Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Jum’at kemarin adalah hari libur. Dan, karena hari libur itulah sebuah kebetulan terjadi. Yakni, saya tak dapat terhubung dengan koneksi internet sehingga tidak bisa memberikan materi coaching. Bagi para pembaca sekalian, saya meminta maaf atas kesalahan tersebut, dan berikut ini adalah materi coaching lanjutan yang saya muat di blogs ini. Selamat membaca!

Coaching Menulis #007: Simplify ~ Sederhanakan

Dunia adalah tempat yang sangat besar dan benar-benar besar. Besar di sini, tak hanya persoalan ukuran, tapi juga tentang apa pun yang terkandung di dalamnya. Dunia mencakup milyaran orang dengan berkali-kali lipat permasalahannya, serta berkali-kali pula kemungkinan terjadinya. Jadi, dunia adalah sebuah hal yang sangat kompleks, rumit.

Itulah sebabnya banyak orang tak dapat mengerti dunia. Sebuah lagu bahkan menyebutkan bahwa dunia itu adalah panggung sandiwara, tempat manusia melakukan sebuah drama atau lakon yang telah ditetapkan Sang Sutradara Kehidupan, Tuhan YME. Dan berangkat dari konsep itulah, sebagian orang pun cerdas menangkap situasi, kejadian, momen dan peristiwa untuk kemudian disarikan ke dalam bentuk bacaan untuk dibagikan kepada khalayak ramai.

Tulisan, yang juga sering hadir dalam bentuk artikel, cerita, novel, hingga roman adalah bentuk bacaan dari rumitnya kehidupan di dunia yang ditangkap secara cerdas oleh penulisnya untuk dibagikan. Dengan kelihaian yang cukup mumpuni, penulis memiliki kemampuan untuk mencermati setiap jengkal kejadian untuk kemudian disarikan ke dalam tulisan. Tapi, bagaimanakah bentuk yang tepat?

The Right Shape

Beberapa orang menganggap bentuk yang tepat adalah tulisan yang sesuai dengan keinginan mereka. Bagi orang-orang demikian, menulis adalah hak prerogatif yang tak dapat diganggu gugat dan dilindungi oleh lisensia puitika. Sehingga produk akhir dari proses menulis adalah tulisan yang benar-benar mencerminkan apa yang diinginkan oleh sang penulis. Sebuah mahakarya yang dipenuhi oleh ego sang pencipta.

Biasanya produk tulisan yang dibuat dengan ego penulis, akan mengabaikan hal-hal yang berada di luar lingkungan penulis. Ia akan mengabaikan pendapat, masukan, dan bahkan cek silang. Ia akan memasukkan setiap sumber daya yang dimilikinya ke dalam tulisan tersebut. Mengagumkan memang akan kesungguhan penulis untuk membuat produk yang benar-benar mencerminkan dirinya, tapi pada praktiknya hal demikian belum tentu produk yang tepat.

Lalu seperti apa?

Sebuah produk tulisan yang tepat, adalah sebuah tulisan yang dapat dipahami oleh pembacanya. Lagi-lagi saya mengatakan, layaknya sebuah produk usaha, tulisan yang tepat adalah tulisan yang dapat dicerna dan “dikonsumsi” oleh pembacanya. Intinya, sebuah tulisan yang mengerti akan pembacanya.

Simplify

Seperti sudah dimuat di awal tulisan, dunia adalah sesuatu yang sangat besar. Kompleks dan rumit. Sehingga penduduk dunia pastinya ingin sesuatu yang tak juga ikut-ikutan kompleks atau rumit untuk dikonsumsi. Sebuah pandangan kebalikan yang merupakan solusi dari kehidupan sehari-hari. Dan, sudah tentu jawabnya adalah kebalikan kerumitan, yakni kesederhanaan.

Hal-hal yang sederhana tanpa disadari telah menjadi sebuah primadona yang begitu menggelegar dalam dunia penulisan serta penerbitan. Buku-buku ‘how to’ serta ‘cara praktis’ untuk buku-buku kategori non-fiksi adalah buktinya. Kategori fiksi pun tak mau kalah, buku-buku teenlit maupun chiclit adalah contoh buktinya. Dengan memandang secara menyeluruh, setiap buku tersebut adalah buku-buku yang disajikan secara sederhana untuk para pembacanya.

Kesederhanaan dalam tulisan di buku dapat tercermin dalam beberapa hal. Mulai dari pemilihan kata, penulisan kalimat, hingga struktur paragraf, bab, dan alur tulisan itu sendiri. Dengan kesederhanaan itu, tak hanya pembaca saja yang diberikan kepuasan karena lebih mudah mengerti akan tulisan, kita sebagai penulis pun juga akan menjalani proses penulisan yang lebih mudah.

Intinya, dengan menyajikan kesederhanaan, tulisan pun akan lebih mudah dikerjakan sesuai dengan outline atau kerangka yang dibangun dari ide dasar. Dan, kesederhanaan umumnya dipilih oleh pembaca yang merupakan konsumen kita.

Jadi, bagaimana tulisan kamu?

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 − four =