What Makes a Media So Unique?

Sudah lazim dan jamak diketahui, sebuah produk apabila ingin bertahan cukup lama maka ia wajib memiliki ciri khas. Hal serupa juga berlaku untuk produk media, baik media cetak, media elektronik, hingga media digital atau online. Meskipun bentuk dan cara penyampaiannya berbeda, namun faktor-faktor yang dapat membuat sebuah ciri khas kurang lebih sama. Penasaran?

Sebelum melangkah lebih jauh, sebuah media dapat disebut memiliki ciri khas atau unik apabila,

  1. Memiliki elemen yang tak dimiliki media lain,
  2. Memiliki “tribe” atau pengikut/pembaca setia,
  3. Memiliki jaringan nasional,
  4. Dimiliki oleh jutawan atau politisi berpengaruh – iya, hal ini lazim terjadi,
  5. Setiap edisi atau terbitannya, terjual hingga jutaan eksemplar,
  6. Selalu diingat oleh banyak orang.

Setiap alasan atau faktor pembeda itu dapat dilakukan satu persatu secara bertahap atau salah satu dan yang lain akan mengikuti. Setiap langkah tentu ada yang mudah, dan ada tidak mudah. Kira-kira, manakah yang lebih mudah?

Memiliki elemen media yang tak dimiliki oleh media lain.

Iya, memiliki elemen yang tak dimiliki oleh media lain adalah salah satu langkah yang “mudah”. Disebut mudah, karena berarti menciptakan dan mengembangkan daya tarik yang tak dimiliki oleh media lainnya. Bisa dari elemen fisik: tampilan, warna, ukuran, hingga elemen non-fisik: gaya bahasa, kolom, hingga isi dari media tersebut.

Lalu, elemen mana dulu yang harus dikerjakan? Berdasar pengalaman dan juga hasil pengamatan selama beberapa lama, elemen non-fisik lebih baik dikerjakan terlebih dulu. Kenapa? Karena usianya lebih panjang, dan daur hidupnya lebih lama ketimbang elemen fisik. Selain itu, elemen fisik juga bergantung kepada faktor teknis seperti percetakan, materi pembentuk, hingga kecepatan koneksi internet – untuk media digital/online.

Oke, apabila ada pertanyaan atau kebingungan, harap dicatat terlebih dulu untuk kemudian ditulis di bagian kolom komentar. Sementara itu, lanjut dulu kepada apa saja elemen non-fisik yang harus dikerjakan. Yakni, sebagai berikut,

  1. Kolom,
  2. Laporan khusus,
  3. Galeri foto/gambar tematis,
  4. Galeri foto/gambar terjadwal,
  5. Serial.

Kolom memiliki beberapa arti. Salah satu artinya adalah pembagian paragraf dalam tulisan/artikel agar lebih enak dibaca. Arti lainnya adalah bentuk tulisan/artikel yang ditulis oleh seorang ahli atau yang spesifik sesuai bidangnya. Biasanya penulisnya akan disebut kolumnis, dan memiliki gaya bahasa yang tak bisa ditiru oleh orang lain. Mengapa kolom dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tulisan kolumnis biasanya memiliki pembaca setia, dan tulisannya hanya akan didapat di sebuah media tidak di yang lainnya.

Laporan khusus atau special report adalah laporan pemberitaan mengenai event tertentu pada masa tertentu. Laporan ini dibuat oleh media dalam rangka khusus dan takkan dimuat ulang lagi di waktu lainnya. Kenapa laporan khusus dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tak semua media akan membuat laporan khusus mengenai sebuah event. Bahkan apabila media pembuat laporan khusus ini memiliki hak khusus sebagai media partner, maka ia akan mendapatkan material untuk laporan khusus yang tak dimiliki oleh media lain non-partner dari sebuah acara.

Galeri foto/gambar tematis adalah kumpulan foto/gambar yang memiliki tema tertentu. Biasanya temanya disesuakan dengan tanggal/waktu, hingga tren terkini. Media yang memiliki kumpulan foto/gambar yang banyak biasanya akan menarik pembaca untuk melihat lebih sering, dan bahkan mengoleksinya. Kenapa galeri foto/gambar tematis dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tak semua media memilikinya. Foto atau gambar yang termasuk ke dalam galeri tematis ini, haruslah sebuah karya jurnalistik yang bisa jadi haknya eksklusif dimiliki fotografer pembuatnya, dan tak dimiliki oleh media lainnya.

