Coaching Menulis #014: Konsistensi

Ya, akhirnya saya memperbaharui kembali blog menulis ini. Setelah pembaharuan (update) terakhir sudah berbulan-bulan yang lalu. Tak lain, karena memang saya akui, beberapa kesibukan membuat saya sulit untuk menyentuh blog ini dan memberikan materi yang benar-benar sesuai. Belum lagi, pelaksanaan Coaching 101 yang ternyata tidak selancar seperti rencana. Tapi ya, itulah tantangan yang harus saya hadapi tentunya. Semenjak, saya memutuskan untuk menulis, dan menulis. Lagi, dan lagi.

Oke, jadi dengan memublikasikan materi coaching ke-14 ini, saya resmi membuka kembali Coaching 101. Kali ini, saya tidak melakukan per angkatan, tapi membebaskan setiap orang untuk menghubungi saya via e-mail ke naga.tasik@gmail.com. Via e-mail tersebut, silakan saja Anda bertanya kepada saya, baik itu berkelanjutan melalui e-mail berikutnya, atau bertemu, atau cukup satu-dua kali saja. Bebas. Tak ada ikatan. Dan, jangan lupa tuliskan di subject-nya “Coaching 101” yang kemudian diikuti oleh keperluan Anda.

Dan, untuk materi ke-14 ini, saya mengambil tema: Konsistensi.

Coaching Menulis #014: Konsistensi

Konsistensi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan yang beralamat di sini, kata ‘konsistensi’ berarti:

n1 ketetapan dan kemantapan (dl bertindak); ketaatasasan: kebijakan pemerintah mencerminkan suatu — dl menghadapi pembangunan yg sedang kita laksanakan;2 kekentalan: — agar-agar;3 kepadatan, kepejalan, atau ketetalan jaringan yg menyusun bagian tubuh buah; 4Geoa ketahanan suatu material terhadap perubahan bentuk atau perpecahan; b derajat kohesi atau adhesi massa tanah;
kontekstualLing kualitas terjemahan yg diperoleh dng menerjemahkan ungkapan yg cocok untuk konteks tertentu dan bukannya untuk semua konteks

Singkat cerita, konsistensi berarti tetap dan mantap. Saya sendiri sering mengartikan konsistensi sebagai “sebuah keadaan untuk tetap melakukan yang sudah ditetapkan di awal kegiatan.” Jadi, kurang lebih konsistensi adalah melakukan sesuatu secara terus-menerus, sesuai target, hingga mencapai tujuan. Meski begitu, tujuan yang ingin dicapai bisa jadi terus berubah-ubah sesuai dengan perkembangan situasi.

Bingung? Oke, mari kita sederhanakan saja dengan mengambil contoh kasus dalam menulis.

Andai Anda sudah merencanakan untuk membuat sebuah tulisan semacam artikel yang memiliki panjang kurang lebih sekitar 3-4 halaman A4. Jika ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang lengkap, maka harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (What, When, Why, Where, Who, & How). Dan, dalam perencanaan tersebut juga dilakukan pemilihan jenis tulisan yang akan dibuat, ada persuasi, argumentasi, narasi, deskripsi, dan masih ada beberapa jenis lainnya.

Lalu, setelah perencanaan tulisan selesai, apa? Tentu, jawabnya adalah pencarian data untuk tulisan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan mencari narasumber, baik itu ahli ataupun masyarakat, melakukan penelitian lewat internet, buku-buku, hingga kemudian membuat sebuah catatan lengkap. Nah, khusus untuk catatan ini bisa juga dilakukan dengan membuat sebuah jurnal — mencatat tanggal, waktu, siapa orangnya, dan apa isi percakapan dengan orang tersebut.

Selesai sampai di situ? Jelas tidak! Penelitian dan pengumpulan data, harus segera diikuti dengan penulisan mengenai artikel yang sudah direncanakan sejak awal. Dan, untuk mengawali menulis, terkadang sulit untuk dilakukan. Kenapa? Karena ada beberapa energi yang terkuras di saat mencari dan mengumpulkan data lewat penelitian tersebut. Dan, untuk tetap menulis sesuai dengan rencana itulah diperlukan konsistensi.

Iya, konsistensi. Ketetapan hati untuk tetap melakukan rencana sejak awal untuk mencapai tujuan itu begitu penting dalam menulis. Dengan tetap konsisten terhadap rencana, maka kita akan bisa menulis sesuai keinginan awal seperti yang tertulis di rencana kita. Dengan konsistensi, kita dapat menyelesaikan tulisan sesuai jadwal atau target yang kita inginkan.

Memang diakui, konsistensi terkadang sulit dilakukan bagi kebanyakan orang. Penyebabnya banyak, tapi lazimnya karena mereka belum terbiasa. Lantas, jika sudah terbiasa apa bisa langsung konsisten juga? Saya ingin sekali menjawab “IYA” dengan lantang, tapi sepertinya sulit. Mengingat-ingat, saya juga tidak konsisten terhadap blog ini. :mrgreen:

Oke, lalu harus bagaimana agar tetap konsisten? Mudah saja, lakukanlah sepenuh hati Anda akan apa yang sedang Anda lakukan. Jika sedang merencanakan untuk menulis mengenai sebuah hal, maka lakukanlah sepenuh hati, dan konsistensi akan mengikuti dengan sendirinya. Jadwal yang super efektif sekalipun takkan bisa mengalahkan kekuatan hati dan juga konsistensi.

Dan, jangan pernah meremehkan kekuatan konsistensi. Kenapa? Karena dengan sebuah konsistensi, target yang direncanakan bisa dapat tercapai, atau bahkan terlampaui! Jadi, mulailah Anda menulis dengan konsisten! *pengingat untuk diri saya sendiri juga tentunya*

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

2 Comments

  1. akhirnya muncul lagi coaching menulisnya 🙂

    oke, saya daftar jadi murid pertama yah 🙂

  2. terima kasih mas., artikel ini sangat membantu saya yang sedang belajar menulis… semoga apa yang disampaikan di blog ini terus bermanfaat bagi teman-teman semuanya…
    salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 − one =