Nama

Nama adalah doa dan pengharapan orangtua terhadap anaknya.

Katanya gitu. Iya, begitu. Sebagai lelaki yang sudah menjadi orangtua, saya mengamini perkataan tersebut. Tapi, sehubungan sejak sebelum jadi orangtua saya suka nulis, muncullah pemikiran lain, sbb:

Nama yang diberikan pada tokoh atau karakter di cerita fiksi itu termasuk doa dan pengharapan juga kah? Kalo iya, yang jadi orangtua-nya siapa? Penulis, atau karakter lain yang diciptakan (jika ada) sebagai orangtua di dalam ceritanya itu?

Kusut? Jelas. Udah pasti. Beberapa kenalan dekat saya — atau yang (pernah) sering interaksi dengan saya bilang saya sering overthinking, yang pada akhirnya tentu bisa memunculkan pemikiran itu. Tapi secara logika, bener kan? — terlepas dari penting/ga penting :mrgreen:

Pemikiran itu timbul karena saya — yang memang gemar menulis cerita fiksi, seringkali kesulitan untuk menentukan nama dari tokoh atau karakter yang berada dalam cerita fiksi saya. Idealnya, saya menentukan nama berdasar karakternya, misal Elang untuk lelaki yang berkarakter gagah, siap untuk melanglangbuana. Contoh lain misal Siti untuk perempuan yang memiliki prinsip tersendiri dan dipegang teguh.

Tapi seringkali memang penentuan nama tidaklah ideal, sih. Alhasil saya seringkali membuat karakter dengan sebutan warna, misal Biru, Merah, Kuning, Hitam, dan lain-lain. Setelah berjalan beberapa halaman dan cerita mulai dikembangkan, barulah dipilih nama yang kira-kira sesuai. Masih dengan landasan idealisme itu. Sayangnya, sehubungan saya belakangan (atau malah udah selalu? 😛 ) lebih sering nulis cerita pendek, alhasil ga begitu lagi. Seringkali malah comot nama aja yang keingetan duluan untuk sebuah karakter atau tokoh di dalam cerita.

Buyar sudah prinsip doa dan pengharapan. 😆

 

Cerbung

Membuat (baca: menulis) novel atau buku cerita adalah salah satu impian saya sejak kecil. Alhamdulillah, terlepas dari tiras dan angka penjualannya, saya sudah pernah menerbitkan satu judul novel dari salah satu penerbit bergengsi di tanah air. Dan, sebenarnya keinginan hati adalah kembali menerbitkan novel. Akan tetapi, pada kenyataannya semuanya tidaklah mudah.

Mungkin sudah banyak yang tahu, menembus penerbit dan kemudian menerbitkan naskah buku itu bisa dibilang amat sangat sulit. Mulai dari tahapan penyaringan secara kilat, penyeleksian, penyuntingan, penulisan ulang/penambahan (jika perlu), hingga penjadwalan terbit, dan juga pemasaran plus penjualan. Semua itu tidaklah mudah — walau juga tidak mutlak disebut sulit. Mengantisipasi itulah, maka kemudian banyak penerbit “indie”, penerbit buku dengan pemasaran yang “menumpang” penerbit besar, hingga penerbit on demand/by request.

Anyway, bukan soal penerbit dan proses menerbitkan buku yang mau saya bahas. Melainkan cerita bersambung (cerbung) yang semula saya siapkan untuk menjadi novel. Iya, semula naskah cerbung ini adalah naskah novel. Namun karena tak kunjung juga diterbitkan oleh penerbit (baca: ditolak oleh penerbit), jadilah saya publikasikan cerita novel tersebut per bab secara bersambung.

Mau tahu apa cerita bersambung tersebut? Simak aja di sini. Judulnya adalah Burung Kertas, dengan 21 bab yang saya bagi menjadi 21 post.

Selamat menikmati ya..

Cara Jitu Mengatasi “Kuis Hunter”

Pernah ikutan kuis atau lomba-lomba yang diselenggarakan di internet? Atau, pernah sebaliknya, membuat lomba-lomba atau kuis yang diselenggarakan di internet? Kalau jawabnya pernah, pasti tahu dengan yang namanya “kuis hunter”. Iya, para pemburu kuis yang memiliki akun dengan tujuan utama untuk mengikuti kuis – di segala macam platform (facebook, twitter, dll), dan acapkali membuat “banjir” timeline dengan aktivitas mereka.

