Rss Feed

‘Story’ Category

  1. Sketsa #2: Hidangan

    February 6, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Kamu tahu apa yang paling kusuka?” tanya sang wanita.

    “Wanginya?” jawab sang pria.

    “Bukan.”

    “Rasanya?”

    “Bukan juga.”

    “Warnanya?”

    Sang wanita diam sejenak sambil tersenyum kecil. “Mungkin ya, tapi bukan itu yang paling kusuka.”

    “Hmm… Jumlahnya?”

    “Kalo jumlahnya, satu porsi aja cukup buat jangka waktu tertentu. Malah kadang, 1 porsi ga abis aku udah kekenyangan.” jawab sang wanita.

    “Terus apa?” tanya sang pria.

    Sang wanita berjalan mendekati meja. Ia menatap sajian yang dipersembahkan oleh sang lelaki, khusus untuknya.

    “Aku suka denger teriakan mereka saat gigiku nempel ke leher mereka.” kata sang wanita sambil menampakkan taringnya diikuti teriakan kesakitan dari atas meja.


  2. Sketsa Cerita #1: Paket Cokelat

    November 8, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Ia menatap cangkir kopi di depannya yang hanya berisikan ampas. Ia ingin memanggil pramusaji untuk tambah, tapi asam yang terasa di lidahnya membuatnya diam.

    Kembali, pria itu menyesap rokoknya.

    Sekeliling pria itu yang mulai hiruk-pikuk dari pertemuan orang-orang, tak mengindahkannya dari posisi duduknya sejak beberapa jam yang lalu. Ia melihat ke arah jam dinding di dekat pintu masuk, kemudian melihat ke arlojinya. Sama. Walau detiknya mungkin beda.

    Kembali, pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Menahannya sejenak sebelum menghembuskannya.

    Dua orang perempuan melewati tempat pria itu duduk. Melihat ke mejanya sejenak, kemudian ke kursi kosong di depan pria itu. Salah satu perempuan berbisik cepat, dan yang lainnya tersenyum kecil. Mereka kemudian pergi memunggungi pria itu. Tanpa mereka sadari, pria itu tahu apa yang kedua wanita itu pikirkan.

    Sudah biasa. Seperti biasa. Pria itu bergumam.

    Di bawah meja, pria itu mengubah posisi kakinya. Semula lurus, kini menyilang ke arah belakang. Rasa pegal lama-lama menerpanya juga. Walau begitu, tangannya di atas meja masih sama. Tangan kiri memegang cangkir kopi, yang kanan memangku dagunya sambil jemarinya menahan rokok di mulutnya.

    Tatapan pria itu kini berpindah ke jendela. Melihat ke arah aliran air yang garisnya tinggal sedikit saja di kaca. Melihatnya jatuh dari pangkal di kusen atas, lalu bergulir sepanjang garis yang tak rata. Kadang berbelok membentuk garis baru, kadang tetap berada di garis yang sudah ada. Lalu menyentuh kusen bawah. Hilang. Membasahi kusen jendela.

    Jauh dari mejanya, bel pintu berbunyi. Seorang pengunjung lain telah masuk ke dalam café.

    Sedikit bergerak, tangan pria itu menyisir dagunya yang kasar. Jenggot. Berewok. Sudah hampir 4 hari sejak terakhir. Sejalan dengan matanya yang sedikit merah berair. Selaras dengan kantung mata yang sedikit terlihat gelap.

    “Ujan selalu bikin macet.” kata seorang pria bermantel sambil duduk di depan pria itu.

    “Tapi cuma macet jalan raya doang. Ga yang laen.” jawab pria perokok itu. Tangannya merogoh sebuah paket berwarna cokelat yang sedari tadi ia tempelkan di bawah meja. “4 hari.”

    “Nice job.” jawab pria bermantel sambil menerima paket cokelat itu, dan menaruhnya ke saku mantelnya. Kemudian tangannya keluar lagi dengan sebuah kantong plastik cukup tebal. “50 persen sisanya.”

