Rss Feed

‘Story’ Category

  1. Short Story #109: Taken

    April 5, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Jadi, gimana rasanya jadi nyonya Nugroho?” tanya Rudy saat Vita tiba di café tempat mereka janjian bertemu.

    “Ya.. serasa seperti istri.” jawab Vita sambil mengambil kursi di depan Rudy.

    “Jawaban loe ga seru amat deh.” Rudy menggerutu.

    “Well, what do you expect?” tanya Vita. “Lagipula, loe ga tau kan rasanya jadi istri? Secara.. loe kan cowok.”

    “Iya deh.. iya…” ucap Rudy sambil tersenyum kecut.

    Vita lalu memanggil pramusaji café, dan memesan minuman favoritnya. Sementara itu, Rudy meminum minumannya.

    “By the way, Nugroho tau kan loe mau ketemu gue di sini? Dia ga marah kan kalo kita ketemuan?” tanya Rudy.

    “Ya dia tau lah..” jawab Vita singkat. “Kita sama-sama toleran kok kalo soal temen deket, apalagi temen lama. Lagipula, dia udah kenal loe juga kan..”

    “Abis, ga lucu aja gitu kalo ntar tiba-tiba ada cowok ngamuk-ngamuk ke café ini, ngajak gue duel atau semacamnya.” respon Rudy.

    “Ya elah Rud.. lebay amat..” Vita berkomentar.

    Seorang pramusaji café mendatangi meja mereka dan kemudian meletakkan minuman pesanan Vita. Tak lama, pramusaji itu pergi kembali.

    “Trus, loe sendiri gimana rasanya?” Vita tiba-tiba bertanya setelah meminum sedikit pesanannya.

    “He? Rasanya apaan?” Rudy balik bertanya karena tak mengerti.

    “Ya.. rasanya jadi loe. Being single for… almost five years, perhaps?” tanya Vita.

    “Yaelah.. ga usah disebut jangka waktunya juga kaleee…” jawab Rudy.

    Vita tertawa.

    “Seneng amat ngetawain temen sendiri..” Rudy menggumam.

    “Mending lah loe diketawain temen sendiri, daripada diketawain orang laen yang bukan temen?” jawab Vita.

    “Halah.. dibolak-balik mulu ucapan gue..”

    Vita kembali tertawa, sementara itu Rudy kembali tersenyum kecut.

    “Trus, rasanya gimana?” Vita kembali bertanya.

    Rudy menarik napas. “Ya.. rasanya ya begitulah. Loe juga tau kan rasanya single?”

    “Tapi gue ga single sampe li-… eh, ga selama loe gitu lah..” Vita memberitahu. “Jadi gue ga mungkin tau rasanya..”

    Rudy menelan ludah. “Ya.. yang pasti rasanya biasa aja sih. Ga penting statusnya atau selama apa jalanin status itu, yang penting adalah gimana cara kita bisa ngebuat setiap harinya bermakna..”

    “Wah..” Vita berdecak kagum.

    Lalu Vita dan Rudy sama-sama meminum minumannya masing-masing.

    “Anyway Rud.. for all these time, why do you still single?” tanya Vita.

    Rudy menghela napas sejenak sebelum menjawab. “Because… you’re already taken.”


  2. Short Story #108: Why Did You Leave?

    by Billy Koesoemadinata

    “Ga berasa udah tiga taun ya..” ucap Dania saat Ario menutup pintu mobil.

    “Apaan?” tanya Ario sambil memasang sabuk pengamannya sementara Dania menghidupkan mobil.

    “Ya elo di negeri matahari terbit itu.” jawab Dania sambil mulai mengemudikan mobil keluar dari parkiran, dan menuju jalan keluar bandara.

    “Ah, masa iya?” Ario bertanya lagi.

    “Yaelah.. loe sok lupa apa gimana, sih?”

    “Ya.. gue sih emang ga ngitungin aja.” ucap Ario. “Tapi kalo diitung dari taun pas gue berangkat, dan sekarang pas gue balik.. ya emang beda tiga taun sih..”

    “Lah itu..” kata Dania sambil melirik sejenak pada Ario dan mengemudi kembali.

    Ario membuka kacamatanya, dan membersihkannya dengan lap yang ia keluarkan dari tempat kacamatanya.

    “Mama apa kabarnya?”

    “Mama baik.” jawab Dania. “Dia udah nunggu kamu di rumah.”

    “Lho? Kok bisa?”

    “Iya, lah dia tau kok kamu mau pulang hari ini. Bahkan dia yang cerewetin aku supaya jangan sampe telat jemput kamu.” jawab Dania lagi.

    “Kamu ya, yang kasitau dia?” tanya Ario.

    Dania menoleh sejenak sambil tersenyum kecil.

