Kenapa Ciri-ciri Pengguna Narkoba BNN Trending?

Konten yang unik selalu bisa menjadi alasan utama untuk menjadi viral atau trending. Apalagi jika isi konten tersebut menyentuh banyak elemen keseharian. Contohnya, minggu lalu dan minggu sebelumnya, ada Mukidi yang tersebar melalui mobile messaging dan juga social media. Di awal minggu ini, ada konten mengenai ciri-ciri pengguna narkoba yang disebarkan oleh BNN.

Apa pasal? Oke, coba simak gambar di bawah.

ciri-ciri pengguna narkoba

Seperti informasi yang selayaknya disebarkan oleh badan/lembaga pemerintahan, gambar tersebut memuat informasi yang harus dapat dikonsumsi oleh masyarakat kebanyakan dan juga terdapat jalur untuk kontak. Biasanya, informasi layanan masyarakat tersebut tidak begitu sering dibahas oleh pengguna social media. Tapi kali ini ada yang berbeda.

Entah siapa yang memulai, terdapat beberapa hal yang menjadi bahasan dari gambar informasi layanan masyarakat berupa ciri-ciri pengguna narkoba yang disebarkan oleh BNN itu,

    1. Dari total 53 ciri-ciri, terlihat seakan-akan nomer 3-nya hilang. Disebut seakan-akan, karena sebenarnya nomer 3 terdapat sebaris dengan nomer 2. Mungkin lupa diganti barisnya saat di-save.
    2. Beberapa ciri-ciri pengguna narkoba yang dicantumkan memuat informasi yang generik, sehingga amat sangat mungkin dikaitkan dengan individu yang tidak terkait narkoba sama sekali. Contohnya antara lain sbb:
          – Sering makan permen karet/menthol untuk menghilangkan bau mulut – no.30
          – Emosi tidak stabil (naik turun) – no.27
          – Sering berbohong – no.8
          – Sering keluar rumah sebentar kemudian kembali lagi – no.43

Ciri-ciri tersebut cukup generik dan mengena semua orang. Beberapa pengguna social media bahkan menyebut ciri-ciri tersebut begitu menjadi karakter.

Alhasil, malam hari akun @Ndorokakung menginformasikan bahwa konten tersebut menjadi trending topic di Indonesia.

Dari bukti trending tersebut, hampir bisa dipastikan kalau konten yang trending perlu menyentuh banyak elemen masyarakat serta terkena trigger yang tepat pada saat yang tepat pula. Khusus untuk ciri-ciri pengguna narkoba dari BNN ini sepertinya tepat waktu karena di hari Senin biasanya pengguna social media cenderung mencari hal-hal untuk meringankan menghadapi hari Senin. Perihal siapa yang mengawalinya saja, yang sepertinya masih harus dicaritahu.

Besok-besok, kayanya lembaga negara lain perlu mencontoh terhadap karya BNN ini, ya.

Menyimpan di Banyak Kantong

“Simpanlah di banyak kantong, untuk berjaga-jaga.”

Pepatah di atas, seringkali diucapkan terkait dengan keuangan atau dana yang dimiliki. Pengertiannya secara sederhana adalah, untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada sebuah “kantong” dana, maka “kantong” lainnya tidak akan dipengaruhi. Pengertian lebih lanjut, juga bisa diartikan sebagai investasi, ataupun sebagai back up – sebagai cadangan. Pengertian pada praktiknya, menyimpan di banyak “kantong” adalah agar selalu siap untuk mengambil dana yang dimiliki, tanpa harus bergantung ke salah satu “kantong” saja.

Apapun pengertian yang kemudian dipahami, inti dari pepatah tersebut adalah untuk bersiap-siap atau menyiapkan cadangan atau back up apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Praktiknya di jaman teknologi yang terus berkembang dan juga dipenuhi dengan berbagai inovasi ini, menyimpan di banyak “kantong” tak hanya bisa diperuntukkan dana atau keuangan. Data, atau juga biasa dikenali sebagai file ataupun dokumen, juga bisa dan ada baiknya disimpan di berbagai “kantong”. Teknologi digital/jaringan sebagai salah satu media yang tersedia saat ini, memiliki peranan yang cukup penting dan bisa dijadikan pilihan utama sebagai “kantong” untuk menyimpan data – terutama kalo udah pada tau yang namanya cloud computing.

