Rss Feed
  1. Cara Mudah Bikin (Rame) Acara di Luar Jakarta

    January 30, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Jakarta identik dengan pusat segala macam yang ada di Indonesia. Ingin mendapatkan sesuatu yang adanya nun jauh di seberang pulau, datang saja ke Jakarta. Pasti tersedia, walaupun tak 100% sama seperti yang diinginkan. Meski begitu, sudah cukup untuk menghilangkan rasa penasaran atau sekadar melepas “dahaga” akan keinginan.

    Oleh karena itu pula, Jakarta dikenal sebagai magnet bagi segala penduduk Indonesia. Magnet yang terus menarik kuat setiap jenis masyarakat, untuk terus mendatangi Jakarta. Baik itu menjadi penduduk tetap dengan KTP tembak, ataupun penduduk numpang lewat, alias komuter – tinggal di luar Jakarta, namun bekerja dan beraktivitas di Jakarta.

    Sifatnya yang seperti magnet itulah, membuat banyak merek terkenal maupun juga pihak yang sangat berduit, siap mengadakan event di Jakarta. Semacam sayur tanpa garam jika mengadakan sebuah event berskala nasional, namun melewatkan Jakarta sebagai salah satu tujuan penyelenggaraan.

    Tapi, itu semua bukan berarti penyelenggaraan event di luar Jakarta justru sepi! Sebaliknya, mengadakan event di luar Jakarta lebih memiliki kemungkinan besar untuk dihadiri oleh para peserta yang benar-benar target oriented, ketimbang di Jakarta, yang sangat beragam.

    Lalu, bagaimana caranya? Mudah, bekerjasamalah dengan pihak “lokal”.

    Pihak “lokal” di sini, bukan sembarang pihak lokal. Melainkan, sebagian kelompok atau masyarakat yang cukup dikenal atau memiliki perhatian cukup tinggi bagi daerahnya. Sebutlah di antaranya mahasiswa, tokoh masyarakat, ataupun petinggi daerah seperti mantan pejabat, dll.

    Mendapatkan kerjasama dengan pihak “lokal” tersebut memang susah-susah-gampang. Kenapa? Karena awalnya seperti sulit untuk mendapatkan kontak dengan mereka, tapi ujung-ujungnya, begitu sudah dikontak, lazimnya mereka akan membantu dengan bersemangat untuk menyukseskan event tersebut. Apalagi, jika event tersebut merupakan bagian dari event nasional.

    Saya sendiri, sebagai pekerja media sekaligus pegiat daring, menyarankan untuk mengontak pihak “lokal” yang biasa berhubungan dengan dunia digital. Sebutlah blogger, twitter user, hingga komunitas forum-forum lokal. Banyak contoh yang bisa diambil, seperti Palanta di Sumatera Barat, Cah Andong di Yogya, hingga Anging Mammiri di Makassar. Sekali mengontak dan mengundang mereka pada event yang dibuat, biasanya akan langsung tersebar ke para anggota yang jumlahnya ratusan, atau bahkan ribuan. Tentu, termasuk cara yang cukup efektif untuk menjadi bahan percakapan, setidaknya di antara para anggotanya, yang kebanyakan sudah melek teknologi.

    Dari situ kemudian akan berkembang, info dari mulut ke telinga. Sambung, menyambung. Sebuah strategi yang cukup efektif, untuk menjadikan event di luar Jakarta lebih rame, atau bahkan sangat sukses. Oiya, tawarkan pula gimmick berupa lomba atau kompetisi kecil-kecilan yang hadiahnya bisa diraih oleh para peserta. Hal ini akan menambah ketertarikan mereka akan event tersebut.

    Jadi, sudah tahu mau mengadakan event di mana? :)


  2. New Media, Kenapa Tidak?

    January 23, 2011 by Billy Koesoemadinata

    “New Media”, istilah itu sepertinya belum awam dan jamak didengar. Tapi walau begitu, “New Media” layak menjadi sebuah sorotan perkembangan media saat ini. Karena “New Media” menjadi sebuah bentukan media baru, untuk menambah bentukan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Secara singkat, “New Media” bisa dilihat sebagai media yang muncul di ranah online – dalam jaringan (daring).

    Seperti yang sudah saya sebutkan, “New Media” merupakan bentukan media baru. Jadi sesungguhnya, ia tidaklah bisa menggantikan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Setidaknya, itulah yang diungkapkan oleh Putu Laxman Pendit, salah satu praktisi media yang baru-baru ini membagi ilmunya pada saya.

    Menurutnya, “New Media” harus bisa mendukung bentukan media yang sudah ada, dan bukan menggantikan, apalagi mematikannya.

