Rss Feed

‘Menulis’ Category

  1. Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia

    February 15, 2012 by Billy Koesoemadinata

    Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,

    “Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”

    Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.

    Bingung? Oke, lanjut ke bawah.

    Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.

    Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.

    Lalu apa masalahnya?

    Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”

    Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.

    Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.

    Menurut kamu bagaimana?


  2. Bahasa Indonesia itu Kaya

    February 9, 2012 by Billy Koesoemadinata

    Sebelum membaca lebih jauh blogpost saya, coba jawab pertanyaan berikut,

    Sebelum di blog saya, kapan terakhir kali baca/ucapkan/dengar kata-kata seperti nan, alangkah, amboi, niscaya, elok, atau nian?

    Bagi yang menjawab terakhir kali mendapati kata-kata tersebut dalam periode kurang dari sebulan terakhir, patutlah bersyukur. Bisa jadi, lingkungan sekelilingnya meliputi orang-orang yang bercakap-cakap dengan kekayaan bahasa Indonesia. Bagi yang lebih dari sebulan, tak perlu berkecil hati. Karena memang kata-kata tersebut kini sudah semakin jarang digunakan oleh generasi terkini.

    Balik lagi ke judul dan juga topik postingan blog saya ini, sebenarnya dan selayaknya bahasa Indonesia itu kaya. Banyak sekali unsur bahasa dan kata-kata yang diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi sekarang dalam bentuk yang unik sekaligus mencerminkan ke-Indonesia-an. Kenapa? Karena hampir takkan ditemukan di bahasa lainnya. Contohnya? Ya.. seperti yang saya tulis di pertanyaan di awal-awal tadi.

    Penjelasan singkatnya mudah saja seperti berikut,

    Amboi dan nian, adalah sebagian kata yang bisa digunakan untuk dalam ungkapan pujian, terlepas dari maksud buruk atau baik. Coba bandingkan dengan kata-kata generasi sekarang yang mungkin lebih mengenal “Wow!” dan atau “banget, atau the most”.

    Lalu, kalau bahasa Indonesia itu kaya, kenapa? Apa kita perlu menggunakan kata-kata tersebut di keseharian kita? Jawabnya ya, dan tidak. Ya, sesekali perlu kita gunakan. Agar kita tidak lupa terhadap akar budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Tidak, karena tak semua orang mengetahui arti dari kata-kata tersebut – meski mungkin dulu saat sekolah dasar, pernah belajar mengenai kata-kata tersebut, tapi kemudian lupa karena tergerus kata-kata yang lebih modern dalam pergaulan.

    Adakah pihak yang pantas atau patut disalahkan? Buat saya pribadi, tidak ada. Karena saya juga sulit untuk tetap menggunakan bahasa tersebut. Lebih mudah rasanya menggunakan kata-kata yang lebih updated, sleng, dan mungkin aktual dibandingkan kata-kata terkini atau terbaru. à Mengerti maksud saya?

    Oiya, seiring penghabisan postingan ini, ada sesuatu hal yang pantas diketahui oleh orang banyak. Yakni kekayaan bahasa Indonesia itu bisa dinikmati dengan membaca cerpen-cerpen angkatan 66, 45, atau bahkan angkatan yang lebih awal seperti balai pustaka atau pujangga baru. Penggunaan diksi di tulisan mereka begitu benar-benar membuat kita perlu membacanya berulang-ulang, sekaligus juga terngiang-ngiang akan isi ceritanya. Yah, setidaknya saya begitu. ^^v


  3. Sketsa #2: Hidangan

    February 6, 2012 by Billy Koesoemadinata

    “Kamu tahu apa yang paling kusuka?” tanya sang wanita.

    “Wanginya?” jawab sang pria.

    “Bukan.”

    “Rasanya?”

    “Bukan juga.”

    “Warnanya?”

    Sang wanita diam sejenak sambil tersenyum kecil. “Mungkin ya, tapi bukan itu yang paling kusuka.”

    “Hmm… Jumlahnya?”

    “Kalo jumlahnya, satu porsi aja cukup buat jangka waktu tertentu. Malah kadang, 1 porsi ga abis aku udah kekenyangan.” jawab sang wanita.

    “Terus apa?” tanya sang pria.

    Sang wanita berjalan mendekati meja. Ia menatap sajian yang dipersembahkan oleh sang lelaki, khusus untuknya.

    “Aku suka denger teriakan mereka saat gigiku nempel ke leher mereka.” kata sang wanita sambil menampakkan taringnya diikuti teriakan kesakitan dari atas meja.


  4. Sketsa Cerita #1: Paket Cokelat

    November 8, 2011 by Billy Koesoemadinata

    Pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Ia menatap cangkir kopi di depannya yang hanya berisikan ampas. Ia ingin memanggil pramusaji untuk tambah, tapi asam yang terasa di lidahnya membuatnya diam.

    Kembali, pria itu menyesap rokoknya.

    Sekeliling pria itu yang mulai hiruk-pikuk dari pertemuan orang-orang, tak mengindahkannya dari posisi duduknya sejak beberapa jam yang lalu. Ia melihat ke arah jam dinding di dekat pintu masuk, kemudian melihat ke arlojinya. Sama. Walau detiknya mungkin beda.

    Kembali, pria itu menyesap rokoknya. Dalam. Menahannya sejenak sebelum menghembuskannya.

    Dua orang perempuan melewati tempat pria itu duduk. Melihat ke mejanya sejenak, kemudian ke kursi kosong di depan pria itu. Salah satu perempuan berbisik cepat, dan yang lainnya tersenyum kecil. Mereka kemudian pergi memunggungi pria itu. Tanpa mereka sadari, pria itu tahu apa yang kedua wanita itu pikirkan.