Blogpost kali ini tidak akan memberi penilaian berupa positif atau negatif terhadap “kuis hunter” tersebut, melainkan cara jitu untuk mengatasi mereka. Mengatasi di sini bukan tentang mengesampingkan para “kuis hunter”, akan tetapi mengatasi untuk menjaga agar aktivitas (lomba dan kuis) yang dibuat menjadi lebih tertata dan juga memiliki kualitas yang baik.

Cara-cara mengatasinya antara lain sebagai berikut,

1. Photo/design contest.

Membuat kontes foto dan atau desain, menjadi salah satu cara untuk mengatasi “kuis hunter”. Kenapa? Karena foto dan atau desain membutuhkan usaha (effort) yang cukup berlebih bagi para pesertanya. Kenapa? Karena setidaknya peserta “harus” membuat hasil foto yang menarik, konsep desain yang unik, hingga akhirnya setelah selesai diunggah (upload) dan kemudian dinilai oleh juri.

Menurut saya pribadi, cara ini tentunya akan membuat kuis/lomba menjadi lebih tertata dan memudahkan juri untuk menilai dan menentukan pemenang.

2. Product buying related promo.

Dengan begitu mudahnya internet diakses, “kuis hunter” akan menjamur dengan mudah pula. Berbekal dengan koneksi internet “gratis” (atau lebih tepat dibilang murah), para “kuis hunter” akan dengan mudahnya pula untuk mengikuti kuis di berbagai platform. Tapi, apabila para “kuis hunter” diminta untuk mengikuti lomba/kuis dengan syarat harus memiliki/membeli produk tertentu, maka kecenderungannya akan lebih kecil untuk ikut di kuis/lomba tersebut.

Menurut saya pribadi, cara ini akan menghasilkan para peserta kuis/lomba yang benar-benar loyal dengan produk/brand yang menjadi dasar kuis/lomba tersebut. Serta tentunya, akan memudahkan penilaian apabila ada produk output yang ditentukan.

3. Blog contest.

Beberapa kali saya mengikuti blog contest (dan sempat mengurus blog contest juga :mrgreen: ), cara blog contest ini cukup bisa mengatasi para “kuis hunter”. Aspek-aspek penilaian blog contest yang cukup banyak seperti isi blog, cara tutur, pemilihan kata, cara penyampaian topik, hingga jumlah komentar, dan usia dari blog itulah yang mampu mengatasi “kuis hunter”. Sehingga, input dari blog contest akan didapatkan yang sesuai target.

Menurut saya pribadi, cara blog contest ini juga membutuhkan effort (usaha) yang cukup tinggi dan menuntut kreativitas dari para pesertanya. Sehingga, para peserta tentu akan mengerahkan segenap kemampuannya agar dapat memenangkan hadiah.

Akan tetapi, ketiga cara tersebut tetap takkan bisa mengatasi para “kuis hunter” apabila,

  1. Penentuan pemenang (juga) didasari oleh jumlah like.
  2. Penentuan pemenang (juga) ditentukan oleh jumlah share.
  3. Produk yang disyaratkan untuk mengikuti kuis/lomba tidak memiliki keunikan di masing-masing unit, sehingga sekali beli produk, dapat digunakan oleh banyak orang/berkali-kali.

Itu menurut saya. Kalau menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Short Story #105: Kesempatan Saat Hujan

“Pagi-pagi kok ya ujan..” Gilang menggerutu di teras toko yang mulai basah.

“Gapapa lah, Lang.. pertanda bagus justru..” Retno menimpali sambil menyandarkan dirinya di bagian teras toko tempat mereka berteduh yang tak terkena bias hujan.

“Pertanda bagus gimana?” tanya Gilang.

“Pastinya dosen kita pagi ini juga telat toh..” jawab Retno.

“Halah.. emang dikira Pak Dudi ga bakalan ngasih tugas atau dia naik mobil sendiri?” Gilang langsung merespon.

“Eng.. sepertinya enggak. Belom pernah deh kaya’nya Pak Dudi begitu.. udah berapa kali kan pagi-pagi ujan, dan dia juga mendadak ga masuk.” ucap Retno.