Galeri foto/gambar terjadwal adalah kumpulan foto/gambar yang jadwal terbitnya sudah dijadwalkan disesuaikan dengan penanggalan atau peristiwa yang sudah diketahui orang banyak. Maksud pembuatan galeri ini adalah untuk mengikuti tren peristiwa dan juga menarik khalayak ramai untuk melihat/membaca. Kenapa galeri foto/gambar terjadwal dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena walaupun sudah hampir pasti akan dilakukan banyak media dalam waktu bersamaan, namun penyajiannya takkan ada yang sama. Semakin banyak media yang menyajikan, semakin unik penyajian galeri ini, dan membuat setiap media yang menyajikannya lebih unik.

Serial atau tulisan berseri adalah penulisan artikel berita/peristiwa yang dibuat bersambung pada setiap terbitan. Biasanya, serial ini dikaitkan dengan tokoh, tanggal penting, hingga acara penting. Dalam jangka waktu tertentu, akan ada bagian tertentu dari sebuah media yang akan membahas satu tema, namun bersambung dari hari ke hari. Biasanya, serial juga akan ditandai dengan grafis yang berbeda. Kenapa serial dapat membuat sebuah media lebih unik? Karena tidak setiap media memiliki kekuatan dan juga ide yang sama.

Ilustrasinya bisa dilihat juga di slide berikut,

Ada komentar? Silakan tulis di bawah atau senggol aja twitter saya. 🙂

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Lebih Besar, Lebih Cepat Berkembang, Lewat Digital

Apapun bisa dibisniskan. Pendapat itu seringkali dilontarkan oleh mereka yang berwirausaha, atau minimal memiliki naluri untuk berwirausaha. Dan, bisnis itupun ga harus langsung besar, bisa dari yang kecil-kecil dulu. Yang penting, terus berkembang,  dan fokus.

Lalu, bagaimana berbisnis itu? Agak sulit menjawabnya, karena saya bukan (tepatnya belum jadi) pemilik bisnis. Saya masih jadi pekerja bisnis – alias, bekerja di bisnisnya orang lain. Walau begitu, saya belajar banyak hal – siapa tau kelak bisa dan berani jadi pemilik bisnis sendiri. Salah satu hal yang dipelajari adalah.. melek atau aware dunia digital itu penting buat bisnis. Terutama buat startup bisnis (bisnis yang baru dibuat). Pasti banyak yang bertanya-tanya kenapa.. Mau tahu alasannya? Simak sebagai berikut…

  1. Riset dan analisa pasar.
    Apa output bisnis yang lagi dibuat? Produk atau jasa? Apapun outputnya, pasti akan lebih baik kalo tau punya informasi yang detail soal siapa target, dan juga kondisi pasarnya. Target ini perlu diketahui supaya kita tau siapa calon potensial dari klien/konsumen bisnis kita. Sementara kondisi pasar itu perlu diketahui apakah pasarnya jenuh/kepenuhan atau engga.
    Gimana cara caritaunya? Gampang.. Buka aja search aja via search engine seperti google.com, trus gugling (cari) kata kunci yang berkaitan sama output bisnis kita. Misal: output bisnisnya adalah logo, maka kita gugling aja logo, dan liat search resultnya. Link-link yang tersedia itulah yang bisa buat riset dan analisa pasar bisnis kita.

    gugling soal logo
    gugling soal logo

    Kalo ga melek digital gimana? Ya riset dan analisa pasarnya dilakukan sambil beneran turun ke pasar, nanya sana-sini, cari sana-sini, atau nyebar angket gitu.. Atau bahkan, bayar lembaga tertentu buat bikin riset dan analisa itu. Coba, lebih praktis dan cepat mana ketimbang kalo via digital?

  2. Gabung dan diskusi di forum bisnis – siapa tau bisa dapat coaching gratis.
    Forum pengusaha atau pebisnis di dunia digital itu udah banyak lho. Mulai dari yang berbasis di milis – yahoogroups atau googlegroups, sampai di forum berbasis web, dan atau twitter seperti @tangandiatas, @startupbisnis, atau @startuplokal. Ga cuman forum bisnis, beberapa pentolannya juga aktif di dunia digital seperti @nataliardiantodan lain-lain. Di forum-forum itu selain bisa sharing, juga bisa nanya-nanya lho. Dan bahkan, bisa jadi dapet coaching gratis. Seru kan? :mrgreen:

    tangandiatas - salah satu forum pengusaha/pemilik bisnis
    tangandiatas – salah satu forum pengusaha/pemilik bisnis

    Kalo ga via digital? Musti dateng ke kantornya mereka, ngajak meet up, via telepon, dan kadang ga semuanya bisa didapetin karena forum atau pentolannya udah keburu sibuk sama bisnis mereka sendiri. Selain itu, time consuming dan kurang praktis ketimbang via digital.

