Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

Tak terasa, ternyata saya sudah melewatkan 1 minggu tanpa materi coaching menulis. Wah, saya sangat menyesal! Entah kenapa, saya menghadapi banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan di tanggal yang sama. Tapi, walau demikian mudah-mudahan materi Coaching Menulis ini bisa mengobati rasa kecewa tersebut.

Memulai untuk menulis, bagi kebanyakan orang memang sulit. Tapi kemudian, ketika proses menulis sudah berjalan, bisa jadi orang-orang tersebut tak ingin segera berakhir. Tapi, menulis memang harus berakhir agar didapatkan akhirannya yang tentu akan diteruskan pada proses selanjutnya.

Mencari ide, mengembangkannya, dan kemudian menulis serta mengakhiri dengan membuatnya lebih bermakna dengan bungkus yang sesuai, akan membuat tulisan menjadi lebih sempurna ketika ia diterbitkan. Apapun bentuknya, melalui media massa, media elektronik, ataupun diterbitkan sebagai buku, tentu akan mendatangkan kepuasan tersendiri bagi sang penulis.

Coaching Menulis #012: Tawarkan ke Penerbit

Rasa minder seringkali muncul terlebih dahulu ketika kita akan menawarkan tulisan ke penerbit. Takut ditolak, tak percaya diri, ataupun menghindari kata-kata pedas dari penerbit adalah alasan yang seringkali dilontarkan jika tulisan tak kunjung dikirimkan. Padahal, tanpa mengirimkan tulisan ke penerbit, kita takkan pernah tahu seperti apa reaksi penerbit terhadap tulisan kita bukan?

Mengirimkan tulisan ke penerbit, adalah sebuah hal yang wajib dilakukan agar tulisan kita lebih diketahui banyak orang. Apalagi, ketika tulisan tersebut dimuat dalam media massa yang memiliki sebaran luas. Tak ayal jika nantinya tulisan tersebut dibaca oleh banyak orang, tentu akan membuat penulis menjadi selebritis dadakan. Tapi, apa benar seindah itu?

Surat Pengantar

Apa yang perlu dilakukan sebagai awal mengirimkan tulisan ke penerbit? Tentunya mempersiapkan tulisan sebaik-baiknya, seperti yang sudah saya pernah sebutkan di pembungkusan tulisan yang baik. Dengan tampilan yang menarik, tentu staf editor penerbit akan lebih tertarik ketimbang naskah yang tak tampil dengan menarik.

Lalu, apa lagi? Mempersiapkan surat pengantar naskah adalah jawabnya.

Ya, surat pengantar naskah adalah sebuah bantuan kecil sehingga tulisan Anda lebih dilirik. Apa pasal? Ibarat kata pengiriman barang, seorang kurir yang mengirimkan barang tersebut tentu akan lebih menyenangkan pelanggan jika ia santun, menyapa pelanggan dengan baik, serta jasa pengiriman barang yang sempurna tanpa cacat. Nah, surat pengantar naskah adalah ibarat kurir ataupun hal yang akan membuat tulisan kita dianggap lebih sopan.

Seperti apa bentuknya? Yang berikut ini saya harap bisa menjadi contoh surat pengantar yang baik.

Yth. Editor Penerbit ABCD (sebutkan nama penerbitnya)

Perkenalkan, nama saya Billy Koesoemadinata. Bersama dengan surat ini saya kirimkan satu eksemplar naskah tulisan saya yang berjudul “CONTOH” (sebutkan judulnya).

Naskah “CONTOH” ini bergenre fiksi. Sebuah novel yang bercerita mengenai kehidupan seorang pria yang selalu menjadi kelinci percobaan bagi orang lain. Ia menghidupi dirinya dari menjadi objek percobaan dikarenakan ia tak mau ambil pusing terhadap pekerjaan lain. Semuanya berjalan lancar sampai suatu ketika ia dijadikan objek percobaan kedokteran yang mengubah jalan hidupnya.

Mudah-mudahan naskah “CONTOH” ini dapat memenuhi kriteria penerbitan di ABCD. Saya tunggu kabar baiknya.

