Coaching Menulis #003: Plot

Pada lanjutan seri Coaching Menulis ketiga ini, saya akan membahas satu topik cukup panjang. Hal ini dikarenakan karena topik ini merupakan salah satu unsur penting dalam menulis. Yah, memang setiap langkah yang saya sajikan di seri Coaching Menulis pasti penting bukan? Ingin tahu lebih lanjut? Silakan cermati.

Coaching Menulis #003: Plot

Seringkali ide yang menarik untuk dikembangkan menjadi sebuah tulisan muncul seketika begitu saja. Kemudian, setelah didapatkan pun ide tersebut perlu dikembangkan menjadi beberapa pokok pikiran, dan tulisan pun dapat segera dimulai. Tapi, apakah bisa semudah itu? Apalagi bagi yang tak terbiasa untuk menulis.

Ada satu langkah yang baiknya dilakukan sebelum langsung menulis, yakni membuat rangkaian ide yang akan ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Bahasa resminya adalah plot, atau alur. Keberadaannya cukup penting karena ia akan menjadi benang merah dari tulisan. Sehingga jika di kemudian hari proses penulisan dilanda kemacetan atau stuck, maka ketika kemudian ditinggalkan untuk sementara kita masih akan memiliki panduan untuk menyelesaikan tulisan.

Setiap jenis tulisan tentu memerlukan alur ataupun plot. Fiksi atau nonfiksi, cerita ataupun panduan, hingga biografi ataupun buku laporan peristiwa. Tiap-tiap tulisan tersebut pasti memerlukan sekaligus menggunakan alur atau plot. Tapi setiap jenis tersebut pasti menggunakan plot yang berbeda-beda bergantung kepada bagaimana penulis ingin membangun impresi para pembaca melalui tulisannya.

Susunan Plot

Sebelum melangkah lebih jauh dan menentukan plot tulisan, ada baiknya mengenali susunan plot. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan ketika nanti harus membuat plot yang diterjemahkan ke dalam runutan ide topik, ataupun ketika memilih urutan plot. Ya, memang saya akui ternyata proses menulis itu cukup rumit. Tapi pada praktiknya nanti tidak sulit kok! 😉

Umumnya, plot memiliki 6 unsur utama yang menjadi penyusun plot. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian atau kesimpulan. Keenam unsur itulah yang kemudian menjadi susunan utama plot. Tanpa ada salah satunya, tulisan akan terasa janggal karena ada salah satu unsurnya yang hilang.

Tapi kemudian, jika tulisan memang disengaja untuk dibuat menggantung, maka tak perlulah mengkhawatirkan unsur yang hilang tersebut. Walau begitu, mari kita fokus tulisan yang lebih lengkap ketimbang membuat tulisan yang tak sempurna tersebut.

Kembali kepada 6 unsur penyusun plot. Mari kita beda satu persatu dan dimulai secara urut. Perkenalan, biasanya merupakan awalan dari tulisan. Sesuai dengan namanya, perkenalan berisikan pembukaan dari tulisan yang memuat topik apa yang akan dibahas. Dalam tulisan fiksi, perkenalan akan berupa kemunculan tokoh, sementara dalam tulisan nonfiksi akan berupa pembukaan dari topik tulisan.

Pemunculan masalah adalah tahapan selanjutnya setelah Perkenalan. Dalam tulisan seringkali ia merupakan saat di mana keberadaan topik tulisan mulai dipertajam sehingga pembaca akan mengenali maksud dan tujuan dari tulisan tersebut. Pada tulisan fiksi, maka pemunculan masalah biasanya merupakan kejadian yang dialami oleh tokohnya, sementara dalam tulisan nonfiksi berupa unsur-unsur pendukung topik yang dibahas dan bisa berupa contoh-contoh yang dikaitkan.

Ketika topik dikenali dan lebih mengerucut sehingga pembaca mengenalinya, maka kejadian selanjutnya dalam sebuah tulisan adalah terjadinya konflik. Ia merupakan lontaran masalah yang pertama kali timbul sejak pertama kali tulisan dimulai. Seringkali, konflik pun dihadirkan agar tulisan menjadi lebih menarik dan menantang pembacanya untuk melanjutkan dan menyelesaikan bacaannya.

Setiap tulisan pasti memiliki puncak yang paling menjadi daya tarik dari tulisan tersebut. Entah itu situasi yang makin menegang seperti dalam tulisan fiksi, ataupun perbandingan pendapat para ahli yang hadir dalam tulisan nonfiksi. Apapun bentuknya, klimaks haruslah memiliki unsur paling menarik dan paling “WAH” dibanding bagian-bagian lainnya. Klimaks adalah momen-momen penting dalam tulisan, di mana pembaca mengalami pengalaman puncak emosi ataupun rasa ingin tahu yang paling tinggi.

