Godzilla (2014): Remake dari Hollywood yang (Lebih) Bagus

Godzilla (2014). Picture source: Wikipedia

Godzilla (2014). Picture source: Wikipedia

 Gojira! Gojira! Gojira!

Hollywood takkan pernah kehabisan ide untuk memproduksi film. Mau itu film action, superhero, drama, keluarga, hingga tokoh fiksi. Jikalau mereka kehabisan ide orisinil, maka Hollywood akan mengadaptasi ide dari belahan dunia lain, memproduksi ulang dengan menambahkan di sana-sini sesuai taste mereka. Salah satunya adalah Godzilla.

Secara pribadi, saya termasuk penggemar film maupun cerita yang di dalamnya terdapat monster besar dan atau makhluk besar yang bertarung. Sebut saja Pacific Rim, King Kong, Ultraman, bahkan Power Rangers, saya suka. Dan, Godzilla menjadi sebuah film yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Apalagi, film yang dirilis di 2014 ini memiliki judul yang sama yang dirilis beberapa tahun sebelumnya, juga dari Hollywood. Iya, saya nonton keduanya.

Godzilla (2014) ini membuat saya teringat kembali masa-masa sore hari saya menunggu stasiun TVRI-RCTI-SCTV menayangkan Ultraman, yang hadir untuk durasi 30 menit dan mengentaskan monster-monster yang datang. Tak berkaitan langsung memang – karena Ultraman adalah superhero yang melawan monster, sementara Godzilla adalah monster yang melawan monster (?). Tapi saya melihat Godzilla (2014) ini memiliki visualisasi yang lebih pas, penempatan “tokoh” Godzilla yang tepat di dalam film, serta tidak mengabaikan peran serta manusia di dalam filmnya.

Sebagai sebuah film yang menghadirkan karakter monster raksasa sebagai sentral, menurut saya Godzilla (2014) bisa membuat penonton memiliki alasan yang cukup kuat untuk menonton filmnya. Kenapa? Karena monster raksasa – Godzilla, memiliki adegan pertarungan dengan monster raksasa lainnya yang hadir di dalam film: MUTO – massive unidentified terrestrial organism. Hambar rasanya jika film yang mengedepankan monster raksasa sebagai sentral (dan juga judul), tapi tidak ada adegan pertarungan sesamanya – seperti yang gagal dilakukan di film Godzilla yang dirilis tahun 1998. Dan ini yang membuatnya lebih bagus dari remake sebelumnya.

Terlepas dari beberapa adegan pertarungan monster raksasa dan juga adegan hancurnya kota-kota terkenal secara masif, menurut saya Godzilla (2014) kurang bisa memberikan jalan cerita yang kuat. Mengawali film dengan adegan di tahun 1999 – yang dimaksudkan sebagai awal mula universe film, mendadak cerita berada di 15 tahun setelahnya. Memang sih, dari berbagai adegan terdapat potongan-potongan penjelasan apa yang terjadi selama 15 tahun tersebut, tapi tetap saja kurang kuat untuk mendukung cerita. Contohnya? Nih, di bawah,

  1. Jika benar MUTO jantan telah keluar dari telur pada tahun 1999 di Filipina lalu berpindah ke reaktor di Janjira, kenapa ia butuh 15 tahun untuk menjadi dewasa? Maksudnya, penyerapan teknologi nuklirnya dilakukan selama jadi kepompong 15 tahun gitu?
  2. Jika gelombang yang terjadi di Janjira pada tahun 1999 dan 15 tahun setelahnya sama, apakah mungkin penyebab runtuhnya reaktor Janjira bukan MUTO jantan kecil? Buktinya, di 15 tahun setelah 1999, gelombang yang sama menyebabkan MUTO jantan untuk lepas dari kepompongnya, atau memang gelombang tersebut sama? Bukannya gelombang di 15 tahun setelahnya disimpulkan sebagai panggilan untuk kawin dengan MUTO betina?
  3. Organisasinya Dr. Serizawa (ditampilkan oleh Ken Watanabe), emang ga belajar apa-apa sejak kemunculan dan “kepunahan” Gojira sampai dengan munculnya insiden di Filipina?
  4. Sejak kapan organisasi-nya Dr. Serizawa hadir di bekas reactor di Janjira? Kalo emang katanya gelombangnya baru muncul sekitaran beberapa minggu, apa mungkin alat-alat berat dan pengaturan peralatannya (yang kemudian hancur) bisa secepat itu?
  5. Kenapa Ford Brody (ditampilkan oleh Aaron Taylor-Johnson), harus ngalamin peristiwa-peristiwa yang selalu berkaitan dengan Godzilla? Bagus sih, jadinya ada 1 tokoh yang terus-menerus berada dalam cerita dan jadi “pemersatu” cerita, tapi cenderung dipaksakan karena jadinya si tokoh berarti begitu malang harus mengalami peristiwa besar berkali-kali.
  6. Apakah Godzilla dan Pacific Rim berada dalam 1 universe? à oke, pertanyaan ini membuat saya harus stop. :mrgreen:

Few final words, seperti kebanyakan film-film Hollywood, Godzilla bagus untuk dinikmati dan bukan untuk dipikirin. Iya, saya emang kebanyakan mikir. 😛 Visually bagus, cerita pembangunnya oke, latar belakang oke, cuman ada bolong aja di beberapa tempat. Overall, skornya 8.5 dari 10. Iya, saya menilainya agak subjektif karena saya tipe yang suka film-film tersebut.

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

2 Comments

  1. I see you share interesting content here, you can earn some extra money, your website has big potential,
    for the monetizing method, just type in google – K2 advices how to monetize a website

  2. dari segi animasinya udah keren, tapi tiap kali nonton mahluk2 raksasa kaya godzila memang kya nonton “Ultra-man”. haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 6 = one