Coaching Menulis #009: Diksi ~ Pemilihan Kata

Pertama-tama, saya mau mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2010. Semoga di tahun yang baru ini, kita semua dilimpahkan rezeki, kebaikan dan segala perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dan selanjutnya, silakan menikmati lanjutan coaching menulis. 😉

Mulutmu, harimaumu. Idiom yang merupakan warisan budaya tersebut, kurang lebih berarti apa yang kita ucapkan adalah hal-hal yang bisa jadi merupakan tanda-tanda karakter kita. Selain itu, idiom tersebut juga dapat diartikan bahwa kita harus lebih berhati-hati dalam melontarkan perkataan dari mulut kita, karena setiap perkataan tersebut dapat memberikan kesan yang berbeda kepada orang yang mendengarnya, dan dapat pula dibalikkan kepada kita sendiri.

Idiom yang hampir serupa juga bisa diaplikasikan pada penulisan. Namun, bukan lontaran perkataan dari mulut, melainkan lontaran kata-kata dalam tulisan. Dengan kata lain, tulisanmu, harimaumu.

Coaching Menulis #009: Diksi ~ Pemilihan Kata

Apa yang menjadi unsur sebuah tulisan, tak jarang membuat perbedaan persepsi setiap orang yang membacanya. Layaknya perkataan dari mulut, kata-kata yang termuat dalam tulisan tak selalu diartikan sama sehingga setiap orang belum tentu sama-sama mengerti. Perbedaan persepsi tersebut dapat membuat tulisan kita menjadi “harimau” kita di hari ini, ataupun nanti.

Salah satu contoh perbedaan persepsi yang timbul adalah kasus yang sedang hangat belakangan ini. Ya, kasus Prita vs. Omni yang berawal dari surat elektronik yang ditulis oleh Prita, dan kemudian berkembang hingga mencakup banyak hal. Selain kemudian berkembang di pengadilan, kasus ini pun mendapat perhatian dunia maya melalui komunitas blogger yang memiliki kekuatan kata-kata di blog masing-masing. Singkat kata, kasus inilah bukti nyata akan kekuatan kata-kata dan juga persepsi.

Memilih Kata, Mengikuti Gaya Bahasa

Di kesempatan yang terdahulu, saya sempat memberitahukan mengenai gaya bahasa yang dapat digunakan dalam tulisan. Contoh gaya bahasa yang paling kentara adalah harian Kompas, dan majalah Tempo. Kedua media yang menjadi tolak ukur berita nasional tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok dalam hal penulisan. Dan, tak hanya gaya bahasa, tapi juga tercermin pada pemilihan kata yang berada di setiap tulisannya.

Kompas, yang memiliki gaya bahasa cergas, aktual dan meliputi segala aspek, umumnya menggunakan kata-kata yang mudah dicerna sehingga tak menimbulkan makna ganda. Pemilihan kata tersebut dimaksudkan untuk memperkuat karakter harian tersebut yang dapat dijangkau segala lapisan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berguna.

Lalu bagaimana dengan Tempo? Majalah berita mingguan tersebut juga memiliki pemilihan kata tersendiri sesuai dengan gaya bahasa satir, berironi dan tepat pada sasaran. Beberapa kata yang sering digunakan oleh Tempo adalah kata-kata yang dapat memunculkan pro-kontra dalam masyarakat, namun dilengkapi dengan ulasan yang mendalam.

Pemilihan kata yang disesuaikan dengan karakter atau gaya bahasa yang digunakan tersebut, tak ayal menjadi hal yang penting dalam penulisan. Memilih kata yang tepat, selain dapat menggambarkan ide yang ingin disampaikan dengan cermat, juga membuat karakter penulis pun tertuang dalam tulisan dan terbangun dengan sendirinya.

Diksi dan Persepsi

Proses pemilihan kata yang tepat sesuai dengan keinginan memang tidak mudah, apalagi jika kemudian dimaksudkan untuk membangun persepsi dari para pembacanya. Namun, tak mudah bukan berarti tak bisa dilakukan. Karena membangun persepsi pembaca tulisan kita, adalah semudah kita menulis kata-kata yang kemudian menjadi kalimat, lalu tersusun menjadi paragraf, dan berakhir menjadi sebuah tulisan lengkap.

