Rss Feed

‘Story’ Category

  1. Short Story #119: Friends

    May 16, 2012 by Billy Koesoemadinata

    Sudah hampir 30 menit Gita diam dalam keheningan. Ia menatap lelaki di depannya yang memandang ke arah lain. Ia hanya bisa melihatnya dari arah samping. Tapi, ia seakan-akan bisa memandang lelaki wajah lelaki tersebut dengan lengkap.

    Pandangannya masih sama. Teduh. Menenangkan. Gita berpikir dalam hati.

    “Sampe kapan kita mau begini?” tanya Ferdi, lelaki di depannya sambil menoleh ke arahnya.

    “Sampai kamu mau jawab pertanyaanku.” jawab Gita segera.

    “Yang mana?” tanya Ferdi.

    Gita menarik napas.

    “Perlukah aku ulang?” Gita bertanya balik.

    Giliran Ferdi yang menarik napas.

    “Aku ga inget. Terlalu banyak pertanyaan yang kamu tanya ke aku.” ucap Ferdi sambil akhirnya terdiam lagi dan menatap ke arah lain.

    Gita kembali larut dalam diam. Dalam telinganya hanya terdengar hening walau meja café pinggir jalan yang ia tempati bersama Ferdi cukup ramai.

    “Rasanya aneh..” celetuk Gita.

    “Apanya?” Ferdi tiba-tiba menoleh dan bertanya.

    “Situasi sekarang ini..”

    “Maksudmu?”

    “Kita, sekarang. Why can’t we be friends again?” tanya Gita.

    Ferdi mengernyitkan dahinya. Ia kurang suka karena lagi-lagi Gita memberikan pertanyaan. Tapi…

    “Because.. we never were.” jawab Ferdi.


  2. Short Story #118: Setelah Pintu Tertutup

    May 8, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Relax. I’m okay.” Michael memberitahu Rina yang berdiri di ambang pintu apartemennya, dari balik pintu yang setengah terbuka.

    “Tapi bolehin gue masuk dong, Mick. Gue kan temen loe..” Rina sedikit memaksa.

    “Lain kali aja, ya Rin.” Michael memberitahu sambil menahan agar Rina tak bisa membuka pintu dan masuk ke dalam apartemennya.

    “Kenapa?”

    “Ya.. karena gue lagi ga pengen aja.” jawab Michael.

    “Ga biasanya loe begini.. Beberapa bulan yang lalu sebelom kejadian pagi ini, loe welcome banget kalo gue dateng ke sini.” Rina memberikan alasan.

    Michael menarik napas. “Iya, tapi itu bukan hari ini. Bukan sekarang. Terlepas dari ada kaitannya sama kejadian tadi pagi apa engga.”

    “Tapi…”

    “I’m okay. Got it?” Michael berkata dengan tegas.

    Rina diam. Ia menatap sobatnya sejak SMA tersebut dalam diam dan pandangan berharap. Berharap, sobatnya tersebut benar-benar baik-baik saja seperti yang dikatakannya.

    “Kalo ada apa-apa…”

    “You’ll be the first one who knows.” Michael menyelesaikan kalimat Rina.

    Rina mencoba tersenyum. Berharap Michael akan ikut tersenyum.

    Usahanya tak sia-sia. Karena Michael pun tersenyum. Walau sesaat. Walau kecil. Walau sementara.

    “After all these time, loe tetep cowok paling tenang yang pernah gue kenal.” Rina memberitahu sambil mengusap wajah Michael.

    Kali ini, Michael tersenyum tanpa harus dipancing.

    “Thanks.” jawab Michael singkat.

    Lalu, hening sesaat.

    “Kalo gitu, gue cabs aja deh. I got a blind date to attend.” ucap Rina sambil membenarkan kerah jaketnya dan bersiap pergi.

    “Blind date? Seriusan?” Michael tiba-tiba penasaran. “Bukan gaya loe banget kaya’nya..”

    “Well, it’s my privilege to do whatever I want as a single, right?” jawab Rina sambil beranjak, namun kemudian berhenti sesaat sambil menoleh, “Soon, it shall be your privilege too..”

    Michael kembali tersenyum sambil memperhatikan kepergian Rina dari lorong apartemennya. Tak lama, wajahnya kembali datar. Ia pun masuk ke dalam apartemennya.

