan kaki.” “Hah? Emangnya deket?” Aku hanya tersenyum, dan melangkah lebih dulu. Pada hal-hal tertentu, Pram tetaplah sama. Ia masih Pram yang dulu. Seperti ini, dan tadi saat di kereta. Benarkah? Atau itu hanya akting? Lalu, bagaimana dengan pertanyaannya yang tak… Read Article →

#13

“Jadi, kau kuliah di sini?” tanya Pram memecah kebekuan di kafetaria. Cangkir kopinya sudah setengah kosong. “Ya.” “Kuliah bidang apa?” Diam. Aku agak heran mendengar Pram menanyakan hal ini. Tidakkah dulu pernah kukatakan padanya? “Kau sudah lupa?” “Yah, hanya ingin memastikan saja.” “Sastra Jepang.” “Oh, baguslah! Kau belajar langsung ke sumbernya!” Aku tersenyum. Pram menghirup… Read Article →

#12

Aku berdiam di balkon malam itu. Jalanan sepi. Tak ada orang yang lewat. Udara malam hari ini begitu dingin. Pasti karena hujan dari siang sampai sore tadi. Langit begitu cerah. Awan mendung sudah hilang. Bulan bersinar terang. “Jangan melamun terus! Sudah malam!” “Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir.” Hikaru muncul dari belakangku. Ia duduk… Read Article →

#11

“Sudah kuduga akan menemukanmu di sini.” Seorang wanita berdiri di samping mejaku. Raut mukanya tampak tak senang. Aku menatapnya dengan malas-malasan. “Hai, Reiko.” “Kenapa kau tidak masuk kuliah?” Aku diam. Tak menjawab. Reiko duduk di kursi depanku. Aku menatap ke luar jendela kafetaria. Hujan. “Ghita-chan?” “Entahlah.” “Apa maksudmu dengan ‘entahlah’ itu?” “Aku tidak tahu.” “Ada… Read Article →

#10

KRIING! Sambil terpejam, kugapai meja. KLIK! Dering wekerku berhenti. Duh, aku masih ngantuk! Kubuka mata. Kutatap langit-langit kamarku. Sepertinya, aku baru tidur sebentar saja setelah mengobrol panjang lebar dengan Hikaru malam tadi. Kok sudah pagi lagi, sih? Males, nih! Kusingkirkan selimutku. Aku turun dari ranjang. Enggan, kumasuki kamar mandi. Langkahku terseret-seret. Mataku serasa masih lengket… Read Article →

Scroll To Top