Tanpa kita ketahui, setiap kata memiliki karakter masing-masing. Setiap kata tersebut secara tak terlihat, dapat menciptakan persepsi yang berbeda pada setiap orang yang membacanya jika pemilihannya tidak tepat. Oleh karena itulah pengetahuan akan diksi menjadi cukup penting agar persepsi pembaca sesuai dengan yang diharapkan oleh penulisnya.

Salah satu cara yang paling ampuh agar tepat menggunakan kata ataupun diksi, adalah dengan sering berlatih membaca dan menulis. Proses tersebut adalah untuk mengetahui persepsi yang ditangkap dari setiap tulisan yang tersedia, serta sekaligus mencoba menuliskannya kembali dengan cara berbeda agar menciptakan persepsi yang berbeda dengan semula.

Latihan: Persepsi

Kali ini, saya akan mencoba memberikan latihan untuk membuat persepsi secara berbeda dengan dua cara. Cara yang pertama, adalah dengan memberi contoh. Cara yang kedua, adalah dengan memberi tugas. Tak perlu susah-susah, cukup dengan satu-dua kalimat saja.

Cara pertama,

Berikut contoh judul sebuah artikel yang saya buat secara fiktif.

“Kebakaran Di Pemukiman Padat, Disinyalir Akibat Kebocoran Gas”

Apa persepsi yang timbul dari kalimat judul tersebut? Saya pribadi, memiliki persepsi sebagai berikut: diduga akibat kebocoran gas yang belum diketahui asalnya, daerah pemukiman padat mengalami kebakaran.

Singkat dan jelas. Judul tersebut umumnya memang ditujukan untuk memberikan persepsi yang secara langsung menjelaskan berita yang terjadi. Tak lain, pemilihan kata-katanya pun menghindari yang dapat memberikan makna ganda.

Nah, sekarang mari kita utak-atik pemilihan kata yang masih berkaitan dengan contoh judul tersebut sehingga memberikan persepsi yang berbeda. Dan, berikut hasilnya.

“Gara-gara Gas Bocor, Pemukiman Kebakaran”

Sekilas, informasi yang disampaikan oleh judul kedua tersebut serupa dengan informasi yang diberikan oleh judul pertama. Tapi, menurut saya persepsi yang timbul berbeda, yakni: sebuah area pemukiman dilanda kebakaran karena kebocoran gas.

Pada judul yang kedua ini kebocoran gas bukan lagi sebuah dugaan, melainkan kepastian yang tak terbantahkan. Meskipun belum diketahui urutan kejadian yang lengkap mengenai kebakaran, namun dengan judul demikian sudah dipastikan bahwa gas adalah biang keladi dari kebakaran. Selain itu, peristiwa kebakaran yang timbul bukan di pemukiman padat penduduk, melainkan hanya di “sebuah pemukiman” yang belum tentu padat penduduknya.

Nah, bagaimana? Sekarang mari kita lakukan cara kedua. Carilah judul atau kalimat yang bisa dijumpai di mana saja, lalu artikan persepsi yang dibangun. Setelah itu, ubah judul atau kalimat tersebut, sehingga persepsinya pun berbeda. Saya tunggu via email ya.. – mau bertanya lebih lanjut mengenai persepsi dan diksi juga bisa, koq!

Updated (4 Januari 2009): Seiring dengan bergantinya tahun dan juga diliputi oleh semangat baru, maka saya pun membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pembaca blog saya untuk mengikuti coaching mingguan mengenai penulisan yang terprogram selain melalui update postingan di blog ini. Terdapat beberapa materi program coaching penulisan mingguan yang bisa dipilih, dan ini akan menjadi angkatan kedua coaching mingguan yang saya laksanakan. Keterangan lengkap, silakan menuju tautan ini.

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

3 Comments

  1. Selain memberikan nuansa, pemilihan kata yang tepat juga mencerminkan tema tulisan. Itulah kenapa suratkabar berbeda dengan novel. Suratkabar tegas. Novel mendayu dan indah.

    Ada ungkapan yg sangat saya favoritkan: Twittermu harimaumu

  2. terima kasih atas ulasannya. Maaf saya newbi, saya baru saja belajar menulis.

    seringi-sering tulis ulasan ginian ya, mas. saya suka sekali.

    sekali lagi terima kasih

  3. Bagus kang artikelnya, berguna. Terus berkarya ya!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


three + 5 =