    Pria perokok itu langsung menarik kantong plastik itu dan menggesernya hingga terjatuh ke dalam tas terbuka tepat di bawah tepi meja.

    “Liburlah 2 minggu.” ujar pria bermantel sambil bergeser untuk berdiri.

    “Pasti.” jawab pria perokok. “Bisa jadi lebih.”

    Pria bermantel diam berdiri sebelum beranjak. Ia melihat ke arah bartender.

    “Jangan matikan ponselmu.” kata pria bermantel sambil kemudian beranjak.

    Pria perokok tak menjawab. Ia menyesap rokoknya lagi. Dalam, dan menghembuskan asapnya.

    Bel pintu terdengar kembali. Dan, sepersekian detik berikutnya terdengar ledakan keras. Memekakkan telinga. Menghancurkan kaca. Melemparkan hampir semua orang yang ada di dalam café. Apalagi, orang-orang yang sedang berada dekat dengan pusat ledakan. Tapi pria perokok itu tak ada di mejanya.


  3. The Journey, vol.13: The Offer

    November 3, 2009 by Billy Koesoemadinata

    I spent the rest of the day with the same-boring-meeting after the break. And, even though I already knew about what to discuss, but I went no more silence. I gave some inputs, and also suggestions to all of the meeting’s participants.

    Some of my inputs seems to be nailed. I don’t think it’s because I was the representatives from Jakarta, but more because each of my inputs wasn’t thought before by them. And yeah, I hope those inputs would be more useful someday and the practiced so this Bandung office would be greater than before. Especially for the creative visualization strategies which will be developed here.

    My no-more-silence attitude and the sparking inputs didn’t show up by it self. I just need to get more focus, positive, and professional after I couldn’t contact Monica yet. Okay, she’d be angry. But, that doesn’t mean I can’t work. And, going to home town seem to be a good choice.

    (more…)


  4. The Journey, vol.12: The Thought

    September 26, 2009 by Billy Koesoemadinata

    The meeting went so boring. Nothing’s interesting besides strategic plans which I’ve already known since my departure to Bandung. Well, I had to make some inputs though, but somehow I just didn’t do.

    2 hours. Then, coffee break. Yeah, great. At least I had some times to get rid this bored from my head since the meeting started.

    I went to the front office room. Seeing to the road. Enjoying the traffic of Bandung’s public transportation and lots of vehicles which is used by Bandung’s residences. And somehow, I remembered my hometown.

    It’s not the traffic that I remembered, but the peaceful and also the rarity of traffic jam. Enjoying morning and afternoon walk by foot. Being lonesome, but every step has a story.

    Could it be, after this Bandung task I went to my hometown? Just to get rid of deadlines, and also take some break in the middle of business? Would it happen?

    It’s been a while since my last time visit to Tasikmalaya. And, I think nothing’s wrong if I asked for a sudden vacation like this to Paulo. But in reality, Paulo isn’t the one I worried about.

    I pressed a speed dial on my cellphone. Then, the tone heard.

    “Yes Dear, what’s up?” asked Monica directly on the phone. “Miss me, huh? I miss you too.”

    (more…)


  5. The Journey, vol.11: The Occurence

    July 23, 2009 by Billy Koesoemadinata

    “You’re not with her anymore? Since when? How come?” Abdul finishes his meal, then drank his juice.

    I went to silence. I put away my unfinished meal. The joy flew away just right with the moment of that name has spoken even I’ve forgotten since long ago.

    “You can say, our relationship can’t be through anymore because one and another things. And, we’re agreed to end it.” I answered diplomatically.

    “But, you’ve always said that, you wanted her to be your last?”

    “Yes, I had. But she might not be thinking the same thing. She might not wanted me to be her last.”

    “But.. but.. when you’re in high school, you look so matches!”

    I smiled. Trying to give my mask which is showing that I’m fine, even the memories made the old wound in my heart ripped again. Hurts. Painful. But for an old friend like Abdul, I’m surely can’t show him my pain.

    (more…)