Coaching Menulis #011: Bungkus!

Layaknya sebuah perjalanan, sebuah permulaan pastinya akan diakhiri dengan sebuah penghabisan. Begitu pula proses menulis, karena sesuatu yang berawal akan lebih baik jika memiliki sebuah akhir. Namun, akhir sebuah proses menulis merupakan awal yang baru bagi proses selanjutnya.

Menulis, adalah sebuah perjalanan yang melenakan penulisnya sehingga terus membuatnya tetap berkutat dengan tulisannya. Ide dan segala pikiran ditumpahkan ke dalam tulisan agar membuatnya menjadi sebuah mahakarya yang memuaskan. Dan, setelah semuanya selesai tentu langkah yang ingin dilakukan adalah mengirimkannya ke pihak yang bisa membuat tulisan kita dibaca oleh banyak orang. Benarkah begitu? Hmm.. tentu tidak. Karena ada sebuah tahapan kecil yang akan lebih menyempurnakan tulisan kita tersebut.

Coaching Menulis #011: Bungkus!

Pada materi coaching kali ini, saya akan menganalogikan penulis sebagai seorang juru masak. Profesi yang berkaitan dengan makanan serta selera tersebut, memiliki beragam tahapan serta kemahiran dalam memasak dan menghasilkan masakan makanan bagi para penikmatnya. Nah, tulisan tentunya adalah masakan makanan tersebut.

Bagi seorang juru masak pemula, memasak makanan adalah sebuah pekerjaan yang teramat sulit. Jangankan menyajikan masakan, mendapatkan bumbu-bumbu yang tepat dan ideal tak semudah yang dibayangkan. Namun, dengan latihan dan juga percobaan yang terus dilakukan tentu akan membuat keahlian semakin terasah dan juga kemampuan semakin jitu.

Juru masak yang baik tentunya akan menikmati setiap proses yang terjadi dalam menghasilkan masakannya. Setiap detil dan juga perlengkapan yang diperlukan akan diperlakukan dengan baik agar terciptanya sebuah kesempurnaan. Dan, setelah proses memasak hampir selesai, penyajian yang tepat adalah sebuah keharusan. Itulah mengapa coaching kali ini saya mengambil tema ‘Bungkus!’.

Sajian Terpilih

Pernahkah Anda menikmati masakan makanan di sebuah restoran berkelas yang makanannya kebanyakan adalah khas benua lain dan dibandrol dengan harga yang tinggi? Bagi yang belum, tidak mengapa. Karena sebenarnya yang berada di sana adalah masakan makanan yang rasanya nikmat dengan sajian yang menarik sehingga harga yang selangit pun layak untuknya.

Lalu, pernahkah Anda menikmati masakan makanan di pedagang kaki lima pinggiran jalan dengan gerobak, dipikul, atau mungkin di kios-kios kecil? Harganya umumnya terjangkau dengan variasi makanan yang tersaji secara umum namun memiliki rasa yang berbeda-beda di setiap penjualnya, yang bisa jadi tidak berbeda jauh dari restoran berkelas yang saya sebutkan sebelumnya.

Nah, sekarang seperti ini. Andaikata di depan Anda terdapat sebuah piring berisikan dua buah makanan yang masing-masing berasal dari restoran berkelas dan kaki lima. Mana yang akan dipilih pertama kali untuk dicicipi? Bagi kebanyakan orang pasti akan memilih makanan dari restoran berkelas. Alasannya beragam, mulai dari harga yang mahal, bahan yang berbeda, rasa yang (bisa jadi) lebih baik, hingga kualitas pembuatnya yang baik atau tampilannya yang menarik. Apapun, yang menentukan makanan tersebut terlihat lebih baik tentunya adalah cara penyajian yang menarik oleh sang juru masak.

Membungkus Tulisan

Tulisan selayak masakan yang diracik oleh juru masak, tentunya memerlukan penyajian yang menarik agar menjadi pilihan penikmatnya. Dengan mengesampingkan nama penulis – yang belum tentu banyak dikenal orang, sebuah tulisan dengan tampilan yang menarik akan lebih mudah untuk disebarkan ke khalayak ramai melalui media publikasi.