Terima kasih.

Billy Koesoemadinata

Oke, jadi begitu contoh surat pengantar yang saya berikan. Secara singkat, surat pengantar memuat,

  1. Sapaan terhadap penerbit,
  2. Keterangan singkat mengenai naskah tulisan,
  3. Sinopsis dari naskah tulisan,
  4. Harapan untuk dihubungi kembali.

Surat pengantar yang saya jadikan contoh ini merupakan salah satu contoh. Dan, pada praktiknya lebih banyak lagi surat pengantar yang dapat dibuat atau diberikan kepada penerbit. Umumnya, jika penerbit memang mencari naskah, maka ia pun akan menetapkan kriteria yang diperlukan. Sehingga, hal-hal yang ditulis di surat pengantar pun akan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Bagaimana jika tulisan yang dikirim adalah artikel?

Surat pengantar yang disertakan kepada penerbit ataupun surat kabar dan media massa tetap harus diberikan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa fungsi surat pengantar adalah ibarat seorang kurir yang menyapa pelanggan terlebih dahulu sebelum memberikan barang yang diantarkannya.

Mengirimkan tulisan artikel ke surat kabar ataupun media massa menurut saya justru akan sangat baik jika menyertakan surat pengantar. Kenapa? Karena media massa bersifat mencakup banyak hal yang lebih umum dibanding dengan buku. Segala macam hal dapat tercakup di dalam media massa, dan semua harus bisa dipertanggungjawabkan dengan nama media massa tersebut. Dapat terbayangkan jika media massa menerbitkan sebuah tulisan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka kredibilitasnya akan runtuh dalam seketika.

Komponen surat pengantar ke media massa pun memiliki tambahan dibandingkan surat pengantar untuk naskah buku. Yakni, keterangan mengenai penulis yang lebih lengkap. Contohnya adalah pekerjaan sehari-hari dari penulis yang mengirimkan artikelnya. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi referensi untuk mencari latar belakang tulisan artikel tersebut.

Setelah dikirim, lalu bagaimana?

Menunggu. Itulah hal yang paling pasti dari mengirimkan tulisan ke penerbit ataupun media massa. Menunggu, adalah hal yang memang harus dilakukan ketika kita mengirimkan tulisan ke penerbit maupun media massa. Menunggu kabar diterima akan diterbitkan, atau tidak.

Durasi waktu pemberian kabar apakah naskah tulisan kita akan diterbitkan atau tidak di sebuah penerbit dan media massa tak ada bilangan pasti. Namun, terdapat anggapan umum yang beredar di kalangan penulis dan penerbit, bahwa jika dalam waktu 3 bulan tidak terdengar kabar dari penerbit buku mengenai naskah yang kita kirimkan, maka anggap saja naskah tersebut ditolak.

Sementara itu, untuk kabar pemuatan artikel di media massa, anggapan durasi waktunya lebih singkat lagi. Yakni, jika dalam waktu maksimal 1 bulan tidak ada kabar, berarti tulisan artikel yang dikirimkan telah ditolak. Kenapa saya bilang 1 bulan? Karena terkadang media massa menyimpan beberapa tulisan artikel yang masuk ke mereka, untuk kemudian dianalisa kembali jika masih menjadi tren dalam 1 bulan tersebut. Dan juga, 1 bulan tersebut adalah jangka waktu terlama periode terbit sebuah media massa. Memang, ada pula sebuah media massa yang periode terbitnya lebih dari 1 bulan, akan tetapi sangat jarang sekali akan ada kabar mengenai dimuat atau tidak lewat dari 1 bulan.

Jadi, sudah siap untuk membuat tulisan Anda untuk dikonsumsi pembaca?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

2 Comments

  1. informasi yang bagus..saya akan coba mengirimkan naskah saya ke penerbit dan saya akan sesuai prosedur yang sudah dijelaskan diatas

  2. Terimakasih atas ilmu yang diberikan melalui tulisan-tulisan ini. sekarang saya akan mencoba untuk memperbaiki tulisan saya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


four × 2 =