RSS Feed

Menentukan Sudut Pandang

October 21, 2008 by Billy Koesoemadinata

Seorang penulis yang baik, pastinya mengetahui bagaimana cara menentukan tulisannya agar dapat dibaca dengan baik oleh pembacanya. Dalam artian seperti ini, penulis dapat menempatkan dirinya melalui tulisannya, dalam menyapa pembaca tulisannya. Masih bingung? Berikut penjelasannya.

Penempatan diri seorang penulis melalui tulisannya, dapat menentukan reaksi ataupun respon pembaca nantinya. Sehingga, pembaca tulisan dapat dengan mudahnya mengerti tulisannya. Atau mungkin, serasa menjadi pelaku utama dalam tulisan tersebut, dan berteman dengan penulisnya. Sehingga, hubungan penulis dan pembaca tertata dengan baik.

Hal tersebut dikategorikan sebagai hal yang penting untuk penulis, karena tanpa pembaca, maka apa artinya tulisannya. Sehingga, jika hanya menulis saja tapi kemudian tidak dapat diapresiasi oleh pembaca, maka tulisannya kurang berarti. Karena sinergi pembaca dan penulis diperlukan agar tulisan penulis dapat terus membaik, dan pembaca sendiri akan loyal kepada penulis yang bersangkutan.

Jadi, menempatkan diri adalah cara terbaik dari seorang penulis dalam ‘menyapa’ pembacanya. Lantas, memangnya, ada berapa macam cara penempatan diri seorang penulis dalam karya tulisnya? Lazimnya, cara-cara penempatan diri seorang penulis atau yang biasa dikenal sebagai sudut pandang, adalah sebagai berikut,

1. Sudut pandang orang pertama.
2. Sudut pandang orang ketiga.

Dan, berikut penjelasannya.
1. Sudut pandang orang pertama.
Dengan menggunakan sudut pandang ini, penulis berlaku sebagai pelaku utama dalam cerita. Ciri-ciri yang biasa dipakai adalah, dengan menggunakan kata-kata, saya, aku, beta, hamba. Bahasa yang dipakai dalam tulisan, bisa merupakan perpaduan antara pendapat, maupun kata-kata hati.

Jika di kemudian hari menggunakan sudut pandang ini sebagai cara menulis, maka akan terdapat dua macam. Yaitu,
a. Sudut pandang orang pertama pelaku utama,
b. Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.

Penjelasan mengenai ini, akan diperjelas di postingan lainnya.

2. Sudut pandang orang ketiga.
Jika menggunakan sudut pandang ini, maka penulis berlaku sebagai orang di luar cerita ataupun tulisan. Penulis lebih sebagai pengamat, yang dapat keluar masuk setiap saat, menceritakan apa pun yang diperlukan. Bahasa yang dipakai pun, lebih sering menggunakan petunjuk bahwa sesuatu dikerjakan oleh orang lain.

Nah, demikian uraian singkatnya. Jadi, cara tulis ditentukan oleh sudut pandang yang akan dipakai dalam tulisan. Hal ini seringkali diabaikan karena terdapat lisensia puitika, akan tetapi akan lebih bagus lagi jika kemudian tulisan menggunakan sudut pandang tertentu, agar pembaca tidak bingung dan merasa dekat dengan penulisnya.

Bagaimana dengan Anda?


No Comments »

No comments yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− three = 1

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>