“Hari ini kan, ya?” tanya Lily saat ia dan kekasihnya di suatu pagi
sambil menunggu kereta di peron stasiun.
“Hari apa?” Andre balik bertanya sambil menoleh ke arah Lily.
“Ya harimu. Your day.” Lily berujar.
“My day?” tanya Andre.
Lily gemas. Ia mencubit lengan atas Andre sambil kemudian berdiri di
depannya. “Ultahmu, Sayang..”
“Ah, masa iya?” tanya Andre tak percaya sambil kemudian melihat
tanggalan di arlojinya. “Oh iya, hari ini.”
“Yeee… ultah sendiri koq ya lupa.” ucap Lily.
“Ya gimana ga lupa, wong biasanya aku inget ultah itu sehari setelah
tanggal 28 Februari, kan. Kalo kabisat gini, ya jadi disorientasi hari
dan tanggalan toh..” jawab Andre sambil kemudian tertawa.
“Kirain lupa karena umurnya nambah tua.” Lily berceletuk yang langsung
menghilangkan tawa Andre.
“Maksudnya?” Andre berlagak serius.
Lily langsung memeluk Andre. “Aku bercanda, Sayaaaanngg…”
Andre tersenyum sebal sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain
dari peron. Membiarkan Lily memeluknya dan menatap tengkuknya.
“Ih, kalo ambegan nanti tambah tua, lho.”
“Biarin, wong nambah umur juga hari ini.” kata Andre segera tanpa menoleh.
“Hiiihh..” Lily melepas pelukannya. Dan ternyata, itu bisa membuat
Andre menoleh lagi padanya.
“Koq dilepas pelukannya?”
“Abis ambegan, sih..” jawab Lily.
“Alah, ambegan juga kamu suka. Mau juga jadi cewek aku.” Andre menimpali.
“Abis terpaksa, ga ada cowok laen yang nembak aku.” jawab Lily segera
dan bermaksud bercanda.
“Tuh kan, mulai lagi deh..” respon Andre dengan nada datar agak ketus.
“Duuhh… priaku ini koq ya ambegan banget deeehh.. mentang-mentang lagi
ulang tahun!” Lily mendekatkan tubuhnya lagi ke Andre. Kali ini ia
sambil memeluk leher Andre.
“Biarin. Abis bukannya ngasih apa gitu kek, malah ngegodain mulu.” ujar Andre.
“Ya udaaahh.. Kamu mau apa? Apa yang kamu pengen?” tanya Lily.
“Aku pengen… pengen apa, ya?”
“Tuh, kamu sendiri juga bingung pengen apa. Ya aku juga bingung dong
mau ngasih apaan…”
“Halah.. alesan kamu. Yang namanya kalo ngasih pas ultah gitu ya
harusnya yang bikin surprise kek. Apa gitu tanpa harus aku kasitau..”
Andre memberitahu.
Lily diam. Sepertinya ia tengah berpikir. Sambil menunggu, terdengar
pemberitahuan bahwa kereta yang akan mereka naiki sesaat lagi akan
tiba.
“Jadi jalan ga, nih?” tanya Andre.
“Ya jadi lah.. Kenapa, sih?”
“Ya abis, diem aja. Kirain saking bingungnya jadi diem mikir buat jadi
jalan apa enggak.” Andre berujar sambil tetap penasaran sekaligus
sebal.
“Aku tuh lagi mikir mau ngasih apa sama kamu..” Lily memberitahu.
“Oh ya? Emang apa?” tanya Andre sedikit berteriak karena kereta yang
akan dinaiki mulai masuk dan kemudian berhenti di peron.
Lily tak menjawab dan justru berjalan mendahului masuk ke kereta yang
cukup kosong. Tapi, genggaman tangannya dengan Andre tak ia lepaskan.
“Gimana kalo…. Hatiku?” Lily menawarkan sambil menarik Andre ke dalam kereta.