Engga, saya ga bakal bahas soal cloud computing, melainkan ngebahas soal saya yang pake “kantong” yang (mungkin) menggunakan teknologi itu.

Iya, saya pake “kantong” data yang menggunakan teknologi digital/jaringan itu. Buat apa? Buat simpen banyak hal, mulai dari foto-foto, video, dokumen kerjaan, dokumen non-kerjaan, dan masih banyak lagi. Kenapa saya pake? Karena ya sesuai pepatah di awal tadi, untuk berjaga-jaga. Just in case terjadi sesuatu sama “kantong” di komputer,  maka data yang saya simpen di “kantong” itu masih terjaga – sepanjang masih bisa diakses, dan mudah-mudahan terus bisa diakses. :mrgreen:

Oiya, ngomong-ngomong soal akses, salah satu kantong yang saya pake ini, bisa diakses dengan berbagai cara. Mulai dari aplikasi yang diinstal di komputer, akses via web (pake browser), sampai dengan akses dari aplikasi di ponsel (pintar). Seru juga, apalagi ada opsi awal buat pake gratisan sampe dapet storage sekitar 2GB, trus bisa ditambah dengan gratis pula – dengan pilihan-pilihan tertentu yang bisa diliat lebih lengkap di sini. Kalopun mau berbayar, paketnya juga ada kok. 🙂

Trus, saya pake paket yang mana? Yang pasti, saya mulai dengan paket yang gratisan, dan kemudian ditambah-tambah pake opsi gratisan juga, dan ternyata kebutuhan saya akan “kantong” data tersebut terus bertambah karena saya memang perlu untuk menyimpan beberapa data sebagai cadangan/back up dan mudah diakses dari mana aja, gimana aja caranya.

Kamu, udah perlu belum?

“Diuntungkan” Fitur Scheduling Post di WordPress

Suka baca Short Story saya, ‘kan? Kalo engga, pokoknya harus baca deh. Nah, kalo yang ngeh, belakangan ini Short Story saya itu kebanyakan dan seringnya saya apdet di hari yang sama setiap minggunya, yaitu hari Senin. Jam apdetnya pun, saya lagi coba-coba buat disamain – meski kadang ada aja yang ga sama. Bukan, saya bukan mau ngomongin tren atau data analytics perilaku/kunjungan orang ke blog/website. Saya mau ngomongin gimana kok saya bisa ngapdet postingan di hari yang sama, setiap minggunya.

WordPress. Itulah CMS – Content Management System yang saya pake buat blog saya ini. Kenapa pake WordPress? Soalnya gratis – kalo udah pake hostingan sendiri. Soalnya gampang pakenya. Soalnya udah familier – blog saya yang lain juga pake WordPress. Soalnya gampang kalo mau “nempelin” themes – buat tampilan blog jadi lebih beragam. Soalnya gampang buat nambah-kurang plugin. Soalnya… dst. dll. dsb.

Iya, banyak banget alasan kenapa saya pake WordPress.

Trus, apa hubungannya saya pake WordPress dan apdet post di hari yang sama setiap minggunya? Nah, ada salah satu fitur/opsi di WordPress yang namanya scheduling post – penjadwalan terbit. Fitur ini bakal keliatan tiap kali kita lagi ngedit post, baik itu postingan baru atau postingan eksisting. Secara singkat, scheduling post ini ngebantu kita buat nerbitin/publish post di waktu yang kita mau – baik itu tanggal maupun jam.

ini penampakan fitur scheduling kalo lagi ngedit/bikin post baru
ini penampakan fitur scheduling kalo lagi ngedit/bikin post baru

Kalo lagi ngedit postingan baru (new post) ataupun postingan eksisting, saat scheduling post ini ditambahin untuk waktu yang akan datang, maka postingan kita bakal ke-save di daftar postingan dan akan terbit di waktu yang diminta. Lucunya adalah, scheduling post ga cuman bisa buat ngejadwal nerbitin/publish post di waktu yang akan datang, tapi juga di waktu yang lampau. Iya, bisa dijadwalin buat di tanggal atau jam yang udah lewat.