    Jika pada perkembangannya “New Media” bisa menggantikan atau justru mematikan bentukan media yang sudah ada, maka terdapat sebuah kesalahan strategi dari media tersebut ketika ia memasuki “New Media”. Kenapa demikian? Karena lazimnya bentukan media yang sudah ada, baik itu cetak atau elektronik otomatis sudah memiliki eksistensi merek yang cukup kuat, akan tetapi ketika ada bentukan “New Media” seringkali strategi yang dilakukan adalah berdasarkan latah atau ikut-ikutan. Padahal, bukan seperti itu siasat yang tepat.

    Pada “New Media” layaknya juga dibuat strategi yang baru juga seperti namanya. Strategi yang baru tersebut, bisa dilakukan dengan membuat brand atau merek dari bentukan media yang sudah ada, lebih mengenal dari para pegiat online (daring) — yang notabene merupakan tempat hidup dari “New Media”. Dengan lebih mengenal para pegiat online, sudah barang tentu brand atau merek media tersebut akan bisa mengenali para pengguna online lainnya. Singkatnya, kenali para pengguna dari sejumlah pegiat yang sudah fasih menggunakan jaringan online.

    Dari mengenali para pengguna, kemudian barulah bisa dibuat strategi yang tepat disesuaikan dengan tujuan dan juga profil dari media tersebut yang sudah diketahui oleh orang banyak – selain di ranah online. Profil ini dimaksudkan untuk membuat diferensiasi dengan merek/brand yang sudah ada di ranah online, serta membuat lebih banyak pengguna tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Dari situlah, nanti akan tercipta sebuah sinergi antara merek/brand media dari bentukan yang sudah lama, dengan para pengguna yang bisa jadi adalah para pembaca atau penggemar setia merek atau brand tersebut.

    Singkat kata, terjun ke “New Media” yang berada di ranah online, perlu menggunakan siasat yang tak sekadar latah, tapi harus bisa menciptakan diferensiasi yang justru mengeratkan antara merek/brand dengan para penggunanya. Dan, hal tersebut dapat diwujudkan dengan sempurna jika memiliki tim yang kompak yang supportif di belakangnya. Ciri-ciri tim tersebut antara lain tersusun atas orang-orang yang peka, dinamis, dan berani mencoba hal-hal baru terutama di dunia online.

    Jadi, “New Media” kenapa tidak?


  3. Mengatasi Masalah Ketika Menulis

    January 16, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Beberapa kali saya sempat mendapat pertanyaan dari beragam orang,

    Gimana sih caranya bisa tetep nulis? Emang ga pernah keabisan ide gitu? Ga pernah berasa bosen? Ga pernah pengen berenti? dsb.. dsb.. dsb..

    Dan, jawaban yang saya berikan singkat saja.

    Pernah.

    Tapi nyatanya, jawaban saya itu tidak cukup bagi mereka yang bertanya pada saya. Karena kemudian, saya diberondong lagi dengan berbagai pertanyaan. Tapi secara umum, intinya hanya satu. Yakni, sebagai berikut,

    Trus, gimana cara mengatasinya?

    Dan, biasanya bukannya menjawab dengan sesuatu yang konkrit, saya justru balik bertanya.

    Mengatasi apa?

    Tak jarang, beberapa orang langsung melengos pergi, diam, atau bahkan memutus percakapan (jika dilakukan via online). Saya geli sendiri jika mendapatkan perlakuan seperti itu. Bohong jika saya bilang saya tidak sebal atau kesal, tapi ya.. saya geli sendiri. Kenapa? Karena menurut saya, yang bisa menjawab pertanyaan “cara mengatasi” adalah mereka sendiri. Iya, masing-masing pribadi yang melontarkan pertanyaan tersebut.

    Sebuah kata mutiara pernah saya baca, isinya sebagai berikut,

    No one know you exact nor completely, besides yourself.

    Iya, hanya diri kita sendiri yang tahu apa dan bagaimana diri kita sebenarnya. Jadi, jika kita berhadapan dengan sebuah problematika yang ingin diselesaikan, ya kita harus mengenali diri kita sendiri. Mengapa? Gunanya, untuk mengetahui potensi diri yang belum dan sudah dimanfaatkan dalam mengatasi masalah tersebut. Dan, dalam hal ini adalah menulis.

    Saya buka kartu nih, saya memiliki beberapa permasalahan ketika saya harus menulis. Iya, beberapa. Tak hanya satu, atau dua. Tapi beberapa. Berikut ini, saya tulis sesuai yang teringat oleh saya,

    Menunda-nunda, atau prokrastinasi.

    Malas.

    Buntu ide.

    Lelah.

    Mengulang.