    “Udah aku duga..”

    “Ya abis, mau gimana lagi? Mama tuh sering lho nanyain kamu. Bahkan, waktu kamu berangkat aja, dia langsung nanya gitu kapan kamu bakal pulang.”

    “Lah…” Ario merespon singkat.

    “Maklum.. Mama kan ga punya anak cowok. Jadi ya.. mungkin kamu udah dia anggap anak sendiri kali. Secara, kamu kan udah sering ke rumah dari waktu kita kecil dulu..” Dania menjelaskan sambil tetap memperhatikan jalanan.

    “Bisa juga sih..”

    Lalu hening. Dania dan Ario sibuk dengan pikiran masing-masing.

    “Eh iya, aku penasaran nih.. mungkin agak telat, tapi ya.. mending aku tanya sih daripada penasaran.” Dania memberitahu.

    “Soal apa? Kalo kamu pengen tau soal apa aku punya cewek apa enggak, jawabannya ga perlu aku kasitau kan?” respon Ario setengah bercanda.

    “Yaelah.. itu sih udah pasti aku tau jawabannya. Jomblo pastinya kan?” Dania menebak.

    “Yaaahh… yang pasti I’m not in a relationship.” jawab Ario.

    Dania tertawa kecil.

    “Trus, apa yang mau kamu tanya?”

    Dania terdiam sejenak sambil masih mengemudi.

    “Mm.. dulu kenapa sih kok kamu akhirnya milih buat pergi ke Tokyo?” tanya Dania.

    Giliran Ario yang terdiam sejenak. Ia menarik napas seakan-akan pertanyaan itu membangkitkan kenangan lamanya.

    “Jawabannya susah, ya?” goda Dania.

    “Engga..” respon Ario segera.

    “Trus, apa dong jawabannya? Why did you leave?” tanya Dania lagi.

    Ario lagi-lagi diam sejenak. “Well… It’s because you didn’t ask me to stay.”


  3. Short Story #107: Gimana Kita Tau Kalo Ga Kita Jalanin Sendiri?

    March 27, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “San, sibuk ga? Gue pengen tanya sesuatu.” tanya Irma sambil tiba-tiba muncul di balik batas kubikel meja Sandra.
    “Bentar. 5 menit lagi.” jawab Sandra singkat sambil tetap mengerjakan sesuatu di laptopnya.
    Irma pun menunggu sambil tetap berdiri tanpa niatan mengganggu.
    “Done!” jawab Sandra sambil memencet tuts “Enter”di laptopnya, lalu memutar kursinya menatap Irma yang masih berdiri di balik luar kubikelnya. “Anything important? By lunch, maybe?”
    “Ga bisa nunggu lunch, ini. Musti sekarang juga.” jawab Irma sambil langsung masuk ke kubikel Sandra dan menarik salah satu bangku kosong terdekat.
    “Wah.. jangan-jangan soal si ehem nih..” Sandra menggoda sambil menyibak rambutnya.
    “Exactly.” jawab Irma sambil duduk di depan Sandra. Raut wajahnya menyiratkan kebingungan.
    “Well, nothing’s wrong right?” tanya Sandra lagi.
    Irma menarik napas. “Aku ga tau ini salah, masalah, atau apalah itu. Tapi yang pasti aku bingung.”
    “Ada apa?”
    Irma menghela napas.
    “Aku takut..”
    “Dari?” tanya Sandra segera. “Jangan bilang dari pernikahan..”
    Irma menatap Sandra lekat-lekat. Sorot matanya menyiratkan jawaban.
    “Kenapa?” tanya Sandra lagi.
    Irma menggigiti bibir bawahnya. “I just don’t know what will happen on the marriage.”
    Giliran Sandra yang menarik napas. Tapi ia kemudian tersenyum.
    “Lalu, apa yang kamu pengen tanya sama aku?” tanya Sandra lagi sambil memutar cincin di jari manis tangan kanannya.
    “Ya itu.. apa sih yang bakal terjadi setelah nikah. Aku takut aku bakal ga siap.” jawab Irma.
    “Dari mana kamu tau kalo kamu bakal ga siap?” Sandra bertanya lagi.
    Irma tak langsung menjawab. “Aku ga tau..”
    Sandra tersenyum. “Banyak orang yang takut akan pernikahan karena ga tau apa yang akan dihadapi. Tapi, bagaimana kita tau apa yang akan dihadapi kalo ga kita jalanin sendiri?”


  4. Short Story #106: Do You Remember?

    March 21, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Kalo ada yang mau diomongin, langsung aja. Waktuku ga lama.” Rani memberitahu sambil duduk di kursi. Lelaki di depannya tetap tersenyum meski dalam hatinya ia sedih.

