Kapan Libur(an)?

Baru masuk tahun yang baru trus udah nanya liburan? Ga salah?

Ga. Ga salah.

Buat yang mengenal dekat saya — minimal pernah bekerja/kuliah setim, pasti tahu pasti saya tipe orang yang rewel banget soal jadwal. Buat saya, jadwal itu penting karena menentukan sesuatu bisa berjalan sesuai rencana atau engga.

Yes, you read that right. Jadwal menentukan sesuai rencana atau engga. Termasuk jadwal untuk libur(an).

Buat yang tinggal dan bekerja di Indonesia, jadwal untuk libur(an) paling lazim adalah hari libur nasional dan lebaran. Hari libur nasional biasanya 1 tanggal setiap peringatannya. Sementara libur lebaran biasanya lebih dari seminggu, karena ditotal antara 2 hari Idul Fitri, dan 3-4 hari cuti bersama. Belum lagi kalo ternyata ada hari Minggu, ditotal bisa dapet minimal 10 hari kalender atau sekitar 7 hari kerja.

Tapi kalo liburan di tanggal-tanggal tersebut, biasanya (lagi) tempat wisata udah hampir pasti penuh, pun dengan jalanannya. Trus musti gimana? Beginilah alasannya perlu perencanaan/penjadwalan.

Buat yang suka travelling, pasti udah kenal istilah peak season, dan low season. Biasanya muncul di periode penginapan dan penerbangan. Peak season di Indonesia selain libur lebaran dan hari libur nasional yang berdekatan dengan akhir pekan (jadi long week end), antara lain juga pada saat pergantian tahun (Desember akhir) dan hari libur anak sekolah (Desember-Januari, & Juni-Juli). Sementara, low season adalah di luar periode tersebut.

Nah, berdasarkan pengalaman saya, liburan paling menyenangkan adalah di saat low season tersebut. Kenapa? Karena tempat wisata tidak terlalu ramai, penginapan bisa dapat harga terbaik, dan transportasi juga tidak berebut. Kalo lewat darat dengan kendaraan roda empat ga bakal kena macet sepanjang jalan, kalo kereta/pesawat/kapal laut ga perlu berebut tiket.

Low season di Indonesia sendiri berdasarkan pengalaman saya adalah di bulan April dan Oktober. Yes, kedua bulan tersebut hampir jarang banget ada hari libur nasional dan belakangan ini belum/bukan bulan Ramadan/Lebaran.

Trus gimana kalo mau liburan ke luar negeri? Kapan low season/peak season-nya? Jawabannya, tergantung negara yang bersangkutan.

Jepang contohnya, peak season untuk liburan biasanya di bulan Maret-Mei. Karena di periode tersebut adalah musimnya bunga Sakura mekar. Sementara untuk Tiongkok (China), peak season-nya antara lain Januari-Februari, karena di periode tersebut biasanya adalah peringatan Tahun Baru Imlek – Lunar New Year.

Kalo belum tau persis peak season di sebuah negara, ga ada salahnya kok konsultasi via agen perjalanan/tur.

Tapi ya kalo mau liburan, pastiin saldo cuti masih cukup dan juga keuangan mendukung. Jangan sampe keabisan ongkos di jalan atau lagi santai-santai liburan tau-tau diteleponin kantor karena ternyata cuti sudah habis. 😆

Jadi, kapan libur(an)?

photo credit: yourbestdigs Three 2017 planners on a desk with a red pen via photopin (license)

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

2 Comments

  1. Lhaiya saya jg suka mikirnya kalo jalan enaknya ya pas low season, yg jelas transportasi lebih murah. Pernah dulu pas lebaran saya sama keluarga mudik justru pas saat malam takbiran, dan harga tiket pesawat jatuhnya lebih murah hehe

  2. @warm: yang pasti dapet murah juga kalo belinya jauh-jauh hari. mau itu low season ataupun peak season. :mrgreen:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


four + = 13