Nah, berkat fitur scheduling post inilah, saya pun “diuntungkan”. Soalnya, saya jadi lebih bisa keliatan tepat waktu nerbitin postingan. Ehehehe.. jadi postingannya ga dibuat serta-merta dan langsung publish atau publish-nya bergantung sama koneksi yang lancar, melainkan bisa kelarin postingan trus dijadwal di waktu yang kita pengen. :mrgreen: Ya, sederhananya adalah.. fitur penjadwalan terbit/publish postingan ini, bikin hidup saya jadi lebih “tentram”, karena saya ga dikejar-kejar deadline buat selalu terbit di hari yang sama – meski terkadang kalo ide lagi abis dan mandeg, ujung-ujungnya ya.. dikejar-kejar deadline juga. *eh*

Trus, kenapa kok jam terbit/publish-nya kadang beda-beda meski bisa disetel pake fitur scheduling post? Ah.. saya jawabnya di postingan lain kali aja ya. Karena kalo udah soal yang itu, selain faktor teknis berupa fitur, juga berupa pertimbangan saya pribadi. SOK SERIUS *halah*

What Makes a Media So Unique?

Sudah lazim dan jamak diketahui, sebuah produk apabila ingin bertahan cukup lama maka ia wajib memiliki ciri khas. Hal serupa juga berlaku untuk produk media, baik media cetak, media elektronik, hingga media digital atau online. Meskipun bentuk dan cara penyampaiannya berbeda, namun faktor-faktor yang dapat membuat sebuah ciri khas kurang lebih sama. Penasaran?

Sebelum melangkah lebih jauh, sebuah media dapat disebut memiliki ciri khas atau unik apabila,

  1. Memiliki elemen yang tak dimiliki media lain,
  2. Memiliki “tribe” atau pengikut/pembaca setia,
  3. Memiliki jaringan nasional,
  4. Dimiliki oleh jutawan atau politisi berpengaruh – iya, hal ini lazim terjadi,
  5. Setiap edisi atau terbitannya, terjual hingga jutaan eksemplar,
  6. Selalu diingat oleh banyak orang.

Setiap alasan atau faktor pembeda itu dapat dilakukan satu persatu secara bertahap atau salah satu dan yang lain akan mengikuti. Setiap langkah tentu ada yang mudah, dan ada tidak mudah. Kira-kira, manakah yang lebih mudah?

Memiliki elemen media yang tak dimiliki oleh media lain.

Iya, memiliki elemen yang tak dimiliki oleh media lain adalah salah satu langkah yang “mudah”. Disebut mudah, karena berarti menciptakan dan mengembangkan daya tarik yang tak dimiliki oleh media lainnya. Bisa dari elemen fisik: tampilan, warna, ukuran, hingga elemen non-fisik: gaya bahasa, kolom, hingga isi dari media tersebut.

Lalu, elemen mana dulu yang harus dikerjakan? Berdasar pengalaman dan juga hasil pengamatan selama beberapa lama, elemen non-fisik lebih baik dikerjakan terlebih dulu. Kenapa? Karena usianya lebih panjang, dan daur hidupnya lebih lama ketimbang elemen fisik. Selain itu, elemen fisik juga bergantung kepada faktor teknis seperti percetakan, materi pembentuk, hingga kecepatan koneksi internet – untuk media digital/online.

Oke, apabila ada pertanyaan atau kebingungan, harap dicatat terlebih dulu untuk kemudian ditulis di bagian kolom komentar. Sementara itu, lanjut dulu kepada apa saja elemen non-fisik yang harus dikerjakan. Yakni, sebagai berikut,

  1. Kolom,
  2. Laporan khusus,
  3. Galeri foto/gambar tematis,
  4. Galeri foto/gambar terjadwal,
  5. Serial.

Kolom memiliki beberapa arti. Salah satu artinya adalah pembagian paragraf dalam tulisan/artikel agar lebih enak dibaca. Arti lainnya adalah bentuk tulisan/artikel yang ditulis oleh seorang ahli atau yang spesifik sesuai bidangnya. Biasanya penulisnya akan disebut kolumnis, dan memiliki gaya bahasa yang tak bisa ditiru oleh orang lain. Mengapa kolom dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tulisan kolumnis biasanya memiliki pembaca setia, dan tulisannya hanya akan didapat di sebuah media tidak di yang lainnya.