-
Short Story #103: Hatiku
March 1, 2012 by Billy Koesoemadinata
Category Menulis, Short Story | Tags: Short Story | No Comments
-
Short Story #102: Bersama
February 22, 2012 by Billy Koesoemadinata
“Aku ga ngerti kenapa jadinya harus begini…” Rudi menggumam.
“Mungkin udah takdir..” jawab Tasya yang berdiri di sampingnya. Sama-sama menatap langit sore keemasan dari atap salah satu gedung tinggi.
“Tapi manusia pun masih bisa ikhtiar supaya hasil dari takdir jadi lebih baik, kan?” tanya Rudi.
“Mungkin.” jawab Tasya singkat.
“Trus, kenapa meski aku udah berusaha sekeras mungkin, hubungan kita ga bisa bertahan?” tanya Rudi lagi.
Kali ini, Tasya diam. Ia memalingkan wajahnya ke langit yang kian berubah keemasan.
“Apa mungkin seharusnya aku berusaha biasa-biasa aja?” Rudi bertanya lagi tanpa menunggu jawaban Tasya.
“Mungkin, akunya yang ga berusaha keras sepertimu. Mungkin, aku terlalu lemah.” respon Tasya pada akhirnya.
“Maksudmu?”
“Kita ini berbeda, Rud..”
“Bukankah kita saling mencintai? Setidaknya, itulah hal yang sama di antara kita.” kata Rudi.
Tasya menarik napas panjang.
“Kita ini kaya’ dua sisi rel kereta lho Rud. Ga bakal ketemu. Kamu di sebelah kanan, aku di kiri. Atau sebaliknya. Dan, ada jarak yang selalu membatasi kita..” ucap Tasya.
Rudi menarik napas.
“Tapi kalopun kita rel kereta, seharusnya kita selalu bersama, ke arah yang sama.” respon Rudi.
Category Menulis, Short Story | Tags: Short Story | No Comments
-
Short Story #101: Masih Sama
by Billy Koesoemadinata
“Wah Chandra, kamu dateng juga.” Farah menyapa seorang lelaki yang baru tiba dan sedang mengisi buku tamu di meja sampingnya.
“Eng… Farah, ya?” Chandra balik bertanya sambil mengambil pulpen dan langsung mengisi buku tamu.
“Iya.. Masa’ kamu lupa sama aku?” respon Farah.
“Aku ga lupa. Aku cuman amazed aja, kok kaya’nya kamu ga berubah banyak..” Chandra berujar setelah mengisi buku tamu.
“Ah.. kamu bisa aja..” jawab Farah. “Yuk, aku temenin ke dalem.”
Farah langsung minggir dari dekat meja penerima tamu, dan mempersilakan rekan setimnya untuk menggantikan. Ia pun menghampiri Chandra, yang lalu mengikutinya berjalan masuk ke dalam aula.
“Udah rame?” tanya Chandra.
“Udah, sih. Tapi kaya’nya yang dulu kita kenal deket, belom pada dateng.” jawab Farah. “Ke sini, kita ambil minuman dulu.”
Chandra pun mengikuti arah Farah menuju, menyelusup di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Sebagian menyapanya, sebagian lagi tidak. Sebagian wajah masih bisa ia kenali, namun sebagian lagi tidak.
“Sirup atau soda?” Farah menawarkan setibanya di meja tempat minuman.
“Soda aja deh..” Chandra memilih. “Kamu bagian dari panitianya, ya?”
“Eng… enggak juga sih.” jawab Farah sambil menyodorkan segelas soda pada Chandra. “Aku kebetulan aja diminta tolong buat jaga di meja penerima tamu. Jadi semacam pengenal undangan dan juga tukang anter. Soalnya, kata Dicky, si ketua OSIS kita dulu itu yang sekarang jadi ketua panitia, aku paling hapal wajah orang.”
“Kaya’nya kebalik deh.. orang-orang yang lebih hapal wajah kamu..” respon Chandra seketika yang disambut derai tawa Farah.
“Bisa aja kamu, Chan..” kata Farah.
