Short Story #350: Stronger. Better.

Martha baru saja masuk ke dalam apartemen ketika Guntur keluar dari kamarnya, lalu tas punggung di kursi ruang tamu. Tepat di atas dua buah koper beda ukuran di bawahnya. “Udah bulat?” Martha bertanya sambil mengunci pintu lalu menuju dapur kecil. “Ya.” Guntur menjawab sambil melihat lagi ke barang-barangnya. “Udah semuanya?” “Yang bisa kubawa, iya.” “Jadi

Short Story #349: Alasan

Yoga merapikan pecahan-pecahan kaca yang berserakan di lantai. Sesekali ia menghela napas, tapi hanya itu. Tak ada perkataan yang ia ucapkan meski ia ingin. Saat ia tengah memasukkan bagian kecil pecahan-pecahan kaca tersebut ke sebuah kantung kertas, Devi terlihat menarik kopernya menuju pintu depan. Beberapa langkah dari posisi Yoga. “I’m leaving.” Devi memberitahu. Yoga tak menjawab meski

Short Story #348: Stick Back

“Kalo aku bisa milih, aku juga ga bakal mau pergi.” Julia memberitahu. “Maksudmu, kamu ga punya pilihan?” Indra menanyakan hal yang sama, seperti beberapa tahun yang lalu. “Kamu yakin mau ngulangin ini lagi?” Julia balik bertanya. “Ya karena kamu ngomong gitu, aku jadi pengen inget lagi.” Indra memberitahu. “Karena sebenarnya, aku sudah lupa.” “Termasuk melupakanku?” Indra

Short Story #347: Catch Up

“Ga pernah aku ngerasa sesendiri ini…” Renata menggumam. “HeY, what are you talking about? I’m always here.” Kusno langsung merespon dengan memeluk lebih erat. Renata menoleh ke Kusno yang berada di sampingnya. “Maksudku bukan kamu…” “Trus, ada cowok lain dalam hidupmu?” Kusno bertanya. Memastikan. “You know you’re the one only.” Kusno tersenyum. Lalu membelai rambut

Short Story #346: Bikin Happy

“Udahan ya nangisnya.” Harsa membujuk Lindri yang masih sesenggukan. “Nanti berkurang cantiknya.” “Jadi jelek, gitu?” Lindri menjawab sambil masih sesenggukan. “Ya engga. Berkurang aja cantiknya daripada biasanya.” Harsa langsung merespon. “Kalo mau bilang aku jelek, ya jujur aja deh. Ga usah sok-sok ngehibur segala.” Lindri membentak. Harsa sejenak kaget, tapi kemudian justru terkekeh. “Yaudah, terserah kamu

Short Story #345: Sedikit Cerita

“Bener ‘kan yang gue bilang kemaren.” Sarah berkomentar sambil menyimpan tasnya di atas meja kubikelnya. Jane dan Jeremy yang menjadi teman dekat kubikelnya, serempak menoleh. “Yang mana?” Jeremy bertanya. “Itu lho, yang kemaren sore.” Sarah menjawab. “Pagi ini gue liat sendiri tuh ternyata si anak baru itu emang udah tekdung!” “Lo liat di mana, nek?”

Short Story #344: Hit

“Hei…” Hakim akhirnya menghampiri seorang pria yang berdiri di tepi jembatan, setelah beberapa menit ia hanya dia memperhatikan. Pria tersebut hanya menatap ke bawah. Berpura-pura tak mendengarkan. “Saya tau kamu bisa denger saya. Jadi jangan pura-pura.” “None of these are your business.” pria tersebut menjawab. “Pergi aja sana..” “Mungkin bukan urusan saya, tapi sebelum gimana-gimana, boleh ga saya tau

GrabHitch: Pilihan Terbaru Untuk Perjalanan

Sebagai masyarakat Jakarta yang aktif untuk bepergian hampir setiap hari dan menggunakan moda transportasi yang berbeda-beda – kendaraan pribadi maupun juga umum, seringkali saya dihadapkan pada sulitnya mengatur waktu perjalanan. Baik itu waktu untuk berangkat/pulang, maupun waktu di perjalanan. Terutama di hari kerja (weekdays) Senin-Jumat karena jam kerja saya yang tidak seperti orang kebanyakan. Bayangannya

Short Story #343: Pelarian

“It’s our anniversary tomorrow.” Bruce memberitahu sambil menyodorkan segelas minuman beralkohol. “Apa yang paling lo inget dari kita?” “Kita?” Mia meragukan ucapan Bruce, tapi tak ragu untuk mengambil minuman beralkohol darinya. “Iya, kita. Emangnya kalo aku ngomongin anniversary, soal siapa lagi?” Bruce kembali bertanya, kali ini sambil menuangkan minuman beralkohol di gelasnya sendiri. “Hmm…” Mia

Short Story #342: Landasan

“Apa yang terjadi dengan ‘my door always open for you’?” Laksmi setengah berteriak dari luar di sela pintu apartemen yang setengah terbuka. “Semuanya udah berubah sejak terakhir kali lo ke sini.” Wira memberitahu dari dalam apartemen. Sedikit jauh dari pintu agar Laksmi tak dapat melihatnya. “Sejak kapan? Pas gue mabok itu?” “Iya!” Wira balas setengah berteriak.