“Iya juga sih..”

Lalu kedua teman sekampus tersebut sama-sama diam. Menatap hujan dari teras toko yang masih tutup sementara jalanan di depan mereka kembali diterpa hujan deras. Sama-sama diam menatap seperti orang-orang lain yang juga berteduh di samping mereka.

“Padahal udah deket banget ini sama kampus. Nanggung bener..” komentar Gilang.

“Iya.. tapi ya mau gimana lagi? Aku males basah-basahan..” ujar Retno.

“Sori ya, No. Sekalinya gue jemput loe buat bareng ke kampus, malah ujan gini..”

“Halah.. ga usah dipikirin lah, Lang..” jawab Retno. “Tapi ya.. biar gimanapun ujan gini bisa ngasih kesempatan lain juga..”

“Oh ya? Apa tuh?”

“Kesempatan buat dilindungin sama jaket kamu kalo aku tiba-tiba pengen jalan pas ujan..” goda Retno sambil beranjak dari teras toko ke tengah trotoar yang masih diterpa hujan.

Short Story #104: Pegangan

“Al.. Kaya’nya kita ga bisa lanjutin hubungan ini, deh..” Widya
mencoba tenang walau suara bergetar.

Ali yang duduk di kursi depannya seketika menyimpan sendok dan
garpunya. Ia lantas menoleh ke jendela. Melihat ke tengah hujan yang
melanda. Lalu mendengus.

“Jangan bilang karena orangtua kamu lagi deh..” kata Ali datar.

Widya tak menjawab meski dalam hatinya ia mengiyakan ucapan Ali.

“Emang aku kurang apalagi ya buat mereka?” Ali bertanya tanpa
memalingkan mukanya dari jendela.

“Aku ga tau..” jawab Widya. “Tapi yang pasti mereka pengen aku ga
lanjutin berhubungan sama kamu..”

Ali tersenyum kecil lalu kemudian menoleh ke arah Widya yang sedari
tadi memerhatikannya.

“Alasannya?”

Widya menarik napas. “Mereka ga ngasih alasan, Al.. Mereka cuma ngasih
pilihan..”

“Oh ya?” sergah Ali sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Iya.” jawab Widya.

Lalu hening menyeruak di antara Ali dan Widya.

“Kamu ga tanya apa pilihan yang dikasih mereka ke aku?” tanya Widya.

“Buat apa… Toh kamu udah milih mereka..” jawab Ali datar.

Widya diam. Ia sebenarnya ingin agar Ali bertanya. Tapi… Kejadian
ini sudah berulang sekian kali. Lagi.

“Aku pengen milih kamu, Al.. Tapi.. aku ga bisa kalo ga ada mereka,
Al.. Mereka kan orangtuaku..” Widya memberitahu. “Kalo ga ada mereka,
aku pegangan sama siapa kalo ada apa-apa?”

Ali mendengus. Lalu tertawa kecil.

“Tanganku..” jawab Ali. “Kalo kamu milih aku, kamu bisa pegang
tanganku sambil kita jalani ini bareng-bareng..”

Memulai Dengan Kutipan

Seperti diketahui oleh banyak orang, ada 2 jenis tulisan. Yakni fiksi dan non-fiksi. Keduanya sama-sama punya kelebihan-kekurangan, serta ciri-ciri tersendiri. Yang ingin saya bahas di blogpost kali ini adalah mengenai permulaan dari tulisan.

Awalan sebuah tulisan perlu memiliki ciri berupa jangkar yang demikian kuat agar bisa “menahan” pembacanya agar mau membaca, lalu menuntaskan membaca tulisan itu. Dan, salah satu caranya adalah dengan memulai tulisan dengan kutipan. Iya, kutipan atau kata langsung.

Contoh kutipan antara lain,

“Saya kan sudah bilang, taktik yang dipakai di pertandingan kemarin itu salah semuanya..” ujar pelatih.
“Just play. Have fun. Enjoy the game.” – Michael Jordan.

Kedua contoh kutipan tersebut bisa digunakan baik di tulisan fiksi maupun nonfiksi. Kenapa saya bisa sebutkan demikian? Karena kalimatnya diawali dengan tanda kutip – iya ini ilmu dasar menulis, dan berupa kalimat langsung yang diucapkan oleh seseorang, yang seseorang pengucap tersebut disebutkan di akhir kalimat – setelah tanda kutip ditutup.