Laporan khusus atau special report adalah laporan pemberitaan mengenai event tertentu pada masa tertentu. Laporan ini dibuat oleh media dalam rangka khusus dan takkan dimuat ulang lagi di waktu lainnya. Kenapa laporan khusus dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tak semua media akan membuat laporan khusus mengenai sebuah event. Bahkan apabila media pembuat laporan khusus ini memiliki hak khusus sebagai media partner, maka ia akan mendapatkan material untuk laporan khusus yang tak dimiliki oleh media lain non-partner dari sebuah acara.

Galeri foto/gambar tematis adalah kumpulan foto/gambar yang memiliki tema tertentu. Biasanya temanya disesuakan dengan tanggal/waktu, hingga tren terkini. Media yang memiliki kumpulan foto/gambar yang banyak biasanya akan menarik pembaca untuk melihat lebih sering, dan bahkan mengoleksinya. Kenapa galeri foto/gambar tematis dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tak semua media memilikinya. Foto atau gambar yang termasuk ke dalam galeri tematis ini, haruslah sebuah karya jurnalistik yang bisa jadi haknya eksklusif dimiliki fotografer pembuatnya, dan tak dimiliki oleh media lainnya.

Galeri foto/gambar terjadwal adalah kumpulan foto/gambar yang jadwal terbitnya sudah dijadwalkan disesuaikan dengan penanggalan atau peristiwa yang sudah diketahui orang banyak. Maksud pembuatan galeri ini adalah untuk mengikuti tren peristiwa dan juga menarik khalayak ramai untuk melihat/membaca. Kenapa galeri foto/gambar terjadwal dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena walaupun sudah hampir pasti akan dilakukan banyak media dalam waktu bersamaan, namun penyajiannya takkan ada yang sama. Semakin banyak media yang menyajikan, semakin unik penyajian galeri ini, dan membuat setiap media yang menyajikannya lebih unik.

Serial atau tulisan berseri adalah penulisan artikel berita/peristiwa yang dibuat bersambung pada setiap terbitan. Biasanya, serial ini dikaitkan dengan tokoh, tanggal penting, hingga acara penting. Dalam jangka waktu tertentu, akan ada bagian tertentu dari sebuah media yang akan membahas satu tema, namun bersambung dari hari ke hari. Biasanya, serial juga akan ditandai dengan grafis yang berbeda. Kenapa serial dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tidak setiap media memiliki kekuatan dan juga ide yang sama.

Ilustrasinya bisa dilihat juga di slide berikut,

Ada komentar? Silakan tulis di bawah atau senggol aja twitter saya. 🙂

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

“New” Marketing Strategy of Motion Pictures (Movie, Film)

Pernah mendengar Omni Corp? Atau pernah mendengar Umbrella Corporation? Kedua nama tersebut adalah nama perusahaan. Dan, bagi para penggemar film ataupun games, tentu tahu jika kedua nama tersebut hadir di game-game ternama. Terlepas dari keberadaan nama perusahaan serupa di dunia nyata, namun kedua nama perusahaan tersebut kini memiliki bentuk “nyata” di dunia maya (internet).

Mau bukti? Coba klik di sini, atau di sini. Sudah? Oke, lanjut baca postingan ini.

Kedua bukti dari perusahaan yang “nyata” di dunia maya tersebut bukan tanpa sebab. Perusahaan-perusahaan “fiktif” tersebut eksis di dunia maya bertujuan untuk menambah awareness mengenai hal-hal yang berkaitan. Dalam hal ini, hal yang berkaitan adalah film.

Iya, film.

OmniCorp, dikenal juga dengan OCP – Omni Consumer Product. Perusahaan ini salah satu perusahaan “fiktif” yang memiliki kaitan kuat dengan RoboCop. Iya, dia adalah “pembuat” RoboCop. Murphy, seorang Polisi yang sekarat dan “disulap” menjadi RoboCop, dibuat dan dibangun oleh OmniCorp. Meski kemudian pada praktiknya ia dibawah kendali Detroit Police Department, tapi OmniCorp inilah yang “bertanggungjawab” akan adanya RoboCop.