    Kurang lebih memang ada 5 masalah yang terus saya hadapi di saat saya menulis. Memang, permasalahan tersebut tidak selalu muncul. Ada kalanya, saya begitu on fire, sehingga sebuah tulisan sepanjang 2 lembar A4 dapat selesai dalam beberapa menit saja. Tapi ada kalanya juga, saya baru bisa menyelesaikan sebuah tulisan singkat — 2-3 paragraf setelah menunggu 1-2 hari. Dan, kedua jenis tulisan tersebut sama, fiksi atau nonfiksi.

    Untuk mengatasi masalah tersebut, saya biasanya melakukan beberapa hal secara sekaligus. Mulai dari ngetwit, menulis cerita singkat, makan, hingga tidur. Kenapa? Karena saya ingin pikiran saya teralihkan dari bahan tulisan yang harus saya kerjakan. Karena saya perlu penyegaran dan juga perbaikan situasi sebelum menyelesaikan tulisan. Karena, perbedaan kondisi itu penting adanya.

    Anda bisa saja melakukan langkah-langkah seperti yang saya lakukan. Tapi, saya bisa jamin itu belum tentu efektif bagi Anda. Hihi, sepertinya saya menyesatkan saja ya.. :P Oke, maksud saya menyatakan seperti itu karena pribadi setiap orang itu berbeda-beda. Setiap orang itu unik, dan sempurna dengan caranya sendiri. Setiap orang tentu memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Itulah makanya, di awal saya sudah bilang bahwa yang bisa menyelesaikan permasalahan ketika menulis, adalah Anda sendiri.

    Tapi bagaimana jika Anda sendiri tidak tahu bagaimana mencari penyelesaiannya? Oke, kali ini bisa saya bagi trik untuk mencari penyelesaian tersebut,

    Ambil 5 langkah ke belakang menjauh dariĀ  masalah Anda.

    Ambil waktu sekitar 5 menit jeda untuk tidak memikirkan permasalahan Anda.

    Dan, lakukan 5 kegiatan yang tak berkaitan dengan masalah yang sedang Anda hadapi, selama kurang lebih 5-15 menit.

    Kemudian balik lagi, dan pikirkan 5 pilihan yang bisa Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya sudah Anda selesaikan.

    Seharusnya, setelah Anda kembali lagi untuk menghadapi masalah setelah menjauh 5 langkah, jeda 5 menit, dan melakukan 5 kegiatan, Anda bisa mendapatkan solusi yang tepat. Trik, saya dapatkan dari menggabung-gabungkan antara berbagai problem-solving yang pernah saya dapatkan. Dan, saya tidak mengakui bahwa ini milik saya seorang. Anda berhak untuk menyebarkannya kembali.

    Sudah siap? Coba segera lakukan ketika Anda menghadapi masalah, ya!

    NB: Tak perlu melakukan semua langkah tersebut, cukup beberapa saja. Dan, hal ini tidak perlu dicatat. Cukup diingat sambil dilakukan.


  4. Isinya?

    January 9, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Melanjutkan dari postingan minggu lalu yang membahas apakah blog saya ini berubah atau tidak, maka kali ini saya akan membahas apa saja isi yang sekiranya akan terdapat di sini. Seperti yang sudah diketahui, dulu saya sempat mengisi blog ini dengan cerita-cerita fiksi, tentang blogging, cinta, film, musik, dan begitu banyak hal lainnya. Lalu, apakah akan berubah? Ya, dan tidak.

    Ya, berubah. Saya akan berusaha untuk membuat postingan di sini lebih sesuai dengan deskripsi blog yang sudah saya tuliskan di bawah judul blog. Sehingga, seharusnya setiap isi blog ini ke depannya takkan jauh-jauh dari menulis, kejadian sehari-hari yang berkaitan dengan dunia media, online activity, serta keteknikan dalam bahasan ringan. Jika kemudian ada hal-hal yang terasa jauh dari keempat deskripsi tersebut, akan saya masukkan ke dalam kategori Daily saja, dan dengan tags Daily pula.

    Tidak berubah. Karena saya tetap akan mengisi dan menuliskan postingan atau konten di sini dengan cara saya sendiri, seperti yang sudah saya jalankan, dan berawal dari sudut pandang saya. Perspektif yang terjadi bisa merupakan sebuah opini, subyektif tentu akan terasa, tapi saya akan mencoba untuk tetap memberikan penilaian secara obyektif. Dan, tidak berubah juga dapat diartikan bahwa saya tidak akan menghapus arsip blog ini yang sudah ada sejak dulu. Bahkan, bisa jadi saya justru menambah dari database blog saya yang lainnya.