  3. Dapetin inspirasi.
    Inspirasi bisa dateng dari mana aja. Salah satunya dateng via digital. Maksudnya gimana? Gini deh.. gini… Misal punya output bisnis berupa jasa desain produk, nah.. ada kalanya kalo mau ngedesain produk itu selain berdasarkan deskripsi dari klien kan. Kadang, deskripsi itu ya standar, seperlunya aja.
    Buat dapetin inspirasi, bisa aja kita gugling images di google images, dan atau nanya pendapat ke “masyarakat” digital soal produk yang lagi kita buat desainnya. Ga perlu deskripsi jelas, cukup seperlunya aja. Yang penting, keywordnya jelas. Berbagai respon dan input itulah yang bisa jadi bahan inspirasi kita buat desain produk. Ini contoh gampangnya yaaa.. Kalo ga melek digital? Pasti dapetin inspirasinya kalo mau nanya harus bikin angket gitu.. ga praktis. 😛

    gugling desain produk
    gugling soal desain produk

    Ada satu hal yang harus digarisbawahi kalo kita dapetin inspirasi via digital.. Yakni, jangan copy paste. Hargailah hasil karya orang lain, jangan jadi plagiator. Dapetin inspirasi dari hasil karya orang lain boleh, dan kalo mau bikin desain sendiri, bikinlah yang lebih bagus lagi. Kaya’ prinsip ATM – Amati, Tiru, Modifikasi.

  4. Pemasaran & Periklanan
    Sejauh mana dan seperti apa sih, kepengen bisnis dan outputnya diketahui banyak orang? Se-RT? Se-RW? Se-kelurahan? Kalo pake digital, bisa menjangkau seluruh dunia dengan sebatas perantara satu komputer/device yang terhubung ke internet. Mudah, murah, dan akurat! Caranya? Gampang.. mulai dari ngepost di forum/komunitas besar seperti kaskus, punya blog prbadi macam di wordpress atau domain sendiri, sampai dengan pasang iklan dengan biaya yang bisa diatur! Apalagi kalo pasang iklannya di facebook, notabene calon klien/konsumen potensial bisa didapat secara akurat, mengingat pengguna facebook dari Indonesia udah banyaaaaakkk banget.

    contoh iklan di fb
    contoh iklan di fb

    Semakin besar dan semakin akurat pemasaran bisnis dan outputnya, tentunya akan meningkatkan peluang bisnis kita untuk diketahui banyak orang, dan juga tentunya meningkatkan peluang dibeli/digunakan klien. Banyak kok order bisnis yang dilakukan sekarang via online. Contohnya? Paling mudah adalah toko buku, atau penjual buku dan atau aksesoris.

  5. Networking & Partnership
    Digital itu.. menghubungkan siapa aja, di mana aja, kapan aja, dengan lebih mudah. Dulu kalo mau kontak siapa pun, pake cara surat pos, telepon, dan atau ketemuan secara nyata. Sekarang? Via digital? Semua lebih praktis dan cepat. Udah baca sebab nomer 2 di atas kan? Nah, dari gabung di forum atau dapet coaching itulah, bisa jadi malah ada networking/partnership buat bisnis. Siapa tau, malah dapet pemodal baru.

    buat networking
    buat networking

    Yup, dengan dunia digital yang bisa ngehubungin siapa aja dengan mudah, berarti kita sebagai pemilik startup business pun bakal mudah dihubungi siapa aja – apalagi kalo selain punya email, kita punya laman pribadi tempat informasi dasar kita, seperti di website gitu.. Banyak lho yang gratisan, macam punya saya di about.me. Modal, partner baru, atau bahkan peluang buat memperbesar business akan terbuka dengan lebar! Kalo ga via digital, bakal butuh waktu yang lebih banyak kaya’nya ketimbang lewat digital yang praktis.

    laman kontak
    laman kontak

Jadi, penting ga sih melek digital buat startup business? Jawabnya, penting banget! Karena, bisnis kita yang masih startup bisa jadi lebih besar, lebih dikenal, dan lebih cepat berkembang dengan bantuan dunia digital. Cara-caranya ya… seperti udah saya tulis di atas yaa.. Apalagi, sekarang dunia digital (dan internet) lebih mudah diakses. Salah satu penyedia akses yang mudah ya AXIS dengan paket internetnya. Saya sendiri, pake paket AXIS Pro yang bulanan di device saya. Anyway, cara-cara di atas itu sebagian aja sih, karena masih banyak lagi cara-cara yang bisa dilakukan kalo kita udah melek digital. :mrgreen:

Sudah siap melek digital, kan?