    Setelah pintu tertutup, sejenak, Michael hanya berdiri bersandar ke pintu apartemen sambil menatap beberapa barang di apartemennya yang mulai dibungkus dan ditutupi oleh kain. Lalu, nafasnya beranjak berat. Matanya terasa panas.

    “Andai saja..” ucap Michael sambil membalikkan sebuah figura yang berisikan fotonya mengenakan tuxedo terbaiknya, dan diapit seorang wanita mengenakan gaun putih panjang yang membawa buket bunga.


  3. Short Story #117: Rencana Week End

    May 5, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Week end besok, mau ke mana, Rose?” Panji bertanya saat mereka berpapasan di depan pantry.

    “Yah.. paling seperti biasa. Di rumah aja. Males-malesan. Atau mungkin tidur.” jawab Rose santai sambil menyandarkan badannya ke salah satu meja di pantry.

    “Oh…” Panji merespon sambil mengambil sebuah gelas dari lemari, dan kemudian siap membuat secangkir kopi hitam. “Kalo week end gitu, bokap-nyokap loe ada di rumah, ya?”

    “Ya pasti ada lah.. makanya gue mau males-malesan ajah..” Rose menjawab.

    “Lah, emang kalo mereka ga ada, loe ga bisa males-malesan gitu?” tanya Panji lagi sambil menuangkan air panas ke campuran kopi dan gula di gelasnya.

    “Yah.. bisa dibilang kalo mereka ada di rumah, gue lebih rileks aja sih. Lebih santai. Ga musti mikirin banget adek-adek gue lagi ngapain, di mana, sama siapa..”

    “Oh..” jawab Panji lagi sambil kini mengaduk kopinya.

    Rose mengubah posisi bersandarnya dan mengambil secuil roti lapis dari meja sambil kemudian mengunyahnya.

    Panji melirik sejenak, sambil kemudian menarik sebuah kursi dan menyimpannya dekat tempat Rose bersandar.

    “Loe sendiri, besok ada rencana week end apa?” tanya Rose.

    Panji tak langsung menjawab. Ia justru meminum kopinya dengan santai.

    “Ji?” tanya Rose mengingatkan.

    “Ya… ada lah..” jawab Panji.

    “Lah.. curang. Tadi loe tanya, gue jawab panjang dan detil banget. Giliran gue yang tanya balik, jawaban loe gitu doang.. ‘Ya.. ada lah..’ Jawaban macam apa itu?” Rose sedikit mengomel sambil memalingkan mukanya ke arah lain.

    “Ya.. jawaban macam gue tadi..” Panji menjawab santai.

    “Ckckck..”

    Rose kemudian perlahan bergerak menuju pintu. Tepat saat Rose memegang kenop pintu pantry, Panji memanggilnya.

    “Iya.. iya.. ini gue jawab.” ucap Panji sambil langsung berdiri.

    Rose tersenyum kecil sambil kemudian berbalik menghadap Panji.

    “Nah.. gitu dong..” ucap Rose senang. “Jadi, rencana week end loe mau ngapain?”

    Panji menarik napas. “Gue sih udah bikin rencana pengen ketemu calon mertua. Tapi ga tau deh..”

    “Wah! Mau lamaran?!” Rose langsung histeris sambil sedikit melompat.

    “Eng… Gue kan cuman bilang pengen ketemu calon mertua.. bukan berarti lamaran lho..” Panji menjawab dengan kalem kepada rekan sekerjanya ini.

    “Oh.. jadi, maksud loe ini pertama kalinya loe mau ketemu orangtua dari cewek loe?” tanya Rose lagi.

    “Yah.. secara teknis bukan cewek gue juga sih.. Cuman gue pengen ketemu orangtuanya aja biar sekaligus minta restu buat jadian sama anaknya.” jawab Panji panjang lebar.

    “Ebuset! Jaman gini masih ada ya orang kaya’ loe.. Konvensional abiiisss…” Rose berkomentar.

    “Ya abis mau gimana lagi? Anak cewek yang lagi gue incer dari calon mertua ini, ga nyadar sih kalo lagi gue PDKT-in. Mana suka males-malesan pula kalo week end.” jawab Panji.

    “HAH?! MAKSUD L?!” Rose berteriak.


  4. Short Story #116: Peace

    April 26, 2012 by Billy Koesoemadinata

    Ella membuka matanya sambil menggerakkan tangan kanannya. Meraba sebelahnya. Meraba ranjang bagian lelakinya. Kosong.