Salah satu langkah untuk mengawali pembungkusan tulisan, adalah dengan mengedit sendiri tulisan tersebut seperti yang telah saya sebutkan di materi coaching sebelumnya mengenai Self Editing. Nah, langkah selanjutnya setelah awalan tersebut, adalah dengan membuat tulisan kita menjadi lebih menarik dari sisi tampilan.

Tenang, saya tidak akan menyuruh untuk menambahkan gambar-gambar kartun di sekeliling tulisan – pada bagian kosong kertas, ataupun memilih kertas berwarna menarik dengan aroma menggoda selera. Bukan, bukan begitu. Tapi lebih ke sisi teknis penyajian tulisan agar tepat tujuan.

Lengkapi

Apa saja yang perlu dilengkapi agar penyajian terlihat lebih sempurna? Apakah setelah selesai menulis lalu langsung diprint begitu saja setelah melalui self editing? Jawabnya akan ditemukan di pembahasan berikut ini.

Data diri. Informasi berupa nama lengkap, serta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi adalah data yang perlu dilengkapi ke dalam tulisan yang telah selesai ditulis. Tanpa informasi ini, pihak yang akan menerbitkan tulisan kita tentu akan kesulitan untuk menghubungi kita.

Nomor halaman. Untuk sebagian orang, penomoran halaman di kertas seringkali terlewatkan karena tak dianggap penting. Padahal, untuk memudahkan pembacaan bagi pihak yang akan kita kirimkan untuk menerbitkan, nomor halaman ini menjadi penting, dan terkadang menjadi poin lebih tentang keseriusan dan ketelitian.

Judul dan kata-kata deskripsi. Pemilihan kata yang tepat untuk tulisan kita, ibarat penunjuk seberapa menarikkah tulisan kita. Dengan kata yang tepat, tentunya pembaca akan lebih tertarik untuk membaca tulisan kita secara menyeluruh dibandingkan dengan judul yang tak menarik. Dan terkadang, judul dan kata-kata deskripsi harus bersifat kontradiktif, aktual, serta fantastis.

Jarak baris atau paragraf. Tak dapat dipungkiri sebuah tulisan yang baik umumnya adalah tulisan yang memudahkan untuk dibaca. Bayangkan jika terdapat sebuah tulisan hanya merupakan tulisan yang ditimpa berkali-kali di baris yang sama, atau jarak antar baris dan paragrafnya terlalu erat. Sudah tentu pembaca pun akan kesulitan membaca tulisan tersebut.

Ukuran kertas. Selayak membuat makalah ataupun skripsi, ukuran kertas menjadi hal yang cukup vital dalam menyajikan tulisan. Ukuran kertas yang salah, selain dapat menyulitkan untuk proses printing, juga akan membuat pihak penerbit akan kesulitan untuk membaca tulisan kita. Bayangkan saja jika tulisan yang sedianya akan diterbitkan dalam bentuk halaman A4, harus diskalakan menjadi kertas yang berukuran seperempatnya.

Jilid. Hal ini tak menjadi sebuah kewajiban, akan tetapi akan lebih baik jika tulisan kita yang jumlahnya hingga berpuluh-puluh lembaran bersatu dalam sebuah jilid. Selain memudahkan dibaca oleh pihak penerbit, jilid pun akan membantu agar naskah tulisan kita tetap utuh di dalam amplop atau map untuk mengirimkannya.

Hal-hal kelengkapan yang telah saya sebutkan di atas bisa jadi sepele karena seiring penulisan pun seharusnya mereka langsung disusun. Akan tetapi, meremehkan detil-detil kecil bisa menjadi sebuah kesalahan besar di kemudian hari jika tidak diperhitungkan. Jadi, ada baiknya jika berwaspada dan bersiaga daripada menyesal di kemudian hari.

Jadi, seperti apa pembungkusan tulisan Anda? Apa bisa jadi sajian terpilih?

Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

1 Comment

  1. maju terus penulis Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 6 = three