NB: Tanpa mengurangi isi, blogpost ini sedang saya ikutsertakan di Melek Digital untuk Startup Business Blogging Competition. Semua hasil skrinsut saya dapat dengan membuat sendiri via browser di laman web terkait.

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

“New” Marketing Strategy of Motion Pictures (Movie, Film)

Pernah mendengar Omni Corp? Atau pernah mendengar Umbrella Corporation? Kedua nama tersebut adalah nama perusahaan. Dan, bagi para penggemar film ataupun games, tentu tahu jika kedua nama tersebut hadir di game-game ternama. Terlepas dari keberadaan nama perusahaan serupa di dunia nyata, namun kedua nama perusahaan tersebut kini memiliki bentuk “nyata” di dunia maya (internet).

Mau bukti? Coba klik di sini, atau di sini. Sudah? Oke, lanjut baca postingan ini.

Kedua bukti dari perusahaan yang “nyata” di dunia maya tersebut bukan tanpa sebab. Perusahaan-perusahaan “fiktif” tersebut eksis di dunia maya bertujuan untuk menambah awareness mengenai hal-hal yang berkaitan. Dalam hal ini, hal yang berkaitan adalah film.

Iya, film.

OmniCorp, dikenal juga dengan OCP – Omni Consumer Product. Perusahaan ini salah satu perusahaan “fiktif” yang memiliki kaitan kuat dengan RoboCop. Iya, dia adalah “pembuat” RoboCop. Murphy, seorang Polisi yang sekarat dan “disulap” menjadi RoboCop, dibuat dan dibangun oleh OmniCorp. Meski kemudian pada praktiknya ia dibawah kendali Detroit Police Department, tapi OmniCorp inilah yang “bertanggungjawab” akan adanya RoboCop.

Sementara itu Umbrella Corporation, dikenal juga dengan UmbrellaCorp, perusahaan “fiktif” ini memiliki kaitan kuat dengan T-Virus. Tahu kan T-Virus itu apa? Sebuah virus yang mengubah satu fasilitas Umbrella Corporation di Raccoon City dipenuhi dengan zombie yang mengejar-ngejar manusia hidup. Dan kemudian terjadi outbreak di seluruh Raccoon City, dan terus meluas. Tahu apa filmnya? Resident Evil.

Kedua perusahaan “fiktif” tersebut masing-masing memiliki website yang dipoles sedemikian rupa agar menarik visitor dan juga menunjang kisah cerita yang dibuat pada filmnya. Keduanya dibuat seakan-akan nyata, dan bahkan Umbrella Corporation memiliki laman facebook dengan post yang di-update! Termasuk juga “history” yang disesuaikan dengan tahunnya seakan-akan terjadi kejadian nyata – atau memang nyata?

Langkah ini merupakan salah satu taktik pemasaran (marketing) yang cukup jitu untuk membangun awareness dari calon penonton film-filmnya – seperti sudah saya sebutkan sebelumnya. Kenapa? Karena penggunaan website yang dibuat seolah-olah nyata tersebut, tentunya selain akan menimbulkan rasa penasaran dan pertanyaan, juga akan mendukung cerita utama filmnya bahwa perusahaan tersebut benar-benar ADA dan kejadian terkait dapat terjadi di kehidupan nyata – terlepas dari ilmu pengetahuan yang semakin maju dan memungkinkan semuanya terjadi.

Taktik membuat perusahaan “fiktif” memiliki website yang “nyata” membuat film dan juga cerita di filmnya terasa lebih riil dan tentunya lebih masuk akal. Tahu kan penonton film semakin kritis semakin ke sininya? Film-film yang lebih masuk akal, tentunya lebih mudah diterima – meski terkadang film-film fantasi juga hadir dan tak sedikit yang sukses karena diterima banyak kalangan.

Oiya, taktik pemasaran film layar lebar seperti ini saya sebutkan “baru” seperti di judul postingan, karena sebenarnya ia mengulang hal yang pernah dilakukan oleh pendahulunya – masih ingat Blair Witch kan? 🙂 Dan, serunya adalah.. taktik pemasaran yang notabene menjadi pendukung (supporting) ini semakin banyak dilakukan. Contoh lainnya antara lain: OsCorp Industries, Stark Expo, dan S.H.I.E.L.D.

Mari kita lihat, apakah taktik pemasaran ini juga akan dilakukan oleh film-film lainnya? Dan, apakah film-film Indonesia akan melakukan hal serupa?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Kenapa Beriklan Online?