    Mata Ella kemudian mencari jam dinding. Menyadari bahwa waktu masih berada di jam 5 pagi.

    Ella menggeliat. Membuka selimut, lalu mendudukkan dirinya sejenak sambil membenarkan piyamanya sambil menurunkan kakinya ke lantai kamar yang dingin.

    Ella mendengus pelan. Lalu perlahan beranjak menuju sebuah pintu. Pintu menuju ruang sebelah.

    “Kamu ga tidur, Mas?” Ella bertanya dari ambang pintu kepada lelaki yang tengah duduk menatap laptop dengan diterangi lampu temaram ruang kerja.

    “Aku baru bangun..” jawab Dicky santai sambil menoleh kepada Ella.

    “Oh..” jawab Ella pelan. “Semalam pulang jam berapa? Kok aku ga dibangunin?”

    Dicky kali ini memundurkan kursinya, membiarkan laptopnya membuka dan menghampiri Ella.

    “Pas aku dateng semalem, kamu udah tidur. Aku ga mau bangunin kamu.” jawab Dicky sambil beranjak menghampiri Ella dan memeluknya.

    Ella balik memeluk Dicky.

    “Aku kadang heran, kenapa sih kamu seneng banget tidur larut dan bangun lebih pagi? Sampe-sampe, kadang-kadang aku ga tau kamu tidur apa engga.. karena kalo udah gitu, pasti kamu tidur setelah aku tidur, dan bangun sebelum aku bangun..” ucap Ella di pelukan Dicky.

    Dicky menghembuskan nafasnya ke rambut Ella di dadanya.

    “Ga usah heran.. aku cuman seneng aja ngeliat kamu tidur..” jawab Dicky.

    Ella mengangkat kepalanya, menatap Dicky.

    “Kenapa? Kenapa ga lebih seneng kalo tidur bareng?” tanya Ella.

    “You’re so peace when you’re sleeping..” jawab Dicky sambil mengecup kening Ella.


  5. Short Story #115: Kejutan

    April 19, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Menurutmu, aku harus gimana lagi?” tanya Evan memecah kesunyian dini hari yang dingin di teras sebuah resto cepat saji 24 jam.

    “Hmm?” Uci menggumam sambil meminum black coffee-nya untuk menghangatkan diri.

    “Aku harus gimana lagi? Apa aku harus diam dan terima apa adanya, atau gimana?” Evan menjelaskan.

    Uci menyimpan gelas kopinya. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menghadirkan kehangatan.

    “Mungkin… kamu harus berhenti terlalu berharap.” ucap Uci santai sambil menyandarkan dirinya ke kursi plastik yang keras.

    “Maksudmu?”

    “Yah.. jangan terlalu berharap sama dia. Jangan terlalu berharap kalo dia bakal berubah. Kalo dia bakal ngikutin apa semua keinginan kamu. Kalo dia bakal ngerti apa mau kamu tanpa harus kamu ingetin atau kasitau berkali-kali..” Uci menjelaskan.

    Evan diam menatap rekan sekerjanya itu.

    “Dan… jangan terlalu berharap kalo dia bakal balik mencintai kamu..” Uci menambahkan.

    Giliran Evan yang menyandarkan dirinya ke kursi plastik. Ia menghembuskan nafas. Kalimat terakhir Uci terngiang-ngiang di benaknya.

    “Tapi aku cinta dia, Ci.. Sejak bertahun-tahun yang lalu.” Evan menyanggah.

    “Dan sejak bertahun-tahun yang lalu pula, dia ga balik mencintai kamu…” respon Uci segera.

    Evan kembali menghembuskan nafas. Matanya menatap langit-langit teras resto cepat saji yang sedikit temaram. Sesekali, ia melirik ke arah langit yang masih gelap.

    “Bingung…” Evan menggumam.

    Uci menegakkan badannya dan sedikit mengarahkan kepalanya menghadap Evan.

    “Berhentilah terlalu berharap, Van.. Berhentilah. Karena, dengan begitu kamu bakal ketemu kejutan-kejutan lain di hidup kamu, yang ga kamu kira-kira sebelumnya.” Uci memberitahu.

    Evan menatap wajah Uci dalam-dalam.

    “Kejutan? Seperti apa?” tanya Evan.

    “Seperti… aku yang mencintaimu sejak bertahun-tahun yang lalu…”