Rss Feed

‘Menulis’ Category

  1. Short Story #102: Bersama

    February 22, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Aku ga ngerti kenapa jadinya harus begini…” Rudi menggumam.

    “Mungkin udah takdir..” jawab Tasya yang berdiri di sampingnya. Sama-sama menatap langit sore keemasan dari atap salah satu gedung tinggi.

    “Tapi manusia pun masih bisa ikhtiar supaya hasil dari takdir jadi lebih baik, kan?” tanya Rudi.

    “Mungkin.” jawab Tasya singkat.

    “Trus, kenapa meski aku udah berusaha sekeras mungkin, hubungan kita ga bisa bertahan?” tanya Rudi lagi.

    Kali ini, Tasya diam. Ia memalingkan wajahnya ke langit yang kian berubah keemasan.

    “Apa mungkin seharusnya aku berusaha biasa-biasa aja?” Rudi bertanya lagi tanpa menunggu jawaban Tasya.

    “Mungkin, akunya yang ga berusaha keras sepertimu. Mungkin, aku terlalu lemah.” respon Tasya pada akhirnya.

    “Maksudmu?”

    “Kita ini berbeda, Rud..”

    “Bukankah kita saling mencintai? Setidaknya, itulah hal yang sama di antara kita.” kata Rudi.

    Tasya menarik napas panjang.

    “Kita ini kaya’ dua sisi rel kereta lho Rud. Ga bakal ketemu. Kamu di sebelah kanan, aku di kiri. Atau sebaliknya. Dan, ada jarak yang selalu membatasi kita..” ucap Tasya.

    Rudi menarik napas.

    “Tapi kalopun kita rel kereta, seharusnya kita selalu bersama, ke arah yang sama.” respon Rudi.


  2. Short Story #101: Masih Sama

    by Billy Koesoemadinata

    “Wah Chandra, kamu dateng juga.” Farah menyapa seorang lelaki yang baru tiba dan sedang mengisi buku tamu di meja sampingnya.

    “Eng… Farah, ya?” Chandra balik bertanya sambil mengambil pulpen dan langsung mengisi buku tamu.

    “Iya.. Masa’ kamu lupa sama aku?” respon Farah.

    “Aku ga lupa. Aku cuman amazed aja, kok kaya’nya kamu ga berubah banyak..” Chandra berujar setelah mengisi buku tamu.

    “Ah.. kamu bisa aja..” jawab Farah. “Yuk, aku temenin ke dalem.”

    Farah langsung minggir dari dekat meja penerima tamu, dan mempersilakan rekan setimnya untuk menggantikan. Ia pun menghampiri Chandra, yang lalu mengikutinya berjalan masuk ke dalam aula.

    “Udah rame?” tanya Chandra.

    “Udah, sih. Tapi kaya’nya yang dulu kita kenal deket, belom pada dateng.” jawab Farah. “Ke sini, kita ambil minuman dulu.”

    Chandra pun mengikuti arah Farah menuju, menyelusup di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Sebagian menyapanya, sebagian lagi tidak. Sebagian wajah masih bisa ia kenali, namun sebagian lagi tidak.

    “Sirup atau soda?” Farah menawarkan setibanya di meja tempat minuman.

    “Soda aja deh..” Chandra memilih. “Kamu bagian dari panitianya, ya?”

    “Eng… enggak juga sih.” jawab Farah sambil menyodorkan segelas soda pada Chandra. “Aku kebetulan aja diminta tolong buat jaga di meja penerima tamu. Jadi semacam pengenal undangan dan juga tukang anter. Soalnya, kata Dicky, si ketua OSIS kita dulu itu yang sekarang jadi ketua panitia, aku paling hapal wajah orang.”

    “Kaya’nya kebalik deh.. orang-orang yang lebih hapal wajah kamu..” respon Chandra seketika yang disambut derai tawa Farah.

    “Bisa aja kamu, Chan..” kata Farah.

    “Tapi beneran lho.. Aku amazed aja sama kamu koq ga berubah banyak. Kaya’nya dari dulu ya segini-gini aja. Dibanding aku?” kata Chandra sambil memperlihatkan sedikit uban yang muncul di rambutnya.

    “Alah.. perubahan itu bikin kamu tambah seksi kok sebagai cowok.” kata Farah segera.

    Seketika, senyum di wajah Chandra menghilang. Dan, begitupun dengan Farah. Kikuk.

    “Jadi, apa ceritamu selama 10 tahun ini?” tanya Farah.

    “Nothing specials. Kuliah, lulus kuliah, wisuda, kerja, dan kuliah lagi sambil berusaha cepet lulus.” jawab Chandra. “Kalo kamu gimana?”

    “Almost the same. Kuliah, lulus, wisuda, kerja. Tapi ya.. aku masih sama seperti dulu.”

    “Maksudnya?” Chandra langsung bertanya karena penasaran.

    “Iya, aku masih tinggal di kota yang sama. Ga kaya’ kamu yang udah pindah keluar kota.” jawab Farah.

    “Oh..”

    Lalu hening.

    “Tapi ya, beberapa hal lain juga aku masih sama seperti dulu sih..” Chandra berujar.

    “Oh ya? Soal apa?”