Salah satu cara memasarkan produk ataupun jasa agar dikenal banyak orang dengan harapan dapat memberikan income dari praktik pemasaran tersebut, adalah memasang iklan atau singkatnya adalah beriklan. Banyak ragam, media, serta praktik untuk beriklan. Mulai dari kegiatan yang jelas-jelas beriklan seperti slot TVC (TV commercial), radio ad, hingga praktik BTL (below the line) yang dihiasi atribut-atribut dari sebuah merek.

Di tengah ramainya produk dan jasa yang sejenis atau mungkin mengenalkan sebuah produk atau jasa yang benar-benar baru dan belum dikenali, beriklan menjadi sebuah keharusan. Kreativitas manajemen pemasaran untuk beriklan, menghasilkan banyak ragam iklan, mulai dari yang senafas, senada, hingga saling berkaitan dan “menjawab”. Selain itu, kreativitas pun dibutuhkan untuk menggunakan segala medium untuk beriklan agar produk atau jasa lebih dikenal. Salah satunya medium digital, atau online.

Digital? Buat apa? Kenapa ga beriklan di TV aja? Atau radio gitu?

Jawabannya sederhana saja, karena digital menyimpan potensi yang tak dimiliki jika beriklan di TV atau radio. Apa saja? Banyak, beberapa di antaranya adalah jangkauan, hubungan, peluang kreatif, hingga komunikasi. Mau tahu apa saja maksudnya? Yuk, ikuti penjelasannya sebagai berikut..

1. Jangkauan

Jaringan digital/online membuat dunia serasa tak berbatas. Batasan kota, daerah, hingga negara terlihat semu dan hampir tak terasa. Kenapa? Karena jaringan digital/online dapat diakses dari mana saja yang memiliki koneksi internet. Oleh karena itulah, audience iklan digital/online berpotensi lebih besar ketimbang TV ataupun radio.

2. Hubungan

Pernah mendengar bahwa dunia digital/online menghubungkan orang di mana saja? Pernah mendengar begitu mudahnya mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain dalam sekejap saja melalui dunia digital? Itulah potensi yang tersembunyi dari beriklan digital/online. Yakni, hubungan yang membuat iklan dapat lebih cepat dan mudah disampaikan, lebih cepat dan mudah dilihat konsumen, hingga lebih mudah meraih calon konsumen.

3. Peluang kreatif

Bosan melihat iklan yang begitu-begitu saja di TV? Atau bosan mendengar pesan yang sama di jingle radio? Itulah hal yang bisa dijawab melalui beriklan digital. Potensinya adalah membuat peluang kreatif iklan yang lebih menarik, berbeda, dan paling penting adalah.. lebih menggigit sehingga terus terngiang-ngiang di benak konsumen dan calon konsumen. Mulai dari permainan teks, gambar, hingga suara. Semuanya bisa dan lebih kreatif.

4. Komunikasi

Jika Anda melihat sebuah iklan di media cetak, TV, ataupun radio, dan hendak ada pertanyaan, ke mana Anda akan menuju? Biasanya adalah, dengan bertanya ke redaksi cetak, stasiun TV, hingga stasiun radio mengenai iklan tersebut. Bagaimana dengan iklan digital? Tentu saja langsung dapat berkomunikasi dengan pemasang iklan. Bagaimana bisa? Caranya dan jawabnya adalah dengan mengaitkan (linking) display iklan kita, dengan domain website yang support hal yang kita iklankan. Ga lucu kan, sudah keren beriklan digital, tapi tak ada domain/website yang dituju.

Lalu, apa harus beriklan secara digital?

Jawabnya adalah tidak harus, tapi akan lebih baik jika dilaksanakan. Kenapa? Karena media digital/online memiliki beragam channel yang bisa digunakan, dengan audience yang beragam pula. Selain itu, tarifnya pun cenderung “murah” serta prosesnya cepat, ketimbang iklan radio, TVC, maupun juga iklan media cetak.

Untuk proses yang cepat, sudah barang tentu disebabkan materi pendukung iklan tak perlu diproduksi berlama-lama. Selain itu, pemasangan iklan digital pun sudah dimudahkan dan bisa pasang sendiri oleh para pengiklan – jika tak ingin menggunakan jasa agency.

Tarif yang “murah” untuk beriklan digital/online bukan tanpa alasan. Pernah dengar istilah CTR? CPC? CPM? Itulah hal-hal yang sering digunakan jika beriklan digital/online. CTR adalah Clickthrough rate, yang mengitung rasio/rating kemungkinan besar iklan kita diklik setelah dipasang. Biasanya, angkanya dalam bentuk persen, dan merupakan hasil perbandingan antara total audience yang melihat iklan, dan total click di iklan tersebut.

