Short Story 0 Comments

Mira baru akan mengetuk pintu apartemen Sakti ketika Sakti membuka pintu dan hendak keluar dari dalamnya. Selanjutnya mereka justru saling diam menatap canggung. “Eh, kamu..” Sakti akhirnya angkat bicara. “Hai..” Mira menyapa. “Mau masuk?” “Ya mau ngapain lagi?” Mira menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Meski bukan itu sebenarnya pertanyaan yang sudah lama ia pendam dan hendak tanyakan ketika

Read More

Short Story 0 Comments

“Seru kali ya kalo hidup di masa depan.” Joanna berandai-andai. “Kamu pikir kita sekarang hidup di masa apa?” Felicia menjawab sambil menutupi matanya yang silau diterpa mentari senja. “Present. Masa sekarang.” Joanna menjawab sambil menoleh. “Karena waktu itu relatif, bisa juga yang kamu sebut sekarang itu sebenarnya masa depan dari masa lalu.” Felicia menjawab. “Ugh.. you and your

Read More

Short Story 0 Comments

Dewi menutup pintu setelah mempersilakan seorang pria pamit dan keluar dari apartemennya. Ia lalu berbalik ke arah Devi, adiknya yang belum mengubah posisi duduknya di kursi sofa ruang depan. “Gimana? Oke?” Dewi lalu duduk di kursi sebelah Devi. “Sejauh ini, ceklisnya yang paling banyak.” Devi menjawab kalem. “Sejauh ini?!” Dewi setengah berteriak. “Dia cowok kelima belas

Read More

Short Story 0 Comments

Beberapa bunga terkumpul dalam genggaman Rasyid. Dalam perahu yang bergoyang terkena ombak, ia melepas bunga tersebut ke hamparan laut. Lalu menatapnya sampai hilang dibawa arus. Perlahan, perahu kayu sewaan mulai kembali ke pesisir dari tengah laut. “Do you know what makes it beautiful?” Rasyid bertanya pada Dara yang duduk di dekatnya, tapi tanpa mengalihkan pandangannya dari

Read More

Short Story 0 Comments

“Secantik apa sih dia?” Ratih bertanya memecah sunyi perjalanan. “Siapa?” Panji yang tengah fokus menyetir bertanya balik. “Dia, yang terakhir sebelom kamu ketemu aku.” Ratih memberitahu. Panji diam sejenak. Tangannya pura-pura membenarkan posisi kacamata hitamnya. “Ya.. cantik begitulah. Sama seperti perempuan lainnya.” “Tapi beda denganku, ‘kan?” Panji menoleh sejenak. Lalu tersenyum. “Jelas beda, lah.” “Kenapa?” Panji diam lagi.

Read More