    “Apa kabarmu?” tanya lelaki di depannya, yang bernama Samuel.

    Rani mendelik. “Kamu minta ketemu cuman mau nanya kabar aku?”

    Samuel menarik napas. “Could you just answer the question? I’m just trying to be polite..”

    Rani mendengus.

    “Aku sibuk.” jawab Rani sambil melihat ke arlojinya. Sudah berjalan 10 menit sejak ia melangkahkan kakinya dengan enggan ke dalam kedai kopi, dan 2 menit sejak ia duduk di depan Samuel.

    “O.. Tapi sehat, kan?” tanya Samuel lagi.

    Rani mendelik lagi.

    “Kalo maksud kamu ngedoain aku supaya terus sehat, makasih.” jawab Rani. “Dan iya, aku emang sehat.”

    Samuel sedikit tersenyum. Sebenarnya ia ingin sekali ditanya balik oleh Rani, tapi keinginan itu ia abaikan.

    “Jadi, ada apa? I got a meeting to catch.” Rani memberitahu.

    Samuel tak langsung menjawab. Namun ia justru mencondongkan badannya ke tas selempang yang ia sampirkan ke kursinya. Lalu, ia merogoh sesuatu sambil kemudian mengeluarkan dan menyimpannya di meja.

    “Our daughter made this. Katanya, ini dibuat spesial buat ibunya.” Samuel meletakkan sebuah hasil karya kolase seukuran dengan buku gambar di atas meja.

    Rani melihat karya kolase itu dalam diam. Matanya melihat ke setiap sudut dari kolase itu. Mempelajari. Menikmati. Meresapi. Mengenali.

    “Itu buat kamu bawa pulang.” Samuel memberitahu.

    Rani menjawab dengan dengusan sambil tersenyum kecil. Walau sebentar, tapi senyuman kecil itu terlihat oleh Samuel.

    “Kalo aku bawa pulang, mau aku simpen di mana coba?” Rani bertanya. Kembali dengan nada ketus.

    “Terserah.” jawab Samuel singkat.

    “Ada lagi?” tanya Rani segera sambil masih memegang kolase itu.

    Samuel menarik napas. “Ga ada.”

    “Bagus.” jawab Rani sambil siap-siap berdiri dan mencari tasnya. “By the way, lain kali ga usah ajak aku ketemu kalo ada beginian lagi. Kirim aja lewat paket.”

    Rani hendak beranjak dari kursinya ketika kemudian tangannya dipegang oleh Samuel yang menatap ke arahnya.

    “Emang, aku sebegitunya kamu benci sampe ga mau ketemu?” tanya Samuel.

    Rani tak menjawab. Bahkan, ia tak menoleh.

    “You may hate me, but do you remember those days when we’re having fun together? Like the way we used to be?” tanya Samuel.


  5. Short Story #105: Kesempatan Saat Hujan

    March 14, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Pagi-pagi kok ya ujan..” Gilang menggerutu di teras toko yang mulai basah.

    “Gapapa lah, Lang.. pertanda bagus justru..” Retno menimpali sambil menyandarkan dirinya di bagian teras toko tempat mereka berteduh yang tak terkena bias hujan.

    “Pertanda bagus gimana?” tanya Gilang.

    “Pastinya dosen kita pagi ini juga telat toh..” jawab Retno.

    “Halah.. emang dikira Pak Dudi ga bakalan ngasih tugas atau dia naik mobil sendiri?” Gilang langsung merespon.

    “Eng.. sepertinya enggak. Belom pernah deh kaya’nya Pak Dudi begitu.. udah berapa kali kan pagi-pagi ujan, dan dia juga mendadak ga masuk.” ucap Retno.

    “Iya juga sih..”

    Lalu kedua teman sekampus tersebut sama-sama diam. Menatap hujan dari teras toko yang masih tutup sementara jalanan di depan mereka kembali diterpa hujan deras. Sama-sama diam menatap seperti orang-orang lain yang juga berteduh di samping mereka.

    “Padahal udah deket banget ini sama kampus. Nanggung bener..” komentar Gilang.

    “Iya.. tapi ya mau gimana lagi? Aku males basah-basahan..” ujar Retno.

    “Sori ya, No. Sekalinya gue jemput loe buat bareng ke kampus, malah ujan gini..”

    “Halah.. ga usah dipikirin lah, Lang..” jawab Retno. “Tapi ya.. biar gimanapun ujan gini bisa ngasih kesempatan lain juga..”

    “Oh ya? Apa tuh?”

    “Kesempatan buat dilindungin sama jaket kamu kalo aku tiba-tiba pengen jalan pas ujan..” goda Retno sambil beranjak dari teras toko ke tengah trotoar yang masih diterpa hujan.