Lalu, apa itu CPC dan CPM? CPC adalah Cost Per Click, sementara CPM adalah Cost Per Mile. CPC adalah mekanisme iklan yang cukup laku belakangan ini. Karena, pemasang iklan berpotensi mendapat coverage view yang lebih luas sebelum kemudian calon konsumen mengeklik iklannya menuju link yang dituju. Selain itu CPC juga memudahkan bagi pemasang iklan untuk membuat laporan, karena dengan tarif tertentu yang sudah kita set, setiap harinya pemasang iklan dapat report penggunaan uang di iklan secara detail, disesuaikan dengan jumlah clicks. Contohnya antara lain google adsense dan juga facebook ads.

Sementara CPM – Cost Per Mile adalah biaya yang harus dibayarkan ke agensi/perusahaan penyedia jasa penayangan iklan, setiap kali angka display mencapai  1000 kali. Jadi, setiap 1000 kali iklan tersebut tayang di manapun dengan klik berapapun,  maka akan mendapat tagihan sesuai settingan di awal.

Jadi gimana, udah tau mau  pilih jenis iklan yang mana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Apa itu Indonesia Car Lifestyle Award 2012?

Lagi iseng browsing-browsing, entah gimana runutannya tau-tau aja masuk ke halaman Indonesia Car Lifestyle Award 2012 (ICLA 2012). Kalo liat dari website-nya di sini, deskripsinya sebagai berikut,

Indonesia Car Lifestyle Award 2012 memilih mobil-mobil terbaik tahun ini. Mobil yang banyak mendapat perhatian dari jutaan pengunjung BosMobil.com, dan mobil-mobil yang paling cocok untuk berbagai gaya hidup, termasuk family car, work car, female car serta play car.

Secara singkat, bisa dibilang bahwa ICLA 2012 itu bagian dari BosMobil.com, dan juga ajang pemilihan mobil terbaik tahun 2012, di Indonesia. Jenis-jenis mobilnya sendiri dibedain jadi family car, work car, female car, dan play car. Perbedaan jenis mobil tersebut udah jelas diklasifikasikan berdasar kegunaan dan penggunanya – family car untuk keluarga, work car untuk transportasi pekerjaan, female car untuk wanita, serta play car untuk hangout dan jalan-jalan. Ada yang sedikit menggelitik, yakni urban car ga termasuk, nih? :mrgreen:

Anyway, lanjut baca-baca di website-nya, ada deskripsi lanjutan seperti ini,

Kita tahu bahwa tidak semua pembeli memilih mobil hanya dengan acuan kategori seperti tersebut di atas. Tim kami melakukan pengujian dengan melakukan test-drive puluhan mobil, dan pengalaman-pengalaman dari repsonden yang kami temui. Penentuan mobil-mobil terbaik Indonesia Car Lifestyle Award 2012 akan kami helat pada tanggal 11 Juli 2012.

Oh.. Jadi memang BosMobil.com selaku salah satu website tentang otomotif, juga memberikan ulasan tentang kendaraan dan juga berita-berita terbaru dan terkait dengan otomotif. Dan dari situ kemudian akan diselenggarakan penghargaan berupa Indonesia Car Lifestyle Award 2012 (ICLA 2012) yang akan dihelat bulan Juli nanti. Dan, menuju ke sana, mereka mengadakan polling di sini.

Menarik juga mencermati bahwa ada media non-cetak (atau publishing utama-nya dari new media/internet) yang akan menyelenggarakan award otomotif. Sehingga tentu, acara pemberian penghargaan-nya pun menjadi sesuatu yang membuat penasaran. Setidaknya, saya yang penasaran. :mrgreen:

Oiya, kalo liat sekilas kaya’nya di polling mereka itu ada hadiahnya deh.. Total hadiahnya mencapai 50 juta lho.. Ikutan gih!

NB: Blogpost ini tidak didasari oleh request dari BosMobil.com, serta saat tulisan ini ditulis dan di-publish saya tidak memiliki kaitan apapun dengan BosMobil.com. Logo saya copy URL dari sini.

Cara Jitu Mengatasi “Kuis Hunter”

Pernah ikutan kuis atau lomba-lomba yang diselenggarakan di internet? Atau, pernah sebaliknya, membuat lomba-lomba atau kuis yang diselenggarakan di internet? Kalau jawabnya pernah, pasti tahu dengan yang namanya “kuis hunter”. Iya, para pemburu kuis yang memiliki akun dengan tujuan utama untuk mengikuti kuis – di segala macam platform (facebook, twitter, dll), dan acapkali membuat “banjir” timeline dengan aktivitas mereka.