Sementara itu Umbrella Corporation, dikenal juga dengan UmbrellaCorp, perusahaan “fiktif” ini memiliki kaitan kuat dengan T-Virus. Tahu kan T-Virus itu apa? Sebuah virus yang mengubah satu fasilitas Umbrella Corporation di Raccoon City dipenuhi dengan zombie yang mengejar-ngejar manusia hidup. Dan kemudian terjadi outbreak di seluruh Raccoon City, dan terus meluas. Tahu apa filmnya? Resident Evil.

Kedua perusahaan “fiktif” tersebut masing-masing memiliki website yang dipoles sedemikian rupa agar menarik visitor dan juga menunjang kisah cerita yang dibuat pada filmnya. Keduanya dibuat seakan-akan nyata, dan bahkan Umbrella Corporation memiliki laman facebook dengan post yang di-update! Termasuk juga “history” yang disesuaikan dengan tahunnya seakan-akan terjadi kejadian nyata – atau memang nyata?

Langkah ini merupakan salah satu taktik pemasaran (marketing) yang cukup jitu untuk membangun awareness dari calon penonton film-filmnya – seperti sudah saya sebutkan sebelumnya. Kenapa? Karena penggunaan website yang dibuat seolah-olah nyata tersebut, tentunya selain akan menimbulkan rasa penasaran dan pertanyaan, juga akan mendukung cerita utama filmnya bahwa perusahaan tersebut benar-benar ADA dan kejadian terkait dapat terjadi di kehidupan nyata – terlepas dari ilmu pengetahuan yang semakin maju dan memungkinkan semuanya terjadi.

Taktik membuat perusahaan “fiktif” memiliki website yang “nyata” membuat film dan juga cerita di filmnya terasa lebih riil dan tentunya lebih masuk akal. Tahu kan penonton film semakin kritis semakin ke sininya? Film-film yang lebih masuk akal, tentunya lebih mudah diterima – meski terkadang film-film fantasi juga hadir dan tak sedikit yang sukses karena diterima banyak kalangan.

Oiya, taktik pemasaran film layar lebar seperti ini saya sebutkan “baru” seperti di judul postingan, karena sebenarnya ia mengulang hal yang pernah dilakukan oleh pendahulunya – masih ingat Blair Witch kan? 🙂 Dan, serunya adalah.. taktik pemasaran yang notabene menjadi pendukung (supporting) ini semakin banyak dilakukan. Contoh lainnya antara lain: OsCorp Industries, Stark Expo, dan S.H.I.E.L.D.

Mari kita lihat, apakah taktik pemasaran ini juga akan dilakukan oleh film-film lainnya? Dan, apakah film-film Indonesia akan melakukan hal serupa?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Apa itu Indonesia Car Lifestyle Award 2012?

Lagi iseng browsing-browsing, entah gimana runutannya tau-tau aja masuk ke halaman Indonesia Car Lifestyle Award 2012 (ICLA 2012). Kalo liat dari website-nya di sini, deskripsinya sebagai berikut,

Indonesia Car Lifestyle Award 2012 memilih mobil-mobil terbaik tahun ini. Mobil yang banyak mendapat perhatian dari jutaan pengunjung BosMobil.com, dan mobil-mobil yang paling cocok untuk berbagai gaya hidup, termasuk family car, work car, female car serta play car.

Secara singkat, bisa dibilang bahwa ICLA 2012 itu bagian dari BosMobil.com, dan juga ajang pemilihan mobil terbaik tahun 2012, di Indonesia. Jenis-jenis mobilnya sendiri dibedain jadi family car, work car, female car, dan play car. Perbedaan jenis mobil tersebut udah jelas diklasifikasikan berdasar kegunaan dan penggunanya – family car untuk keluarga, work car untuk transportasi pekerjaan, female car untuk wanita, serta play car untuk hangout dan jalan-jalan. Ada yang sedikit menggelitik, yakni urban car ga termasuk, nih? :mrgreen:

Anyway, lanjut baca-baca di website-nya, ada deskripsi lanjutan seperti ini,

Kita tahu bahwa tidak semua pembeli memilih mobil hanya dengan acuan kategori seperti tersebut di atas. Tim kami melakukan pengujian dengan melakukan test-drive puluhan mobil, dan pengalaman-pengalaman dari repsonden yang kami temui. Penentuan mobil-mobil terbaik Indonesia Car Lifestyle Award 2012 akan kami helat pada tanggal 11 Juli 2012.

