New Media, Kenapa Tidak?

“New Media”, istilah itu sepertinya belum awam dan jamak didengar. Tapi walau begitu, “New Media” layak menjadi sebuah sorotan perkembangan media saat ini. Karena “New Media” menjadi sebuah bentukan media baru, untuk menambah bentukan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Secara singkat, “New Media” bisa dilihat sebagai media yang muncul di ranah online – dalam jaringan (daring).

Seperti yang sudah saya sebutkan, “New Media” merupakan bentukan media baru. Jadi sesungguhnya, ia tidaklah bisa menggantikan media yang sudah ada, yakni media cetak dan media elektronik. Setidaknya, itulah yang diungkapkan oleh Putu Laxman Pendit, salah satu praktisi media yang baru-baru ini membagi ilmunya pada saya.

Menurutnya, “New Media” harus bisa mendukung bentukan media yang sudah ada, dan bukan menggantikan, apalagi mematikannya.

Jika pada perkembangannya “New Media” bisa menggantikan atau justru mematikan bentukan media yang sudah ada, maka terdapat sebuah kesalahan strategi dari media tersebut ketika ia memasuki “New Media”. Kenapa demikian? Karena lazimnya bentukan media yang sudah ada, baik itu cetak atau elektronik otomatis sudah memiliki eksistensi merek yang cukup kuat, akan tetapi ketika ada bentukan “New Media” seringkali strategi yang dilakukan adalah berdasarkan latah atau ikut-ikutan. Padahal, bukan seperti itu siasat yang tepat.

Pada “New Media” layaknya juga dibuat strategi yang baru juga seperti namanya. Strategi yang baru tersebut, bisa dilakukan dengan membuat brand atau merek dari bentukan media yang sudah ada, lebih mengenal dari para pegiat online (daring) — yang notabene merupakan tempat hidup dari “New Media”. Dengan lebih mengenal para pegiat online, sudah barang tentu brand atau merek media tersebut akan bisa mengenali para pengguna online lainnya. Singkatnya, kenali para pengguna dari sejumlah pegiat yang sudah fasih menggunakan jaringan online.

Dari mengenali para pengguna, kemudian barulah bisa dibuat strategi yang tepat disesuaikan dengan tujuan dan juga profil dari media tersebut yang sudah diketahui oleh orang banyak – selain di ranah online. Profil ini dimaksudkan untuk membuat diferensiasi dengan merek/brand yang sudah ada di ranah online, serta membuat lebih banyak pengguna tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Dari situlah, nanti akan tercipta sebuah sinergi antara merek/brand media dari bentukan yang sudah lama, dengan para pengguna yang bisa jadi adalah para pembaca atau penggemar setia merek atau brand tersebut.

Singkat kata, terjun ke “New Media” yang berada di ranah online, perlu menggunakan siasat yang tak sekadar latah, tapi harus bisa menciptakan diferensiasi yang justru mengeratkan antara merek/brand dengan para penggunanya. Dan, hal tersebut dapat diwujudkan dengan sempurna jika memiliki tim yang kompak yang supportif di belakangnya. Ciri-ciri tim tersebut antara lain tersusun atas orang-orang yang peka, dinamis, dan berani mencoba hal-hal baru terutama di dunia online.

Jadi, “New Media” kenapa tidak?

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 × = eighteen