Blogpost kali ini tidak akan memberi penilaian berupa positif atau negatif terhadap “kuis hunter” tersebut, melainkan cara jitu untuk mengatasi mereka. Mengatasi di sini bukan tentang mengesampingkan para “kuis hunter”, akan tetapi mengatasi untuk menjaga agar aktivitas (lomba dan kuis) yang dibuat menjadi lebih tertata dan juga memiliki kualitas yang baik.

Cara-cara mengatasinya antara lain sebagai berikut,

1. Photo/design contest.

Membuat kontes foto dan atau desain, menjadi salah satu cara untuk mengatasi “kuis hunter”. Kenapa? Karena foto dan atau desain membutuhkan usaha (effort) yang cukup berlebih bagi para pesertanya. Kenapa? Karena setidaknya peserta “harus” membuat hasil foto yang menarik, konsep desain yang unik, hingga akhirnya setelah selesai diunggah (upload) dan kemudian dinilai oleh juri.

Menurut saya pribadi, cara ini tentunya akan membuat kuis/lomba menjadi lebih tertata dan memudahkan juri untuk menilai dan menentukan pemenang.

2. Product buying related promo.

Dengan begitu mudahnya internet diakses, “kuis hunter” akan menjamur dengan mudah pula. Berbekal dengan koneksi internet “gratis” (atau lebih tepat dibilang murah), para “kuis hunter” akan dengan mudahnya pula untuk mengikuti kuis di berbagai platform. Tapi, apabila para “kuis hunter” diminta untuk mengikuti lomba/kuis dengan syarat harus memiliki/membeli produk tertentu, maka kecenderungannya akan lebih kecil untuk ikut di kuis/lomba tersebut.

Menurut saya pribadi, cara ini akan menghasilkan para peserta kuis/lomba yang benar-benar loyal dengan produk/brand yang menjadi dasar kuis/lomba tersebut. Serta tentunya, akan memudahkan penilaian apabila ada produk output yang ditentukan.

3. Blog contest.

Beberapa kali saya mengikuti blog contest (dan sempat mengurus blog contest juga :mrgreen: ), cara blog contest ini cukup bisa mengatasi para “kuis hunter”. Aspek-aspek penilaian blog contest yang cukup banyak seperti isi blog, cara tutur, pemilihan kata, cara penyampaian topik, hingga jumlah komentar, dan usia dari blog itulah yang mampu mengatasi “kuis hunter”. Sehingga, input dari blog contest akan didapatkan yang sesuai target.

Menurut saya pribadi, cara blog contest ini juga membutuhkan effort (usaha) yang cukup tinggi dan menuntut kreativitas dari para pesertanya. Sehingga, para peserta tentu akan mengerahkan segenap kemampuannya agar dapat memenangkan hadiah.

Akan tetapi, ketiga cara tersebut tetap takkan bisa mengatasi para “kuis hunter” apabila,

  1. Penentuan pemenang (juga) didasari oleh jumlah like.
  2. Penentuan pemenang (juga) ditentukan oleh jumlah share.
  3. Produk yang disyaratkan untuk mengikuti kuis/lomba tidak memiliki keunikan di masing-masing unit, sehingga sekali beli produk, dapat digunakan oleh banyak orang/berkali-kali.

Itu menurut saya. Kalau menurut kamu bagaimana?

 Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Cerita Rak Majalah

dari stream yang dibuat putri pratiwi di googleplus soal cover buku, saya jadi keingetan salah satu laporan dan riset “kecil-kecilan” soal cover majalah yang pernah saya buat dulu waktu masih jadi pekerja media.

kurang lebihnya, intisarinya seperti ini: selayaknya manusia, cover itu adalah tampilan terluar sebuah produk buku/majalah. bisa itu baju yang kita kenakan, wajah, ataupun tampilan kita secara keseluruhan. itulah cover.

dan, selayak manusia pula, buku/majalah pun “ingin” terlihat berbeda. tapi apabila manusia mampu membedakan dirinya selain dengan penampilan tapi juga dengan keahlian dan kelihaian dalam komunikasi 2 arah, maka buku/majalah “hanya” bisa berkomunikasi 1 arah, sehingga belum tentu keahlian dan kelihaian yang dimilikinya dapat “dinikmati” pembacanya apabila covernya tak menarik.