    Chandra menarik napas. “Soal… mengharapkan kamu..”


  3. Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia

    February 15, 2012 by Billy Koesoemadinata

    Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,

    “Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”

    Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.

    Bingung? Oke, lanjut ke bawah.

    Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.

    Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.

    Lalu apa masalahnya?

    Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”

    Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.

    Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.

    Menurut kamu bagaimana?


  4. Short Story #100: Pilih Yang Mana?

    February 14, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Udah ada putusannya?” tanya Gwen santai ke Ayumi di depannya.

    Ayumi menghela napas. Pandangannya tetap mengarah ke cakrawala yang
    membatasi lautan di depannya.

    “Aku ga tau ah..”

    “Berarti belum..” Gwen menarik kesimpulan sambil kemudian menarik
    kakinya naik ke atas dermaga. Bersila.

    “Aku ga bisa kalo harus milih di antara mereka..” Ayumi berujar.

    “Listen to your heart..” Gwen memberi saran.

    Ayumi menghela napas lagi sambil memainkan kakinya di air lautan yang
    menggerakkan ombak.

    “Hatiku belakangan ini sepi. Bingung juga nampaknya.” ucap Ayumi.

    “Kalo gitu, pake koin aja. Sisi angka buat Pram, sisi Garuda buat Candra.”

    Ayumi buru-buru menggeleng. “I don’t want to gamble for this..”

    “Ya tapi cepat atau lambat, kamu harus kasih jawaban dong sama
    mereka.” Gwen memberitahu. “Supaya mereka punya kepastian. Kamu mau
    jadi istri salah satu dari mereka, atau gimana.”

    “Bingung, Gwen..” jawab Ayumi. “Candra itu cowok idaman gue banget,
    tapi Pram itu ngerti apa mau gue..”

    “Jadi, pilih yang mana?” tanya Gwen lagi.

    “I just don’t know the answer..” jawab Ayumi tak pasti. Ia
    menggeleng-gelengkan kepalanya seakan itu bisa menghilangkan rasa
    pusingnya.

    Gwen lalu menatap garis horizon lautan. Menatap semburat lembayung senja.

    “Aku sayang sama mereka berdua.. Sama besar rasa sayangnya.. Tapi aku
    ga bisa kalo disuruh milih siapa yang lebih pengen aku nikahin..” nada
    suara Ayumi mulai bergetar.

    “Gampang sebenernya..” ucap Gwen santai tanpa menyadari Ayumi langsung
    menoleh ke arahnya. “Love in our life is not about choosing someone
    you can live with, but it’s about choosing someone you cannot live
    without.”


  5. Short Story #99: Merayakan Cinta

    by Billy Koesoemadinata

    “Nanti malem bakal ada acara apa, nih?” tanya Dwi pada Icha, teman sekantornya, saat mereka sedang makan siang bersama.

    “Lho, emang ada yang spesial gitu hari ini?” Icha justru balik bertanya sambil bergerak mengecek kalender.

    “Kan Valentine’s Day, Cha..” Dwi memberitahu. “Emang tadi pagi suamimu ga ada yang beda, gitu?”

    “Hmm….” Icha menggumam sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia sedang mengingat-ingat apa yang terjadi di pagi hari sebelum berangkat kerja. “Nothing differents deh kaya’nya.. Seperti hari-hari lainnya aja.”

    “Lho? Koq bisa?” Dwi sedikit terkejut.

    “Ya bisa.. lah emang kenapa harus ada yang berbeda?”

    “Today is Valentine’s Day, Cha.. Va-len-tine..” Dwi mengulang. “Hari kasih sayang sedunia, lho..”

    “Terus hubungannya?” tanya Icha.

    Dwi memutar matanya sambil menarik napas.

    “Suamiku aja tadi pagi, tumben-tumbennya bangun duluan dan ngebangunin aku pake ciuman. Berasa Putri Tidur gitu deh jadinya.. Berasa spesial!” Dwi memberitahu sambil kemudian pipinya memerah.

    “Ooh..” respon Icha datar. “Terus? Terus?”

    “Iya, trus sarapan pun udah siap.. Dan sebelum berangkat kerja pun dia tumben-tumbennya nyium kening aku.. Sambil bisik-bisik  kalo dia punya kejutan malam ini.” Dwi melanjutkan. “Duh, jadi ga sabar buat nanti malem. Berasa balik lagi kaya’ pacaran gitu.. Dimanjaaaaaaa banget.”

    “Ooh..”

    Mendengar respon Icha yang biasa saja, Dwi sedikit sebal. “Kamu dan suamimu ga ngerayain hari ini, ya?”

    “Lho, buat apa?” respon Icha segera.

    “It’s Valentine.. Hari khusus buat merayakan cinta..” Dwi menjawab dengan penekanan.

    Icha tersenyum. “Emangnya harus?”

    “Ga harus, tapi kan tanggal 14 Februari cuma sekali dalam setahun..”

    “Aku ga ngeliat hubungan antara 14 Februari dan hari khusus buat merayakan cinta.” jawab Icha santai. “Anyway, aku ga butuh tanggalan atau satu hari khusus buat merayakan atau menikmati cinta. Karena suamiku selalu ngebuat aku ngerasa spesial setiap harinya.”