Bingung? Coba nanti di kolom komentar, beritahu saya apa yang bikin bingung. Sementara itu, lanjut dulu ya.. 🙂

Kekuatan sebuah kutipan di awal tulisan setidaknya harus memiliki salah satu atau sekaligus semua faktor di bawah ini,
1. Mengundang pertanyaan akan isi dari tulisan,
2. Merupakan hal yang dibicarakan oleh banyak orang – pada saat tulisan itu dipublikasikan,
3. Diucapkan oleh seseorang yang berpengaruh, dan atau,
4. Terdiri dari sebuah kalimat sederhana – tidak menimbulkan kebingungan.

Apabila kutipan di awal tulisan sudah kuat, maka bisa dijamin setidaknya pembaca akan meneruskan membaca hingga setidaknya 2-3 paragraf lagi. Dan diharapkan di paragraf-paragraf tersebut terdapat hubungan yang kuat, sehingga pembaca akan terus bertahan hingga mendapatkan intisari dari tulisan dan atau sesuai persepsi yang ia butuhkan saat proses membaca itu tuntas.

Jadi, sudah siap memulai tulisan dengan kutipan? Cobalah dengan memuat kutipan berupa kata-kata bijak atau bagus. Tujuannya, selain berlatih dengan kutipan, kata-kata tersebut juga bisa memotivasi penulis secara terselubung untuk menuntaskan tulisan. 🙂

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Short Story #103: Hatiku

“Hari ini kan, ya?” tanya Lily saat ia dan kekasihnya di suatu pagi
sambil menunggu kereta di peron stasiun.
“Hari apa?” Andre balik bertanya sambil menoleh ke arah Lily.
“Ya harimu. Your day.” Lily berujar.
“My day?” tanya Andre.
Lily gemas. Ia mencubit lengan atas Andre sambil kemudian berdiri di
depannya. “Ultahmu, Sayang..”
“Ah, masa iya?” tanya Andre tak percaya sambil kemudian melihat
tanggalan di arlojinya. “Oh iya, hari ini.”
“Yeee… ultah sendiri koq ya lupa.” ucap Lily.
“Ya gimana ga lupa, wong biasanya aku inget ultah itu sehari setelah
tanggal 28 Februari, kan. Kalo kabisat gini, ya jadi disorientasi hari
dan tanggalan toh..” jawab Andre sambil kemudian tertawa.
“Kirain lupa karena umurnya nambah tua.” Lily berceletuk yang langsung
menghilangkan tawa Andre.
“Maksudnya?” Andre berlagak serius.
Lily langsung memeluk Andre. “Aku bercanda, Sayaaaanngg…”
Andre tersenyum sebal sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain
dari peron. Membiarkan Lily memeluknya dan menatap tengkuknya.
“Ih, kalo ambegan nanti tambah tua, lho.”
“Biarin, wong nambah umur juga hari ini.” kata Andre segera tanpa menoleh.
“Hiiihh..” Lily melepas pelukannya. Dan ternyata, itu bisa membuat
Andre menoleh lagi padanya.
“Koq dilepas pelukannya?”
“Abis ambegan, sih..” jawab Lily.
“Alah, ambegan juga kamu suka. Mau juga jadi cewek aku.” Andre menimpali.
“Abis terpaksa, ga ada cowok laen yang nembak aku.” jawab Lily segera
dan bermaksud bercanda.
“Tuh kan, mulai lagi deh..” respon Andre dengan nada datar agak ketus.
“Duuhh… priaku ini koq ya ambegan banget deeehh.. mentang-mentang lagi
ulang tahun!” Lily mendekatkan tubuhnya lagi ke Andre. Kali ini ia
sambil memeluk leher Andre.
“Biarin. Abis bukannya ngasih apa gitu kek, malah ngegodain mulu.” ujar Andre.
“Ya udaaahh.. Kamu mau apa? Apa yang kamu pengen?” tanya Lily.
“Aku pengen… pengen apa, ya?”
“Tuh, kamu sendiri juga bingung pengen apa. Ya aku juga bingung dong
mau ngasih apaan…”
“Halah.. alesan kamu. Yang namanya kalo ngasih pas ultah gitu ya
harusnya yang bikin surprise kek. Apa gitu tanpa harus aku kasitau..”
Andre memberitahu.
Lily diam. Sepertinya ia tengah berpikir. Sambil menunggu, terdengar
pemberitahuan bahwa kereta yang akan mereka naiki sesaat lagi akan
tiba.
“Jadi jalan ga, nih?” tanya Andre.
“Ya jadi lah.. Kenapa, sih?”
“Ya abis, diem aja. Kirain saking bingungnya jadi diem mikir buat jadi
jalan apa enggak.” Andre berujar sambil tetap penasaran sekaligus
sebal.
“Aku tuh lagi mikir mau ngasih apa sama kamu..” Lily memberitahu.
“Oh ya? Emang apa?” tanya Andre sedikit berteriak karena kereta yang
akan dinaiki mulai masuk dan kemudian berhenti di peron.
Lily tak menjawab dan justru berjalan mendahului masuk ke kereta yang
cukup kosong. Tapi, genggaman tangannya dengan Andre tak ia lepaskan.
“Gimana kalo…. Hatiku?” Lily menawarkan sambil menarik Andre ke dalam kereta.