“Tapi beneran lho.. Aku amazed aja sama kamu koq ga berubah banyak. Kaya’nya dari dulu ya segini-gini aja. Dibanding aku?” kata Chandra sambil memperlihatkan sedikit uban yang muncul di rambutnya.
“Alah.. perubahan itu bikin kamu tambah seksi kok sebagai cowok.” kata Farah segera.
Seketika, senyum di wajah Chandra menghilang. Dan, begitupun dengan Farah. Kikuk.
“Jadi, apa ceritamu selama 10 tahun ini?” tanya Farah.
“Nothing specials. Kuliah, lulus kuliah, wisuda, kerja, dan kuliah lagi sambil berusaha cepet lulus.” jawab Chandra. “Kalo kamu gimana?”
“Almost the same. Kuliah, lulus, wisuda, kerja. Tapi ya.. aku masih sama seperti dulu.”
“Maksudnya?” Chandra langsung bertanya karena penasaran.
“Iya, aku masih tinggal di kota yang sama. Ga kaya’ kamu yang udah pindah keluar kota.” jawab Farah.
“Oh..”
Lalu hening.
“Tapi ya, beberapa hal lain juga aku masih sama seperti dulu sih..” Chandra berujar.
“Oh ya? Soal apa?”
Chandra menarik napas. “Soal… mengharapkan kamu..”
Category Menulis, Short Story | Tags: Short Story | 1 Comment
-
Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia
February 15, 2012 by Billy Koesoemadinata
Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,
“Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”
Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.
Bingung? Oke, lanjut ke bawah.
Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.
Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.
Lalu apa masalahnya?
Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”
Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.
Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.
Menurut kamu bagaimana?
Category Blogging, Menulis | Tags: bahasa,Billy Koesoemadinata,harian,menulis,penulisan,terjemahan | No Comments
-
Short Story #100: Pilih Yang Mana?
February 14, 2012 by Billy Koesoemadinata
“Udah ada putusannya?” tanya Gwen santai ke Ayumi di depannya.
Ayumi menghela napas. Pandangannya tetap mengarah ke cakrawala yang
membatasi lautan di depannya. “Aku ga tau ah..” “Berarti belum..” Gwen menarik kesimpulan sambil kemudian menarik
kakinya naik ke atas dermaga. Bersila. “Aku ga bisa kalo harus milih di antara mereka..” Ayumi berujar. “Listen to your heart..” Gwen memberi saran. Ayumi menghela napas lagi sambil memainkan kakinya di air lautan yang
menggerakkan ombak. “Hatiku belakangan ini sepi. Bingung juga nampaknya.” ucap Ayumi. “Kalo gitu, pake koin aja. Sisi angka buat Pram, sisi Garuda buat Candra.” Ayumi buru-buru menggeleng. “I don’t want to gamble for this..” “Ya tapi cepat atau lambat, kamu harus kasih jawaban dong sama
mereka.” Gwen memberitahu. “Supaya mereka punya kepastian. Kamu mau
jadi istri salah satu dari mereka, atau gimana.” “Bingung, Gwen..” jawab Ayumi. “Candra itu cowok idaman gue banget,
tapi Pram itu ngerti apa mau gue..” “Jadi, pilih yang mana?” tanya Gwen lagi. “I just don’t know the answer..” jawab Ayumi tak pasti. Ia
menggeleng-gelengkan kepalanya seakan itu bisa menghilangkan rasa
pusingnya. Gwen lalu menatap garis horizon lautan. Menatap semburat lembayung senja. “Aku sayang sama mereka berdua.. Sama besar rasa sayangnya.. Tapi aku
ga bisa kalo disuruh milih siapa yang lebih pengen aku nikahin..” nada
suara Ayumi mulai bergetar. “Gampang sebenernya..” ucap Gwen santai tanpa menyadari Ayumi langsung
menoleh ke arahnya. “Love in our life is not about choosing someone
you can live with, but it’s about choosing someone you cannot live
without.”Category Menulis, Short Story | Tags: Short Story | 1 Comment