Oh.. Jadi memang BosMobil.com selaku salah satu website tentang otomotif, juga memberikan ulasan tentang kendaraan dan juga berita-berita terbaru dan terkait dengan otomotif. Dan dari situ kemudian akan diselenggarakan penghargaan berupa Indonesia Car Lifestyle Award 2012 (ICLA 2012) yang akan dihelat bulan Juli nanti. Dan, menuju ke sana, mereka mengadakan polling di sini.

Menarik juga mencermati bahwa ada media non-cetak (atau publishing utama-nya dari new media/internet) yang akan menyelenggarakan award otomotif. Sehingga tentu, acara pemberian penghargaan-nya pun menjadi sesuatu yang membuat penasaran. Setidaknya, saya yang penasaran. :mrgreen:

Oiya, kalo liat sekilas kaya’nya di polling mereka itu ada hadiahnya deh.. Total hadiahnya mencapai 50 juta lho.. Ikutan gih!

NB: Blogpost ini tidak didasari oleh request dari BosMobil.com, serta saat tulisan ini ditulis dan di-publish saya tidak memiliki kaitan apapun dengan BosMobil.com. Logo saya copy URL dari sini.

Cara Jitu Mengatasi “Kuis Hunter”

Pernah ikutan kuis atau lomba-lomba yang diselenggarakan di internet? Atau, pernah sebaliknya, membuat lomba-lomba atau kuis yang diselenggarakan di internet? Kalau jawabnya pernah, pasti tahu dengan yang namanya “kuis hunter”. Iya, para pemburu kuis yang memiliki akun dengan tujuan utama untuk mengikuti kuis – di segala macam platform (facebook, twitter, dll), dan acapkali membuat “banjir” timeline dengan aktivitas mereka.

Blogpost kali ini tidak akan memberi penilaian berupa positif atau negatif terhadap “kuis hunter” tersebut, melainkan cara jitu untuk mengatasi mereka. Mengatasi di sini bukan tentang mengesampingkan para “kuis hunter”, akan tetapi mengatasi untuk menjaga agar aktivitas (lomba dan kuis) yang dibuat menjadi lebih tertata dan juga memiliki kualitas yang baik.

Cara-cara mengatasinya antara lain sebagai berikut,

1. Photo/design contest.

Membuat kontes foto dan atau desain, menjadi salah satu cara untuk mengatasi “kuis hunter”. Kenapa? Karena foto dan atau desain membutuhkan usaha (effort) yang cukup berlebih bagi para pesertanya. Kenapa? Karena setidaknya peserta “harus” membuat hasil foto yang menarik, konsep desain yang unik, hingga akhirnya setelah selesai diunggah (upload) dan kemudian dinilai oleh juri.

Menurut saya pribadi, cara ini tentunya akan membuat kuis/lomba menjadi lebih tertata dan memudahkan juri untuk menilai dan menentukan pemenang.

2. Product buying related promo.

Dengan begitu mudahnya internet diakses, “kuis hunter” akan menjamur dengan mudah pula. Berbekal dengan koneksi internet “gratis” (atau lebih tepat dibilang murah), para “kuis hunter” akan dengan mudahnya pula untuk mengikuti kuis di berbagai platform. Tapi, apabila para “kuis hunter” diminta untuk mengikuti lomba/kuis dengan syarat harus memiliki/membeli produk tertentu, maka kecenderungannya akan lebih kecil untuk ikut di kuis/lomba tersebut.

Menurut saya pribadi, cara ini akan menghasilkan para peserta kuis/lomba yang benar-benar loyal dengan produk/brand yang menjadi dasar kuis/lomba tersebut. Serta tentunya, akan memudahkan penilaian apabila ada produk output yang ditentukan.

3. Blog contest.

Beberapa kali saya mengikuti blog contest (dan sempat mengurus blog contest juga :mrgreen: ), cara blog contest ini cukup bisa mengatasi para “kuis hunter”. Aspek-aspek penilaian blog contest yang cukup banyak seperti isi blog, cara tutur, pemilihan kata, cara penyampaian topik, hingga jumlah komentar, dan usia dari blog itulah yang mampu mengatasi “kuis hunter”. Sehingga, input dari blog contest akan didapatkan yang sesuai target.