Short Story #102: Bersama

“Aku ga ngerti kenapa jadinya harus begini…” Rudi menggumam.

“Mungkin udah takdir..” jawab Tasya yang berdiri di sampingnya. Sama-sama menatap langit sore keemasan dari atap salah satu gedung tinggi.

“Tapi manusia pun masih bisa ikhtiar supaya hasil dari takdir jadi lebih baik, kan?” tanya Rudi.

“Mungkin.” jawab Tasya singkat.

“Trus, kenapa meski aku udah berusaha sekeras mungkin, hubungan kita ga bisa bertahan?” tanya Rudi lagi.

Kali ini, Tasya diam. Ia memalingkan wajahnya ke langit yang kian berubah keemasan.

“Apa mungkin seharusnya aku berusaha biasa-biasa aja?” Rudi bertanya lagi tanpa menunggu jawaban Tasya.

“Mungkin, akunya yang ga berusaha keras sepertimu. Mungkin, aku terlalu lemah.” respon Tasya pada akhirnya.

“Maksudmu?”

“Kita ini berbeda, Rud..”

“Bukankah kita saling mencintai? Setidaknya, itulah hal yang sama di antara kita.” kata Rudi.

Tasya menarik napas panjang.

“Kita ini kaya’ dua sisi rel kereta lho Rud. Ga bakal ketemu. Kamu di sebelah kanan, aku di kiri. Atau sebaliknya. Dan, ada jarak yang selalu membatasi kita..” ucap Tasya.

Rudi menarik napas.

“Tapi kalopun kita rel kereta, seharusnya kita selalu bersama, ke arah yang sama.” respon Rudi.

Short Story #101: Masih Sama

“Wah Chandra, kamu dateng juga.” Farah menyapa seorang lelaki yang baru tiba dan sedang mengisi buku tamu di meja sampingnya.

“Eng… Farah, ya?” Chandra balik bertanya sambil mengambil pulpen dan langsung mengisi buku tamu.

“Iya.. Masa’ kamu lupa sama aku?” respon Farah.

“Aku ga lupa. Aku cuman amazed aja, kok kaya’nya kamu ga berubah banyak..” Chandra berujar setelah mengisi buku tamu.

“Ah.. kamu bisa aja..” jawab Farah. “Yuk, aku temenin ke dalem.”

Farah langsung minggir dari dekat meja penerima tamu, dan mempersilakan rekan setimnya untuk menggantikan. Ia pun menghampiri Chandra, yang lalu mengikutinya berjalan masuk ke dalam aula.

“Udah rame?” tanya Chandra.

“Udah, sih. Tapi kaya’nya yang dulu kita kenal deket, belom pada dateng.” jawab Farah. “Ke sini, kita ambil minuman dulu.”

Chandra pun mengikuti arah Farah menuju, menyelusup di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Sebagian menyapanya, sebagian lagi tidak. Sebagian wajah masih bisa ia kenali, namun sebagian lagi tidak.

“Sirup atau soda?” Farah menawarkan setibanya di meja tempat minuman.