    Sudah biasa. Seperti biasa. Pria itu bergumam.

    Di bawah meja, pria itu mengubah posisi kakinya. Semula lurus, kini menyilang ke arah belakang. Rasa pegal lama-lama menerpanya juga. Walau begitu, tangannya di atas meja masih sama. Tangan kiri memegang cangkir kopi, yang kanan memangku dagunya sambil jemarinya menahan rokok di mulutnya.

    Tatapan pria itu kini berpindah ke jendela. Melihat ke arah aliran air yang garisnya tinggal sedikit saja di kaca. Melihatnya jatuh dari pangkal di kusen atas, lalu bergulir sepanjang garis yang tak rata. Kadang berbelok membentuk garis baru, kadang tetap berada di garis yang sudah ada. Lalu menyentuh kusen bawah. Hilang. Membasahi kusen jendela.

    Jauh dari mejanya, bel pintu berbunyi. Seorang pengunjung lain telah masuk ke dalam café.

    Sedikit bergerak, tangan pria itu menyisir dagunya yang kasar. Jenggot. Berewok. Sudah hampir 4 hari sejak terakhir. Sejalan dengan matanya yang sedikit merah berair. Selaras dengan kantung mata yang sedikit terlihat gelap.

    “Ujan selalu bikin macet.” kata seorang pria bermantel sambil duduk di depan pria itu.

    “Tapi cuma macet jalan raya doang. Ga yang laen.” jawab pria perokok itu. Tangannya merogoh sebuah paket berwarna cokelat yang sedari tadi ia tempelkan di bawah meja. “4 hari.”

    “Nice job.” jawab pria bermantel sambil menerima paket cokelat itu, dan menaruhnya ke saku mantelnya. Kemudian tangannya keluar lagi dengan sebuah kantong plastik cukup tebal. “50 persen sisanya.”

    Pria perokok itu langsung menarik kantong plastik itu dan menggesernya hingga terjatuh ke dalam tas terbuka tepat di bawah tepi meja.

    “Liburlah 2 minggu.” ujar pria bermantel sambil bergeser untuk berdiri.

    “Pasti.” jawab pria perokok. “Bisa jadi lebih.”

    Pria bermantel diam berdiri sebelum beranjak. Ia melihat ke arah bartender.

    “Jangan matikan ponselmu.” kata pria bermantel sambil kemudian beranjak.

    Pria perokok tak menjawab. Ia menyesap rokoknya lagi. Dalam, dan menghembuskan asapnya.

    Bel pintu terdengar kembali. Dan, sepersekian detik berikutnya terdengar ledakan keras. Memekakkan telinga. Menghancurkan kaca. Melemparkan hampir semua orang yang ada di dalam café. Apalagi, orang-orang yang sedang berada dekat dengan pusat ledakan. Tapi pria perokok itu tak ada di mejanya.


  5. Cerita Rak Majalah

    October 21, 2011 by Billy Koesoemadinata

    dari stream yang dibuat putri pratiwi di googleplus soal cover buku, saya jadi keingetan salah satu laporan dan riset “kecil-kecilan” soal cover majalah yang pernah saya buat dulu waktu masih jadi pekerja media.

    kurang lebihnya, intisarinya seperti ini: selayaknya manusia, cover itu adalah tampilan terluar sebuah produk buku/majalah. bisa itu baju yang kita kenakan, wajah, ataupun tampilan kita secara keseluruhan. itulah cover.

    dan, selayak manusia pula, buku/majalah pun “ingin” terlihat berbeda. tapi apabila manusia mampu membedakan dirinya selain dengan penampilan tapi juga dengan keahlian dan kelihaian dalam komunikasi 2 arah, maka buku/majalah “hanya” bisa berkomunikasi 1 arah, sehingga belum tentu keahlian dan kelihaian yang dimilikinya dapat “dinikmati” pembacanya apabila covernya tak menarik.

    lalu bagaimana agar bisa menarik? apakah perlu desain yang kreatif, menonjol, dan mahal? jawab singkatnya, iya dan tidak. iya, karena hal itu dapat menunjang, dan tidak karena hal itu akan percuma apabila produk buku/majalah nantinya disimpan di bagian rak yang tak terjangkau — baik oleh pandangan mata, maupun tangan.

    yes, penempatan di rak adalah hal yang juga penting bagi sebuah produk buku/majalah agar bisa “laku” — diambil, dibaca, lalu (mudah-mudahan) dibeli. lalu, kalau penempatannya tidak di lokasi yang bagus, maka percuma saja sebuah cover dibuat sesempurna mungkin. contoh mudahnya, cover yang terbuat dari lembaran emas sekalipun takkan menarik untuk dilihat atau dibeli, apabila diletakkan di bagian bawah rak — yang sejajar dengan kaki kita, dan atau kemudian ditumpuk dengan deretan majalah/buku lain.

    jadi bagaimana membuat sebuah cover agar bisa menarik untuk dibaca, dan (mudah-mudahan) dibeli? pertimbangkan faktor ini,
    1. majalah/buku cenderung ditumpuk secara cascade ke atas. jadi, pertimbangkan meletakkan header yang menarik.
    2. majalah/buku juga cenderung ditumpuk secara cascade ke samping, dengan meletakkan jilid di bagian luar. jadi, pertimbangkan membuat sidebar yang juga menarik.

    silakan cermati rak buku/majalah di lapak, hingga toko buku. kebanyakan, pasti akan melakukan hal ini. soal image/foto yang digunakan sebagai cover, itu nilai plus yang lebih menampilkan isi dari majalah/buku itu.

    begitulah, kurang lebihnya..

    NB: gambar asli dari sini.