Short story #2: I Never Said That I Love You, Even I Do Need You

“Aku masih ingin sekolah lagi.” ucap Clara. Ia memegangi perutnya. Rambutnya tersibak hembusan pelan angin laut, menawarkan aroma cinta yang Zul rengkuh malam-malam sebelumnya.

“Tapi aku ingin memilikinya. Mempertahankannya.” sahut Zul. Ia tak melihat ke arah lautan seperti Clara. Ia memandangi Clara. Terpikat lekat.

“Biar bagaimanapun, ini tubuhku. Akulah yang nanti selama beberapa bulan ke depan akan kepayahan jika harus mempertahankannya.”

“Tapi aku ingin punya anak. Dan, aku ingin anak itu darimu, Ra.” Zul menjawab lagi sambil masih melihat lekat pada Clara, meski tak digubris.

Clara menghela napas. Pandangannya masih tertuju pada tengah lautan lepas yang berada di depannya. Sulit baginya untuk tetap beradu argument dengan Zul. Pikirannya berkecamuk. Ia mencintai Zul, tapi ia juga mencintai masa depannya. Dan, Zul belum tentu ada di sana.

“Kalo perlu aku dateng ke orangtua kamu, bilang aku mau nikahin kamu.” Zul menegaskan. Walau begitu, tersirat nada suaranya bergetar.

“Aku tak pernah ragu akan keyakinanmu akanku, Zul. Aku.. aku.. aku hanya tak yakin akan diriku sendiri. Aku tak tahu apakah aku menginginkan hal ini, anak ini, dan bersama denganmu.”

Zul bagai tersambar petir mendengar kabar itu. Dadanya sesak, jantungnya serasa berhenti berdetak sepersekian detik sebelum kemudian melemah. Kini, gilirannya yang membuang tatapan jauh ke arah laut lepas.

Hening. Hanya terdengar ombak pecah oleh buritan kapal yang terus melaju di tengah Samudera Hindia.

“Aku kira yang kita jalani selama ini karena cinta. Tapi…” Zul tak melanjutkan kata-katanya. Ia tak tahu harus berkata apa lagi.

“I never said that I love you, even I do need you.” Clara mundur. Menjauhi Zul yang masih terdiam memandang lautan lepas. Butiran perasaan jiwa tak terasa mulai membasahi kedua belah pipi Clara.

Dalam buramnya lampu buritan kapal, Clara pergi. Meninggalkan Zul yang bertemani sepi. Kembali ke kamar, merapikan hatinya dan menantang asanya kembali.

short story #1: Karena Aku Sayang Kamu

“I’m getting married.” ucap Jane. Datar. Singkat.

Tengku menghisap rokoknya dalam-dalam. Ia memalingkan mukanya dari
arah Jane, kemudian menghembuskan asapnya. Ia tahu Jane tak menyukai
asap rokok, rokok, apalagi perokok! Tapi kali ini, Tengku harus
merokok. HARUS!

“Aku udah tau sejak 3 hari yang lalu.”

“Dari mana kamu tau? Dari Kim?” sergah Jane segera. Terkejut.

“Ga. Aku ya tau aja. Bahkan pas kamu dilamar 3 bulan yang lalu pun,
aku tau.” ucap Tengku sambil mematikan rokoknya di asbak meja.

Jane diam. Ia terheran-heran dari mana Tengku bisa tahu hal-hal itu.
Padahal, ia tak pernah memberitahunya. Tak mungkin juga jika Kim yang
memberitahunya.

“Aku kira, aku temen deket kamu, Jane. Aku kira, kita bisa berbagi
kabar gembira.” ucap Tengku.

“Trus kenapa? Apa karena kamu selalu ada tiap aku butuh, jadi aku
harus ngasitau semua kejadian dalam hidup aku?!” nada suara Jane
meninggi.

Tengku meremas bungkus rokoknya. Ia bimbang antara menyalakan sebatang
lagi, atau tidak.

“Karena aku sayang kamu, Jane. Bahkan lebih dari sayang.” jawab Tengku
sambil berdiri, membuang bungkusan rokoknya ke tempat sampah, dan
mengambil jaketnya di bantalan kursi. Tak lama, ia pun pergi
meninggalkan Jane.