“Soda aja deh..” Chandra memilih. “Kamu bagian dari panitianya, ya?”

“Eng… enggak juga sih.” jawab Farah sambil menyodorkan segelas soda pada Chandra. “Aku kebetulan aja diminta tolong buat jaga di meja penerima tamu. Jadi semacam pengenal undangan dan juga tukang anter. Soalnya, kata Dicky, si ketua OSIS kita dulu itu yang sekarang jadi ketua panitia, aku paling hapal wajah orang.”

“Kaya’nya kebalik deh.. orang-orang yang lebih hapal wajah kamu..” respon Chandra seketika yang disambut derai tawa Farah.

“Bisa aja kamu, Chan..” kata Farah.

“Tapi beneran lho.. Aku amazed aja sama kamu koq ga berubah banyak. Kaya’nya dari dulu ya segini-gini aja. Dibanding aku?” kata Chandra sambil memperlihatkan sedikit uban yang muncul di rambutnya.

“Alah.. perubahan itu bikin kamu tambah seksi kok sebagai cowok.” kata Farah segera.

Seketika, senyum di wajah Chandra menghilang. Dan, begitupun dengan Farah. Kikuk.

“Jadi, apa ceritamu selama 10 tahun ini?” tanya Farah.

“Nothing specials. Kuliah, lulus kuliah, wisuda, kerja, dan kuliah lagi sambil berusaha cepet lulus.” jawab Chandra. “Kalo kamu gimana?”

“Almost the same. Kuliah, lulus, wisuda, kerja. Tapi ya.. aku masih sama seperti dulu.”

“Maksudnya?” Chandra langsung bertanya karena penasaran.

“Iya, aku masih tinggal di kota yang sama. Ga kaya’ kamu yang udah pindah keluar kota.” jawab Farah.

“Oh..”

Lalu hening.

“Tapi ya, beberapa hal lain juga aku masih sama seperti dulu sih..” Chandra berujar.

“Oh ya? Soal apa?”

Chandra menarik napas. “Soal… mengharapkan kamu..”

Penulisan Terjemahan “Motorcycle” di Bahasa Indonesia

Mari kita mulai postingan ini dengan sebuah pertanyaan,

“Apa bahasa Indonesia dari motorcycle?”

Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab “sepeda motor”. Menurut saya pribadi, terjemahan tersebut belum tentu benar, tapi juga tidak salah.

Bingung? Oke, lanjut ke bawah.

Jika dibedah, motorcycle memang terdiri dari dua kata, yakni motor dan cycle. Jika diartikan atau diterjemahkan secara langsung, motor bisa diartikan sebagai mesin penggerak, sementara cycle adalah pemendekan dari bicycle. Jadi, bahasa Indonesia-nya adalah “sepeda bermesin penggerak”. Panjang, ya? Tidak efektif untuk digunakan dalam penulisan, ataupun pengucapan.

Dari situlah kemudian, kata “motor” diserap, sehingga motorcycle pun diartikan sebagai “sepeda bermotor”. Tapi tetap saja, frase tersebut kurang efektif, karena terlalu banyak suku kata. Sehingga dipangkas menjadi “sepeda motor”.

Lalu apa masalahnya?

Tak ada masalah. Tapi kondisi itu menjadi unik. Karena yang semula satu kata – motorcycle, ketika diterjemahkan ke bahasa Indonesia justru menjadi dua kata – sepeda motor. Saya yakin, sambil membaca postingan ini ada yang berpikiran seperti ini à “Satu kata koq, sebut aja motor..”

Salah? Tidak. Benar? Belum tentu.

Meskipun kemudian di percakapan dan juga pelafalan sehari-hari biasa disebut sebagai “motor” saja, tapi sepertinya perlu dicermati untuk menuliskan “motorcycle” sebagai “sepedamotor” dan bukannya “sepeda motor”. Alasannya, “sepedamotor” langsung menjadi satu kesatuan kata, bentukan kata baru, yang mengurangi jumlah kata yang digunakan. Sederhana. Sementara “sepeda motor” merupakan bentukan frase, terdiri dari dua kata, dan apabila digunakan dalam “pemenggalan” yang tidak tepat dalam paragraf, bisa memberikan arti yang berbeda.

Menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.