Coaching Menulis #005: Look Around

Mari kita rehat sejenak dari hal-hal teknis yang berkaitan dengan tulis-menulis. Saya mengajak untuk rehat tak lain agar pikiran dan juga kepala kita tak terus-menerus dikungkungi oleh “pekerjaan” dan diganti oleh hal-hal yang menghibur. Nah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Tapi, tempatnya biar saya yang menentukan karena akan berkaitan dengan coaching kali ini.

Coaching Menulis #005: Look Around

Ke mana Anda melangkahkan kaki untuk menyegarkan pikiran? Mall? Resto? Atau tempat rekreasi alam seperti pantai dan pegunungan? Bagaimana jika kita ke toko buku. Ya, toko buku. Sebuah tempat di mana banyak sekali buku diperjualbelikan dan juga sekaligus gudang ilmu dan informasi yang terintegrasi ~ meski tak bisa dipinjam selayak perpustakaan.

Di toko buku, tersedia beragam jenis, judul, tampilan dan juga penerbit. Setiap buku-buku tersebut memiliki daya tarik dan juga kelebihan tersendiri yang dianggap sangat baik dan dapat mendukung daya jual sehingga dibeli oleh konsumen. Tentunya konsumen akan lebih tertarik oleh buku yang menawan sehingga ia pun rela merogoh koceknya. Setiap transaksi tersebutlah yang menjadikan toko buku sebagai “pasar”.

Pasar
Iya, pasar. Menulis buku itu juga ibarat membuat sebuah produk, yang nantinya akan dilempar kepada pembaca melalui penerbit. Dan, penerbit-penerbit itulah yang lebih tahu pasar seperti apa. Mereka pastinya punya tim analisis dan juga marketing yang lebih mengerti akan persoalan penetrasi, strategi, dan juga banyak lagi hal-hal dan hil-hil yang harus dikerjakan agar produknya laku. Dan, kita sebagai konseptor plus pembuat produk, seharusnya lebih jago dibanding mereka, karena kita lebih tentu lebih tahu produk dan juga sasaran pembaca.

Produk yang baik, yaitu buku/tulisan yang kita buat pastinya diawali dengan sebuah tujuan. Jika hanya untuk menyalurkan hobi nulis, tak perlu bersusahpayah membuat buku. Cukup kirimkan artikel ke koran, cerpen, atau publish di blog. Dan yah, buku memang sebuah produk. Sebuah hal yang harus punya nilai daya jual.

Pergi ke pameran buku, ataupun bertemu penerbit adalah salah satu cara ampuh untuk mengetahui karakteristik penerbit yang ada di jagat raya perbukuan indonesia ini. Ada yang berdasar agama, ada yang ‘ngepop, ada yang eksperimental, dan masih banyak lagi. Dan, dengan lebih tau penerbit tentunya tulisan kita pun bisa jadi lebih kaya. kenapa? Karena kita bisa membidik penerbit mana yang bakal cocok untuk kita serahkan karya kita, dengan potensi terbit pun pastinya lebih besar dibandingkan penerbit yang tidak tepat.

Melihat Sekeliling
Konsep sederhananya adalah dengan cara look around. Melihat sekeliling. Lebih pekalah terhadap apa yang sedang terjadi, apa yang memang terjadi, dan apa yang kira-kira akan terjadi. Dan, penerbit beserta buku-buku yang mereka terbitkan adalah hal yang paling tepat untuk mempelajari hal itu.

Salah satu contoh yang paling mudah dilihat adalah, betapa sekarang banyak sekali buku-buku yang bertemakan Facebook, Twitter, hingga Plurk! Kenapa? Karena ketiga hal itulah yang kini sedang menggelora di jagad maya serta banyak sekali orang Indonesia yang menggunakannya. Peluang itulah yang kemudian banyak dibidik serta dilirik oleh kebanyakan penerbit.

Jadi, menulis itu tak hanya membuat tulisan, tapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Sudah tahu nilai jual tulisan Anda?

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


one × 2 =