Menurut saya pribadi, cara blog contest ini juga membutuhkan effort (usaha) yang cukup tinggi dan menuntut kreativitas dari para pesertanya. Sehingga, para peserta tentu akan mengerahkan segenap kemampuannya agar dapat memenangkan hadiah.

Akan tetapi, ketiga cara tersebut tetap takkan bisa mengatasi para “kuis hunter” apabila,

  1. Penentuan pemenang (juga) didasari oleh jumlah like.
  2. Penentuan pemenang (juga) ditentukan oleh jumlah share.
  3. Produk yang disyaratkan untuk mengikuti kuis/lomba tidak memiliki keunikan di masing-masing unit, sehingga sekali beli produk, dapat digunakan oleh banyak orang/berkali-kali.

Itu menurut saya. Kalau menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Dskon: Info Lengkap, Harga Hemat yang Seru!

DskonSiapa ya yang ga suka beli sesuatu dengan harga miring? Putri Catherine (Kate Middleton) aja, kabarnya suka lho beli baju-baju dengan harga miring. Selain harganya yang murah, kadang kita bisa nemuin “harta karun” yang nilainya lebih daripada harganya yang murah itu. Entah itu promosi atau engga, beli sesuatu yang berbau diskon atau ada potongan harga, atau bisa dibilang dengan harga khusus, selalu bikin tertarik. Yep, saya juga. :mrgreen:

Dan, sekarang ini makin banyak lho cara-cara buat dapetin harga khusus buat hal-hal tertentu. Apalagi, semenjak ada internet dan juga kebangkitan industri internet yang makin stabil, makin banyak pula pilihannya. Sebut aja macam dealkeren, disdus, ogahrugi, dll. Saya sendiri jadi member di beberapa situs tersebut. Dan, kadang2 beli paket harga khususnya.. kebanyakan sih, beli harga khusus buat makanan *gembul* 😆

Tapi kemudian, kadang suka gemes sendiri. Misal nih, baru hari ini beli paket harga khusus tertentu di situs A, eh.. besoknya ada paket lain dengan harga khusus yang beda tapi menarik juga, dan tempatnya di situs B. ribet gitu kan jadinya? Apalagi, kadang pengen ngebanding-bandingin, tapi ada kendala di koneksi.. *fakir benwit* 😛

Anyway, kaya’nya keribetan itu mulai terjawab. Ada salah satu situs layanan yang hadir dan ikut ngebantu keribetan saya. Dan, namanya Dskon. Di situs webnya, dia jadi semacam aggregator (pengumpul) tawaran paket harga khusus tersebut, dan ngebuat semuanya lebih gampang buat dicari, dibandingin, dan juga ngedapetin! Seru euy..

Ga cuman paket harga khusus yang jadi info utama, tapi juga ada detil info dari website penyedianya, cara bayarnya, ada di kota mana aja, dan banyak lagi. Belom lagi, bisa nulis review juga lho.. Wew, lengkap ya tawarannya.. Soalnya, kepuasan pelanggan itu kan penting banget, dan review-lah yang jadi patokan pelanggan atau pembeli lainnya. macam saya gini lah.. 😉

Oiya, denger-denger sih, Dskon juga bisa terhubung sama facebook. Jadi, kalo kita nemu ada tawaran paket khusus yang wuokeh di sana, bisa langsung dishare di facebook. Kali-kali aja, salah satu temen kita yang jumlahnya bejibun di facebook itu, ada yang tiba2 bilang, “eh, seru nih! Yuk beli, nanti gue traktir!” *maniak haratisan* 😆

Dan, yang paling penting adalah apdet! Iya dong, situs tawaran paket harga khusus itu apalagi yang lebih penting selaen apdet? Apalagi, semenjak banyak brand atau venue yang ikutan, pastinya makin banyak tawaran yang bisa hadir setiap harinya.. Hmmm.. jadi laper *lho* 😛

Ah.. cari2 tawaran yang asik aaahh.. kali2 aja ada yang seru dan ada harga muraaaahh.. :mrgreen: yuk.. yuk.. ke Dskon!