    Jadi, kesimpulannya apa isinya nanti di sini?

    Singkat kata, segala tulisan yang berkaitan dengan deskripsi di bawah judul blog saya. Jadi, jika nantinya deskripsi tersebut saya ganti atau berubah, sudah jelas isi yang akan ada di sini pun selanjutnya akan mengacu pada deskripsi tersebut. :mrgreen:

    Ada usulan isi?


  5. Berubah?

    January 2, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Pertanyaan itu yang begitu banyak saya terima begitu masuk ke 2011 ini. Singkat kata, saya jawab saja tidak berubah. Walau begitu, sudah pasti ada yang berubah. Salah satunya antara lain adalah usia. Sepandai-pandainya manusia, takkan pernah bisa mengakali usia. Begitupula dengan blog ini, seiring berjalannya waktu, usianya pun bertambah. Seperti halnya ketika kita memasuki tahun yang baru.

    Tahun kemarin, saya sempat membuat sebuah keinginan untuk 2011. Iya, diawali dengan membuat sebuah resolusi mengalihkan penggunaan bahasa di blog ini dengan Indonesia. Lebih karena saya memang orang Indonesia, dan sehari-hari saya menggunakan bahasa Indonesia. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan saya akan menggunakan bahasa lain seperti Inggris untuk postingan di blog ini, tapi sesekali.

    Jadi, sudah berubah dong?

    Bisa iya, bisa tidak. Jika saya hanya mengubah penggunaan bahasa saja, tapi kemudian tidak memperbaharui blog ini, berarti percuma saja usaha yang saya lakukan. Saya perlu lebih rajin lagi untuk memperbaharui blog ini, mengisinya dengan ide, pikiran, konsep, usulan, dan berbagai macam hal yang bisa saja muncul dari otak, pikiran, kepala, pandangan, tangan dan perilaku saya. Apapun!

    Dan, untuk memberi semangat baru bagi saya untuk lebih mau berubah dan tetap semangat mengisi blog ini, saya pun sedikit demi sedikit mengubah blog ini. Dimulai dari tampilan, hingga deskripsi di bawah judul. Iya, saya beralih dari blog dengan tampilan 3 kolom yang bertahan sejak pertama kali blog ini berdiri sekitar 2 tahun yang lalu, menjadi 2 kolom. Alasannya, saya ingin lebih mengedepankan isi dari postingan saya ketimbang tampilan kolom saya. Sesederhana itu.

    Sementara itu, deskripsi di bawah judul blog ini pun berubah sejak semula “The Unspoken Writings” menjadi “engineer wannabe | penulis | pekerja media | pegiat daring”. Iya, kumpulan empat frasa-kata itu menjadi deskripsi blog ini, dan saya harap sekaligus bisa menjadi deskripsi singkat diri saya, tanpa orang harus mengklik halaman ini. Kenapa saya memilih keempat frasa-kata tersebut? Berikut penjelasan singkatnya,

    - Engineer wannabe — tak lain merupakan cerminan kondisi saya yang merupakan lulusan Diploma 3 jurusan Teknik Mesin. Saya begitu ingin melanjutkan ke jenjang S1 hingga menjadi Sarjana Teknik (Engineer), namun belum ada kesempatan saja. Jadilah, engineer wannabe sebagai cerminan sisi cita-cita terpendam saya.

    - Penulis — hal ini sudah jelas merupakan kegiatan saya, dan saat ini menjadi profesi saya. Baik itu di tempat kerja saya, maupun sebagai hobi. Penulis mencerminkan saya dari sisi jati diri.

    - Pekerja media — frasa ini saya anggap cukup mewakili pekerjaan yang sedang saya jalani saat ini. Resminya, saya adalah seorang Redaksi di sebuah media terbitan nasional, namun jangkauan kegiatan yang saya lakukan tak hanya sebagai seorang redaksi, tapi juga berbagai kegiatan yang berkaitan dengan media tersebut. Jadilah, pekerja media lebih tepat untuk mendeskripsikan saya, dari sisi pekerjaan.

    - Sementara terakhir, pegiat daring — saya anggap ini mewakili kegemaran saya untuk tetap berada dan eksis di dunia internet dan online (dalam jaringan/daring). Saya gemar ngeblog di sini, ngeblog juga di sana, ngetwit, ngeplurk, ngoprol, dan masih banyak lagi. Intinya, saya senang eksis! Sehingga pegiat daring menjadi cerminan sisi keseharian.

    Sepertinya cukup demikian yang bisa saya sampaikan. Jadi, andai kata ada yang bertanya kembali apakah saya berubah, bisa ditemukan jawabannya di postingan ini.

    Yuk ah,, ngeblog lagi!