Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Apa yang membedakan sebuah tulisan dengan tulisan lainnya? Apa yang membedakan sebuah novel dengan novel lainnya? Apa yang menjadi diferensiasi dari seorang penulis dengan penulis lainnya? Apa yang membuat sebuah media tetap bertahan dengan tulisan-tulisan di dalamnya? Jawabnya mudah, yaitu gaya bahasa/tutur.

Coaching #006: Gaya Bahasa/Tutur & Kutipan

Tahu perbedaan Kompas dan Tempo? Kedua media nasional yang masing-masing menjadi pemimpin di jenisnya (surat kabar dan majalah), memiliki ciri khas tersendiri yang terus menjadi pakem yang menjadikannya berbeda dengan media lain yang sejenis dan bergerak di jenis yang serupa.

Kompas memiliki pembeda berupa gaya bahasa/tutur yang cergas, aktual, dan melingkupi hampir segala aspek. Ia memiliki beragam sudut pandang yang dapat digunakan sebagai latar tulisan-tulisannya. Sehingga, Kompas pun didaulat sebagai media yang dapat menjangkau segala pihak dan golongan.

Lalu bagaimana dengan Tempo? Media majalah mingguan yang merupakan perpanjangan dari Goenawan Mohammad ini, memiliki karakter yang bernada satir, terkadang berironi, namun tepat pada sasaran. Sudut pandang yang menjadi latar belakang tulisannya secara ajaib memiliki keseragaman, meskipun setiap penulisnya berbeda-beda, baik itu pendidikan, suku, hingga jenis kelamin dan agama. Kekuatan itulah yang membuat Tempo tetap bertahan dan melaju meskipun berkali-kali dilanda gugatan hukum.

Gaya bahasa/tutur dalam sebuah tulisan adalah sebuah karakter dari tulisan itu sendiri, dan juga merupakan penjelmaan dari sang penulisnya. Hal ini dimungkinkan karena setiap penulis memiliki karakter yang tidaklah sama, tidak identik, namun terkadang jika bidang yang digeluti sudah sama, maka keseragaman dan kekompakan pun tercipta. Akan tetapi, pada sebuah naskah novel fiksi, hal ini tidaklah berlaku, karena fiksi berangkat dari imajinasi.

Dasar Berbeda

Perbedaan mendasar dari menulis fiksi dan non-fiksi adalah, jika menulis fiksi berarti menciptakan kenyataan, sementara menulis non-fiksi berarti memperindah kenyataan. Dengan konsep dasar itulah mengapa fiksi dan non-fiksi terkadang berbeda pada penerapannya, yang contohnya merupakan gaya bahasa/tutur.

Dengan tujuan menciptakan kenyataan, tulisan fiksi umumnya merupakan aktualisasi dan tumpahan dari sekian juta pemikiran penciptanya/penulisnya. Siapa pun orangnya, sesukses apa pun orangnya, seorang penulis fiksi memiliki tanggung jawab yang cukup besar, yakni membuat karyanya berbeda dengan orang lain. Dan, cara tersebut yang paling mendasar untuk membuatnya berbeda, adalah dengan membuat gaya tutur yang tak ada sebelumnya, atau mengelaborasi gaya bahasa/tutur yang sudah ada yang kemudian dikembangkan menjadi gaya tersendiri.

Pada sebuah tulisan fiksi yang kemudian berkembang menjadi novel, gaya bahasa/tutur inilah yang kemudian menjadi kekuatan terbesar. Dengan gaya bahasa/tutur yang berbeda, secara tidak langsung akan membuat tulisan fiksi yang dibuat akan memiliki diferensiasi dan ciri tersendiri. Jika kemudian sulit untuk mengawalinya, maka membaca banyak tulisan fiksi itu baik, akan tetapi jangan sampai kemudian membuat gaya bahasa/tutur yang dimiliki pun tercampuri oleh gaya bahasa/tutur orang lain tersebut.

Seperti pepatah Jepang, “Mencontoh produk itu tidak apa, tapi tambahkanlah nilai lebih tersendiri agar tidak meniru melainkan membuat sebuah produk menjadi berbeda.”

Kutipan

Kutipan atau kata langsung dari sebuah tokoh/karakter yang berdiri di luar narasi, merupakan salah satu unsur penambah kenikmatan pembaca dalam memahami sebuah tulisan. Hal ini terutama berlaku pada tulisan fiksi. Kenapa? Karena kutipan akan membuat sebuah tulisan fiksi menjadi lebih kaya akan dinamika serta penulis pun tak perlu membuat narasi.

Layaknya sebuah naskah drama, kutipan adalah bentuk percakapan langsung antar tokoh. Kutipan akan menjadi kekuatan cerita itu sendiri, karena ia bisa menerangkan sekaligus menjelaskan jalannya cerita yang disertai dengan emosi dari setiap karakternya. Sebuah kutipan yang sempurna, akan bisa menghanyutkan emosi para pembacanya agar lebih memahami karakter yang mengucapkan kutipan tersebut.

Penggunaan perspektif sudut pandang orang ketiga atau di luar cerita, akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan sebuah kutipan. Karena dengan membuat kutipan yang sempurna itulah, maka tulisan fiksi tersebut akan memiliki alur cerita yang menarik. Aturan ini dimaksudkan agar meskipun penulis dapat berpindah-pindah di setiap adegan, namun setiap tokohnya memiliki karakter yang cukup kuat serta perbedaan!

Berbeda halnya dengan perspektif sudut pandang orang pertama atau di dalam cerita, karena kutipan yang dihadirkan tak perlu memiliki kekuatan yang sangat kuat, karena tanpa dikutip pun sang tokoh akan menceritakan (hampir) segalanya. Dan, dalam sudut pandang orang pertama, tanpa perlu dibuatkan kutipan pun, emosi dari tokoh utama akan tercerminkan dengan sendirinya.

Lalu bagaimana jika ada kata hati?

Teknisnya, kata hati bukanlah sebuah kutipan. Ia hanyalah opini yang terlontar dari dalam nurani dan belum tentu ditujukan pada sosok lawan bicara. Oleh karena itulah kata hati tidak memerlukan penulisan yang menyerupai kutipan ~ memakai tanda kutip. Akan tetapi, sebuah kata hati yang baik akan memiliki kekuatan diferensiasi karakter yang merupakan cerminan jiwa dari setiap tokoh di dalam cerita.

Penggunaan kata hati, tidak dibatasi oleh perspektif orang ketiga ataupun orang pertama. Memang diakui, pada perspektif orang pertama kata hati akan lebih mudah ditemui dan dihadirkan, akan tetapi bukan berarti perspektif orang ketiga tidak bisa dilakukan. Teknisnya adalah dengan membuat paragraf baru yang berisikan kata hati tersebut, dan jika memungkinkan dituliskan dengan kata-kata miring.

Spread the love

A happy family-man. Lives in Jakarta. Currently working in advertising, marketing, communication, social media, & strategic planning.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


6 − five =