NB: image dskon, sourcenya dari dailysocial di sini.

“Aktif” di New Media

New media, atau juga dikenali sebagai ranah internet dan digital, tentu memiliki potensi dan cara yang berbeda untuk dijelajahi ketimbang media lama seperti media cetak dan elektronik. Termasuk juga untuk urusan aktivitas, baik untuk urusan personal (pribadi) maupun brand atau perusahaan.

Dengan berbagai kemudahan dan juga berbagai layanan yang tersedia, aktif di new media menjadi lebih mudah. Tujuannya pun beragam, mulai dari untuk menyalurkan hal-hal yang tak tersalurkan di dunia nyata, hingga memang ingin membuat diri sendiri atau brand lebih dikenal. Tentu tujuan tersebut akan dibarengi dengan cara tertentu yang membuatnya terlihat lebih khas agar mudah dikenali publik – dalam hal ini, publik pengguna new media.

Salah satu cara antara lain dengan menyediakan konten yang menarik bagi para pengguna new media. Sebutlah konten untuk website (situs web), blog, hingga akun facebook, facebook page, dan akun twitter. Apapun jenis layanan yang dipilih, content tersebut haruslah menarik dan sesuai dengan karakter brand atau orang tersebut, sehingga terlihat khas.

Tapi ada kalanya membuat konten yang menarik belum tentu dapat menarik perhatian pengguna new media dengan besar. Disebabkan oleh mudahnya dan beragamnya fasilitas yang bisa digunakan, konten brand ataupun individu menjadi tak lagi berarti karena sudah ada yang lain yang melakukannya. Singkat kata, sudah kurang update (pembaruan). Padahal, belum tentu yang kurang update tersebut sama dengan yang sebelumnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, dan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari para pengguna new media, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Yakni, dengan melakukan promosi. Sama halnya dengan media bentukan lama, promosi ini menjadi bagian yang cukup penting agar banyak pengguna mengenal individu ataupun brand yang aktif di new media.

Beberapa langkah promosi tersebut antara lain,

  1. Mengadakan kuis. Bisa dibilang, mengadakan kuis melalui new media adalah cara paling efektif untuk menjaring perhatian paling besar. Apalagi, jika kuis yang dilakukan menggunakan jejaring sosial seperti facebook ataupun twitter. Informasi dapat sangat mudah tersebar, karena berada di situs yang memang berbasis pengguna yang banyak. Namun perhatikan aturan yang ada di situs tersebut, maupun juga buatlah peraturan yang jelas untuk diikuti.
  2. Membuat apdetan berkala dalam benang merah. Apdetan berkala ini dapat berupa kalimat bijak, kutipan menarik, hingga informasi yang diketahui secara spesifik mengenai hal tertentu. Dan, karena sifatnya yang berkala, maka ia perlu memiliki jadwal yang tetap. Tapi perhatikan panjang atau lama apdetan ini. Pada beberapa kasus seperti di twitter yang memiliki batasan karakter, jika terlalu panjang atau lama, justru membuat kondisi kurang nyaman.
  3. Bermain tebak-tebakan. Kini bermain tebak-tebakan dengan cara melontarkan pertanyaan yang aneh, nyeleneh, ataupun justru cenderung sporadis cukup banyak dilakukan. Banyak akun twitter yang melakukan cara-cara tersebut, dan berhasil meraih perhatian dari sekian banyak publik pengguna new media.
  4. Kolaborasi berbagai layanan new media. Makin beragamnya layanan yang bisa digunakan di new media membuat aktivitas brand atau individu di new media menjadi lebih mudah, dengan cara membuat kolaborasi di antara mereka. Contoh paling mudah, memadukan akun dari foursquare (layanan berbasis lokasi) dengan twitter, sehingga publik pengguna new media pun dapat mengikuti di mana saja akun tersebut berada, dan bisa jadi kemudian menghampiri atau mengetahui apa yang sedang dilakukan di sana.

Selain 4 poin yang saya sebutkan di atas, tentunya masih banyak lagi cara-cara dan strategi yang bisa dilakukan. Bagaimana dengan Anda? Boleh lho berdiskusi di komentar. 🙂

NB: foto asalnya dari sini.