lalu bagaimana agar bisa menarik? apakah perlu desain yang kreatif, menonjol, dan mahal? jawab singkatnya, iya dan tidak. iya, karena hal itu dapat menunjang, dan tidak karena hal itu akan percuma apabila produk buku/majalah nantinya disimpan di bagian rak yang tak terjangkau — baik oleh pandangan mata, maupun tangan.

yes, penempatan di rak adalah hal yang juga penting bagi sebuah produk buku/majalah agar bisa “laku” — diambil, dibaca, lalu (mudah-mudahan) dibeli. lalu, kalau penempatannya tidak di lokasi yang bagus, maka percuma saja sebuah cover dibuat sesempurna mungkin. contoh mudahnya, cover yang terbuat dari lembaran emas sekalipun takkan menarik untuk dilihat atau dibeli, apabila diletakkan di bagian bawah rak — yang sejajar dengan kaki kita, dan atau kemudian ditumpuk dengan deretan majalah/buku lain.

jadi bagaimana membuat sebuah cover agar bisa menarik untuk dibaca, dan (mudah-mudahan) dibeli? pertimbangkan faktor ini,
1. majalah/buku cenderung ditumpuk secara cascade ke atas. jadi, pertimbangkan meletakkan header yang menarik.
2. majalah/buku juga cenderung ditumpuk secara cascade ke samping, dengan meletakkan jilid di bagian luar. jadi, pertimbangkan membuat sidebar yang juga menarik.

silakan cermati rak buku/majalah di lapak, hingga toko buku. kebanyakan, pasti akan melakukan hal ini. soal image/foto yang digunakan sebagai cover, itu nilai plus yang lebih menampilkan isi dari majalah/buku itu.

begitulah, kurang lebihnya..

NB: gambar asli dari sini.

Black Marketing, Strategi Miring Nan Jitu

Anda terlibat dalam pemasaran di kantor Anda? Mau itu produk, ataupun jasa, diperlukan strategi pemasaran atau marketing yang tepat. Baik itu tepat sesuai sifat dari produk atau jasa yang Anda tawarkan, maupun juga tepat sasaran, yakni para konsumen yang Anda tuju. Salah membuat strategi, justru akan muncul cap buruk akan penawaran Anda. Tapi, bagi sebagian orang, cap buruk tersebut adalah salah satu jenis marketing yang baik. Atau bisa dikatakan, lebih baik!

Mengherankan memang, bagaimana bisa sebuah cap buruk justru menjadi salah satu strategi marketing yang oke. Tapi, justru itulah sebenarnya memang. Alasan sebenarnya adalah karena salah satu sifat manusia yang mudah terintimidasi. Sehingga, jika ada cap buruk yang melekat pada sebuah produk atau jasa, maka mereka pun akan dengan mudah terintimidasi untuk sama-sama mengecap buruk, meski sebenarnya mereka belum pernah atau takkan pernah mengonsumsinya.

Strategi cap buruk pada produk atau jasa yang ditawarkan, bisa disebut juga sebagai Black Marketing.

Black Marketing adalah konsep pemasaran produk atau jasa, dengan tidak mengedepankan kelebihannya, melainkan menampilkan kekurangannya secara total. Black Marketing memiliki tujuan utama membangun awareness, atau mempublikasikan nama brand dari produk atau jasa agar dikenal orang banyak, melalui sentimen negatif. Baru kemudian, di suatu titik, dilakukan kampanye “pemutihan” untuk memulihkan brand tersebut.

Harus diakui, dengan menerapkan Black Marketing dapat menambah brand awareness dari produk atau jasa yang kita kelola. Bisa dibilang, cukup boosted. Namun ada hal yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. Yakni, perhatikan setiap masukan atau saran yang masuk. Jika ada pertanyaan, segeralah jawab. Selain itu, risiko terbesar adalah image negatif yang bisa timbul dari Black Marketing terhadap produk atau jasa.

Yang paling penting adalah, setiap strategi tersebut, harus mampu mendongkrak kepekaan dari orang-orang yang tidak tahu persis mengenai brand yang dikelola. Dan yang paling penting adalah, langkah pemulihan dari Black Marketing tersebut. Caranya bisa dilakukan dengan membuat konferensi pers, menyewa jasa buzzer (pegiat daring dengan massa tertentu), ataupun membuat kampanye yang mengedepankan perubahan menjadi lebih baik. Manapun langkah pemulihan yang dipilih, tentunya harus sesuai dengan cap buruk yang sudah melekat melalui Black Marketing.

Well, semoga berhasil bagi Anda yang akan mencobanya!

NB: foto dari sini.