Everything comes up, would comes down. Itulah yang juga berlaku di dalam sebuah tulisan. Tensi yang terus dibangun melalui fase perkenalan hingga klimaks pun “harus” turun dengan membuat antiklimaks. Hal ini dimaksudkan agar tulisan menjadi lebih “menyenangkan” bagi pembaca karena tak harus terus dirundung oleh hype dari tulisan. Antiklimaks juga dimaksudkan agar pembaca tulisan memiliki kesempatan untuk menarik napas sekaligus menunggu akan seperti apa akhir dari tulisan kita.

Ketika semua unsur dari plot tulisan sudah muncul, maka penyelesaian adalah jalan yang paling baik. Dengan membuat fase penyelesaian, maka tulisan akan menjadi lengkap karena dapat berisikan kesimpulan pada tulisan nonfiksi maupun juga bagian akhir dari cerita fiksi yang bisa dipilih apakah berakhir bahagia, sedih, ataupun menggantung.

Memilih Jenis Plot

Terdapat 3 macam alur yang paling utama dan dikenal serta sering digunakan oleh kebanyakan penulis. Maju, mundur, serta campuran. Ketiga jenis plot tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang dapat membangun setiap tulisan sehingga terlihat lebih menarik bagi para pembacanya. Ingin tahu lebih jauh? Lanjutkan membaca tulisan ini.

Plot maju adalah plot yang paling umum dan sering digunakan di setiap tulisan. Ia memiliki ciri tulisan yang bergerak urut dari awal hingga akhir tulisan. Setiap bagian dari tulisan tertata dengan baik, sehingga pembaca tulisan pun takkan kehilangan setiap momen. Runutan peristiwanya membuat impresi yang dibangun oleh penulis seperti mendaki gunung kemudian menuruninya kembali. Perkenalan, pemunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, penyelesaian adalah fase plot yang disusun secara urut dan tidak berloncatan.

Kebalikan dari plot maju, tentu adalah plot mundur yang susunannya sudah tentu merupakan kebalikan dari plot maju. Penyelesaian, antiklimaks, klimaks, konflik, pemunculan masalah, dan perkenalan sebagai urutan fase terbalik yang sudah barang tentu akan membuat tulisan menjadi “berbeda” karena tuturan cerita akan terbalik dengan ditampilkannya amanat ataupun kesimpulan cerita terlebih dahulu, baru kemudian mengetahui masalah yang diakhiri dengan keterangan pelaku masalah tersebut.

Jika plot mundur cukup membuat bingung untuk diterapkan, namun plot maju pun tak terlalu menarik karena terlalu runut, maka ada pilihan lainnya. Gunakanlah plot campuran yang merupakan hasil paduan antara plot maju dan mundur. Ini dimungkinkan karena plot bersifat fleksibel sehingga dapat membuat tulisan menjadi lebih menarik.

Plot campuran yang merupakan hasil paduan dari maju dan mundur ini, tentunya masih menggunakan 6 unsur penyusun plot. Meski demikian, susunannya dapat diganti dan disusun ulang tanpa berurutan. Namun, apapun awalnya penyelesaian akan tetap hadir di bagian belakang. Contohnya plot campuran antara lain konflik – pemunculan masalah – perkenalan – klimaks – antiklimaks – penyelesaian.

Namun kembali lagi, apa pun plot yang akan dipilih sebagai panduan benang merah tulisan, pastikanlah bagian-bagian tulisan terus menempel dengan plot sehingga ketika urutannya akan diputarbalik akan mudah dikerjakan. Selamat menulis!

Sudah tahu plot seperti apa untuk tulisan Anda?

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

5 Comments

  1. Maaf kemaren buru2 jd blm blng kesulitannya dimana soal plot.
    Saya sbnrny kesulitan dlm pembagian plot dan membuat mind mappingnya… klo bisa dikasi contoh ya? Biar gampang dimengerti.

  2. makasih artikel ke 3 ini, Pak BIlly.

    saya dari siang tadi membaca blog ini. tapi bacanya lompat2, sih. globalnya, sangat mencerahkan.

    thanks

  3. Terima kasih… 🙂

  4. makasih ilmunya bang…

  5. terimakasih. menolong sekali. ini yang saya cari dan ingin pelajari. sedang coba-coba nulis lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 − six =